
Selesai mandi Gala langsung menuju kasur, membuka laptop dan juga makanan yang Abel bawakan untuknya. Dia tidak sempat makan di jalan karena briefing dengan pelatih dan setelah sampai dia juga masih harus ikut rapat dengan peserta dan panitia. Itu memang sudah menjadi tugasnya sebagai kapten tim basket.
Gala, Degas dan Raka mereka di satu kamar. Tentunya Gala tidak mau sekamar dengan orang yang kurang akrab dengannya. Kenyamanannya akan berpengaruh pada pekerjaan yang akan dia lakukan. Meskipun sepertinya akan lebih nyaman jika satu kamar bersama Abel. Sayangnya wanita itu tidak mau ikut karena masih malu-malu.
Gala membuka whatsaapp di laptopnya, tentu saja dia harus mengabari Abel. Pasti dia akan khawatir jika belum diberi kabar, apalagi pesan dari Abel baru dia baca sekarang. Gala memutuskan untuk melakukan video call. Sepertinya melihat wajah istrinya akan membuatnya cepat terlelap.
Baru berselang beberapa detik, Abel pun mengangkat panggilan Video dari Gala. Sepertinya gadis itu sedang belajar, terlihat dari beberapa buku yang dia pegang. Memang pekerjaan anak unggulan, sepertinya mereka banyak belajar seperti Abel.
"Udah sampe?" Tanyanya dari seberang sana.
"Udah, ini lagi di hotel. Maaf ya baru ngabarin, tadi rapat dulu. Kenapa belum tidur hm?" Tanya Gala.
"Gue lagi kerjain tugas, di sana dikasih makan gak?" Tanya Abel yang menyingkirkan buku-bukunya sebentar.
"Belum, cuma dikasih makanan ringan doang. Tapi ini lagi makan bekel yang lo bawain. Makasih ya, jadi gue gak kelaparan di sini. Udah kangen belum?" Tanya Gala sedikit menggoda Abel.
"Gak kangen, biasa aja," jawab gadis itu singkat.
"Yaudah kalau gak kangen, gue pulangnya kalau lo udah bilang kangen ke gue," ancam Gala.
"Lo bilangnya cuma 3 hari ya Gala, sekolah lo nanti gimana? Pekerjaan lo di sekolah? Jangan ngaco," kesal Abel.
"Itu bisa dihandle dari jarak jauh, tinggal bilang kangen aja susah banget. Padahal sama suami sendiri, tadi siapa tuh yang rewel gak mau ditinggal?" Tanya Gala sambil terkekeh.
"Gak rewel gue cuma lagi mau pms aja makanya badmood, jangan geer," elak Abel.
"Tapi bunda chat gue katanya ada yang gak nafsu makan karena kangen suaminya, terus cek hp berkali-kali sambil mondar-mandir, itu siapa ya?" Tentu itu Abel, dia sudah berkoalisi sekarang dengan ibu mertuanya, sehingga bisa mudah mendapatkan informasi.
"Ck, males banget ah lo sekongkol sama bunda ya?" Kesal Abel.
"Hahaha makanya jangan gengsi, gue juga kangen sama lo kok. Tungguin ya, sabar. Jangan terlalu dipikirin, nanti gak kerasa udah 3 hari dan gue ke sana jemput lo pulang."
"Hmm," balas Abel.
Gala terkekeh melihat Abel yang secara tidak langsung malah mengiyakan statement kalau dia sedang rindu. Tobat deh kalau mempunyai istri gengsinya seperti Abel. Jangan harap akan mendapatkan jawaban, dia akan bertahan dengan pride-nya.
__ADS_1
"Yaudah sana tidur, gue mau selesain kerjaan. Habis itu tidur, besok pagi udah mulai kegiatannya. Jangan tidur kemalaman," peringat Gala.
Sebenarnya dia ingin menemani Abel sampai tertidur, tapi dia masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.
"Iya lo juga jangan tidur kemaleman ya. Apalagi udah mulai aktivitas, minum vitaminnya. Berdoa dulu sebelum tanding, minum air putih yang banyak!"
"Iya, Sayang. Yaudah gue matiin dulu ya. I love you,"
Abel terlihat nampak kaget dengan ucapan Gala. Gadis itu tanpa membalas langsung mematikan panggilannya. Gala hanya tertawa melihat tingkah gemas Abel yang seperti itu. Bikin rindur saja.
Di sisi lain Degas dan Raka saling memandang. Mereka cukup geli melihat Gala, baru kali ini dia memperlakukan wanita seperti itu. Memang mereka sudah sah, tapi masih perlu waktu untuk dicerna dalam akal.
"Galak banget istri lo, Gal," celetuk Raka yang mendengarkan pecakapan mereka.
