
Beres makan siang dan jalan-jalan, Abel memandikan anak-anaknya, karena pergi tanpa persiapan jadi memang dia harus membeli beberapa baju untuk beberapa hari ke depan. Iya, dia berpikir akan di sini beberapa hari untuk menenangkan diri. Dia juga mematikan ponselnya agar tidak bisa dihubungi oleh Galaxy, katakan saja egois. Dia memang ingin menjadi egois sekarang, sama seperti Galaxy yang bertindak sendiri tanpa memberitahukannya.
"Mama, Papa pasti susah cari kita hihi," kata Alana sambil tertawa memperlihatkan gigi kelincinya.
Abel terkekeh, bukan karena ucapan Alana tapi menurutnya si kecil itu menggemaskan kalau sedang tertawa seperti itu. "Iya, Sayang. Gapapa, biar papa kalah sekali-sekali. Papa mau menang terus sih, kan Mama kesal."
"Mama engga mau kalah? Mama engga boleh gitu, kata Mama kan harus menerima kekalahan," ucap Alano menasehati Ibunya.
"Iya, tapi kali ini Mama pingin menang, Sayang. Masa papa terus yang menang." Ini Abel menceritakan perasaannya pada Alano dan Alana sebenarnya, tapi memang bahasanya saja yang berbeda.
"Engga boleh gitu Mama nanti Mama berantem sama papa, nanti Ana sedih," sambung Alana.
"Oh jadi kalau Mama sama Papa berantem Alan sama Ana sedih?" Tanya Abella seraya mengusap kedua pipi anaknya.
"Iya, Mama sedih," jawab Alano dan Alana bersamaan.
"Yaudah, nanti kalau Mama sama Papa berantem gak akan lama-lama deh, biar anak-anak Mama gak sedih," ucap Abella sambil terkekeh.
Ada sedikit rasa bersalah karena kondisinya sekarang Abella dan Galaxy memang bertengkar. Tapi dia benar-benar belum bisa menemui Gala. Dia butuh waktu untuk berpikir dan mencari sudut pandang yang bisa dia pahami, karena kalau sekarang dia belum bisa menerimanya dari sudut pandang mana pun.
Ting ... Tong ....
Bel berbunyi, pasti ini room service. Abella turun dari kasur dan membukakan pintu. Napasnya kembali sesak sembari mengigit bawah bibirnya agar tidak menangis. Dia terdiam mendapati Galaxy yang ada di depannya. Darimana dia tau kalau mereka ada di sini?
"PAPA!!!" Alano dan Alana berlari menghampiri Galaxy dan memeluk mereka. Baru sebentar saja mereka sudah rindu, begitu juga dengan Galaxy. Dia sangat merindukan kedua anaknya dan tentu pada Ibunya juga.
__ADS_1
"Ayok Papa kalahin Mama! Alan udah kasih tau tempat sembunyina Mama!" Ucap Alano polos.
"Makasih ya, Sayang. Jamnya dipake terus, biar kalau main kucing-kucingan kita bisa kerja sama, oke? Soalnya Mama pinter banget sih cari tempat sembunyinya, Papa jadi kewalahan carinya takut Mama hilang," Kata Galaxy.
"Oke Papa!!"
Abella menghela napas, dia lupa kalau Alano mempunyai smart watch. Pantas saja Galaxy bisa menemukannya, tidak bisa nih kalau begini. Anak-anaknya terlalu pintar, sehingga Galaxy dengan mudah mendapatkan informasi. Padahal dia masih ingin berlama-lama marah pada suaminya itu.
Gala berdiri dan masuk ke dalam. Perlahan dia menutup pintu dan memeluk Abella dengan erat. "Mama ketangkap, Mama kalah!"
Alano dan Alana bersorak, berbeda dengan Abella yang berusaha melepaskan diri dari Galaxy. Namun sia-sia saja, karena tenaga Galaxy lebih kuat darinya. Dia tidak membiarkan Abella lepas dari pelukannya. "Mama gak pinter main kucing-kucingan. Karena Papa akan selalu menemukan kalian di mana pun."
Abel terdiam, dia tidak tahan ingin menangis. Benar saja, tidak lama dari itu dia benar-benar menangis. Gala dapat merasakan tubuh Abella bergetar dalam pelukannya. Dia merasa sangat bersalah karena bersikap kasar pada Abel tadi sampai membuatnya terluka seperti ini.
"Maafin aku," ucap Gala lirih sembari mengeratkan pelukannya pada Abella.
