Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Dukungan Mama Mertua


__ADS_3


Hari Jum'at adalah hari di mana waktu pulang sekolah lebih cepat dari hari biasanya. Tapi karena Abel ada kerja kelompok tidak ada bedanya.


Setelah selesai dengan tugas-tugasnya biasanya Abel akan bepergian untuk mencuci mata atau sekedar bermain timezone. Meskipun sendirian itu sangat menyenangkan untuk dirinya. Namun dia sadar, kalau sekarang dia bukan hanya seorang remaja SMA tapi dia juga seorang istri. Meskipun beberapa hari lalu dia tidak membalas ungkapan perasaan pria itu, dia masih sadar kalau memiliki tanggung jawab. Gala sudah pasti menunggunya di rumah.


Abel menghentikan mobil di depan garasi, seperti biasa dia akan menyerahkan kuncinya pada Mang Boni untuk memasukan mobil ke garasi.


Saat memasuki rumah Abel kaget karena ada wangi masakan dari dalam rumah itu? Apa Gala memasak? Gawat! Bisa-bisa dia mati muda kalau itu benar-benar terjadi.


Dia langsung bergegas ke dapur dengan panik. "Gal lo masak? Lo mau bikin rumah ini kebakaran? Yaampun Gala, kenapa sih lo gak dengerin gue? Gue kan gak selalu bisa ngingetin lo, gue juga ada pekerjaan sendiri sebagai pelajar. Kan udah gue bilang lo gofood aja atau tunggu gue, jangan ba-"


Nia keluar dari dapur sembari melipat tangannya dia dada. Jadi begini kelakuan putrinya jika sedang bersama suaminya? Nia bahkan tidak habis pikir.


"Bundaaa," gumam Abel yang tak menyangka kalau bundanya ada di sini. Abel langsung menyalami bundanya itu seraya memeluknya.


"Apa? Kamu baru pulang udah ngomel terus, jadi gini setiap hari sama Gala?" Tanya Ibunya menyelidik.


"Engga, Bund. Kakak tadi kaget aja dikirain Gala masak," jawab Abel.


Gala yang melihat itu dari atas tangga pun mengulum tawanya, ternyata Abel lebih jinak jika bersama induknya – Ibunya, ralat.


"Jangan dibiasain kaya gitu ah, apalagi sama suami. Lo-gue lo-gue, gak sopan," peringat Nia.


"Bund udah kebiasaan lagian Galanya juga biasa aja, gak ngeluh atau apa," bela Abel untuk dirinya sendiri.


"Tetep aja, gak boleh gitu." Nia mengelus rambut putrinya itu penuh perhatian.


Gala pun turun dan menghampiri mereka sembari membawa Ghazam dalam gendongannya. Sekilas Gala tersenyum begitu manis, Abel saja sampai bingung. Apa yang direncanakan Galaxy?

__ADS_1


"Gapapa, Bund. Lagian juga Gala gak keberatan, selama Abel nyaman gapapa. Iya kan, Sayang?" Ucap Gala sambil menatap istrinya lembut.


Abel membulatkan matanya. Apa katanya? Sayang? Sejak kapan Gala memanggilnya seperti itu? Bahkan untuk tersenyum saja dia sangat irit, Abel berdecak. Ternyata pria yang ada di sampingnya ini penuh pencitraan.


"Hehehehe sejak kapan lo panggil gue sayang?" Geram Abel pelan, sangat pelan. Namun masih dapat di dengar oleh Gala.


"Iya gapapa, Sayang. Aku paham tugas kamu banyak banget ya? Nanti aku bantuin lagi malem ya, sekarang kamu ganti baju dulu, kasian kan gerah." Gala mengelus puncak kepala istrinya lembut dan membuat Abel seperti naik darah saat ini.


Ghazam tersenyum seolah mengetahui situasi mereka berdua, Abel hanya menatap Ghazam dengan senyum terpaksa, berharap bayi kecil itu tau kalau Kakaknya sedang tertekan sekarang.


"Iya sana gih, Kak kamu ganti baju dulu, setelah itu kita makan. Bunda udah masakin buat kalian, beruntung loh kamu punya suami seperti Gala yang membantu dalam segala hal. Bunda jadi semakin tenang kalau seperti ini," ucap Nia.


"Gapapa, Bund. Gala seneng kok bantuin Abel, kan kita harus kerja sama."


Abel membatin dalam hatinya, andai Ibunya tau betapa menyebalkan menantunya ini. Yang manja, selalu ingin disuapi, terlalu fokus dengan dunianya sendiri dan tidak bisa rapi dalam mengerjakan apapun. Andai ....


