Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Ngidam Pertama Kali


__ADS_3


Abel terbangun di jam 2 malam, rasanya dia tidak bisa tidur kembali. Matanya melirik ke arah Galaxy yang tertidur pulas sekali. Dia jadi tidak tega membangunkannya, tapi dia sekarang sangat ingin makan nasi goreng yang dekat dengan sekolahnya dulu.


Sesekali dia menghela napas dan mengusap perutnya dengan lembut. "Baby, jangan sekarang ya maunya. Kasian papa kalau dibangunin."


Akhirnya Abel berusaha untuk tidur kembali, namun perasaannya seperti gelisah. Ada perasaan di mana dia ingin sekali keinginannya dituruti sekarang juga, tapi dia sadar ini sudah malam. Apa dia beli sendiri saja? Lagi pula Gala tidak akan terbangun juga.


Abel meyakinkan diri sendiri lalu turun dari kasur, namun itu membuat Gala terusik dan terbangun dari tidurnya. "Kamu mau kemana, Sayang?" Tanya Gala dengan suara berat khas bangun tidur.


Gadis itu tediam sembari menggigit bibirnya pelan. "Ituu, emmm apasihh."


"Apaa? Mau kemana? Ke air?" Tanya Gala yang kini mengubah posisinya menjadi duduk."


Abel menggeleng. "Bukan, tapi kamu jangan marah."


"Kenapa harus marah?"


"Aku mau ke Artadinata yang di deket sekolah kita, mau makan nasi goreng di sana," ucap Abel.


"Kamu gak salah? Ini jam berapa, cantik?" Besok deh pulangnya aku beliin ya? Ini udah malem banget atau besok pulang kerja kita ke sana?" Tawar Gala pada istrinya.


"Aku mau sekarang, Gal. Mau banget, Baby Jiel yang mau," kata Abel.


"Kamu ngidam segini hari? Ya Allah, Baby. Yaudah ayok, kita ke sana sekarang." Gala memang sudah menunggu hari ini, jadi walaupun dia mengantuk, tapi pasti akan memenuhi keinginan istrinya.


Dia memakaikan jaket pada istrinya agar tidak masuk angin, setelah itu berjalan ke luar dan menaiki mobil. Abel senang sekali, kalau begini rasanya dia merasa diperhatikan. Penahan Gala melajukan mobilnya.


"Selain nasi goreng kamu mau apalagi? Biar kita beli sekarang," kata Gala.


Abel menggeleng. "Aku gak mau apa-apa, aku cuma mau nasi goreng aja. Maaf ya kamu jadi harus kebangun segini hari."


"Gapapa, aku malah seneng. Akhirnya kamu ngidam, berarti kamu ibu hamil yang normal. Aneh kalau gak mau apa-apa," balas Gala.


Tempat itu tidak begitu jauh dari rumah mereka, hingga beberapa menit saja sekarang mereka sudah sampai di sana. Sepi, ya tidak salah juga sih. Karena ini masih malam sekali.


"Makannya di mobil aja ya, aku takut kamu masuk angin. Tunggu di sini sebentar, biar aku yang beli," ucap Galaxy dan dihadiahi anggukan oleh Abel.


Setelah beberapa lama Gala kembali masuk ke mobil dan membawa sepiring nasi goreng ke hadapan Abel. "Nih."


Abel sekilas tersenyum, tapi entah kenapa dia tidak suka baunya, perutnya merasa mual. Abel langsung mengambil tissue dan memuntahkan isi perutnya yang tidak ada apa-apa.


"Loh kamu kenapa?" Tanya Gala.

__ADS_1


"Aku gak mau makan itu, Gal. Kamu aja yang makan," kata Abel.


"Tadi katanya mau nasi goreng."


"Udah gak mau, kamu aja yang makan nasi gorengnya. Aku mual banget," ucap Abel.


"Katanya Baby Jiel yang mau, kasian dia gak makan nasi goreng."


"Udah gak mau dia, Papa. Maunya liat kamu makan nasi gorengnya."


"Aku yang makan? Tapi aku gak lapar, Sayang. Kan niatnya mau nemenin kamu makan nasi goreng."


"Makann, mau liat kamu makan. Kamu mau emangnya kalau anak kita nanti lahirnya ngencess? Jahatnya papa, Sayang," ucap Abel sambil mengelus perutnya sendiri.


Gala menghela napasnya, ternyata Ibu hamil kalau ngidamnya seperti Abel cukup menyebalkan. "Yauda aku makan, jangan sedihh gitu." Gala mengalah, akhirnya dia memakan nasi goreng itu. Abel tersenyum melihat Gala makan, entah kenapa ada kepuasan sendiri dalam dirinya.


.


.


.


Setelah selesai makan nasi goreng, mereka pun kembali ke rumah. Abel turun dari mobil dan menatap ke arah pohon mangga yang ada di depan rumahnya. Gala merangkul pinggang Abel tapi gadis itu belum mau beranjak.


"Kamu mau gak ambilin aku mangga muda itu?" Tanya Abel sembari menatap ke arah Gala.


"Kamu mau mangga? Jangan aneh-aneh, kamu mau aku manjat tengah malem?"


Abel memasang wajah memelas, kalau sudah begitu Gala mana tega melihatnya. "Tapi dimakan ya? Jangan sampai nyuruh aku lagi makan mangganya."


Abel mengangguk. "Iya, aku pingin banget soalnya."


Gala dan Abel mendekat ke arah pohon, untung saja untuk urusan memanjat Gala memang jago. Gala akhirnya melepas sendal dan memanjat ke atas pohon, aneh-aneh saja permintaan Abel ini. Mana dia menginginkannya tengah malam, apa semua ibu hamil mengalami ini dan suaminya juga seperti dirinya? Perasaan asistennya hanya diminta membelikan banyak makanan dan dilakukan siang hari.


