
Pulang sekolah semua murid di SMA Gold Garuda di kumpulkan di tengah lapangan. Sepertinya akan ada pengumuman, biasanya sih begitu.
Namun sedikit membuat Abel bertanya-tanya tentang agenda kali ini karena di depan sana sudah ada Gala beserta teman-temannya. Gala melirik sekilas ke arah Abel yang menatapnya lalu tersenyum tipis. Abel menyerngitkan keningnya seraya berusaha agar tidak salah tingkah. Semenjak ciuman terakhirnya entah kenapa mereka malah semakin dekat.
"Hari ini bapak merasa bangga karena tim basket kita akan mengikuti turnamen di Ibu Kota. Terima kasih untuk kalian yang sudah bekerja keras. Siapkan mental dan fisik, karena kalian akan berangkat besok sore bersama tim cheerleader," ucap Pak Santosa dalam pengumumannya.
Abel terdiam, apakah Gala juga akan pergi? Oh pertanyaan konyol macam apa itu, sudah jelas Gala juga ikut serta karena dia ketuanya. Berarti beberapa hari dia akan di rumah sendiri? Pikirnya.
"Lo mikirin Gala ya?" Bisik Dinda.
"Engga," ucap Abel berbohong.
Dinda hanya mengulum tawanya, Abel ini memang begitu gengsi dalam mengakui apapun. Beberapa hari kemarin Gala semakin berani dekat dengan Abel namun Gadis itu masih bertahan pada gengsinya dan terlihat biasa saja.
"Kok Gala gak pernah bilang soal turnamen itu? Terus nanti gue di rumah sendiri? Kenapa harus 3 hari lama banget perasaan. Kesenengan pasti bisa bareng sama mantannya yang oke itu. Cih."
"Pasti Jela modus deket-deket sama Gala. Secara 3 hari bakalan bareng-bareng di sana. Apasih, Bel? Kenapa jadi mikirin Jela segala. Lagian juga harusnya lo seneng, 3 hari ini bisa bebas sesuka hati tanpa ada Gala," batinnya.
Abel terlalu larut dengan pikirannya sampai tidak sadar kalau Gala sudah ada di hadapannya. Gala aneh, wanita ini begitu fokus mendengarkan pengumuman sampai tidak sadar kalau sudah selesai.
"Bel, Abella," panggil Gala lagi.
"Loh, perasaan tadi masih baris," ucap Abel polos saat melihat Gala sudah ada di hadapannya.
"Kenapa? Mikirin apa sampe gak fokus gitu? Udah bubar dari tadi," balas Gala.
Abel hanya menggeleng, Gala pun menghela napasnya dan langsung menarik tangan Abel untuk pulang bersamanya. Sementara Abel hanya mengikut saja sambil menatap pria itu. Entahlah sepertinya dia sudah terbiasa untuk pulang bersama Gala. Apalagi Gala sudah memperingati Jela minggu lalu, membuat dia tidak berani berurusan dengan Abel meskipun masih berusaha mendekati Gala.
Di mobil, Abel masih memikirkan banyak hal. Bahkan ucapan Gala pun hanya dibalas hm saja dari tadi. Gala jadi sedikit khawatir apakah istrinya ini sakit? Seperti ayam kena flu burung saja.
__ADS_1
"Lo sakit?" Tanya Gala memastikan.
"Engga," jawabnya singkat.
"Terus kenapa?" Tanya Gala lagi yang merasa tidak puas dengan jawaban yang Abel berikan.
"Gak kenapa-kenapa, Gala," ucap Abel yang pasrah dengan Gala yang sudah banyak tanya seperti itu.
"Gak kenapa kenapa tapi kaya ayam kena flu burung," ucap Gala mencibir.
"Apa lo bilang? Ayam kena flu burung?" Abel mendengus pelan, bisa-bisanya Gala menyamakannya dengan ayam.
"Ya ayam kena flu burung kan kerjaannya diem aja, mirip kaya lo," jawabnya asal.
"Ya gak disamaain sama ayam juga. Gue cuma males ngomong aja, jadi jangan tanya-tanya gue," ucap Abel.
"Lagi datang bulan?" Tanya Gala yang seolah tidak mendengarkan Abel.
Abel menghela napasnya, baru saja dia bilang jangan bertanya tapi pria itu sudah bertanya lagi. "Galaaaa, jangan tanya gue," kesal Abel.
"Jadi besok lo pergi ke Jakarta?" Tanya Abel tiba-tiba.
