Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Canggung


__ADS_3


Abel sudah di ruang inap, dia sedang tidur karena memang semalaman tidak bisa tidur. Jadi mereka juga membiarkannya, lagi pula Alano dan Alana juga sudah diberi asi untuk pertama kali tadi oleh Abel.


"Gal ini cetakan kamu sekali anaknya, dulu kamu waktu lahir persis begini," ucap Dara sambil memandangi Alano yang ada dalam gendongannya.


"Ya kalau gak mirip Gala aneh dong, Dar. Kalau Alana bibirnya lebih tipis, manis. Persis Abel, aku gak nyangka kalau Abel bisa melahirkan anak kembar," ucap Nia sembari menatap Alana.


Mereka berdua terkekeh. Gala tersenyum melihat kedua Ibunya bahagia. Ternyata memang sudah tepat Gala menamai kedua anaknya. Mereka pembawa kedamaian di dalam hati semua orang.


"Ma, Gala gak tau apa saja keperluan untuk Abel di rumah sakit, sekarang Gala akan pulang sebentar lalu mengambil beberapa keperluan," ucap Gala pada sang mama.


"Eh jangan ditinggal dong istrinya, dari semalam dia nanyain kamu terus. Udah, urusan itu biar Mama dan Bunda Nia yang persiapkan. Kamu jaga Abell dan anak-anak kamu di sini. Mereka pasti butuh kamu, apalagi kamu baru pulang. Nanti juga mama akan bawakan baju untuk kamu, masih pakai kemeja begitu, gak bagus buat anak kamu, Gal. Bakteri," nasehat Dara.


"Iya betul, kamu jaga Abel saja di sini. Kami sebentar lagi juga pulang, kalian pasti butuh waktu juga untuk bicara, kan? Tapi setelah kami pulang jangan lupa untuk memperingati Abel. Kalau anaknya harus disusui 8-12 kali atau 2-3 jam sekali."


Gala mengangguk dan mengiyakan semua ucapan para Ibunya. Dia juga kurang paham jadi ya jika disuruh untuk menjaga Abel dia menurut saja. Benar kata Ibunya kalau sekarang dia dan Abel perlu bicara. Ada sesuatu yang belum tuntas diantara mereka dan harus di selesaikan.


Beberapa jam setelah kepulangan orang tuanya, kini hanya ada Gala dan Abel di ruangan. Abel yang terbangun karena ingin buang air berusaha turun dari ranjangnya. Bagian bawahnya masih sakit.


Gala membantu Abel turun dari ranjangnya. "Mau kemana?"


"Ke kamar mandi. Aku bisa sendiri," tolak Abel yang tidak mau dipapah oleh Gala.


"Nanti kamu jatuh, buat apa ada Mas di sini kalau kamu apa-apa sendiri," ucap Gala.


Abel menghela napasnya, tidak ada gunanya juga berdebat dengan Galaxy, akhirnya dia mengiyakan saja. Memang pada dasarnya penyembuhan Ibu hamil yang melahirkan secara normal lebih cepat, Abel sudah bisa berjalan cukup baik meskipun masih sakit.

__ADS_1


Gala dengan sabar menunggu Abel di luar kamar mandi, sampai akhirnya ada suster yang melakukan pemeriksaan pada anaknya. Dia dengan teliti mendengarkan setiap instruksi yang diberikan. Dia harus menjadi suami siaga untuk Abella kan?


Beres dengan suster, Gala kembali membantu Abel untuk duduk di ranjangnya. Tidak lupa juga mengelap keringat yang ada di pelipis istrinya, memang sepertinya masih sangat repot untuk buang air saja setelah melahirkan.


Kata suster ini sudah waktunya anak mereka di beri asi, jadi Gala membantu Abel untuk menyusui Alano terlebih dahulu. Dia tidak kaku menggendong, tapi masih kaku untuk menyusui anak. Apalagi saat Alano mulai menyesap asinya Abel meringis karena sakit.


Rasanya sakit sekali, apalagi katanya lidah bayi itu tajam. Gala yang melihat itu jadi tidak tega. "Sakit banget ya?"


Abel mengangguk, tapi dia tetap melakukannya. Karena katanya anak yang diberi asi langsung oleh Ibunya akan kuat ikatan batinnya nanti. Mereka juga akan lebih dekat. Dia juga mau anak-anaknya menerima asi sampai dua tahun.


"Ada obatnya gak buat itunya," tanya Gala sembari menunjuk objek yang dimaksud.


"Engga tau," jawab Abel sekenanya.


"Maaf," ucap Gala pelan.


