Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Melanjutkan Pelajaran


__ADS_3


Setelah selesai pelajaran, Abel memutuskan ke kantin bersama Dinda. Namun langkahnya terhenti karena melihat kerumunan di mading. Biasanya sih kalau bukan acara sekolah ya ada pemilihan-pemilihan entah lah.


Abel sedikit penasaran sih, tapi tidak semenggebu-gebu itu. Dia akan membacanya nanti saja ketika sudah tidak penuh. Namun tidak berlaku untuk Dinda. Dia menarik salah satu siswa yang telah selesai membaca mading.


"Woii, Bro. Ada apa sih kok rame betul?" Tanya Dinda.


"Yang punya sekolah mau ultah, semua murid bisa datang ke hotel Cassano yang mewah itu," jawab pria yang diketahui dari nametagnya bernama Langga.


"Maksud lo pak Jonh?" Tanya Dinda.


"Yaiya siapa lagi, gak mungkin Gala. Acaranya minggu ini, udah ya gue balik ke kelas. Liat aja sendii kalau kepo," ucap Langga sembari berlalu pergi.


Abel terdiam sejenak, Gala belum memberitahu soal ini. Apa dia lupa ya? Kalau memang benar berarti Abel harus mempersiapkan diri, dari mulai hadiah sampai pakaiannya. Tidak mungkin pesta itu hanya dihadiri murid sekolah, pasti banyak relasi dari John yang datang ke sana.


"Kenapa? Lo kaya kaget gitu?" Tanya Dinda.


"Gapapa, yuk ke kantin," ajak Abel sambil tersenyum.


Entah kenapa Dinda merasa senang, semenjak menikah Abel malah semakin terlihat lebih ramah, atau hanya perasaan dia saja ya? Tapi baik Abel maupun Gala, keduanya sekarang sudah bisa diajak bicara.


Saat memasuki kantin tiba-tiba Gala menarik tangan Abel dan membawanya. "Ikut sebentar."


"Ehhh temen gue! Mau di bawa kemana?!" Teriak Dinda.


Tanpa mendengar Dinda, Gala pun tetap menarik Abel untuk mengikutinya. Abel ya pasrah saja jika sudah begitu, namun pandangannya tak lepas dari Gala. "Mau ngapain?"


Gala tidak menjawab dan membawa Abel ke ruangannya. Setelah itu dia mengunci pintunya agar tidak ada orang yang masuk. Abel menurut dan dia pun duduk di kursi tamu.


"Mau ngapain?" Tanya Abel.


"Gue lupa belum kasih tau lo soal ulang tahun kakek," ucap Gala.


"Ya gapapa, masih ada waktu kok buat cari hadiah. Terus?" Tanya Abel lagi.

__ADS_1


Gala mengeluarkan paper bag besar dari balik mejanya. Dia memberikannya pada Abel. Gadis itu berdiri dan membuka isi paper bagnya. Dilihatnya sebuah dress berwarna putih, sepatu, perhiasan dan juga tas. Sangat lengkap. Tapi untuk apa? "Buat apa?"


"Buat lo, kemarin di bantu sama Kak Jihan pilihinnya. Suka gak? Kalau gak nanti biar kita beli lagi," ucap Gala sambil tersenyum.


Abel tersenyum kesenangan. Apalagi yang wanita sukai kalu bukan ini. "Suka banget, baru aja gue kepikiran buat beli dress baru. Thank u."


"Tanda terima kasihnya mana?" Tanya Gala.


"Emang harus ada tanda terima kasih?" Tanya Abel tak mengerti.


Gala duduk di kursinya sembari menarik Abel untuk duduk di pangkuannya. Abel kaget mendapat perlakuan seperti itu, dia jadi sedikit menjauhkan wajahnya dari Gala.


"Heem harus ada," ucap Gala.


"Gal, ini sekolah loh. Masa kaya gini posisinya," kata Abel yang merasa tidak nyaman. Bukan tidak nyaman, ya seperti uji nyali saja.


