Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Prinsip Abella


__ADS_3


Diamond girls, adalah sekumpulan cewek kelas atas dari SMA Gold Garuda. Paras mereka yang cantik, ditambah mereka adalah anak dari donatur sekolah, membuat mereka berkuasa dan disegani.


Mereka terdiri dari 3 anggota :


Karin Zevanya Abraham


Orang tuanya memiliki bisnis butik yang cukup ternama di kota ini. Awalnya dia murid biasa yang murah senyum, namun setelah bergabung bersama Jela dia menjadi sedikit angkuh.


Adelia Triana Raharja


Orang tuanya memiliki bisnis jual mobil branded yang ternama. Anak bungsu dari keluarga Raharja. Siapapun yang mengganggunya akan berhadapan dengan kedua kakak laki-lakinya.


Yang terakhir adalah si ketua genk.


Jela Zylfania Grenda


Orang tuanya adalah donatur utama di SMA Gold Garuda. Orang tuanya bahkan masuk ke dalam orang terkaya nomor xx di kota ini. Selalu mengandalkan kekuasaan orang tuanya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Pacar dari Galaxy Putra Alaric meskipun pernah mendapatkan 3 kali penolakan.


Tapi satu yang tidak pernah mereka ketahui adalah. Kakeknya Abella adalah salah satu founder dari SMA Gold Garuda. Keluarga Atmaja memang terkenal rendah hati jadi tidak ada yang mengetahui soal itu.


Diamond girls, mereka jalan begitu angkuh melewati koridor 1 sekolah.  Tidak ada satu pun yang menghalangi jalan mereka, bisa-bisa kena sedikit saja maka akan terjadi masalah.


"Gila ya mereka, berasa artis banget digituin," ketus Dinda, dia tidak menyukai kehadiran mereka. Bahkan dia pernah sempat berurusan dengan Jela karena menumpahkan minuman pada seragam Jela. Untung saja dia tomboy dan pemberani, jadi tidak terjadi hal buruk pada Dinda.


"Yaudahlah biarin aja, gak penting juga," kata Abel sembari membuka lokernya tak acuh.


Terlihat ada sebuah surat cinta lagi yang dia dapat entah dari siapa, kali ini berwarna ungu.


"Sumpah, surat cinta yang lo dapet udah setumpuk gitu gak mau lo bacain?" Tanya Dinda yang gemas melihat kelakuan Abel setiap kali mengantarnya ke loker.


"Ngapain dibuka? Kaya kurang kerjaan aja," jawab Abel sembari menyimpan surat itu di tumpukan surat lainnya.


"Emang kenapa sih lo gak mau memulai hubungan, Bel? Lo trauma sama cowok?" Tanya Dinda lagi.


"Gak tertarik aja," jawabnya singkat dan kembali menutup loker setelah menyimpan dobok nya. "Yuk ke kelas."


Baru saja Abel dan Dinda melangkah, terlihat di sudut koridor Jela dan Gala sedang bermesraan. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi jarak mereka begitu dekat.

__ADS_1


"Salah satu alasan kenapa gue benci cowok adalah, dia bisa bilang gak akan main-main tapi aslinya tetap brengsek," batin Abel.


"Kalau yang punya sekolah mau mojok juga bebas ya, coba kalau kita. Udah kena sanksi," bisik Dinda.


"Gapapa positifnya lo punya pandangan baik di mata orang-orang," ucap Abel santai dan berlalu tanpa menghiraukan kedua pasangan itu.


Dia bukan orang yang akan menelisik kehidupan pribadi seseorang, menurutnya hanya buang-buang waktu. Meskipun orang itu adalah Gala, yang katanya suaminya sendiri.


Setelah kepergian Abel, Gala sedikit menjauh dari Jela. "Yaudah aku ke kelas, bentar lagi masuk."


"Iya, Sayang. Semangat belajarnya," ucap Jela menyemangati.


Gala hanya tersenyum lalu melengos pergi. Gala merasa adrenalin nya tertantang. Baru kali ini ada yang mengabaikannya seperti Abel. Seharusnya dia beruntung, di saat yang lain mengejar Gala, dia malah menjadi istrinya dengan mudah. Tapi sayangnya itu tidak berlaku di kamus seorang Abella Gracia Atmaja yang mempunyai prinsip : Aku terlalu mahal untuk dimiliki seseorang.


.


.


.


Pulang sekolah hari ini, seperti biasa Abel ada jadwal latihan taekwondo. Saat ini mereka sedang latihan yang disebut juga pomsae atau rangkaian jurus yang diajarkan saat taekwondo.


"Haah," teriak semua anggota sambil memulai jurus-jurus yang sudah diajarkan beberapa minggu lalu.


