
Hai-hai, aku baru sembuh guys. Jad besok aku mulai aktif lagi update 2 kali sehari. Maaf ya atas ketidak nyamanannya. Kali ini aku update 1 part dulu yaa. Happy reading~
Pulang sekolah Abel tetap berada di kamarnya. Dia sebenarnya pusing memikirkan perkataan Kakek John tadi siang. Niat sejak awal hanya menjalankan pernikahan, tapi ujungnya dipinta anak. Tentu dia belum berpikir sejauh itu.
Abel menatap dirinya di cermin, membayangkan kalau perutnya ini membesar karena mengandung. Ada senangnya juga, mungkin dia akan meminta Gala untuk memanjat menara Monas. Itu boleh saja kan? Tapi seketika dia tersadar ke dunianya.
"Kebayang gak sih lo kalau punya anak setelah lulus? Atau bahkan pas masih SMA?" Abel menggeleng cepat, dia tidak bisa membayangkan jika di dalam perutnya ini ada seorang bayi.
Apalagi dia menjadi terbayang apa kata orang-orang tentang bagaimana rasanya malam pertama yang menyakitkan. Abel membuka ponselnya dan mengetikan beberapa kalimat, "Bagaimana rasanya malam pertama."
Melakukan hubungan intim untuk pertama kalinya memang bisa membuat wanita merasakan nyeri di bagian **** *. Hal ini wajar, karena selaput daramu akan robek saatpenetrasi. Jika kamu stres atau tegang, justru akan membuat momen malam pertama kamu menjadi semakin terasa menyakitkan.
Abel langsung memegang bagian intimnya yang mendadak ngilu saat membayangkannya. Otaknya mulai berpikir kemana-mana. Apalagi dia belum pernah merasakannya, itu pasti mengerikan. Dia berpikir, apakah bagian itu boleh diskip saja?
"Ahh, kalau kaya gini gimana? Untung aja Gala gak ada, coba kalau ada. Dia pasti eksekusi gue hari ini juga, semoga aja Kakek gak bilang itu ke Gala," gumamnya.
Dia mengecek beberapa notifikasi pesan di ponselnya. Sepertinya Gala sedang sibuk hari ini, sehingga dia belum mengabarinya hari ini. Terkadang dia jadi merasa kesepian juga kalau tidak ada Gala.
Nia membuka kamar anaknya dan melihat anaknya seperti orang cemas yang sibuk mondar-mandir. "Kamu kenapa, Sayang?"
Abel menatap ke arah Ibunya. Apa dia cerita saja ya soal ke khawatirannya ini? "Emm itu, Bund. Aduuh aku ngerasa kaya stress banget."
Nia menghampiri putrinya dan mengajaknya untuk berbincang sejenak sambil duduk santai di tepi kasur. Perlahan Nia mengelus punggung anaknya agar dia merasa lebih tenang. "Kenapa?"
"Bund, Kakeknya Gala minta cicit tadi di sekolah." Satu kalimat yang berhasil dikeluarkan oleh Abel.
Nia terkekeh mendengar perkataan anaknya, pantas saja dia terlihat sangat panik. "Terus masalahnya di mana?"
"Bund, aku baru kelas 11 loh. Masa udah ditagih cicit, aku tuh masih tahap buat nerima gitu. Ya emang sih gak memaksa cuma kaya stress aja gak sih di umur segini udah ditanya begitu?" Keluh Abel sembari menghela napasnya.
"Mungkin kakeknya Gala itu ingat umur juga, beliau takut kalau tidak sempat menimang cicit dari cucu kesayangannya. Apalagi mereka sangat dekat, kan?"
__ADS_1
"Iya, Bund tapi gak siap. Kaya stress aja mikirin nya, aku maunya belajar dulu, fokus sama karir aku, aku mau kuliah dan punya pekerjaan yang layak. Kaya gitu," ungkap Abel.
"Kalau kata Bunda sih anggap aja itu sebuah gambaran, jadi kamu bisa membahasnya sama Gala. Tentang kalian kapan mau bulan madu, program punya anak, terus kapan kalian mau punya rumah sendiri. Itu kan hal yang wajar buat di bahas," jelas Nia.
Abel malah menyerngitkan dahinya. Dia semakin tidak mengerti tentang pembahasan ini, menurutnya terlalu jauh. "Bulan madu? Aduh, Bund. Udah kejauhan ini."
"Gak kejauhan, tapi kamu memang harus belajar. Ya begitulah isinya rumah tangga, beda dengan pacaran. Kalian harus punya planning untuk masa depan kalian. Bunda malah mau kamu menunda kuliah dulu dan punya anak setelah lulus."