Mendengar itu Abel tidak bisa bilang apa-apa, dia marah sebenarnya tapi Galaxy memeluknya seperti ini di depan anak-anak mereka, mana mungkin Abel bisa marah sekarang. Apalagi tadi Alana bilang kalau dia dan Galaxy bertengkar mereka akan sedih. Sulit ternyata menjadi seorang Ibu.
"Papa kenapa lama peluk Mamana? Ana juga mau dipeluk, Papa. Papa gak mau peluk Ana?" Tanya Alana yang mulai merasa cemburu karena memang posesif dengan Galaxy.
Abel menjauh dari Galaxy dan menyeka air matanya, tidak bisa mengelak kalau sudah begini. Alano dan Alana pasti tau dia menangis. Dia harus pintar-pintar membuat Alasan untuk anaknya yang pintar. Gala berlutut lalu memeluk Alana dengan sayang.
Sementara Alano memeluk kaki Ibunya dan menatapnya dengan lembut. "Mama kenapa nangis? Mama sedih karena engga mau kalah ya? Maafin Alan ya Mama udah kasih tau Papa."
Abel berjongkok dan memeluk Alano seraya mengecupi pipinya. "Sedih, Sayang. Alano gak ada di pihak Mama ya, lebih nurut sama Papa? Tapi gapapa, ada kalanya seseorang emang harus menerima kekalahan dan mengalah sama situasi. Alan gak salah, Mama sayang sekali sama Alan."
"Mama engga sayang Ana?" Tanya Alana protes.
__ADS_1
Abel terkekeh lalu membawa Alana dalam dekapannya, tidak lupa dia menciumi putrinya yang gemas itu agar tida protes kembali. "Sayang dong. Mama sayang sama kalian berdua. Gak ada yang beda, semuanya sama. Kan Mama udah pernah bilang, kan?"
"Engga sayang Papa?" Tanya Alana lagi.
Gala tersenyum mendengarkan perkataan Alana, ini mempermudahnya untuk berdamai dengan Abella, kan? Gala membawa mereka ke dalam pelukan. "Sayang dong, Mama juga pasti sayang papa. Iyakan, Ma?"
Abel terdiam, hanya mengikuti saja permainan Galaxy. Dia masih akan tetap marah karena Galaxy belum menjelaskan apa-apa padanya. Apalagi tidak ada toleransi untuk alkohol, merokok saja Abel sudah melarang apalagi dengan alkohol? Belum lagi tadi Gala membentaknya dan bersikap kasar, dia juga masih mencerna semua itu.
"Mamaa, Mama engga sayang Papa?" Tanya Alana yang tidak mendapat respon dari Ibunya.
"Iya, mama juga sayang Papa," jawab Abel menyerah.
"Tapi engga dicup-cup kaya Alan sama Ana, kata Mama kalau sayang harus dicup-cup," balas Alano.
"Pintar boy!" Gumam Gala dalam hati.
Gala tersenyum kemenangan dan mendekatkan pipinya pada Abella. Jujur, ini menyebalkan menurut Abella. Gala memanfaatkan anak-anaknya demi membuat dia luluh. Kalau saja dia bisa menolak di depan anak-anaknya, pasti Abel sudah lakukan detik ini juga. Tapi sayang dia tidak bisa melakukannya dan menjadi egois untuk anak-anaknya.
"Papa bau, Sayang. Tadi minum kopi yang gak enak, suruh bersih-bersih dulu ya? Bilang sama Papa, Mama gak suka kopinya," ucap Abella memberi pengertian.
"Papa engga boleh minum kopi gak enak Papa!" Peringat Alana.
Gala mengerti maksudnya, dia tersenyum ke arah Alano dan Alana. "Iya, Sayang maafin Papa ya. Gak akan lagi, kalau gitu papa bersih-bersih dulu, biar wangi dan dicium Mama."
"Iya Papa bersih-bersih ya!" Peringat Alano.
Gala menurut, memang dia bau alkohol sekarang. Wajar kalau Abel tidak mau menciumnya, dia juga yakin kalau Abella masih marah. Jadi setelah ini tugasnya adalah mencoba mencari waktu yang tepat dan menjelaskannya pada Abel.
__ADS_1
Sekilas dia menatap Abella, namun wanita itu mengalihkan pandangannya. Membuat Gala menghela napas dan berpikir keras untuk mendapatkan maaf dari istrinya. Dia jarang sekali marah, harus Gala akui kalau dia sabar, tapi sekalinya marah jangan harap dia cepat luluh.