
Jam 1 malam Abel masih belum tertidur, memikirkan Gala yang tidak kembali ke kamar. Apa Gala tidur di kamar lain? Pikir Abel.
Ini sudah larut malam, Abel yakin kalau Gala pasti sudah tidur. Entah kenapa perasaannya sedikit tidak enak jika belum memastikan Gala tidur dengan benar. Abel turun dari kasurnya dan mulai menelusuri keberadaan Gala.
Di kamar atas milik kakak-kakaknya tidak ada, jadi Abel menuruni tangga untuk mencari di kamar yang lain. Terlihat kalau Gala sedang tertidur pulas di sofa. Abel menghampiri Gala dan membenarkan posisi tidurnya yang hampir terjatuh. Namun, saat menyentuh kulitnya, terasa panas. Abel memegang kening Gala dan ternyata pria itu demam.
"Lo kok bisa sampe demam gini?" Gumam Abel khawatir.
Tanpa pikir panjang Abel mengambil selimut dan juga kompresan. Setelah itu dia kembali dan duduk di karpet tepat di samping sofa yang Gala tiduri. Abel menyelimuti pria itu dengan selimut tebal. Dengan telaten dia mengompres dahi Gala. Melakukannya berulang-ulang ketika sudah mulai dingin agar demamnya cepat turun. Dia tidak tega jika harus membangunkan Gala dan menyuruhnya minum obat.
"Bel, gue sayang lo," gumam Gala.
Abel sedikit kaget, namun saat melihat ke arah Gala ternyata dia hanya mengigau. Bisa-bisanya pria ini memikirkannya saat sedang sakit begini. Tapi Abel paham itu di bawah alam sadar Gala.
"Jangan tinggalin gue," racaunya lagi.
Abel menelan ludahnya mendengar ucapan Gala. Meski mengigau, itu ditujukan padanya. "Maafin gue ya, Gal." Abel menatap wajah Gala lekat-lekat, dia jadi merasa bersalah karena kejadian tadi, secara tidak langsung dia menolak Gala dan dia juga merasa bersalah karena belum bisa membalas perasaan Gala.
"Gue bakalan coba suka sama lo, tapi pelan-pelan ya," gumam Abel.
Dia sadar kalau perlakuannya pada Gala tidak benar. Meskipun pria ini manja, menyebalkan, tapi dia berusaha yang tebaik untuk Abel. Jadi kenapa dia tidak bisa membalasnya meskipun secara perlahan?
Cukup lama menjaga Gala, pria itu nampak cukup lebih baik daripada sebelumnya. Abel juga mulai mengantuk dan tanpa sadar tertidur dengan kepalanya yang bersender di sofa.
.
.
.
Gala mengerjapkan matanya, semalam badannya tidak terlalu enak sampai dia ketiduran tapi sekarang dia sudah berbalut selimut. Pandangannya tertuju pada Abel yang masih tertidur dengan posisi duduk dan kepalanya di pinggir sofa. Gadis itu ternyata yang merawatnya semalaman.
Gala tersenyum, ternyata Abel sangat perhatian. Kalau tidak, mungkin dia sudah meninggalkan Gala semalam setelah selesai mengompres, tapi dia malah ketiduran di sana.
"Bel, bangun. Pindah tidurnya nanti sakit badan," ucap Gala sembari menepuk-nepuk pipi Abel dan mengubah posisinya menjadi duduk.
Perlahan Abel membuka matanya, tubuhnya terasa sakit karena semalaman di posisi seperti ini. Abel langsung duduk di samping Gala dan mengecek keadaannya. Abel memegang dahi dan juga leher dari pria itu, ternyata demamnya sudah turun.
__ADS_1
"Ohh udah turun demamnya," ucap Abel lega, dia pun meregangkan otot-otot punggungnya, benar-benar berat seperti tertimpa beton.
"Lo khawatir ya?" Tanya Gala melirik ke arah Abel.
Abel tidak mau menjawab, tentunya dia juga gengsi mengakuinya. Meskipun dia sudah bilang akan mencoba membuka hatinya untuk Gala, tapi tetap gengsi adalah kebanggaannya.
"Lo pindah ke kamar, biar gue buatin bubur. Jangan tidur di sini dingin, lo masih harus istirahat," ucap Abel.
Gala menggelengkan kepalanya. "Gue udah sembuh, gak perlu istirahat. Kan dirawat sama lo."
Abel hanya mendengus kesal mendengar pernyataan Gala. "Yaudah tunggu di sini." Abel pun beranjak ke dapur dan mengambil beras dari tempatnya. Untung saja ibunya mengajarkan cara membuat bubur.
Dengan sabar Abel membuat bubur itu dan harus membuatnya enak. Orang sakit biasanya akan tidak enak makan, jika tidak enak maka akan membuatnya semakin tidak mau makan.
Setelah selesai, Abel mengambil abon instan dan menaburkannya di atas bubur. Menu yang biasa saja tapi Abel bangga bisa membuatnya. Dengan senang dia membawa bubur dan segelas air untuk diberikan pada Gala, tidak lupa juga dengan parasetamol karena Gala masih demam sedikit.