"Bund ... "
"Kenapa? Memangnya ada yang salah? Semakin cepat akan semakin baik, terkadang anak itu membuat kedua orang tuanya terikat secara langsung dan membuat kalian lebih dekat dan saling mencintai," ucap Nia.
Sungguh, bukan itu jawaban yang Abel inginkan. Kalau seperti ini yang ada dia malah semakin ketar-ketir. Apa yang harus dia lakukan kedepannya?
.
.
.
"Kebiasaan tidurnya malem banget. Apa karena gak gue peluk jadi lo gak bisa tidur kaya gitu?" Tanya Gala.
"Engga, gue emang belum ngantuk aja. Lagian gue juga habis nugas, jangan ngaco kalau bicara. Oh iya lo udah makan di sana? Dikasih makan kan?"
Gala mengangguk dan terkekeh. "Iya, gue udah makan. Kalau gak dikasih mereka takut istri gue dateng ke sini terus protes sama panitianya."
"Apasih, Gala. Gak gitu juga, ya paling gue gofoodin soalnya lo suka lupa dunia kalau ngerjain sesuatu. Jadi lo kapan pulangnya?" Tanya Abel.
"Tapi sama lo gak lupa kok, malah kangen. Sabtu sore gue langsung ke rumah bunda buat jemput lo. Mau oleh-oleh apa dari sini?" Gala bertanya balik.
Abel menggelengkan kepalanya. Jujur saja dia tidak ingin apapun, dia hanya ingin Gala pulang dengan keadaan baik-baik saja. "Gak mau apa-apa."
"Yakin gak mau apa-apa?" Tanya Gala memastikan.
__ADS_1
Abel mengangguk lalu tersenyum. "Iya, Gal. Yang penting lo pulang aja. Gak tau kenapa kelamaan tinggal di rumah bunda gue jadi ngerasa gak enak kalau lama-lama."
Itu memang yang dirasakan Abel. Memang aneh kenapa dia bisa merasakan itu, padahal dia dulu tinggal bertahun-tahun di rumah ini.
Gala terkekeh. "Kok bisa gitu? Lo kan dari lahir di sana? Harusnya lo biasa aja, kan itu rumah orang tua lo sendiri."
"Gak tau, makanya lo cepetan jemput gue. Biar gue gak ngerasa kaya gitu. Lagian lama banget turnamen aja sampe beberapa hari," keluhnya.
"Ini lo kangen rumah atau kangen guenya? Kok roman-romannya ini bulu mata gue jatuh, katanya ada yang ngangenin," ucap Gala percaya diri.
"Jangan percaya diri. Gue cuma ngerasa gak enak aja lama-lama di rumah bunda sama ayah karena takut ngerepotin," tegasya.
"Si paling gengsi, jadi mau ciuman deh. Bel ciuman yuk?" Ajak Gala.
"Gala lo mesum banget ih!!" Kesal Abel.
"Mesum apa? Orang itu ungkapan isi hati. Emang gak mau belajar sama gue lagi? Kan lumayan menambah wawasan," godanya.
"Jangan macem-macem atau mulai besok gue tidur di kamar kak Jihan aja!" Ancam Abel.
"Jangan dong, nanti gak bisa melanjutkan pelajaran kita di materi baru," kata Gala.
"Udalah gak bener bicara sama lo, gue matiin. Bye!" Abel pun mematikannya dengan sepihak. Bukan apa-apa, dia rasanya malu ketika mengingat ciuman mereka yang terakhir kalinya. Bahkan dia merasa kalau sekarang dia mesum karena tertular Gala.
Abel menyimpan ponselnya, namun tiba-tiba ponselnya kembali berbunyi. Tertera nomor tak di kenal di sana. Dia menyerngitkan dahinya kala melihat pesan yang tertulis di sana.
082145576xxx
Ingat gue? Kita akan bertemu sebentar lagi. Persiapkan diri lo buat melanjutkan apa yang sebelumnya tertunda.
Abel sedikit terkejud membacanya. Siapa? Perasaannya mendadak sedikit tidak enak. Memang hanya sebuah pesan tapi entah kenapa dia overthinking. Dia takut kalau itu adalah sebuah terror yang dilayangkan untuknya.
"Jangan dipikirin, paling orang iseng. Lo gak boleh stress, Bel. Jangan berpikir berlebihan apa lagi yang belum tentu terjadi. Mending lo abaikan, jangan dipikirin!"
__ADS_1
Abel kembali menaruh ponselnya di meja. Lebih baik dia tidur sekarang daripada otaknya terus bekerja dan memikirkan hal-hal yang berat.