Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Hallo Mochi


__ADS_3


Setelah selesai makan mereka malah saling terdiam menatap langit malam. Ada ketenangan dalam diri mereka di saat seperti ini. Mereka berdua memang tida tau bagaimana pacaran, mereka langsung menikah jadi mereka belum pernah melakukan ini.


"Kamu pernah nyangka gak kalau suami kamu itu aku?" Tanya Gala random.


"Engga, kalau kamu mau aku jujur. Dulu aku selalu menghindari kamu, aku gak pernah mau berurusan sama kamu, karena menurut aku kamu orangnya sombong. Bukan sombong, tapi sok ganteng," jelas Abel.


"Kok sok ganteng? Aku gak tebar pesona, Bel."


"Tetep aja kalau kamu lewat atau ngelakuin apapun selalu jadi pusat perhatian. Pokoknya aku selalu menghindari berurusan sama kamu deh. Karena menurut aku itu ribet banget."


Gala terkekeh. "Kenapa waktu pertama kali kita dikenalin kamu kaya pura-pura gak kenal aku?"


"Karena males. Masa iya aku harus bilang : Kamu Galaxy kan? Hai aku Abel kelas 11 IPA 1. Kan gak mungkin, kayanya bukan aku banget gak sih?" Tanya Abel yang kini melihat ke arah Gala.


"Iya bukan, tapi kamu setelah nikah sama aku jadi banyak bicara," ungkap Gala.


"Kamu juga, ya walaupun kalau kumpul keluarga kamu masih suka irit kadang-kadang," balas Abel.


"Karena ngerasa gak ada yang perlu dibicarain. Kalau sama kamu,topik yang sebelumnya gak ada mendadak kepikiran buat bicara banyak hal," kata Gala.


"Yaudah intinya kita adalah 2 orang yang gak banyak bicara dan dipertemukan buat jadi orang yang satu frekuensi."


"Bahagia gak?"


"Awalnya aku pikir kamu sama aku itu bakalan jadi dua orag yang bertolak belakang banget. Awal pernikahan kita juga gak baik, maksudnya kita sering banget berdebat. Jujur aja aku pernah mikir, aku gak bisa sama kamu. Aku bener-bener mikirin cara buat pergi dari kamu, tapi semakin lama aku malah semakin punya ikatan sama kamu."


"Ikatan gimana?"


"Ya kaya terkoneksi aja."


"Kalau aku bilang aku udah tertarik sama kamu dari pertama kali kita ketemu kamu percaya?" Tanya Gala.


"Tapi kamu bilang gak cinta sama aku pada awalnya,"

__ADS_1


"Tertarik sama cinta itu beda. Aku suka cewek berprinsip, aku suka cewek yang dateng ke rumah dengan babak belur terus mempertahankan hobinya dan menentang orang-orang. Aku suka cewek pemberani yang saat dia datang masih pake dobok taekwondo dan nyamperin aku buat menolak perjodohan di saat banyak orang yang ngejar aku di luar sana," jelas.


"Aku tertarik sama kepribadian kamu. Walaupun aku juga mikir pada awalnya kita akan sama-sama keras. Tapi temen-temen aku jelasin soal kamu waktu kita pertama kali ketemu di sekolah. Di situ aku semakin tertarik sama kamu."


"Iya kah?"


"Iya kaya gitu, kamu tutup mata deh," perintah Gala.


"Kenapa harus tutup mata?" Tanya Abel.


"Aku punya sesuatu buat kamu, tapi kamu harus tutup mata dulu. Biar jadi kejutan juga," jawab Gala.


"Ya udah, tapi jangan lama-lama." Abel pun menutup matanya, dia orang yang tepat janji jadi dia benar-benar tidak mengintip.


Setelah memastikan Abel tidak mengintip, Gala berlari ke dalam rumah dan mengambil sesuatu di sana. Abel merasa heran kenapa Gala lama sekali, tapi ya dia tetap saja menutup matanya. Menunggu Gala kembali dan menyuruhnya membuka mata.


Beberapa menit kemudian Gala datang dan menjinjing sesuatu, dia meletakan barang itu di depan Abel. "Buka matanya."


Abel membuka matanya perlahan, matanya tertuju pada anabul yang berada di dalam kandang itu. "Ihhh gemess, kamu beliin aku kucing?" Abel membuka pintu kandang dan mengeluarkan kucing jenis persia berwarna putih itu. Matanya berwarna biru, cantik sekali.


