Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Kehilangan Anak


__ADS_3


Polisi sudah menyampaikan laporan pada Gala kalau Dion sudah ditangkap, namun mereka memberitahu kalau istrinya tidak ada di sana. Gala menghentikan mobilnya dengan mendadak membuat Dara sendiri pun kaget.


"Kenapa? Apa yang terjadi?" Tanya Dara.


"Gala harus kasih pelajaran buat Dion, Ma. Tapi Abel gak ada di sana."


"KENAPA BISA?"


Gala hanya menggeleng sebentar dan melacak kembali ponsel Abell. Dia mendapatkan lokasinya namun berpindah-pindah. Jujur dia geram sekali sekarang, kalau Dion sudah ditangkap, berarti Jela yang membawa istrinya sekarang.


Gala mencoba menghubungi ponsel Jela, berharap kalau nomornya masih sama dengan yang dulu. Dan ternyata berdering.


"Di mana istri gue?!"


"..."


"Lo apain dia?!"


"..."


Gala melempar ponselnya asal, tanpa berpikir panjang dia langsung menyusul ke lokasi yang akan Jela tuju bersama Abel. Rahangnya mengeras menahan amarah. Dia benar-benar takut jika terjadi sesuatu pada Abel dan Bayinya.


Berbagai pertanyaan dari Ibunya pun dia hiraukan agar cepat sampai ke sana. Hingga 1 jam berlalu akhirnya dia sampai di rumah sakit. Gala dan Dara langsung menuju ke IGD, karena Jela bilang mereka ada di sana.


Gala mengepalkan tangannya kuat ketika melihat Jela ada di sana, tidak peduli perempuan atau bukan, tapi tindakannya ini melampaui batas kesabaran seorang Galaxy Putra Alaric.


"Jela!"


"Gal, gu-"

__ADS_1


Seorang dokter keluar dari ruangan dan menatap ke arah mereka. "Keluarga ibu Abella?"


Gala langsung menghampiri dokter dengan rasa cemas. "S-saya suaminya, Dok. Bagaimana keadaan istri saya?"


"Kondisinya kritis akibat pendarahan hebat dan mohon maaf sekali saya harus sampaikan kalau Ibu Abella mengalami keguguran dan harus segera ditindak lanjuti. Untuk itu kami membutuhkan persetujuan."


Seorang perawat memberikan beberapa berkas di sana. Gala benar-benar merasa hancur sekarang, tapi bukankah tidak ada banyak waktu untuk menyelamatkan nyawa Abella? Tanpa berpikir panjang Gala mengambil berkas itu dan menandatangani surat persetujuan beserta biaya administrasi yang tertera di sana.


Setelah selesai mendapat persetujuan dari keluarga, dokter kembali ke dalam untuk melakukan tindakan. Gala meninju dinding yang ada di hadapannya, dia menangis. Hal yang jarang, bahkan belum pernah dia tunjukan di depan banyak orang. Anak yang dia dambakan kehadirannya bersama Abel, kini sudah tidak ada lagi.


Dara juga masih kaget dengan kabar itu, begitu juga dengan Jela. Apa yang sudah dia lakukan? Dia membunuh seorang anak dalam kandungan Ibunya? Tidak, bukan itu maksudnya. Dia tidak berniat seperti itu.


Plakkk ...


Satu tamparan mendarat di pipi Jela.


"APA YANG KAMU PERBUAT PADA MENANTU SAYA!" Bentak Dara.


Gala tidak mempedulikan pertengkaran mereka, dia sendiri kalut dengan perasaannya. Kehilangan seorang anak bukan hanya wanita yang bisa merasakannya tapi juga oleh pria. Nia yang tiba-tiba datang lebih memilih untuk menenangkan Gala yang kini terduduk di depan IGD. Di saat yang lainnya memilih untuk menghakimi Jela, menurut Nia kondisi anak-anaknya lebih penting.


"Tenang, tenang. Jangan kalut dengan emosi, Bunda tau sekarang kamu sedih. Tapi jangan sampai menyakiti diri sendiri." Iya Nia melihat luka pada tangan Gala yang tadi dia benturkan pada dinding berkali-kali.


"Gala harus jelasin apa sama Abel, Bund?" Suara paraunya membuat Nia sedikit terhenyuk, baru kali ini Nia melihat Gala serapuh ini.


"Nanti kita pikirkan, yang terpenting kamu tenangkan diri kamu dulu. Kalau kamu kuat, Abel di sana juga akan kuat. Cuma kamu kekuatan dia satu-satunya." Nia mencoba menenangkan menantunya, padahal dia sendiri sekarang merasa sedih, tapi kalau semua larut dalam emosi dan kesedihan, siapa yang akan membantu yang lainnya untuk kuat.


