
Meskipun perasaan Abella tidak pernah tuntas, tapi dia bisa menjalani kehidupan pernikahannya dengan baik. Lagi pula Gala memang tidak pernah menyakitinya. Dia juga selalu mencari tau tapi memang tidak ada yang aneh memang.
Jadi dia berpikir kalau itu hanyalah perasaan overthinking-nya saja. Hari ini diantar oleh taxi Abel pergi ke kantor Galaxy untuk memberinya makan siang.
Dia menanyakan pada bagian admin namun mereka bilang kalau Gala belum datang ke kantor. Ya jelas Abel kaget, karena Gala sudah pergi sejak tadi pagi.
Abel mencoba menghubungi Gala tapi tidak ada jawabannya. Jadi akhirnya dia memutuskan untuk menemui Degas di ruangannya.
"Eh, Bel. Tumben ke ruangan gue, ada apa?" Tanya Degas yang beranjak dari tempat duduknya.
"Maaf ya kalau ganggu, Gas. Ini gue mau nganterin makan siang buat Gala, tapi dia belum datang ke kantor, lo tau dia kemana?" Tanya Degas.
Degas menahan napasnya, apa yang harus dia jawab pada Abella ya? Jujur saja dia bingung bagaimana menjawabnya.
"Ada rapat di luar kali, Bel," jawab Degas.
"Meta bilang gak ada jadwal apa-apa hari ini," kata Abel yang mulai curiga kalau sebenarnya Degas tau sesuatu tapi dia menyembunyikannya.
"Bel-"
"Jujur, Gala kemana? Gue yakin lo tau sesuatu, gak mungkin Gala gak berbagi apapun sama lo dan Raka," ucap Abel gemetar.
Dia menahan tangis sebenarnya, perasaannya sudah kalang kabut beserta pemikiran-pemikiran negatif yang sudah lama dia tahan-tahan.
"Bel itu Gala yang lebih berhak kasih tau ke lo, lo tunggu Gala pulang aja ya?" Pinta Degas.
"Oke kalau lo gak mau kasih tau, biar gue cari tau sendiri sekarang!" Abel berbalik dan keluar dari ruangan Degas. Percuma dia memaksa Degas sahabat Galaxy, dia pasti lebih berpihak pada Gala.
Degas yang khawatir karena Abel sedang hamil tua langsung mengejarnya. "Bel, Abella tunggu!"
Abel menghentikan langkahnya dan kembali menatap Degas. "Kenapa?"
__ADS_1
"Oke ikut gue, tapi gue mohon setelah lo tau jangan emosi. Jangan marah, inget kehamilan lo. Gala udah bilang buat gak kasih tau lo, tapi kalau lo sendirian kaya gini bahaya, gimana?" Pinta Degas.
"Anter gue ketemu Gala!"
Degas menghela napasnya, kalau begini ya dia mau tidak mau menuruti kemauan Abella. Meskipun sudah bisa dipastikan akan ada pertengkaran setelah ini.
Sepanjang perjalanan Degas sesekali melirik ke arah Abel. Gadis itu diam seribu bahasa, Degas juga tidak berusaha bertanya, karena takut salah bicara.
Degas berusaha memegang ponselnya tapi dia takut Abel curiga, jadi dia tidak ada pilihan selain mengantarkan Abella pada Galaxy.
30 menit perjalanan, Degas mengehentikan mobilnya di sebuah rumah sakit. Membuat Abel bertanya-tanya. Kenapa Gala di rumah sakit?
Perlahan dia mengikuti Degas masuk ke dalam, mereka sampai di sebuah ruangan tapi tidak ada siapa-siapa. Akhirnya mereka ke taman. Abella melihat ke sekitarnya sampai matanya tertuju pada pria yang dia cari.
Dia tidak sendiri, dia sedang menemani seorang gadis yang berada di kursi roda dengan selang infus di tangannya.
Gala duduk di hadapan gadis itu dan mengajaknya bicara. Entah apa juga yang mereka bicarakan, tapi perasaan Abel terluka melihat semua ini. Abel sampai mengigit bibir bawahnya cukup keras melihat ini semua.
Abel melirik ke arah Degas. "Siapa?"
"Dia Areyna, salah satu mantan Galaxy."
"Jadi maksudnya selama ini dia jagain mantannya di sini? Mereka ada hubungan? Jadi gue di selingkuhin gitu?" Setetes air mata turun di pipi Abel, namun dengan cepat dia menyekanya.
"Bel, Gala punya alasan untuk itu."