"Gal aku mau dua," teriak Abel.


"Bentar, ini mangganya jauh-jauh sayang. Banyak semut." Gala menepuk-nepuk tangannya, agak seram juga dia harus memanjat pohong malam-malam begini, kalau bukan demi anaknya dia belum tentu mau melakukannya. Tapi berhubung anaknya yang meminta pasti akan dia lakukan.


Gala memilih beberapa mangga yang cukup besar, entah kenapa juga Abel mau. Setahunya Abel tidak suka makan yang asam-asam, tapi sekarang malah menginginkan mangga muda. Setelah dapat Gala pun turun dan memberikannya pada Abel.


Abel kesenangan, dia menatap dua buah mangga yang kini ada di tangannya, dia tidak sabar ingin memakannya sekarang. Dia juga heran kenapa menginginkan mangga muda, tapi sepertinya enak jika memakannya segini hari.


"Makannya besok aja, nanti kamu sakit perut," peringat Gala.

__ADS_1


"Gak mau, Gal. Aku mau makannya sekarang, ayokk masukk. Gak sabar mau makan buahnya," ajak Abel dan langsung menggandeng suaminya masuk ke dalam.


Mereka duduk di meja makan. Dengan sabar Gala mengupas buah mangga itu untuk Abel. Mulutnya terasa tiba-tiba kecut saat mencium aromanya. Itu sudah pasti sangat asam.


Abel mengambil buah yang sudah Gala kupas di piring, dia memakannya seolah itu tidak asam sama sekali. "Enakk."


"Aneh, padahal kamu gak suka yang asem-asem. Bayi kita kenapa ngidamnya aneh-aneh sih, Sayang? Mana papanya disuruh manjat pohon segini hari, untung gak ketemu penunggu pohon."


"Gak boleh gitu, dia lagi seneng sekarang karena diikutin maunya. Kan katanya kamu mau aku ngidam, ini udah ngidam malah ngambek, yaudah nanti aku bilang sama Baby Jiel biar dia gak mau apa-apa," kata Abel.


"Tapi mintanya gak tengah malam juga, Bel," keluh Gala.


"Kan aku gak tau dia maunya kapan, besok besok aku beli sendiri aja atau manjat sendiri aja biar anak aku gak ngencess. Soalnya papanya marah karena dimintain segini hari."


"Engga gitu, Sayang. Yaudah-yaudah maaf yaa, mau apapun pasti aku turutin. Yaudahlah makan lagi mangganya, tadi katanya mau mangga, kan? Jangan ngambek, mau makan mangga di sungai Han juga aku ikutin."


Abel tersenyum puas, setelah itu kembali memakan mangganya. Sementara hanya menghela napasnya pasrah. Lagi pula memang tidak ada salahnya juga, Abel sedang mengandung anaknya, jadi dia harus bertanggung jawab untuk itu.


Setelah selesai makan mangga, mereka kembali ke kamar. Gala memeluk Abel seraya mengusap-usap perut istrinya yang tadi tiba-tiba saja keram.


"Baby, sekarang kamu tidur ya. Kasian mamanya kebangun segini hari. Kalau mau apa-apa besok pagi bilang aja, sekarang biarin mamanya tidur dulu ya? Jangan nakal."


"Gal, Minggu depan aku ada checkup. Soalnya 2 hari lagi Baby Jiel usianya udah 5 bulan di perut aku. Kita juga bisa tau dia cowok atau cewek setelah itu."


"Aku usahain ya, karena Minggu depan aku ada meeting penting. Tapi kalau bisa aku anter kamu," ucap Gala.


"Kalau gak bisa juga gapapa, aku bisa berangkat sendiri atau samba Bunda. Aku cuma mau bilang aja karena gak sabar mau tau anak kita cowok atau cewek."


"Tapi khawatir kalau gak nemenin kamu, Sayang," ucap Gala.


"Jangan khawatir, aku bisa jaga diri aku sendiri. Aku bakalan baik-baik aja. Jangan cemas berlebihan, biar anak kita juga berani kemana-mana sendiri kaya mamanya. Nanti aku kabarin kok."


"Iya gimana nanti aja, semoga aja aku bisa ya. Oh iya kayanya anak kita cowok, kamu jarang make up sekarang. Katanya kalau males dandan anaknya cowok," kata Gala.


"Gak tau, dia pasti cewek. Kamu gak tau aja kalau cewek itu males mandi, aku aja dulu males mandi," balas Abel.


"Yaudah, mau dia cowok atau cewek. Aku cuma berharap kalau dia sehat-sehat terus, kamu nya juga sehat. Gak kerasa udah mau lima bulan aja, udah deket ke lahiran. Jadi semoga aja dia baik-baik aja di sana. Itu lebih dari cukup buat aku." Gala mengeratkan pelukannya pada Abel, tidak juga mengelus punggungnya.


Abel mengangguk. "Iya, Sayang. Makasih ya hari ini kamu turutin maunya aku. Aku seneng."


"Sama-sama, Sayang. Yaudah sekarang kamu tidur. Udah malem banget, good night," ucap Gala.


"Good night too, Gala."

__ADS_1


Abel menyamankan posisinya, perutnya memang sudah mencari posisi yang nyaman. Setelah dia mendapatkannya, tak perlu waktu lama lagi Abel tertidur dengan pulas. Gala tersenyum melihat istrinya sudah tertidur. Meskipun maunya Abel aneh-aneh, ternyata mengikuti ngidam orang hamil seru juga. Tak selang lama, Gala pun ikut tertidur bersama Abel. Dia juga mengantuk, apalagi besok masih harus bekerja.


__ADS_2