
Seperti biasa saat Gala pulang kerja Abel sudah menyiapkan semuanya. Dari mulai baju, makanan, teh dan vitamin. Tapi kali ini Abel tidak menemani Gala di ruang makan karena kelelahan.
Abel memejamkan matanya, namun saat dia akan terlelap. Gala naik ke kasur memeluk dan menciumi pipinya. Abel kembali terjaga dan perlahan melepaskan pelukan Gala. "Gak mau dipeluk, kamu jauhan tidurnya."
"Loh kenapa gak mau?" Gala kembali memeluk istrinya.
Lagi-lagi Abel melepaskan pelukan Gala. "Gall, gak mau dipeluk aku gak mau deket-deket kamu. Gak mau dicium juga."
Gala berpikir sejenak, apakah dia ada melakukan kesalahan hari ini? Tapi seingatnya tidak ada. Dia seperti biasa, bangun pagi, mandi, sarapan, mencium istrinya, kerja, masih sempat juga memberi kabar, lalu dia pulang ke rumah juga sama seperti biasanya.
"Kamu marah sama aku?" Tanya Gala.
"Engga," jawab Abel singkat sembari memejamkan matanya.
"Kalau gak marah kenapa gak mau aku peluk? Tadi juga gak mau aku cium, coba bilang sini kamu kenapa, Sayang?" Gala melembut lalu menangkup pipi istrinya, menatap dalam-dalam untuk meminta penjelasan.
"Aku gak marah, Gal. Aku cuma gak mau dipegang-pegang, lagi gak mood," ucap Abel lalu tidur memunggungi Gala.
Namun bukan Gala jika dia menyerah begitu saja, perlahan dia memeluk istrinya dari belakang dan menciumi punggungnya. "Oh istri aku lagi gak mood ya? Mau apa? Makan eskrim mau?"
"Aku gak mau apa-apa, Gala. Aku mau tidur." Abel melepaskan tangan Gala dari tubuhnya dan menjauhkan tubuh Gala pelan agar tidak mendekat.
Gala menghela napas, sedikit kebingungan juga harus berbuat apa. Kalau sudah begini ya harus menunggu untuk si nona manis ini sembuh sendiri. Akhirnya dia menurut saja, namun sebelum tidur dia menaikan selimutnya juga pada Abel agar dia tidak kedinginan.
Sesekali dia memastikan istrinya yang masih tidak terusik dari tempatnya. Jadi malam ini tidak kelonan? Yasudah lah dia pasrah. Gala pun memejamkan matanya, lalu tertidur.
Baru sekitar 10 menit Gala memejamkan mata, tiba-tiba dia mendengar Abel menangis. Memang kecil, namun bisa terdengar oleh Gala. Dia panik dan mengubah posisinya menjadi duduk.
"Kamu kenapa nangis, Sayang?"
Abel menggeleng lalu menyeka air matanya, dia juga tidak bicara apa-apa. Sekali lagi dia memastikan kelakuannya hari ini, bahkan dia mereview hari-hari sebelumnya. "Aku salah ya? Ayok kita bicara dulu, aku gak bisa tenang kalau kamu gak bicara."
__ADS_1
Gala membantu Abel untuk duduk, perlahan dia menghapus air mata istrinya itu dengan lembut. "Kenapa, sini bilang sama aku. Mau marah juga gapapa."
Abel menatap ke arah Gala. "Y-ya kamu tadi gak ucapin good night dulu. Biasanya kamu cium aku dulu kek, atau apa gitu? Kamu gak selingkuh, kan?"
Jadi dia marah hanya karena itu? Gala menghela napasnya, sepertinya kesabarannya akan diuji di sini. "Ya Allah, aku kira kamu gak mau diucapin juga, kan gak mau dipegang juga terus aku harus apa?"
"Ya biasanya kalau aku ngambek juga kamu suka maksa meluk, tetep ucapin good night juga," ucapnya parau.
"Jadi tadi kamu ngambek, ngambek kenapa?" Tanya Gala.
"Gak ngambek, tapi ngambeknya barusan karena kamu gak peka jadi suami," kesal Abel.
"Jadi sekarang maunya gimana hm? Aku harus apa, jadi boleh pegang sekarang?" Tanya Gala mematikan.
"Kenapa nanya, emang kalau mau bujuk orang ngambek harus nanya dulu dia mau digimanain? Udah ah aku bilang juga kamu gak peka," kesal Abel
Gala tersenyum, rasanya Abel lebih sensitif hari ini. Baik, dia harus mengalah. Perlahan Gala berbaring dan membawa Abel dalam pelukannya. Tidak lupa juga menghapus air mata gadis itu. "Udah jangan nangis, maafin aku yaa."
Pria itu dengan lembut menciumi wajah istrinya, tidak ada satu pun yang terlewat sekarang agar tidak marah lagi. "Sekarang tidur ya, meremin matanya. Good night Abella."
