Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Makan Siang Untuk Galaxy


__ADS_3


Siang ini cukup bosan, jadi Abel memutuskan izin pada mertuanya untuk keluar sebentar. Lebih tepatnya dia akan ke kantor Gala untuk memberikannya makan siang.


Dulu sebelum hamil, Abel sering melakukannya. Tapi sewaktu Abel mengandung, Gala melarangnya karena tidak mau Abel sampai kecapean.


Abel turun dari mobilnya dan membawa paper bag, berisi makanan yang telah dia siapkan tadi. Saat dia memasuki kantor tiba sebuah suara mengintruksinya untuk berbalik. "Ibu Alaric."


Abel sedikit tersenyum saat melihat Degas yang menghampirinya. "Hai, Gas. Kenapa?"


"Gapapa, gimana keadaan lo? Baru keliatan lagi ke kantor," ucap Degas yang memang dia bekerja di sini tentunya bersama Raka juga.


"Udah jah lebih baik lah, lo sendiri apa kabar?"


"Gue baik-baik aja. Bagus lah kalau udah lebih mendingan. Sorry gue belum sempet jenguk lu pas kejadian kemarin," ucap Degas menyesal.


"Gapapa kok, lagian gue udah gapapa juga. Gala ada di ruangannya?" Tanya Abel lagi.


"Ada kok, mau gue anter ke sana?" Tanya Degas.


"Gak usah, lo juga banyak kerjaan. Kalau gitu gue duluan ya, Gas?" Pamit Abel.


Degas mengangguk. "Iya, hati-hati."


Abel tersenyum sebagai penutup, setelahnya dia masuk ke lift untuk menuju ke ruangan Gala. Degas senang bisa melihat Abel sudah bisa melakukan aktifitasnya dengan normal. Walaupun dia sudah melupakan perasaannya pada Abel tapi rasa pedulinya tentu tidak bisa hilang begitu saja.


Dengan perlahan Abel memasuki ruangan Gala, terlihat kalau pria itu sedang sibuk memeriksa beberapa berkas di sana. Gala mengalihkan fokusnya saat seseorang memasuki ruangannya. Tentulah itu membuatnya bersemangat, sudah lama rasanya Abel tidak menemuinya saat makan siang seperti ini.


Gala menghampiri istrinya dan memeluknya dengan erat. "Kenapa gak bilang dulu mau ke sini?"


"Gapapa, mau kasih kejutan aja," jawab Abel terkekeh.


"Harusnya bilang dulu, emang kamu udah baik-baik aja? Jangan sering-sering bawa mobil sendiri aku khawatir," peringat Gala.


"Aku gak kenapa-kenapa, Gal. Kamu udah makan siang belum?" Tanya Abel.


"Belum, tadinya setelah selesai kerjaan."


"Yaudah makan dulu, aku udah bawain makan siang. Jangan lupa dunia kalau kerja, nanti kamu sakit," balas Abel memperingati.

__ADS_1


"Iya, bawel." Gala tersenyum lalu mengajak Abel duduk di sofa.


Abel mengeluarkan kotak makan yang telah dia isi dengan menu makanan jepang kesukaan Gala dan juga satu kaleng kopi beserta air putih.


Gala kini sudah paham kalau Abel tidak suka diabaikan ketika Gala bersamanya, jadi dia menyingkirkan pekerjaannya duku dan fokus pada istrinya dan makanan yang telah Abel siapkan.


"Kamu nanti sore mau pulang atau masih mau di rumah mama?" Tanya Gala sambil menyuapkan makanan pada mulutnya.


"Kalau pulang gapapa?" Abel menatap suaminya yang kini tengah makan, entahlah ada kesenangan tersendiri saat melihatnya.


"Gapapa, nanti pulang aku kerja biar aku yang jemput," ucap Gala tersenyum.


"Kenapa gak pulang sendiri aja, biar kamu gak cape dua kali kan jemput aku?"


"Gak boleh, aku gak mau kamu kenapa-kenapa. Lagian gak ada kata cape kalau buat kamu. Jadi biar aku lakuin tugas aku dengan baik. Apalagi kamu juga udah anterin makanan ke sini."


Abel hanya terkekeh mendengar ucapan Gala. Dia menjadi lebih protektif sekarang. Membuat Abel tidak merasa kalau Gala tidak menyayanginya dan itulah yang membuat Abel termotivasi untuk sembuh dan bangkit dari keterpurukan.


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu, setelah mendapat persetujuan barulah dia masuk. Ternyata itu adalah sekertarisnya Gala..


"Ada apa, Ta?" Tanya Gala sedikit merapikan posisi duduknya.


"Oh, sudah. Kamu bisa ambil di meja saya," ucap Gala.