"Ihhh, Gala gemess." Abel menggendong kucing itu lalu menciuminya, membuat Gala terkekeh saat melihatnya. Menurut dia gadis penyuka kucing itu lucu, itu artinya dia penyayang juga.


"Makasih ya," ucap Abel sambil tersenyum.


Gala mengangguk, apa yang tidak dia lakukan untuk membuat Abel senang? "Mau kamu kasih nama siapa?"


"Emm Mochi?" Abel menatap kucing miliknya.


"Kok Mochi? Kaya makanan."


"Soalnya dia putih, matanya biru. Cantik banget anak kita." Abel terkekeh.


Gala duduk di samping Abel dan membawanya dalam pelukan. Dia senang jika Abel suka, ya memang tujuannya adalah untuk menemani Abel. Katanya kucing bisa menjadi teman untuk pemiliknya, jadi Gala mengikuti saran Degas saat kemarin dia meminta saran pada sahabatnya itu.


.

__ADS_1


.


.


Keesokan harinya Abel benar-benar senang, dia mengajak Mochi ke pet shop dan membeli semua keperluan kucing itu. Dia melakukan perawatan hewan, membeli kandang dan tempat yang bagus, tidak lupa juga mainan beserta makanan kucing. Tentu dia melakukannya atas seizin Gala.


Setelah selesai dan puas dengan hasil belanjaannya Abel lalu kembali ke rumah. Cukup melelahkan memang, dia jarang sekali keluar rumah, tapi ada kepuasan tersendiri saat mendapatkan apa yang kita inginkan.


Saat sampai di rumah ponsel Abel berbunyi, tertera nama suaminya di sana. "Halo."


"Kamu udah pulang apa masih di pet shop, Sayang?" Tanya Gala dari seberang sana.


"Aku udah di rumah, Gal. Kenapa?" Tanya Abel sambil menciumi Mochi dengan gemas.


"Gapapa, aku cuma mau memastikan kamu udah sampai di rumah dengan aman. Gak ada yang lecet kan?" Tanya Gala lagi.


"Gak ada, aku baik-baik aja. Kamu jangan lupa makan siang ya? Kamu udah makan siang belum?"


"Udah tadi aku makan siang sekalian meeting dan ketemu client di resto," jawab Gala.


"Oh yaudah, aku tenang kalau udah makan. Jangan memforsir diri kamu ya. Banyak minum air putih kalau di kantor biar gak dehidrasi. Langsung pulang ke rumah kalau udah pulang ya?" Pinta Abel.


"Iya sayang, aku usahain pulang cepet. Kamu jangan lupa makan juga," peringat Gala.


"Iya-iya."


"Yaudah aku matiin ya? I love you," ucap Gala.


"I love you too." Abel sekarang sudah bisa membalas ungkapan cinta dari Gala. Mungkin juga karena sudah terbiasa, biasanya dia selalu gengsi untuk membalasnya.


Untuk sementara waktu Abel menaruh kandang, tempat tidur dan lainnya di kamar Azriel. Selain bisa mengurus kucingnya, dia juga bisa melepas rindu bersama anaknya. Sebenarnya dia ingin menaruh di kamarnya, tapi Gala tidak setuju karena takut diganggu katanya. Memang Gala ada-ada saja.


Abel menuangkan cat food pada tempat makan Mochi, terlihat dia sangat antusias memakan makanannya. "Mochi makan yang banyak ya, biar kamu cepet besar." Abel mengelus kucing itu dengan lembut, setelah itu dia memperhatikan Mochi makan. Ya menyenangkan menurutnya.


Setelah selesai makan Abel membawa Mochi ke lantai dua, seperti biasa dia memang selalu menghabiskan waktu di sini. Kalau kemarin melamun, kini dia bisa mengajak Mochi bermain.

__ADS_1


"Kamu masih bingung di sini ya? Tenang aku baka rawat kamu sebaik mungkin. Gala bilang kamu harus temenin aku, jadi jangan nakal ya?"


Ya Gala memang benar, dia butuh teman bicara. Sekarang dia memiliki Mochi yang bisa dia ajak bicara meskipun hanya balas mengeong saja tapi itu sudah cukup bagi Abel. Dia yakin kalau anaknya lahir ke dunia pasti dia akan menyukai Mochi dan bermain bersama. Pasti menyenangkan.


__ADS_2