Abel duduk di sofa dan menghadap ke Gala. Dia meniup niup sebari menyendokan bubur di mangkoknya dan menyuapkannya pada Gala. Gala tidak menolak, tapi mulutnya terasa tidak enak makan. Bukan berarti bubur buatan Abel tidak enak.
"Gak mau, Bel. Mulut gue gak enak makan, udah ya?" Pintanya.
"Gak, lo harus makan terus minum obat. Biar cepet sembuh, makan lagi." Abel kembali menyuapkan bubur itu pada Gala.
"Lo kenapa sih tidur di sini? Jadinya demam, kan?" Omel Abel.
"Emangnya lo mau lebih jauh dari semalem kalau gue tetep di sana?" Tanya Gala realistis.
Abel menghentikan aktivitasnya, bisa-bisanya Gala mengingatkan kejadian semalam. Tanpa menjawab Abel kembali menyuapkan bubur pada Gala.
"Gue demam tuh nahan semaleman, kita belum sampe intinya," ucap Gala polos.
Jantung Abel berdetak dengan kencang, mendengar penuturan Gala dia menjadi semakin bersalah karena membuat Gala menahan semuanya. Tapi dia juga takut dan memilih diam saja.
Gala terkekeh melihat reaksi Abel. Bahkan pipinya sekarang mulai bersemu, membuat Gala gemas dibuatnya. Abel menyuapkan kembali bubur pada Gala.
"Kenapa diem doang, jangan-jangan lo suka? Mau lagi?" Tanya Gala yang membuat jantung Abel semakin tidak karuan. Jelas dia ketar ketir.
"Nggak," sangkal Abel singkat.
Gala hanya mengangguk-ngangguk santai, membuat Abel rasanya ingin pergi saja dari sini.
__ADS_1
"Tapi kayanya lo menikmati ya, walaupun kaku," ceplos Gala.
Bagaimana dia bisa bilang seperti itu? Tidak munafik kalau Abel menikmati karena itu kali pertamanya dia disentuh seperti itu oleh pria, tapi kenapa Gala itu bisa tau? Apalagi menyebutnya kaku, apa dia sering bermain bersama mantan-mantannya?
"Itu first kiss gue lo ambil gimana gue gak diem?!" Kesal Abel tanpa mau menatap ke arah Gala.
"Ohhh first kiss, kalau gitu sama dong. Itu juga first kiss gue. Wah senengnya jadi yang pertama," jawab Gala santai. Dia tidak tau saja kalau ucapannya itu membuat Abel kaget berkali-kali.
"Diem!" Kesal Abel.
"Berarti kedepannya boleh minta cium?" Tanya Gala mendekatkan wajahnya ke arah Abel.
"Nggak!" Tegas Abel.
"Masa gak boleh kan udah grand opening semalem," ucap Gala.
Grand opening, dia pikir apaan ada grand opening segala. Abel pusing melayani pembicaraan yang tidak jelas pagi-pagi begini. Setelah selesai menyuapi Gala dia memberikan obat dan air untuk Gala minum.
"Gak, jangan ngaco. Mending lo minum obat, terus lo istirahat ke kamar biar cepet sembuh," perintah Abel.
Gala terkekeh lalu mengambil obat dan meminumnya. Abel hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Gala. Dia pun membawa piring dan gelas ke dapur untuk dicuci. Tadinya dia ingin sarapan namun badannya juga terasa tidak enak.
Tiba-tiba perutnya terasa sakit dan rasanya0 mual. Abel segera berlari ke wastafel dan memuntahkan isi perutnya. Tidak ada apa-apa karena kosong, hanya terasa asam saja.
Hueekk ... Hueekk ...
Gala yang mendengar itu pun segera menghampiri Abel. Kini dia yang khawatir dengan keadaan Abel. Dilihatnya Abel masih muntah-muntah, Gala bingung harus bagaimana.
"Lo kenapa?" Tanya Gala.
Abel tidak menjawab karena masih ingin muntah, yang dia rasakan hanya mual itu saja.
"Gak ada isinya perut lo. Kenapa bisa gini? Masa lo hamil sih, baru juga gue cium sama pegang dikit," ucap Gala.
Abel menuntaskan muntahnya dan mencuci mulutnya, setelah itu dia mengambil tissue untuk mengeringkan tangan dan mulutnya. Pernyataan konyol apa yang Gala ucapkan?
"Jangan ngaco, masuk angin aja kayanya. Gue gapapa, bisa minum obat. Sana istirahat," kata Abel sembari mendorong pelan Gala untuk beranjak naik ke kamarnya.
"Lo juga makan, abis itu nyusul istirahat. Deal?" Tawarnya.
__ADS_1
Abel pun mengangguk, dia kalau sakit tidak akan repot kecuali kalau dia demam, batuk, flu dalam waktu yang bersamaan. Gala pun segera ke kamarnya, karena Abel sudah bawel menyuruhnya istirahat. Sementara Abel bergegas untuk makan dan meminum obat tolak angin.