Nia memeluk menantunya, mencoba menyalurkan kekuatan pada Gala. Baik Ibu atau seorang ayah, mereka pasti memiliki cinta yang besar untuk anaknya, apalagi anak pertama mereka yang sudah sejak lama di nantikan.


"Apa yang sudah kamu lakukan, Sayang?" Tanya Sena saat sampai di sana.


"Anak kamu Sena, anak kamu membuat menantu saya keguguran! Kenapa kamu tidak bisa mendidiknya dengan baik sampai dia brutal seperti ini, Hah?!" Dara benar-benar sudah hilang kesabaran dengan semua ini.

__ADS_1


Ghani mencoba menenangkan istrinya, saat tau Jela menculik menantunya dia sudah turun tangan bersama Doni untuk memutuskan aliran dana pada perusahaan Anton. Dan benar-benar membuatnya malu.


Setelah itu tidak lama polisi pun datang karena laporan Gala bukan hanya Dion, tapi juga dengan Jela. Kedua orang tua Jela memohon untuk melepaskan anaknya, tapi Gala tidak peduli.


.


.


.


Setelah selesai melakukan tindakan, sekarang Abel sudah dipindahkan ke kamar inap. Mereka semua tidak pulang dan malah menyewa kamar sebelah untuk tidur di sana. Gala dengan setia menjaga Abel yang masih belum sadarkan diri. Dokter bilang kemungkinan besar kalau Abel akan sadar besok pagi.


"Sayang bangun, aku khawatir." Gala menciumi tangan gadis itu dengan lembut, dia benar-benar ingin memeluk istrinya sekarang juga agar perasaannya tenang.


"Bel maafin aku, harusnya aku yang jagain kamu. Aku minta maaf karena tadi lebih memilih pekerjaan, sampai sekarang harus kehilangan anak kita. Aku minta maaf."


Hendra menghampiri Gala yang sedari tadi khawatir melihat cucunya terbaring. Jujur Hendra pun marah karena ini, apalagi kedua orang tua Abel merahasiakan masa kelam yang pernah Abel alami. Dia pun jadi merasa bersalah pada Abel.


Hendra menepuk bahu Gala pelan. "Abel itu kuat, sejak kecil dia tidak banyak mengeluh soal apapun. Dia selalu dimanjakan tapi tumbuh dengan kedewasaan yang dia miliki. Jadi yakin saja, besok dia akan bangun."


"Gala tidak tau bagaimana harus mengatakan berita ini pada Abella, dia akan sangat terluka."


"Pasti, tapi sekarang dia memiliki kamu. Laki-laki harus lebih kuat, meskipun banyak yang mengatakan kalau perempuan itu setegar karang. Jelaskan pelan-pelan, beri dia dukungan dan kekuatan."


"Memang tidak mudah kehilangan seorang anak, wajar juga kalau kalian merasa sedih. Meskipun tidak akan sama kalian ini masih muda, masih punya kesempatan yang besar untuk memiliki anak. Jadi jangan sampai larut dalam kesedihan terlalu lama dan jangan pernah menyalahkan diri kamu atas apapun yang terjadi hari ini," lanjut Hendra.


"Kakek benar, Gal. Abel cuma punya kamu untuk bangkit, kami semua hanya pendukung istilahnya. Tetap saja yang dia butuhkan pertama kali itu kamu. Ayah sedih, tapi ayah tau kalau kalian kedepannya akan mendapatkan yang terbaik, anggap saja ini ujian untuk rumah tangga kalian dan membentuk kalian untuk menjadi lebih dewasa untuk lebih siap mempunyai anak."


"Ayah yakin, kamu bisa bangkit dan membantu Abel juga bangkit dari keterpurukannya. Tapi kita doakan saja kalau Abel tidak terpuruk terlalu lama. Ayah tau kemampuan anak Ayah, karena Ayah yang merawatnya sejak kecil. Kamu juga tentunya harus percaya kalau Abel bisa melewati ini. Kuncinya adalah sabar," lanjut Doni.


Gala mengangguk, dia tidak bisa menjawab apa-apa sebenarnya. Tapi dia memahami setiap nasehat keluarganya, dia juga sudah tau apa tugas dan apa yang harus dia lakukan setelah ini. Ini pasti akan menjadi masa terberat untuk Abel, dia yang harus bisa jadi sandaran istrinya agar lebih kuat. Meskipun dia sendiri belum tau apa reaksi Abel besok, tapi dia harus menyiapkan mentalnya untuk menjelaskan apa yang terjadi pada Abel dan anak mereka.

__ADS_1


__ADS_2