
Seharian mengurus Kanya membuat Gala jadi lebih manja biasanya, sejujurnya Abel merasa kesal dengan sifat Gala yang seperti ini. Bukan tidak suka, tapi dia jadi tidak bisa kemana-mana. Gala tidak mau ditinggal, rasanya lebih manja dari Kanya.
Gala menaruh kepalanya di pangkuan Abel, sesekali dia menciumi perut Abel sembari membayangkan, sepertinya akan lucu jika di dalamnya ada bayi. "Bel."
"Apa?" jawab Abel sembari menatap ke bawah, tentunya pada Gala.
"Cerita," ucap Gala.
"Gue gak pinter cerita, mending lo naya aja nanti gue jawab," balas Abel sembari kembali menatap ponselnya dan membaca novel.
"Ceritain waktu bunda hamil lo kaya gimana? Kok bisa anaknya cantik kaya lo?" Ucap Gala.
"Nanyanya yang serius, gue males jawab." Abel mengacuhkan pertanyaan Gala.
"Gue serius, pingin tau waktu bunda hamil lo kaya gimana." Gala mengambil ponsel Abel dan kini meletakkannya di saku celana miliknya, dia tidak mau fokus Abel terbagi.
Abel berpikir. "Emmm, kata bunda waktu hamil gue yang lebih banyak ngidam ayah."
Abel mengusap rambut Gala, entah menjadi kebiasaan atau reflek. Tapi tangannya begitu saja tergerak untuk melakukannya. Sementara Gala memainkan jari-jari lentik Abel di tangan satunya.
"Terus-terus?" Tanya Gala sembari memperhatikan wajah Abel.
"Ya karena ayah itu dulu bucin banget sama bunda dan bunda itu cuek. Jadi ayah yang ngidam, katanya setiap pulang kerja ayah maunya makan mangga muda dan tiap pagi kaya mual muntah gitu," jelas Abel.
"Gue kaya gitu gak ya nanti?" Tanya Gala.
"Iya, makanya lo jangan bucin!" Ucap Abel.
"Kenapa istri gue beda sendiri? Orang lain mau dibucinin, ini malah nyuruh jangan bucin," kata Gala keheranan.
"Segala sesuatu yang berlebihan itu gak baik, sekedarnya aja. Yang namanya perasaan sekecil apapun bisa dirasakan sama seseorang yang lo cintai. Gak perlu berlebihan," ujar Abel.
Gala tersenyum, gadis itu memang bijak dalam menghadapi apapun. "Terus-terus gimana lagi?"
"Waktu hamil gue, bunda lagi skripsian. Jadi gue dibawa-bawa buat revisian, ngerjain skripsi, ya kaya gitu," lanjut Abel.
"Pantes aja lo pinter, di kandungan aja dicekoki skripsi." Gala terkekeh.
"Gak ada korelasinya, kalau mau pinter ya belajar. Mau lo dalam kandungan ikut skripsi kek, atau minum air bakaran buku juga gak ngaruh, Gal," ucap Abel.
"Ngaruh, katanya bayi dalam kandungan bisa tau ibunya lagi ngapain," balas Gala.
Abel terdiam, dia pernah dengar sih. "Ya iya sih."
__ADS_1
"Terus gimana lagi?" Tanya Gala.
"Waktu gue lahir, kakek gue dapet proyek besar, ayah juga, terus kakak bunda yang 10 tahun menikah kan belum punya anak, nah waktu gue lahir dia ngandung. Itu kenapa kayanya gue jadi anak emas."
"Enak dong?"
Abel terkekeh. "Menurut lo?"
"Enak, disayang banyak orang kan enak?" Gala mengangkat tangannya sembari mengelus pipi Abel.
"Iya emang gue disayang banyak orang. Semua orang peduli sama gue. Bahkan ulang tahun gue dirayainnya sebulan sekali bukan setahun sekali." Abel sedikit tertawa jika mengingatnya.
"Loh kok bisa?" Tanya Gala.
"Karena mereka beruntung banget katanya pas gue lahir. Bahkan kakek gue bilang gue jimat, karena semenjak gue lahir semuanya kaya dipermudah. Tapi kalau dipikir ya mungkin udah masanya aja buat maju gak sih? Gak mungkin karena gue doang."
"Tapi anak itu katanya pembawa keberuntungan, Bel. Bisa jadi bener karena lo lahir semuanya jadi lancar. Terus?"
"Waktu gue kecil, gue gak bisa kena dingin. Lo tau gak, box bayi gue tuh pinggirannya dipakein bantal sama kardus, terus diatasnya pake lampu pijar yang oranye. Kaya anak ayam tau," kata Abel sambil tertawa.
"Hahahaha kok gitu?" Entah kenapa Gala suka sekali mendengar cerita dari Abel, bahkan lebih menarik dari apapun.
"Karena gue udah pasti bakalan sering buang air dan bisa berkali-kali, kadang gue juga rewel kalau kedinginan. Kayanya sampe sekarang gitu deh."
"Oke berarti tiap malem kita harus pelukan, biar gak kedinginan."
"Modusin istri sendiri gapapa, gue suka denger lo bicara panjang lebar," ucap Gala.
