Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Serangan Panik


__ADS_3


Hari sabtu adalah hari libur, setelah membersihkan semua ruangan Abel dan Gala bersantai di depan TV sambil menonton kartun. Tiba-tiba bell berbunyi.


Kebiasaan Abel dan Gala ketika di rumah adalah : Kalau ada tamu akan langsung berlari. Seperti sekarang mereka sudah berlari dan menaiki tangga.


"Gala, ihh! Lo yang buka," kata Abel menghentikan langkahnya.


"Gak, lo yang buka. Gue gak bisa nerima tamu," protes Gala.


"Gak mau ih, gue gak pernah juga terima tamu kalau buka tukang paket. Lo aja gih ini kan rumah lo, siapa tau tamu lo," kata Abel memaksa.


"Gak mau!"


Ponsel Gala berbunyi, tertera nama Jela di sana. Gala pun hanya mengabaikan panggilan itu. Namun sepersekian detik berikutnya, notif pesan muncul.


Jela ❤️ : Aku depan rumah


Jela ❤️ : Kamu di rumah kan?


Jela ❤️ : Yang!! Aku depan rumah kamu!


Gala menghela napasnya, ada apa Jela ke rumahnya hari libur begini?


"Lo ngumpet, itu Jela." Gala pun turun dari tangga dan melangkah menuju pintu. Sementara Abel dia bersembunyi di balik tembok.


Gala membuka pintu, terlihat Jela sudah ada di sana dengan wajah kusutnya. Dia tau kalau gadis itu sedang marah karena beberapa hari ini Gala abaikan.


"Ngapain kamu kesini?" Tanya Gala.


Jela pun langsung masuk ke dalam rumah Gala sambil mengomel. " Ya terus aku harus ngapain? Kamu beberapa hari ini menghindar di sekolah, aku chat gak bales, telfon gak diangkat. Kamu kenapa?" Jela nampak kesal dengan pria itu.


"Kita pacaran kan gak harus setiap hari komunikasi," jawab Gala santai.


"Gak harus?! Kamu kan harus temenin aku belanja, temenin aku main, jalan, bikin aku seneng. Aku kan pacar kamu, Gal. Aku juga butuh waktu kamu. Aku gak suka ya kaya gitu," kesal Jela.


"Gak bisa kerjaan aku banyak."

__ADS_1


"Gal, sekali lagi aku bilang, aku itu pacar kamu ya. Kamu gak bisa kaya gitu sama aku, aku itu prioritas kamu. Jangan kerja kerja kerja aja yang kamu pikirin. Ak-"


"Ayok kita putus," ucap Gala spontan karena tidak kuat mendengarkan ocehan wanita yang ada di hadapannya ini.


"P-putus? Kok jadi kamu yang minta putus?" Tanya Jela yang tak terima.


"Aku gak bisa prioritasin kamu, sekarang aku banyak kerjaan. Kalau kamu menuntut ini itu aku gak bisa," jawab Gala.


"Tapi, Gal-"


"Udah ya, Jel. Ini Sabtu, waktunya istirahat lebih baik kamu pulang," ucap Gala.


"Aku gak mau putus! Kamu kok jahat sama aku, aku gak mau putus Gala!" Kini Jela sudah terisak. Walaupun hubungan mereka baru 5 bulan, tapi Jela sangat menyayangi Gala.


"Udah gak bisa, Jel. Sekarang aku lebih fokus sama karir. Maaf ya, kamu bisa dapet cowok yang lebih baik."


Gala sudah tidak ingin bicara apa-apa jadi apapun yang Jela katakan dia tidak peduli. Selain karena jenuh dengan sikap Jela yang kekanak-kanakan Gala rasa ini waktu yang tepat untuk menepati janji pada Abel meskipun gadis itu tidak memintanya.


"Kamu jahat tau gak!" Jela berlari keluar rumah Gala. Akan percuma jika dia terus memohon jika Gala sudah terdiam. Hatinya hancur sekarang.


Jela memasuki mobilnya dengan tangis yang semakin pecah. Berusaha mendapatkan Gala itu tidak mudah sekarang dia harus putus dari pria itu. Dia akan malu jika semua orang di sekolahnya mengetahui kabar putusnya mereka. Bisa turun reputasinya di sekolah.


...~ • ~...


Abel menoleh keluar dari tempat persembunyiannya. Baru saja dia melihat adegan drama korea yang dibintangi oleh Gala dan Jela. Sedikit tertawa karena terlihat lucu baginya.


Baru selangkah dia akan menaiki tangga tiba-tiba. "Gue udah nepatin janji buat putusin Jela kan?"


