Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Kenyataan Pagi Hari


__ADS_3


Sebuah ruangan dengan nuansa putih menjadi hal yang Abel lihat pertama kali, dia juga merasakan genggaman pada tangannya. Abel mencoba untuk duduk namun dia meringis kesakitan akibat rasa ngilu di area bawah dan juga perutnya. "Akkh."


Gala terbangun saat mendengar Abel meringis, dia langsung membantu istrinya kembali berbaring dan menaikan sedikit ranjangnya agar Abel merasa nyaman.


Untuk sejenak Abel merasa ada yang aneh, tapi apa? "Gal."


Gala menghampiri Abel lalu mengusap rambutnya pelan. "Kenapa? Ada yang sakit?"


Abel mengangguk. "Perut aku sakit banget. Baby Jiel kata dokter baik-baik aja, kan?" Tanya Abel.


Gala terdiam, apa yang harus dia katakan ketika sekarang saja dia melihat Abel melengkungkan senyumnya. Abel panik, dia merasa kalau perutnya tidak seperti sebelumnya. "Gal, jawab akuu! Gal kenapa perut aku mengecil?" Matanya mulai berkaca-kaca sekarang.


"GALAXY KENAPA KAMU DIEM AJA?!" Bentak Abel yang tanpa sadar kini dia sudah menangis.


Gala berusaha menguatkan dirinya sendiri, sejujurnya dia tidak sanggup untuk mengatakan ini pada Abel. "Kamu keguguran."


Abel terkekeh, lelucon apa yang Gala lontarkan sekarang? Abel mengubah posisinya menjadi duduk, tidak peduli dengan rasa sakit yang dia rasakan sekarang, sekali lagi dia menatap Gala dan mencengkeram lengan Gala. "Gala ini gak lucu, kamu bohong! Anak aku gak mungkin udah gak ada! Kau bercanda, kan? Liat aku sekarang, Gal! Galaxy kamu gak boleh bohong sama aku!"


Gala masih terdiam, bagaimana dia bisa membalas tatapan Abel yang kini memancarkan kesedihannya, dia tidak bisa melihat Abel seperti itu.


"Gala jawab bayi kita kemana??!!" Teriak Abel yang kini sudah mulai histeris.


Gala menarik Abel kedalam pelukannya, gadis itu sedikit berontak, namun Gala mengeratkan pelukannya. "Bayi kita udah gak ada, Bel. Kita ikhlasin ya?"


"Tapi kenapa?!! Aku gak bisa kehilangan anak aku, Gal. Anak kita pasti lahir, kan? Anak kita yang selalu aku ajak bicara setiap pagi, dia kuat, kan? Kenapa Tuhan ambil anak aku? Aku bukan Ibu yang baik ya? Aku gak bisa jaga dia ya? Aku gak pantes jadi seorang Ibu ya, Gal? Gallll kembaliin anak akuu!" Abel mencengkeram kuat baju Gala. Hari ini, saat dia membuka mata adalah hal yang paling menyakitkan yang pernah Abel rasakan dalam hidupnya.


Gala menghela napasnya, dia tidak memiliki semua jawaban yang ditanyakan Abel sekarang. Jika Abel terluka, maka seandainya dia tau kalau Gala sekarang jauh lebih terluka karena melihatnya hancur seperti ini.


Semua keluarga pun masuk ke ruangan, melihat kejadian itu mereka tidak tega sebenarnya. Jadi mereka memutuskan untuk tidak mendekat dulu.

__ADS_1


"Gall jangan diem aja, kembaliin anak aku." Abel melemah, semua tubuhnya lemas seketika dan dia merasa tidak menapak di bumi ini.


Gala menangkup pipi istrinya, berusaha memberikan kekuatan dan menghapus air matanya perlahan. "Heyy, look at me! Aku juga sedih karena kehilangan anak kita, aku paham juga perasaan kamu yang ngandung dia selama 5 bulan ini. Tapi semua ini udah diatur, Sayang. Kita ikhlasin ya, Bel. Kamu udah jadi Ibu yang baik, jangan salahin diri kamu kaya gitu. Kamu gak salah, tapi Allah lebih sayang sama anak kita, jadi diambil dulu."


Abel menggeleng lemah. "Tapi aku gak bisa kehilangan anak aku, Gal. Aku gak bisa, aku udah berharap nanti waktu dia lahir kamu yang gendong dia pertama kali, terus aku bisa peluk dan ciumi dia, ajak dia bicara setiap pagi, tapi kenapa itu gak bisa terjadi? Aku gak sanggup nanggung ini semua, Gal."


