Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Rasa Khawatir


__ADS_3


Pulang kerja Gala langsung menuju kamar, dilihatnya Abel sedang tertidur. Kasian sekali dia sedang sakit, jadi Gala mengerti kalau hari ini Abel tidak bisa mengurusnya seperti biasa.


Setelah selesai mandi Gala pun duduk di kasur lalu menaikan selimut Abel, namun itu membuat Abel terusik. "Kamu udah pulang, kenapa gak bangunin aku? Aku buatin teh atau kopi ya, bentar."


Abel berusaha bangun namun Gala menahan dan memeluknya. "Udah gak usah, lagian aku udah makan di kantor. Masih sakit? Kita ke dokter aja mau?"


Abel menggeleng. "Gak mau, besok juga sembuh. Perutku cuma sakit aja, kayanya mau PMS. Sakit gitu."


"Sakit? Kenapa tadi gak telfon aku aja, tau gitu aku bisa pulang cepet," kata Gala.


"Aku gak mau ganggu kamu, lagian kamu kan kerja sama kuliah juga. Jadi aku minta tolong Bunda ke sini, terus aku di usapin baru aja mendingan. " Abel menatap Gala dan meyakinkan kalau dia baik-baik saja.


Gala mencium bibir istrinya, ya meskipun begitu dia tetap khawatir. Dia paling tidak bisa kalau melihat Abel sakit. Tangannya tergerak mengambil botol minyak angin. Setelah itu dia menyingkap baju istrinya dan mengusap-usap perut istrinya.


"Perut jangan sakit lagi ya, kasian istri aku kesakitan," ucap Gala lembut.


Abel tersenyum, entah apapun yang sakit Gala selalu bilang begitu dan itu sangat gemas menurut Abel. Abel jadi gemas dan menciumi pipi suaminya. "Masih sakit, nakal banget perutnya."


"Sabar ya, tahan. Udah minum obat kamu?" Tanya Gala tanpa menghentikan aktivitasnya.


"Udah, aku udah makan sedikit. Tapi kata bunda gapapa, yang penting bisa minum obat. Jangan khawatir, aku gak kenapa-kenapa. Beneran," ucap Abel meyakinkan.


"Kalau besok kamu gak sembuh biar aku izin aja ke kantor ya?" Gala tidak bisa tenang soalnya kalau besok Abel masih sakit.


"Gak usah, i can handle everything. Udah mendingan juga karena kamu usapin perutnya, jadi pasti besok sembuh. Aku gak mau sampai pekerjaan kamu menumpuk nantinya. Lagian kan sebentar lagi weekend."


Gala menciumi ceruk leher Abel dan sejenak menghirup aroma tubuhnya. "Cepet sembuh kalau gitu, makan yang banyak, vitaminnya juga diminum biar jaga stamina tubuh, kamu suka telat makan kalau gak aku ingetin. Mulai besok aku ingetin jam makannya biar gak lupa."


"Aku makan kalau aku mau, Gala. Kalau aku gak mau aku gak akan makan, gak bisa di jam - jam kaya gitu," ucap Abel lembut.


"Iya kebiasaan kaya gitu salah, Sayang. Harus ada aturannya, mulai sekarang biasain ya? Pelan-pelan aja, sedikit juga gapapa, yang penting ada isi perutnya," kata Gala.

__ADS_1


"Ihh kamu, udah kaya pak dokter aja." Abel memajukan bibirnya.


Tentu itu adalah kesempatan menurut Gala, akhirnya dia menciumi bibir istrinya berkali-kali. "Iya aku dokter pribadi kamu. Jadi harus nurut ya? Aku kasih tau tuh karena aku sayang sama kamu, gak mau kamu kenapa-kenapa. Aku gak suka liat kamu sakit, kaya ayam flu burung soalnya. Kalau gak nurut nanti aku hukum!"


"Hukum hukum, gak boleh. Masa sama istrinya kaya gitu, Gal. Cium aja boleh," kata Abel sambil terkekeh.


"Iya aku hukum kamu cium gak berhenti-berhenti mau? Sampai gak bisa napas, sampai tergila-gila sama aku nanti, mau?" Tawar Gala.


"Brutal banget, iya Pak Dokter aku nurut." Abel memeluk erat Gala. Dia sangat beruntung memiliki Gala yang perhatian seperti ini. Apalagi dalam menghadapi mood Abel yang akhir-akhir ini buruk sekali.


.


.


.


Gala memperhatikan Abel yang sedang memasangkan dasinya. Dia hari ini memang bisa melakukan pekerjaan paginya tapi terlihat lemas. Wajahnya juga terlihat pucat hari ini. Apalagi sejak pagi tadi dia tidak berhenti muntah. Dan benar saja tiba-tiba Abel merasa mual kembali. "Bentar."