Abel berbalik menatap Gala dan menghampiri pria itu. "Kan gue gak minta? Lo janji sendiri."


"Iya itu pembuktian janji gue. Jadi, sekarang apa jawaban lo?" Tanya Gala yang melangkah mendekati Abel.


"Jawaban apa?" Tanya Abel pura-pura tak paham.


Gala terus menatapnya dengan tajam, kakinya tidak berhenti melangkah mendekat ke arah Abel. Abel mundur dan berusaha menghindari Gala, namun tubuhnya menabrak tembok.


Gala mengunci pergerakan Abel, ditatapnya gadis itu lekat-lekat.

__ADS_1


"Gal ..."


"Lo cuma punya dua pilihan, iya atau engga?" Tegas Gala.


Abel terdiam, kenapa Gala bersikukuh ingin menjalani pernikahan ini dengan serius? Jujur dia tidak tau harus menjawab apa. Kalau dia iyakan, dia tidak bisa. Kalau dia menolak dia akan menjadi janda muda.


"Kenapa sih lo mau jalanin pernikahan ini? Kit-"


"Bel gue gak ngajak berdebat, gue ngajak serius," potongnya.


Tidak ada jawaban dari Abel. Melihat Gala dari jarak yang seperti ini membuatnya kembali teringat dengan kenangan di masa lalu. Jantungnya sudah mulai tidak karuan, dia sedikit takut.


"Kalau lo diem, artinya iya. Oke jadi istri yang baik," ucap Gala seraya mengusak rambut Abel lembut. Setelah itu dia kembali ke sofa untuk menonton TV.


Abel yang kaget langsung menaiki tangga dan memasuki kamarnya. Dia merutuki dirinya sendiri dalam hati.


"Kenapa lo harus diem tadii??!! Harusnya lo bisa tegas, tapi kenapa lo malah bingung? Kenapa gue bener-bener terjebak dan gak punya pilihan lain?" Gerutunya frustrasi.


Abel benar-benar tidak bisa memulai hubungan dengan siapapun. Trust issue, luka, trauma, semuanya bersarang dalam pikirannya. Dia tidak ingin menyakiti dirinya dengan menyimpan kepercayaan kepada seseorang. Dia pernah patah, dikecewakan oleh orang-orang terdekatnya. Dia tidak bisa.


Napasnya tidak teratur, keringat dingin pun bercucuran. Hal yang kerap terjadi ketika Abel mengingat kejadian beberapa tahun lalu. Dion Abiseka, Fajar Adiputra, dia akan mengingat nama mereka sepanjang hidupnya.


Abel berjalan menuju mejanya, dia mengambil obat anti-depresan di sebuah kotak kecil. Dia turun ke bawah dan segera mengambil segelas air. Perlahan dia meminum obat itu dan mencoba mengatur napasnya agar lebih tenang.


Gala yang melihat itu langsung menghampiri Abel. Wajahnya terlihat pucat, napasnya tersenggal dan keringat yang keluar banyak dari pelipisnya membuat Gala sedikit cemas.


"Lo kenapa?" Tanya Gala cepat.


Abel menggelengkan kepalanya, dia fokus untuk mengatur napasnya agar serangan paniknya terkontrol.


"Minum apa tadi? Jangan sembarang minum obat! Ayok ke dokter." Gala memegang lengan Abel dan mengajaknya pergi ke dokter.


Namun Abel melepaskannya perlahan. "Gak, gak perlu. Gue mau tidur, jangan tanya gue dulu." Abel pun melenggang pergi dan kembali ke kamarnya.


Gala melirik tabung obat yang ada di meja. Dia langsung mencari di google tentang obat itu.


Adalah salah satu jenis anti-depresan dan obat yang digunakan untuk menangani depresi. Obat ini bekerja dengan cara menyeimbangkan senyawa kimia alami di dalam otak yang disebut neurotransmiter. Cara kerja ini bisa membantu memperbaiki dan menyeimbangkan suasana hati dan emosi penderita depresi.

__ADS_1


Gala mengangguk paham, berarti ibu mertuanya benar, kalau sampai sekarang Abel masih trauma dengan kejadian di masa lalunya. Dia sedikit merasa bersalah telah memaksa Abel. Tapi dia melakukan ini agar bisa membantu Abel. Karena jika mereka tidak menetapkan iya atau tidak, akan ada batasan yang Gala hadapi dan tidak bisa membantu Abel pulih.


Entah perasaan apa, tapi Gala merasa bertanggung jawab dengan kondisi Abel. Dia ingin melakukan sesuatu agar gadis itu bisa kembali mempercayai orang-orang disekitarnya.


__ADS_2