Gala mencium kening Abel dengan lembut dan menatapnya dalam-dalam. "Kita laluin sama-sama ya? Kita tanggu berdua. Kamu punya aku." Mungkin hanya itu yang bisa Gala ucapkan sekarang.


Nia dan Dara ikut menangis, mereka paham sekali apa yang dirasakan Abel saat ini. Jauh dari anak mereka saja sudah membuat mereka sakit, apalagi harus kehilangan seorang anak.


Nia akhirnya menghampiri putrinya, mengelus punggung Abel dan mengecup rambut putrinya perlahan. "Ikhlas, sabar, Bunda yakin kamu kuat, Sayang. Kamu cuma perlu waktu, kamu itu anak Bunda dan Bunda tau kalau kamu bisa menghadapi ini semua.


Abel masih belum melepaskan pelukannya pada Gala, dia semakin menangis mendengarnya. Jujur saja, kata-kata apapun tidak bisa membuatnya tenang sekarang, dia hanya ingin menangis.


.


.


.


Perasaannya kosong, sepertinya memang sebagian kebahagiannya sekarang telah pergi bersama anak mereka. Sesekali dia menarik napasnya dalam dan kembali mengeluarkan air mata, namun dia cepat-cepat menyekanya.


Seseorang tiba-tiba masuk ke sana, terlihat Gala yang datang dengan membawa beberapa makanan di tangannya. Abel masih tidak berpaling dengan tatapannya, tidak peduli juga siapa yang datang. Dia hanya ingin terdiam seperti ini. Gal juga tidak mempermasalahkan, dokter bilang kalau kondisi mental Abel belum stabil dan memerlukan proses untuk penyembuhannya.


"Aku mau pulang," ucap Abel tiba-tiba.


Gala duduk dan menggenggam tangan Abel dengan lembut. "Kamu kan belum pulih, di sini dulu beberapa hari."


"Aku mau pulang, Gal."


"Kamu masih sakit."

__ADS_1


"Aku gak kenapa-kenapa. Aku mau pulang sekarang," ucap Abel kekeh. Dia tidak mau di sini, akan lebih bebas jika dia menjalankan hari-harinya di rumah.


"Oke, aku tanya dokter. Tapi kamu makan dulu, dari kemarin kamu belum makan. Gimana?" Tawar Gala.


"Aku gak lapar, aku maunya pulang."


Gala menghela napasnya, Abel memang keras kepala. Ditambah kondisinya yang tidak stabil, di tengah kesedihannya Gala juga harus menurunkan ego. "Dokter nahan kamu di sini karena kamu belum pulih, kamu belum makan, minum. Kalau pulang sekarang terus kamu kekurangan nutrisi dan dehidrasi lagi ujungnya kamu kesini lagi, kan?"


Abel terdiam, memang benar apa yang Gala katakan. Tapi sebenarnya dia sedang tidak ingin makan. Dia sama sekali tidak memiliki nafsu makan sekarang.


"Makan ya? Aku suapin," ucap Gala.


"Tapi pulang sekarang."


"Iya, kamu makan dulu. Baru aku izin ke dokter buat bawa kamu pulang."


Abel hanya mengangguk pelan. Gala tersenyum, setidaknya untuk sekarang Abel bisa makan dulu. Setelah ini baru dia pikirkan agar kondisi Abel membaik. Untung saja kakaknya mau menggantikan pekerjaan Gala di kantor, kalau tidak mungkin dia akan benar-benar keteteran.


Gala menyuapkan makanan pada Abel, meskipun tidak mau Abel harus memakannya agar dia bisa segera pulang hari ini. "Udah ya?"


"Baru dua suapan, makan yang banyak. Baby Jiel di sana pasti sedih liat mamanya sedih sampai gak mau makan. Kamu gak sayang dia?" Tanya Gala.


Abel menyeka air matanya lagi saat mendengar ucapan Gala. "Aku mau ketemu baby."


"Iya nanti setelah kamu pulih aku ajak kamu ke sana. Gak ada sekarang, kalau pulang ya kita langsung pulang."


"Tapi aku-"


"Bel, aku pasti bawa kamu ke sana. Tapi kamu butuh banyak istirahat sekarang. Kalau kita pulang kamu juga harus banyak istirahat. Oke? Apapun yang kau mau pasti aku penuhi, tapi untuk sekarang kamu nurut ya?"


Abel menurut saja, dia berpikir kasihan juga Gala. Dia juga pasti terpuruk, bukan hanya dirinya. Tapi Gala masih bisa terlihat tegar dan merawatnya seperti ini. Dia juga tidak boleh egois, kan?

__ADS_1


__ADS_2