Abel berlari ke wastafel dan memuntahkan isi perutnya yang terasa asam saja.


Gala semakin khawatir kalau begini, dia menghampiri Abel lalu mengusap tengkuknya dengan lembut. Abel tidak berhenti muntah, dia juga kehilangan selera makannya. "Sayang kita ke dokter aja ya? Biar aku izin sehari ke kantor."


Abel menggeleng lalu menuntaskan muntahnya dan mencuci mulutnya. Sejenak dia mengatur napasnya, perutnya terasa sakit sekali. "Akhhh, Perut aku sakit banget." Abel memegang perutnya dan sedikit meremasnya di bagian yang sakit.


"Kita ke dokter aja ya? Ini kamu parah banget loh muntahnya dari kemarin. Jangan ditunggu sampai parah, pekerjaan aku itu urusan nanti. Aku kerja ya buat kamu, kalau kamu sakit gak ada artinya juga uangnya. Aku mohon kali ini nurut."


Abel hanya mengangguk sambil menahan sakit pada perutnya, rasanya seperti menstruasi tapi ini lebih sakit. Kepalanya pusing, tenggorokannya juga sudah kering karena muntah sejak tadi shubuh. Gala bergegas ke kamar dan mengambil kunci mobilnya. Namun saat kembali menemui Abel, gadis itu sudah tergeletak pingsan


"Abelll!!" Gala menepuk-nepuk pipi istrinya namun tidak ada respon. Kali ini dia tidak tau harus berbuat apa. Tanpa basa-basi lagi dia menggendong Abel dan membawanya ke rumah sakit. Hanya itu jalan satu-satunya.


Gadis itu memang keras kepala, sekarang malah Gala yang khawatir melihat keadaannya seperti itu. Gala membaringkannya di jok belakang, setelah itu dia ke posisinya dan melajukan mobil ke rumah sakit.


Sesekali dia melihat ke arah spion, memastikan Abel baik-baik saja. Setelah itu dia berpikir untuk menghubungi orang tuanya. Bagaimana pun dia tidak bisa sembarangan absen. Tentu harus melapor Ayahnya dulu sebagai bentuk tanggung jawab.

__ADS_1


"Halo, Paa. Hari ini Gala ga bisa ke kantor."


"Kenapa, Gal?" Tanya Ghani dari seberang sana.


"Abel pingsan, lagi di jalan ke rumah sakit," jawab Gala.


"Beritahu papa rumah sakit mana? Biar Papa dan Mama menyusul."


"Nasution."


"Oke, nanti kabari papa kalau sudah tau kondisinya."


"Baik pa."


Gala menutup panggilannya dan fokus menyetir. Sekitar 30 menit barulah dia sampai ke sana. Dengan sigap dia menggendong tubuh istrinya dan membaringkan di brankar yang di bawa beberapa perawat.


Sebelum masuk ke UGD, perawat sempat menanyakan keadaan terkahir Abel karena dokter datang lebih siang dan Gala pun menerangkannya dengan jelas.


Sudah setengah jam Gala menunggu di luar UGD, akhirnya suster keluar dari sana dan menemui Gala.


"Sus gimana keadaan istri saya?" Tanya Gala.


"Untuk sekarang Ibu Abella kami infuss dulu ya, Bapak. Karena mengalami dehidrasi dan kekurangan banyak nutrisi, untuk lebih jelasnya nanti akan diperiksa oleh dokter setelah pasien sadar dan bisa dirujuk ke dokter spesialis jika ada penyakit yang dicurigai."


"Jadi istri saya belum sadar?" Tanya Gala.


"Iya, Pak."


"Boleh saya masuk ke dalam?"


"Tentu, Pak silahkan."


"Terima kasih, Sus." Gala memasuki ruang gawat darurat dan menemui Abel di sana. Dilihatnya gadis itu sedang terbaring lemah di ranjang dengan infus yang menempel pada tangannya. Ini pertama kalinya Abel sakit sampai harus dibawa ke rumah sakit.

__ADS_1


Gala menarik gorden lalu duduk di ranjang dan mengelus puncak kepala Abel. "Sayang, bangun. Aku khawatir liat kamu kaya gini." Gala menciumi tangan istrinya dengan lembut.


Gala berharap kalau Abel akan baik-baik saja, dia juga berharap kalau istrinya tidak mengalami penyakit serius. Abel pernah bilang dia selalu takut ke rumah sakit karena takut mendengar diagnosa medis. Jadi semoga tidak terjadi hal yang lebih serius.


__ADS_2