Abel menatap Gala keheranan. Lagian kenapa juga dia minta maaf.


Abel ingin tertawa sebenarnya tapi keadaan mereka canggung sejak tadi jadi dia hanya mengangguk dan kembali fokus pada Alano. Abel tersenyum melihat putranya yang seolah menatapnya heran. Mungkin bayi itu sedang mengingat-ngingat wajah Ibunya.


"Ini Mama sayang, udah kenyang hm?" Abel mengusap pipi Alano dengan jari telunjuknya. Tidak menyangka saja kalau dirinya yang masih bocah sekarang memiliki bocah juga.


"Lagi liatin mamanya soalnya cantik." Gala tersenyum dan mengambil Alana dari boxnya. Dia menaruh di samping Abella lalu menggendong Alano yang di sandarkan pada dadanya untuk disendawakan. Tadi suster bilang kalau bayi sudah menyusu haru segera disendawakan, jadi dia memperaktekannya.


Abel kagum sih, darimana Gala bisa melakukan itu? Dia sepertinya memang sudah siap menjadi seorang ayah. Tidak hanya itu, dia juga bisa menidurkan kedua anak mereka dan lagi dia yang memastikan semua yang Abel butuhkan tercukupi. Pokoknya Abella harus banyak istirahat.


Anak-anak mereka sudah tertidur, ya apalagi yang harus mereka lakukan sekarang. Keduanya terlihat berkutat dengan pikiran masing-masing.

__ADS_1


Gala duduk di tepi ranjang lalu mengusap kepala Abella lembut. "Masih sakit itunya?"


"Sedikit, kata susternya wajar karena lidah bayi tajam."


"Masih marah sama papanya Alano sama Alana?" Tanya Gala.


"Sedikit, tapi aku butuh kamu jadi yaudah."


"Kalau gak butuh aku kamu berarti masih marah sama Mas?" Tanya Gala sembari mengusap pipi istrinya itu.


"Sedikit."


Gala menyenderkan dirinya di ranjang yang di posisikan untuk duduk. Perlahan dia membawa Abel dalam pelukannya. Dia sangat merindukan Abella dan lalu menciumi puncak kepalanya. "Sayang, Mas udah selesaikan semuanya."


Abel menatap Gala seolah mencari letak kebohongan dari ucapannya. Gala paham kalau mungkin Abel masih belum bisa percaya padanya. "I'm so serious. Sebelum Mas pergi kemarin, Mas dan papa udah menyelesaikan semuanya."


"Terus dia gimana?"


"Awalnya sulit, tapi Mas bilang kalau Mas punya kamu dalam hidup Mas. Gak mungkin merelakan pernikahan kita untuk membantu seseorang. Mas salah, mau menjadi orang yang lebih baik tapi Mas gak mikirin perasaan kamu. Jadi meskipun orang tuanya Areyna memohon Mas gak bisa lagi."


"Gak mau bikin kamu jauh dari Mas lagi, gak mau jauh dari Alano dan Alana. Mas kangen sama kalian, kangen peluk kalian juga sebelum tidur," ucap Gala dengan sungguh.


Abel tidak menjawab apapun, masih sulit rasanya untuk percaya. Bagaimana kalau itu hanya sebuah kata penenang saja? Bagaimana kalau Gala mengatakannya hanya karena dia baru selesai melahirkan? Dia takut akan kecewa untuk kedua kalinya kalau memang begitu.


Gala paham arti tatapan mata Abella, perlahan Gala menggenggam tangan Abella lalu menciumnya dengan lembut. "Mas sayang kamu, Ibu dari anak-anak Mas. Mas tau kamu masih belum percaya sama Mas. Jangan dipaksain, tapi Mas akan berusaha untuk bikin kamu percaya lagi sama Mas. Kita mulai lagi semuanya ya? Demi Alano dan Alana."


"Kamu janji gak akan pernah bohong sama aku lagi, Mas?" Tanya Abel perlahan.

__ADS_1


"Janji, Mas gak mau kehilangan kamu. Mas gak akan mencari pembenaran atas tindakan Mas kemarin sama kamu. Mas bersalah dan Mas gak akan mengulanginya lagi."


Abel tersenyum lalu membalas pelukan Gala. Meskipun Abella tergolong orang yang keras kepala, orang yang sulit kembali percaya dan sulit memaafkan, tapi kali ini dia mengalah. Sekarang sudah ada Alano dan Alana dalam kehidupannya, tidak mungkin dia akan menjadi tetap egois untuk kedua anaknya. Dan lagi dia tau, kalau Gala sudah berjanji dia tida akan mengingkarinya.


__ADS_2