"Heem, good night too Galaxy." Abel membalas pelukan Gala dan setelah itu barulah Gala bisa tenang.
Semalam sepertinya dia lupa mematikan AC , Alhasil sekarang dia masuk angin. Gadis itu memang rentan terkena masuk angin, pernah satu waktu sampai perutnya terasa sakit sekali. Biasanya Gala akan menemani seharian, tapi sekarang Abel tidak ingin pria itu sampai harus bolos bekerja.
Hueekkk ... Hueekkk
Abel memuntahkan isi perutnya, dia paling tidak suka jika sudah seperti ini. Akhirnya dia meminta tolong pada Ibunya untuk datang ke rumah.
Abel sudah lemas sekali, Nia yang khawatir langsung menemui anaknya di kamar. Nia menaruh Ghazam di kasur dan langsung mengusapi punggung putrinya yang kini tengah duduk. "Yaampun, Sayang."
"Bund, maaf ya aku ngerepotin Bunda terus kalau sakit kaya gini," ucapnya.
"Jangan bicara kaya gitu, kamu juga anak Bunda. Kenapa bisa masuk angin lagi? Udah Bunda bilang kalau keluar atau apapun itu makan dulu. Kamu suka telat makannya." Nia mengusapkan minyak minyak angin ke punggung putrinya.
__ADS_1
"Gak lupa makan, Bund. Orang semalem aku juga makan," jawab Abel lemas.
Abel turun dari kasur dan kembali ke wastafel untuk memuntahkan isi perutnya. Nia menggelengkan kepalanya, sudah tau dia masuk angin tapi belum sarapan.
"Ck, udah tau sakit tapi kamu belum makan. Bunda buatkan bubur ya?" Tanya Nia.
Abel hanya menurut saja, dia benar-benar lemas rasanya. Abel kembali ke kasur dan sedikit mengajak Ghazam bermain. Bayi itu sudah bisa mengoceh sekarang meskipun masih belum jelas.
1 jam berlalu Nia datang ke kamar anaknya dan membawa bubur. Dengan telaten Nia menyuapkan makanan pada anaknya. "Makan dulu."
Abel menerima suapan dari bundanya, namun seperti biasa makanan itu rasanya ingin keluar lagi. Abel mengggeleng. "Emmhhh, Bund gak mau makan sakit banget perut aku, mual." Abel meminun air yang ada di sampingnya.
"Ehhh paksain 5 suap aja ya, habis itu minum obat. Atau mau bunda kerokin kaya Ayah?" Tanya Nia.
"Bund gak mau, sakitt nanti. Yaudah iya makan aja." Abel kembali menerima suapan dari bundanya. Walaupun perutnya tidak kuat menerima makanan-makanan itu. Setelah selesai makan, Abel pun minum obat agar bisa beristirahat.
"Harus dikurangin loh kebiasaan kaya gitu, kasian juga Gala nanti dia khawatir. Kalau makan jangan nunggu disuruh, inisiatif sendiri ya?"
"Iya, Bund. Elusin lagi punggungnya, enak kaya gitu," pinta Abel.
"Yaudah kamu baringan, hadap ke sana. Biar Bunda elusin lagi," ucap Nia.
Abel menurut dan Nia pun mengelusi punggung putrinya dengan lembut. Meskipun sudah menikah tapi di matanya Abel masih putri kecilnya. Dia selalu bisa menahan apapun tapi saat sskit bisa berubah sangat manja sampai harus di elusi, tak jarang pulang minta dipeluk semalaman.
"Bund, kenapa ya tangan Bunda tuh hangat. Kaya tangan Gala, aku kalau dielusin gini rasa sakitnya kaya ngurangin gitu," gumam Abel seraya memejamkan matanya.
"Karena elusinnya pakai sayang, kamu suka kaya gini juga ke Gala?" Tanya Nia.
Abel mengangguk. "Heem, kalau aku masuk angin gini Gala suka elusin kaya Bunda atau aku minta peluk. Soalnya sakitnya jadi ga kerasa."
"Untung suami kamu kaya Gala loh, yang lain belum mau nurutin kemauan istrinya. Kurangin galaknya, kurangin ngomelnya, suami udah baik gitu," peringat Nia.
"Ihh, emang ya Bunda timnya Gala. Padahal aku ngomel kalau dianya gak nurut atau nyebelin. Gala suka nyebelin," adu Abel.
__ADS_1
"Sstt gak boleh ngomongin suami kaya gitu. Udah tidur, biar Bunda jagain. Liat tuh Ghazam aja heran kenapa kakaknya malah lebih manja dari dia.
Abel terkekeh, dia pun heran kenapa masih manja begini. Bahkan sepertinya dia lebih manja setelah menikah, ya bagaimana tidak kalau Galaxy selalu memanjakannya?