"Gue mau pulang." Abel tidak tau harus berkata apa, dia tidak mau ada di sini. Bahkan perutnya sudah terasa keram. Mungkin sang anak paham apa yang terjadi pada Ibunya.
"Lo gak coba minta penjelasan sama Gala dan samperin mereka?" Tanya Degas.
"Lo gak mau gue marah dan emosi, kan? Tolong anterin gue pulang, kalau lo gak mau, gue pulang sen-"
"Oke-oke gue anter pulang. Lo tenang dulu, pikirin bayi lo."
__ADS_1
Abel hanya mengangguk pelan, air matanya sudah tidak bisa dikontrol lagi, dia benar-benar merasa sesak sekarang. Apapun alasannya perselingkuhan tidak bisa dia toleransi.
Degas bingung dengan semua ini, tapi akan lebih bingung lagi kalau Abel emosi di rumah sakit dan semuanya akan semakin kacau. Dia membantu Abel berjalan ke mobil dan memastikan kalau dia aman.
Setelah itu dia mengantar Abel untuk pulang ke rumah. "Lo harus dengerin gue, Bel."
"Gue gak mau denger apapun, Gas. Gue mau Gala bilang langsung sama gue, gue ini dianggap apa sama dia? Gue percaya banget sama dia dan dia kaya gini? Menurut lo gue gak berhak marah? Gue nahan buat gak mikir macem-macem beberapa bulan ini dan lo juga tega bantuin Gala kaya gini!" Abel mulai terisak lagi.
"Bel Areyna sakit keras." Akhirnya satu kalimat berhasil Degas ungkapkan.
Abel menatap Degas tak percaya. "Jadi kalau dia sakit kenapa harus Gala yang rawat? Dia punya istri, Degas! Lo mikir gak perasaan gue udah dibohongin kaya gini dan lo seakan minta gue memahami semuanya hanya karena Gala temen lo?!"
"Gak gitu, Abel. Maksud gue gak gitu." Degas menghentikan mobil tepat di pekarangan rumah Abella dan Gala.
"Maksud gue-"
"Cukup, gue gak mau denger penjelasan apapun dari lo."
Abel keluar dari mobil Degas dan berjalan masuk ke dalam. Degas panik, akhirnya dia mengirim pesan pada Gala dan memberitahukan apa yang terjadi sekarang. Dia tidak bisa pergi juga, dia harus tetap di sini sampai Gala pulang.
Abel berjalan ke kamarnya, mengambil koper dan beberapa baju. Dia tidak suka dibohongi, ada hubungan apapun Gala dengan perempuan itu Abel tidak peduli. Yang dia tau Gala sudah berbohong padanya. Alasan apapun tidak akan bisa dia terima kali ini.
Napasnya tidak beraturan. Abel menenggelamkan wajah di kedua telapak tangannya. Membiarkan emosinya meluap bersama air mata yang semakin deras. Dia selalu percaya pada suaminya tapi hari ini Gala menghancurkan kepercayaannya.
Dia mencoba mencerna kembali kejadian hari ini, berusaha mencari sisi yang dia bisa pahami, tapi entah kenapa tidak bisa. Dari segi mana pun Abel tidak mengerti dengan semuanya.
"Sayang, kita nginep di rumah Oma dulu ya. Kalian jangan rewel ya, kalian harus puasa dulu ketemu papanya. Mama janji bakalan jaga kalian dengan baik. Jangan kenapa-kenapa ya?" Abel mengusap perutnya dengan lembut, setelah itu dia menyeka air matanya. Memang ada baiknya dia pulang ke rumah orang tuanya dulu sekarang.
Di sisi lain mata Gala membulat saat mendapat kabar dari Degas. Tanpa pikir panjang dia berlari dari ruangan Areyna dan bergegas. Ini yang Gala takutkan, dia berusaha menyembunyikannya sejak lama tapi yang namanya sebuah kebohongan pasti akan terbongkar juga.
Dia khawatir, jadi dia meminta Degas menjaga Abella sampai dia tiba di sana. Dia takut kalau Abel kenapa-kenapa. Apalagi perutnya yang sering keram. Membuat Gala sudah berpikir kemana-mana. Dia sampai tidak mengangkat panggilan dari orang tua Areyna. Dia tidak peduli, yang dia pedulikan hanya Abella dan anak-anaknya sekarang.
Gala melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Sesekali dia mengumpat pada dirinya sendiri. Sejak awal dia seharusnya bicara pada Abel. Tapi dia terlaku banyak berpikir dan sekarang dia juga yang ketar-ketir saat Abel mengetahuinya buka dari mulutnya sendiri. Memang penyesalan akan selalu datang di akhir seperti ini.
__ADS_1