"Kayanya semua yang gue lakuin lo bilang suka deh, Gal."
Gala mengangguk, dia membenamkan wajahnya di paha Abel. Abel hanya memakai hot pants jeans sepaha, membuat Gala kesenangan untuk melakukan aktivitas nakalnya. Gala menciuminya, dia suka saja.
"Geliii!" Abel memukul lengan Gala pelan.
Gala menciuminya sekali lagi, lalu menghentikan aktivitas nakalnya itu. Dia terkekeh melihat wajah Abel yang ditekuk. "Gemes."
Gala mengubah posisinya menjadi duduk dan membawa Abel bersandar pada dadanya. Abel mengadahkan wajahnya pada Gala, pria itu memang senang jika dalam situasi seperti ini.
"Ayok kita bicara soal masa depan," ajak Gala.
"Gue ada rencana mau beli rumah buat keluarga kecil kita," lanjut Gala.
Mata Abel berbinar, apa katanya? Rumah? "Serius?"
Gala mengangguk dan tersenyum. "Atau kita ngebangun aja biar konsepnya bisa diatur sesuai maunya lo?"
__ADS_1
"Emangnya boleh ya?" Tanya Abel.
"Of course. Gue beli rumah buat kita dan yang bakalan lebih banyak ngabisin waktu di rumah kan lo? Iyakan?" Gala mengelus pipi Abel lembut.
"Tapi kenapa tiba-tiba bahas ini?" Tanya Abel.
"Bel, kalau misalnya lo tunda kuliah satu sampai dua tahun dulu mau gak?" Tanya Gala ragu. Bagaimana pun pasti Abel sudah merancang masa depannya sendiri, Gala tidak mau menghancurkan itu begitu saja.
Abel menyerngitkan dahinya, dia selalu bingung jika sudah membahas soal ini. Apalagi kalau ujungnya bukan masalah anak?
"Gue gak bakalan nyentuh lo sampai kita lulus. Tapi gue mau kita punya anak setelah lulus. Lo pernah tau kan kalau gue selalu nurutin kemauan kakek karena kakek yang nemenin masa kecil gue?"
Abel menggangguk. "Heem."
"Gue mau memenuhi keinginan kakek, karena kita gak tau umur seseorang itu sampai kapan dan kakek juga udah tua. Kakek lo juga, meskipun beliau mengatur kehidupan lo, tapi beliau pasti sayang sama lo, iya kan?"
"Perkiraan kita lulus itu umur lo 19 lebih, dan mungkin melahirkan 20 tahun. Jadi gue udah pertimbangin itu aman, ya kalau cepet juga hamilnya. Terus kita pindah dari sini dan bikin keluarga kecil. Gue kuliah sambil nerusin perusahaan kakek dan lo bisa terjamin. Gimana? Tapi semua balik ke lo." Gala memeluk istrinya sembari mengelus punggung tangan Abel dengan lembut.
"Gal, lo gak akan selingkuh kan?" Tanya Abel.
"Kenapa nanyanya gitu, cantik?" Gala gemas, dia kemudian menciumi pipi Abel dengan lembut.
"Ya gapapa, nanya aja." Sebenarnya banyak alasan tapi Abel tetaplah Abel. Gengsinya lebih tinggi dari apapun untuk mengakui.
"Gak lah, cewek yang bisa bikin gue jatuh cinta aja langka, baru pertama kali ada. Gak akan mungkin gue selingkuh. Janji gue sama lo bukan sekedar ucapan. Tapi janji di hadapan orang tua lo, janji di hadapan banyak orang dan yang lebih berat itu janji di hadapan Tuhan. Gue, Galaxy Putra Alaric gak akan pernah ingkar sama janjinya," ucap Gala tulus.
"Kalau sampe ingkar?" Tanya Abel lagi.
"Leave me, sampai gue bener-bener nyesel karena ngelakuinnya," jawab Gala dengan sungguh.
Abel tersenyum mendengarnya. "Yaudah."
"Yaudah apa? Kenapa lo kalau ngomong harus setengah-setengah?" Tanya Gala sedikit kesal.
"Yaudah iya, gue bakalan pertimbangin. Tapi gak janji bisa lakuinnya. Gue takut," ucap Abel.
"Takut kenapa? Takut gue tinggalin?"
"Takut sakit! Kata temen-temen gue kaya gitu serem. Jadi gimana nanti aja, jangan dipikirin dulu," kata Abel.
"Oh temen lo udah pernah?"
"Ya engga, tapi mereka juga kan tau dari katanya orang-orang. Gue jadi stress sendiri tau, walaupun keliatannya gue pemberani, tapi gue banyak takutnya sebenernya," ucap Abel.
"Yaudah, yaudah jangan dibahas dulu. Masih lama, yang terpenting kita udah punya rancangan masa depan." Gala mengecup bibir Abel dengan lembut.
__ADS_1
Abel pun tersenyum, apakah begini rasanya menikah? Abel baru merasakan perasaan ini setelah beberapa bulan menikah dengan Gala. Tidak tau perasaan apa, terlalu sudah untuk dijelaskan, yang dia tau sekarang dia menikmatinya.