Saat Abel sedang latihan di lapangan, Gala melihat Abel dari pintu masuk lapangan. Gadis itu memang kukuh pada pendiriannya, padahal Gala tau kalau kakeknya Abel telah melarangnya habis-habisan.


Abel melihat ke arah Galaxy yang berada di ujung sana, sedikit risih karena tidak biasanya sang pemilik sekolah itu memperhatikan ekskul taekwondo.


Sekarang dia akan menguji kekuatan tangan dan kakinya. Iya, berlatih kyokpa atau pemecahan dengan sasaran benda mati. Abel langsung menatap tajam ke arah Galaxy. Sementara yang ditatap masih sangat santai menikmati Abel yang terlihat lebih garang dari biasanya.


Gadis itu menatap fokus pada papan kayu di hadapannya. Dengan memasang kuda-kuda Abel langsung menendang papan itu dengan kakinya dan terbelah menjadi dua.


Gala sedikit bergidik ngeri melihatnya, ditambah sabuk hitam dan-1 yang dipakai Abel. Gadis itu kembali menatap Gala seraya mengacungkan jari tengahnya diam-diam pada Gala.


Bukannya takut tapi Gala malah menahan tawanya dan melengos pergi menuju ruangannya. Sekilas dia melihat Abel yang sedang beristirahat, saat sampai di ruangannya Gala langsung menghubungi gadis itu.


Drrrtr ... Drrrtt


Ponsel Abel berbunyi, Abel menatap layar ponselnya geram. Bisa-bisanya di sana tertera kontak Suami Tampan. ❤️

__ADS_1


"GALAXY!" Pekiknya dalam hati.


Dengan terpaksa dia mengangkat panggilan itu dan sedikit menjauh dari perkumpulannya.


"Kenapa?" Tanya Abel yang menahan kekesalannya.


Galaxy membayangkan bagaimana wajah kesal milik Abel sekarang, dia pasti tau kalau Abel sekarang sudah melihat perbuatannya.


"Keruangan gue, penting," jawabnya dibuat sedingin mungkin.


"Ngapain? Ngomong di rumah aja gue sibuk," tolak Abel.


"Gue kayanya punya nomor kakek Hendra," ucap Gala dari seberang sana.


Abel mengepalkan tangannya, kenapa seorang Galaxy begitu pemaksa?! Abel pun langsung mematikan panggilannya dan izin ke toilet. Bukan toilet yang dia tuju, tapi ruangan pribadi milik Gala.


Abel memasuki ruangan itu lalu menutupnya, bukan apa-apa tapi dia takut kalau ada orang yang melihatnya.


"Kenapa? Lo mau apa?" Tanya Abel to the point.


"Bukannya kakek udah larang lo ikut taekwondo?" Kini Gala yang bertanya balik.


"Kalau iya kenapa? Mau lapor kakek?" ketusnya.


"Gue udah dikasih kepercayaan buat awasin lo biar gak ikut ekskul itu lagi," ucapnya sambil menatap gadis itu datar.


"Tapi gue gak mau, jangan atur," kata Abel meniru gaya bicara Gala pada waktu itu.


"Gimana kalau lo ikutin kemauan gue dan gue bakalan keep rahasia lo?" Tanya Gala.


Abel menatap kesal pria itu, bisa-bisanya dia menawarkan pilihan ke hadapan seorang Abella?


"Cita-cita gue itu hak gue ya, Gal. Gak ada yang bisa batasin itu apalagi harus berlindung di balik lo dengan embel-embel kesepakatan yang entah gimana ujungnya. Kalau lo mau laporin kakek silahkan, lakuin aja. Gue lebih baik nerima resiko atas  perbuatan gue, daripada harus berlindung sama orang kaya lo," tegas Abel dan keluar dari ruangan itu.


Abel tidak habis pikir dengan jalan pikiran pria itu. Dia pikir semua orang harus mengikuti kemauannya? Abel akan tetap teguh pada prinsipnya dan tidak ada yang bisa mengubah itu.


"Bodo amat deh dia mau lapor apa gimana, emang dia pikir dia siapa biasa ngacam gue sewaktu-waktu karena hal ini? Dikira gue bego apa?!" Gerutunya.


Abel pun kembali ke lapangan untuk lanjut berlatih. Dia harus tetap semangat untuk membuktikan kalau prestasinya dalam taekwondo bisa membanggakan keluarganya.

__ADS_1


Di sisi lain Gala puas dengan jawaban Abel. Dia pikir wanita itu akan mengenyampingkan prinsipnya demi tujuannya, ternyata Dia salah. Dia semakin tertantang dan dia semakin yakin dengan keputusan yang akan dia ambil nanti.


__ADS_2