Gala tertawa dalam hatinya, dia tau pasti kalau sekarang isi hati Abel penuh umpatan untuknya. Tapi tidak apa-apa, demi mendapatkan dukungan dari ibu mertuanya dia akan menjalankan misinya itu. Abel menghela napasnya, sepertinya Ghazam berada di pihak Gala. Dia pun langsung menaiki tangga dan masuk ke kamarnya.


Abel mengambil bantal dan meremasnya kuat, sesaat dia menarik napas panjang dan berteriak seraya membenamkan wajah di bantal itu. "AAAAAAA GALAXY LO NYEBELIN BANGET, PENCITRAAN, JELEK!!" Dan masih banyak umpatan yang lainnya karena sudah pasti tidak akan terdengar ke bawah.


Setelah lega dia pun segera mengganti bajunya, dia harus menguatkan dirinya agar tidak keceplosan mengumpat ketika nanti Gala bertindak lebih menyebalkan.


Terlihat di bawah sana Gala dan Ibunya sedang berbincang hangat, Abel terus saja mengatur napasnya. Sekiranya dia harus meyakinkan ibunya kalau dia baik-baik saja.


Abel mengambil kursi di samping Gala, terlihat Gala tersenyum ke arahnya. Abel berusaha membalasnya meskipun saat ini rasanya ingin menabok pria itu.


"Yaudah kalian makan ya, Bunda udah makan. Sekarang mau suapin si kecil," ucap Nia.


Mereka pun hanya mengangguk sambil tersenyum. Sayur sop dan semur daging adalah kesukaan Abel, namun saat ini dia seperti tidak berselera untuk makan. Terlihat Gala sudah menyiuk makanan untuk dirinya sendiri. Hal yang sangat langka terjadi ketika tidak ada Ibunya Abel di rumah, membuat Abel merutuk dalam hati.

__ADS_1


"Loh, kamu gak makan, Kak?" Tanya Nia pada putrinya.


"Iy-"


"Maaf, Sayang aku lupa, ayok buka mulutnya. Aaaa." Gala menyendok makanan dan mendekatkannya pada bibir gadis itu.


Abel menatap bingung pada Gala, namun pria itu tersenyum dan semakin mendekatkan sendoknya. Mau tidak mau Abel menerima suapan itu.


"Abel akhir-akhir ini lebih suka makannya bareng, Bund. Biasa lagi manja," kata Gala menjelaskan pada ibu mertuanya.


"Ohh god kebohongan apa yang sedang dia ciptakan?" Batin Abel.


"O-ohh gitu. Kamu ini, Kak. Biasanya juga gak pernah gitu sama Bunda. Tapi gapapa kok wajar," ucap Nia yang paham kalau mereka adalah sepasang pengantin baru.


"Iya gapapa, Bund Gala juga seneng lakuinnya, Aa lagi," ucap Gala sambil menyuapkan nasi pada mulut Abel.


"Udah, aku udah kenyang," ucap Abel yang mencoba bicara aku-kamu karena takut kena omel Ibunya.


"Gak boleh kaya gitu, kamu pulang sore tadi. Pasti lupa makan, nanti sakit gimana?" Peringat Gala.


Sungguh Abel sudah gerah dengan pencitraan Gala. Ingin rasanya dia mengadu pada Ibunya tapi sudah pasti tidak akan dipercaya kalau melihat Gala seperti ini. Dia jarang bicara tapi sekalinya bisa bicara panjang lebar begini malah menyebalkan.


"Gak boleh gitu, makan lagi ya," ucap Gala yang menyuapi Istrinya lagi. Gala tidak tahan ingin tertawa melihat istrinya ini mendadak menjadi seorang penurut meskipun dengan wajah yang tertekan.


"Gala, gue pastiin lo gak akan aman setelah Bunda pulang!" Batin Abel seraya tersenyum penuh makna pada Gala. Namun pria itu santai saja, karena sekarang masih ada ibu mertuanya dan Abel tidak akan berani macam-macam.


Nia tersenyum senang melihat kedua anaknya ini akur dan rukun. Mereka sama-sama saling membantu satu sama lain, melihat Gala memperlakukan putrinya dengan baik membuat Nia tenang dan tidak salah mengirim putrinya pada Galaxy.


Meskipun Nia belum tau, apakah sudah ada rasa yang tumbuh diantara keduanya atau mereka masih sama-sama mencoba. Yang terpenting sekarang adalah melihat mereka rukun saja sudah cukup. Kedepannya mereka akan jauh lebih dewasa dan lebih memahami tentang makna pernikahan yang mereka jalani.

__ADS_1


__ADS_2