Jadi ini rupanya yang membuat gadis itu menjadi lebih pendiam dan sedikit uring-uringan. Gala hanya mengulum senyumnya. "Iyaa, besok sore perginya."
"Ohhhh." Abel hanya menyebut satu kata itu.
"Kenapa, gak mau ditinggal ya? Atau gak mau jauh-jauh dari gue?" Goda Gala.
Abel menyipitkan matanya menatap pria itu. "Engga, jangan geer. Gue cuma nanya aja soalnya lo gak ada bilang sama gue sebelumnya mau ikut turnamen di luar kota."
"Udah lama sebenernya, emang lo mau kalau diceritain soal jadwal-jadwal gue?" Tanya Gala serius.
__ADS_1
Abel berpikir, benar juga. Selama mereka menikah, Gala tidak pernah menceritakan jadwalnya. Hanya yang terlihat saja yang Abel tau. Tapi kenapa Abel kesal ya saat tidak mengetahui soal turnamen Gala?
"Yaudah mulai sekarang gue bakalan cerita soal-soal jadwal gue, jangan ngambek," ucap Gala sembari mengusap puncak kepala Abel.
Abel menoleh ke arah suaminya, "Engga marah, Gala. Cuma nanya."
Gala terkekeh. "Jadi selama gue gak ada mau gimana? Mau ikut? Atau mau gue anter ke rumah Bunda?" Tanya Abel.
"Emang boleh kalau diem di rumah bunda?" Tanya Abel balik, tidak mungkin dia ikut dengan Gala. Selain mengorbankan waktu sekolahnya, tentu akan timbul berbagai macam pertanyaan. Meskipun untuk izin dan semua kebutuhannya bisa Gala usahakan untuknya.
"Boleh lah, justru gue lebih tenang kalau lo di rumah bunda daripada di rumah sendirian," ucap Gala.
"Yaudah di rumah bunda aja," balas Abel. Dia memang lebih suka menghabiskan waktu sendirian, tapi bukan berarti dia bisa tahan di rumah sendirian.
"Oke besok pulang sekolah gue anterin, cuma 3 hari aja. Nanti gue jemput lagi ke rumah bunda," ucap Gala.
"Kalau sama mantan biasanya bisa nambah gak sih harinya? Apalagi di sana banyak tempat buat dikunjungi. Jarang-jarang juga kan ke Jakarta?" Entah kenapa Abel spontan bicara seperti itu.
Gala terkekeh mendengar pertanyaan Abel. Kenapa gadis itu? Dia tidak mau ditinggal sekaligus cemburu karena ada Jela yang ikut bersamanya? Meskipun tidak yakin tapi entah kenapa Gala malah senang dan gemas mendengarnya. Menurutnya Abel sangat lucu.
"Boleh, lumayan di Jakarta anggap aja liburan," jawab Gala santai.
"Tadi katanya cuma 3 hari aja, sekarang katanya bisa lebih dari 3 hari." Abel berusaha santai mendengar pernyataan Gala, walaupun dia ingin sekali memukuli pria itu entah kenapa.
"Ya lo kasih ide, jadi gue pikir boleh juga. Kan gak ada salahnya ikutin usul dari istri?" Ucap Gala santai.
Abel menghela napasnya, benar-benar menyebalkan sekali Galaxy Putra Alaric ini. "Gue gak ngasih ide, Galaxy. Gue nanya, lo gak bisa bedain mana nanya sama ngasih ide?"
"Ya lo nanyanya lucu. Ngapain juga lama-lama di sana, apalagi sama mantan. Kalau cemburu itu bilang aja kali, Bel. Jangan mendadak diem, uring-uringan," kata Gala lembut.
"Engga cemburu, Gala. Udahlah gak akan nanya lagi," balas Abel yang merasa serba salah. Tapi bukan itu sih penyebabnya, dia hanya tidak tau dia sedang kenapa hari ini, apa karena sebentar lagi dia akan datang bulan ya?
__ADS_1
"Gengsinya tinggi ya, Bu? Yaudah gue bilang aja nih sama istri gue. Gue cuma mau turnamen basket, kemungkinan lebih banyak briefing sama rapat, belum lagi harus mikirin laporan, selama 3 hari juga harus persiapin kesiapan, bisa jadi sesekali pemanasan atau latihan. Jadi gak ada waktu buat deket sama tim cheers, paling ketemu di lapangan aja nanti."
Abel mendengarnya, namun dia hanya diam saja. Perlahan dia mengulum senyumnya, namun dalam sekejap kembali berusaha terlihat biasa saja dan fokus pada jalanan.