Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Digoda Habis-Habisan


__ADS_3


Setelah selesai bulan madu, ya di sinilah mereka. Kembali ke rumah Gala, nampaknya di sana begitu ramai. Ada acara apa ya? Melihat mobil yang terparkir sih mereka mengenali siapa saja yang ada di dalam sana. Gala dan Abel memasuki rumah itu, mereka kaget karena sudah disambut banyak orang di sana.


Abel dan Gala saling melirik, padahal di antara keduanya tidak ada yang ulang tahun. Dara memeluk menantunya itu dengan senang, lalu merangkulnya ke arah meja makan. "Kalian sudah pulang, ayokk kita makan. Mama dan Bunda sengaja mempersiapkan ini untuk kalian."


Abel menyerngitkan dahinya. "E-emang ada acara apa, Ma? Kok rame banget."


"Ya menyambut kalian pulang bulan madu. Ayok duduk-duduk," ucap Dara sembari menarik kursi untuk menantunya. Abel melihat ke sekelilingnya yang memancarkan kebahagiaan. Ada apasih? Pikirnya.


Gala ikut duduk di sebelah Abel. Dia juga sama sekali tidak paham, akhirnya mereka menurut saja. Bahkan lebih aneh karena sekarang Nia menata nasi di piring mereka. Belum lagi tatapan dari ayah, kakak kakak mereka dan juga kakak ipar. Mereka jadi salah tingkah sendiri.


"Kalian makan ya, pasti cape ya pulang dari Bali? Makan yang banyak," kata Dara sembari mengusap kedua rambut anaknya.


"Gimana bukan madu kalian di sana, seru gak?" Tanya Nia antusias.


"Ya gitu aja, Bund. Kaya biasanya," jawab Abel santai sembari menyuapkan makanan pada mulutnya.


"Biasa bagaimana? Masa di sana biasa-biasa aja?" Tanya Miya keheranan.


"Emang harus gimana?" Tanya Gala datar.


"Ya ceritain kalian di sana ngapain aja, apa kek gitu. Yang menarik, yang seru buat didenger. Kan kita mau denger cerita dari kalian di sini," kata Jihan.


"Ya kaya gitu aja, Kak. Beach club, ke pantai, ke street food, Mall, gitu aja kan?" Abel melirik Gala memastikan dan Gala pun mengangguk. Ya seperti biasa, pria itu akan irit bicara jika berada di tengah keluarga seperti ini.


"Gak, maksudnya gak gitu. Ceritain kalian misalnya ngelakuin apa aja di sana berdua. Terus ya apa gitu ya ceritain aja pengalaman kalian ituloh," Miya memperjelas.


"Main, tidur, jalan, belanja nemenin Abel, liat sunset. Banyak tanya," jawab Gala.


Nia dan Dara saling menatap, apa mereka berdua hanya melakukan itu saja? Biasanya pasangan setelah bulan madu akan banyak senyum, lengket dan semakin manja. Tapi mereka terlihat biasa saja.


"Gal jangan malu-maluin Papa," peringat Ghani.


"Ck, seharusnya kamu kemarin tanya sama Ayah biar wushh gitu," sambung Doni.


"Padahal gue juga bisa angkat telfon lo kalau mau bertanya," kata Hans- suami Miya.


"Gue juga, malu bertanya sesat di jalan," ucap Tio- suami Jihan.


Gala dan Abel masih tidak mengerti, sebenarnya tujuan dari makan siang ini apa? "Hah?" Tanya Abel dan Gala bersamaan.


"Ituloh pesanan kita," jawab Nia.

__ADS_1


"Ohhhh oleh-oleh, adaa di koper. Nanti aku pilah-pilah dulu, soalnya aku pilihin yang cocok buat masing-masingnya." Abel tersenyum sembari menyuapkan lagi makanannya.


Ghani dan Doni menepuk dahinya. Beginilah ketika mereka menikahkan dua anak remaja. "Bukan ituu."


"Apa? To the point, Pa." Gala dia tidak suka basa-basi.


"Kalian udah bikin keponakan gue, kan?" Tanya Jihan geregetan.


Uhuk ... Uhukk ... Uhuk


Abel tersedak mendengar pertanyaan Jihan. Gala dengan sigap menepuk-nepuk punggung Abel dan memberikannya minum. Apa memang harus menanyakannya di depan keluarga? Memang ada-ada saja.


"Gitu dong, udah," jawab Gala sekenanya. Abel melirik Gala yang dengan tidak tau malunya bicara seperti itu.


"Baguss, kalau mau nambah pengalaman bisa belajar sama kita yang udah senior," ucap Hans.