"Emang, gengsian juga. Gemes," jawab Gala asal.
"Bucin banget, tapi kalau dia galak emang lo tahan dicuekin begitu? Lo udah kebiasaan dikejar-kejar cewek aneh gak sih diperlakuin gitu?" Tanya Degas.
"Dia itu perhatian, semua perlengkapan gue dia yang siapin. Kaya anak kucing, manja, tapi emang gengsinya aja tinggi," balas Gala.
"Bukannya dia gak mau punya komitment sama cowok? Wajar sih menurut gue kalau dia jutek atau cuek. Ya ada kemajuan aja mau seranjang sama lo," ucap Raka.
"Percaya sih gue, batu yang keras lama-lama juga kan terkikis. Suatu saat dia bakalan jinak banget sama pawangnya," cetus Degas.
Gala hanya mengacungkan jempol sembari memakan makanannya lagi. Untung saja Abel memberinya bekal, kalau tidak dia akan kelaparan. Memang feeling istri kuat, takut suaminya kenapa-kenapa.
"Itu Abel yang siapin?" Tanya Raka sambil melirik kotak makan milik Gala.
Gala mengangguk. "Iya, pulang sekolah dia langsung masakin. Malemnya dia juga yang ngurusin gue sama perlengkapan yang harus gue bawa."
"Enak ya kalau punya istri dibawain bekel, manjaan, dikangenin, bucinan syariah karena halal," ucap Degas.
"Enak, apalagi istrinya Abel," jawab Gala santai yang sedang fokus dengan pekerjannya.
"Lo beneran cinta sama Abel, Gal? Secara kalian kan dijodohin?" Pertanyaan yang sudah lama ingin Raka Tanyakan tapi baru kesampaian sekarang.
"Awalnya gak," jawab Gala singkat.
__ADS_1
"Sekarang?" Tanya Degas yang juga mulai kepo dengan pembahasan pria malam ini.
"Of course," balas.
"Bisa gak sih lo kalau ngomong jelasan dikit, yang panjang kek, sama Abel aja panjang kali lebar itu kalimat," kesal Degas.
"Cinta, gue udah cinta sama dia. Gak mungkin tidur sekamar gak ngehasilin apa-apa," jawabnya enteng sembari memakan roti miliknya dan tetap fokus pada layar laptop.
"Menghasilkan apa woyy, ambigu. Jadi kalian udah anu? Anu anuan? Gila, udah dapet kenikmatan aja lo. Gimana gimana rasanya?" Tanya Raka.
"Cerita dong, Gal. Edukasi buat kita yang belum nikah. Gimana rasanya, kalau di ranjang Abel masih galak?" Tanya Degas.
Gala melirik teman-temannya, pembahasan mereka ini memang sedikit belok, tapi namanya juga pria. Pembahasan seperti tentulah menarik. Hitung-hitung sharing, siapa tau bisa Gala praktekan.
"Belum, tapi udah nyicil," jawab Gala.
"Hahh? Nyicil gimana, Gal? Lu mau buat anak apa kredit anak?" Degas menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya nyicil, gak langsung masuk," balas Gala.
"Jangan bilang lu gak bisa masukinnya? Payah, sini biar gue ajarin. Butuh tutor atau video?" Tanya Raka.
"Gakk, gue bisa. Cuma kalau nyicil lebih enak aja, sekalian ngajarin soalnya dia polos." Gala kembali memfokuskan pandangan ke arah laptop.
"Masa sih Abel polos? Serius? Gue kira hot baby gitu, auranya kaya hot baby," ucap Raka sambil menggelengkan kepalanya keheranan.
"Gua juga mikir dia hot baby, dominan gitu," ucap Raka sabil membayangkan.
"Jangan bayangin istri gue," peringat Gala pada teman-temannya yang memang berotak mesum semuanya.
"Engga elah, dikit doang. Lagian mau gimana-gimana juga tetep istri lo, Gal," balas Degas.
"Jadi beneran dia polos?" Tanya Raka lagi.
"Polos dan gue lebih suka yang polos, jadi gue bisa melatih dia menjadi profesional," kata Gala bangga.
Mereka meneguk ludah, Gala ini sudah seperti om-om berpengalaman. Padahal mereka tau kalau Gala mungkin hanya melakukannya dengan Abel. Kalau begini rasa-rasanya mereka juga ingin menikah.
__ADS_1
Gala memang bukan ahlinya, tapi tentu dia akan lebih senang jika dia yang mengajari Abel. Ada kepuasan sendiri dalam dirinya. Seperti saat Abel membalas ciumannya, tapi dia tidak akan membaginya pada Raka dan Degas. Takut mereka tergoda dengan Abel.