Abel hanya melihat sekilas saja, sepertinya dia baru melihat sekertaris Gala yang ini. Perasaan beberapa bulan lalu sekertaris Gala adalah Brenda dan Abel pun mengenalinya.


Meta melirik ke arah Abel, karena baru beberapa bulan bekerja di sini dia belum mengenali siapa gadis yang ada di samping bosnya ini. Menurut Meta mereka berdua sangat dekat, seperti sepasang kekasih, tapi apa benar itu kekasih dari Gala? Setelah mengambil beberapa berkas Meta pun izin ke luar ruangan.


Abel sedikit tidak suka ditatap seperti itu oleh orang yang baru dia kenal. Tatapannya seolah menyelidik, apalagi melihat orang dari ujung kaki sampai ujung kepalanya menurut Abel itu tidak sopan dan lagi kenapa Gala tidak memberitahunya? Dia benci jika sudah mode overthingking seperti ini.


Abel masih terdiam, tapi buat apa juga dipikirkan. Mungkin kemarin Gala terlalu sibuk memfokuskan diri untuk kesembuhannya, jadi Gala tidak sempat memberitahu Abel soal ini. "Itu sekretaris baru kamu?"


Gala mengangguk. "Brenda resign karena menikah, jadi papa beberapa bulan lalu mencari penggantinya. Kenapa?"


"Gapapa, pantesan aja aku kaya baru liat dia," balas Abel.


"Iya aku belum sempet bilang ya? Maaf," ucap Gala menyesal.


"Gapapa, lanjut makannya. Aku cuma nanya aja," kata Abel sambil tersenyum.

__ADS_1


Gala tersenyum dan melanjutkan makan siangnya. Ruangan Gala ini sangat nyaman menurut Abel, sampai rasanya dia ingin menunggu suaminya saja di sini sampai pulang kerja.


.


.


.


Setelah mengantar makan siang, kini Abel berada di kamarnya bersama Cia. Gadis itu nampak sedang aktif-aktifnya sampai tidak pernah lelah bermain. Dia sih tidak merasa terganggu, dia malah senang karena jadinya dia bisa ada teman bicara. Dia jadi merindukan Ghazam, sudah beberapa Minggu dia tidak melihat adiknya itu. Mungkin setelah ini akan dia jadwalkan.


Tiba-tiba saja Cia memeluk Abel yang sedang setengah berbaring di kasur sambil memeluk tantenya itu. Untung saja Gala tidak ada, kalau iya mungkin mereka berdua akan bertengkar seperti tadi pagi karena berebut Abel. "Ante."


"Apa, Sayang?" Tanya Abel penuh perhatian.


"Ante dede bayinya kemana? Kenapa pelutna engga becal lagi?" Tanya Cia polos sambil menunjuk-nunjuk perut Abel yang kini memang sudah mengecil.


Abel menghela napasnya sejenak, tapi dia paham kalau rasa keingintahuan anak sekecil Cia itu pasti besar. Tentu harus diluruskan dan diterangkan. "Adek bayinya sekarang udah di surga, Sayang." Abel mengelus rambut Cia dengan lembut.


"Di culga tuh di mana?" Tanya Cia.


"Surga itu ada di langit, tempatnya bagus banget. Di sana kita bisa minta apapun yang kita mau, itu adalah tempat terindah yang gak ada di bumi ini," jelas Abel.


"Di cana bica minta pelme , Ante?" Tanya Cia dengan rasa keingin tahuannya.


"Bisa, semua yang kita mau pasti ada di sana. Tapi kalau kita ke sana harus banyak berbuat baik dulu sayang. Karena adek bayinya kemarin baik, nurut sama Ante juga, jadinya Allah bawa adeknya ke surga," ucap Abel.


"Ohh gitu Ante, kok adek bayina nda ajak Cia?" Tanya Cia lagi.


"Belum waktunya sayang, kalau cia mau ke surga harus nurut dulu ke Ibund, gak boleh marah-marah terus sama Ibundnya, harus jadi anak yang baik terus besar dulu."


"Kenapa halus nunggu becal?" Tanya Cia.


"Biar semakin bagus dan semakin banyak perbuatan baiknya."


"Cia mau nulut ke Ibund Ah biar nanti bica ke culga," ucapnya kesenangan.


"Iya harus nurut. Gak boleh rewel, kan keponakan Ante yang cantik ini anak baik. Jadi nanti suatu saat bisa pergi ke surga."


"Ciap Ante!"

__ADS_1


Abel tertawa dan kembali memeluk Cia dan menciumi pipinya. Gemas sekali rasanya jika sudah bersama gadis kecil itu. Selain banyak bertanya Cia juga lucu, ya setidaknya bisa membuat rindu Abel pada anaknya sedikit terobati.


__ADS_2