"Betul, selamat masuk genk aye-aye, adik ipar. Nanti kita bagi tips and trik," timpal Tio.


Abel memijat pelipisnya, dia merasa pusing dengan pembicaraan seperti ini. Tabu sekali untuknya. Bisakah dia pergi dari sini?


"Ngelakuinnya di mana aja? Berapa kali sehari? Itu ada triknya biar jadi." Ucap Hans.


"Di mana-mana, berkali-kali" jawab Gala tidak ingin ribet.


"Gila adik ipar ini diam-diam menghanyutnya," ucap Tio sambil bertepuk tangan.


"Bell kamu di sana gak pake jaket ya? Parah nyamuk di sana ganas, kasian adik ipar jadi merah-merah," ucap Miya menggoda Abel saat melihat tanda di lehernya.


"Parah itu nyamuk Bali. Serrammm boss," timpal Jihan.


Ya siapa lagi pelakunya kalau bukan Gala, di saat terakhir mereka di sana Gala pun melakukannya. Sial dia malu sekalii, wajah Abel sudah memerah seperti kepiting rebus. Gala melirik istrinya, dia ingin tertawa sebenarnya tapi dia tetap harus stay cool.


"Jangan godain istri gue, kasian," peringat Gala.


Para orang tua lebih memilih diam, memang lebih baik jika kakak-kakaknya saja yang menanyakannya. Mereka hanya sesekali terkekeh mendengarkan percakapan mereka.


.


.


.


Abel membereskan isi kopernya, dia tidak ingin ke bawah lagi. Hari ini dia benar-benar digoda habis-habisan. Dia sangat malu sekali.

__ADS_1


Gala memeluk Abel dari belakang lalu menciumi tengkuk gadis itu berkali-kali.


"Jangan buat apa-apa lagi, Galaxy itu aja bekasnya belum hilang," ucap Abel pada Gala.


Gala terkekeh mendengar ucapan Abel, perlahan dia menghadapkan wajah Abel padanya dan mengecupnya. "Kasian istri aku digodain, nakal banget. Padahal yang boleh godain aku aja."


"Diem, kamu brisik." Abel kesal pada Gala, bagaimana bisa dia menyebutkan kalau mereka melakukannya dimana-mana dan berkali-kali, itu privasi.


"Loh kenapa marahnya sama aku? Yang godain kakak ya, bukan aku," protes Gala.


"Kinipi mirihnyi simi iki," ejek Abel.


"Dih, ngeledek. Aku hamilin ya!" Ucap Gala.


"Ya kamu kenapa kalau ditanya jujur banget, padahal kan diem aja. Aku malu tau, masa kamu tadi bilang dimana-mana, berkali-kali, diem aja harusnya Galaxy," cerocos Abel.


"Hahaha kan harus jujur, kalau ditanya ya jawab," ucap Gala santai.


"Ihh, udahlah kamu ini memang nyebelin. Gak ada jatah-jatahan sebulan ke depan!" Kesal Abel.


Gala menarik tubuh Abel dan mengukungnya di bawah tubuhnya. "Bilang sekali lagi?"


"Gak ada ja-"


"Kalau kamu bilang lagi biar aku yang kasih jatah ke kamu sekarang," ucapnya Gala mengancam.


Abel memejamkan matanya, kenapa suaminya ini agak lain? Orang mengancam dia malah mengancam balik. "Gakk gak jadii, udah ihh lepasin aku lagi beres-beres."


Gala menyinkirkan tubuhnya dari sana dan membantu Abel bangun. "Makanya gak boleh sekata-kata, soalnya aku gak nerima penolakan."


"Kamu suka maksa emang, untung sayang," celetuk Abel.


"Gak boleh untung, kamu emang harus sayang sama aku. Masa sayang untung-untungan," protes Gala lagi.


Abel menghela napasnya, benar-benar rewel jika mempunyai suami seperti Galaxy. Bahkan sepertinya hanya Abel yang tau kalau Gala mempunyai sifat manja dan clingy seperti ini. Keluarganya saja tidak pernah melihat.


"Abella Gracia Alaric," panggil Gala yang merasa tidak mendapat jawaban.


"Ck, iya-iya. Aku sayang kamu Galaxy Putra." Abel pun mengalah.


"Aku juga sayang kamu Abella." Gala kembali menciumi pipi Abel dan memeluknya erat-erat.


Ya meskipun begitu Abel memang benar menyayanginya. Bahkan entah kenapa semenjak mereka melakukan hubungan suami istri semakin sayang. Apa benar hubungan seperti itu bisa membuat kedua pasangan semakin dekat? Abel pernah mendengarnya, tapi ya mungkin benar.

__ADS_1


__ADS_2