"Gak ada yang liat, cctv-nya juga gak nyala. Mau cium, bentar," pinta Gala.


"Gal, jangan aneh-aneh," peringat Abel.


"Cium doang gak ngapa-ngapain, lagian lagi istirahat juga. Boleh ya? Salah sendiri bibirnya candu," pinta Gala.


Tanpa mempedulikan Abel, Gala menarik tengkuk gadis itu dan mencium bibirnya. Abel sedikit kaget, tapi sejujurnya dia tidak bisa menolak jika seperti ini. Mereka memejamkan mata menikmati suasana magis yang tiba-tiba saja tercipta. Perlahan gala menyesap bibir bawah Abel dengan lembut. Gala tidak membiarkan sudut mana pun terlepas dari jangkauannya. Dia menjilat, menyesap, mengemutnya tanpa jeda.


Abel meremas seragam Gala dengan erat. Sementara Gala mengelus punggung gadis itu dengan lembut, dia benar-benar menguasai permainan. Yang tadinya hanya ingin cium, tapi malah berujung melanjutkan pelajaran baru. Pelan-pelan Gala mengigit bibir gadisnya sehingga ada celah untuk lidah mengabsen setiap gigi Abel. Abel tidak mengerti dan hanya mengikuti saja.


Gala melepaskan tautannya sesaat. "Ciuman itu pake logika, insting, lakuin apa yang diperintahkan sama otak."


"Heem." Abel hanya mengucapkan itu seolah dia memang tengah belajar. Kalau dia sadar mungkin dia akan merutuki dirinya sendiri karena bilang begitu.


Perlahan Gala kembali melanjutkan aktifitasnya, lidah mereka saling membelit, saling bertukar saliva satu sama lain. Gala tersenyum, untuk sesaat dia memberikan jeda agar Abel bisa bernapas. "Napasnya pake hidung, Sayang."


Setelah mengucapkan itu Gala kembali melanjutkan permainannya. Kalau bisa dia utarakan, dia memang tergila-gila dengan gadis itu. Deru napas mereka beradu, membuat mereka semakin larut dalam permainan yang mereka ciptakan sendiri. Pelan-pelan Gala melepaskan ciuman mereka.


Gala terkekeh karena gadisnya mulai pintar dan merengkuh tubuh Abel semakin dalam ke dalam pelukannya. Perlahan ciumannya turun, dari bibir ke dagu dan sekarang bermuara di leher jenjang Abel. Gala menjilat, mengecup dan menyesapnya dengan kuat. Membuat sang pemilik merasakan sebuah rasa yang tidak bisa dia jelaskan.

__ADS_1


"Emmph, Gal geli." Abel berusaha menjauhkan tubuh Gala darinya. Dia rasa ini terlalu jauh apalagi di sekolah. Ada perasaan yang meluap tapi tidak tau apa. Abel merasa gila sekarang karena terbuai dengan sentuhan-sentuhan Gala.


Gala tersenyum, bak sebuah kanvas. Kini dia berhasil membuat lukisan indah di leher jenjang Abel. "Ini namanya tanda kepemilikan. Jadi lo punya gue." Gala mengecup bibir Abel sekilas.


Jantung Abel rasanya mau copot, napasnya juga tidak beraturan. Gala ini memang tidak tau tempat. Tanpa mempedulikan Gala, Abel beranjak dari sana dan keluar dari ruangan Gala. Sementara Gala hanya terkekeh melihat Abel yang seperti itu. Gadis galak yang polos.


Abel merutuki dirinya sendiri, kalau Gala yang mesum, seharusnya dia bisa mengontrol dirinya, tapi dia tidak melakukannya. Gala membuatnya gila sekarang, bisa-bisanya dia melakukannya di sekolah. Dia berlari masuk ke kelas dan mendapati Dinda yang sudah ada di meja.


"Lo kenapa?" Tanya Dinda yang melihat Abel nampak sedikit berantakan.


"Hah, e-enggak. Gue gapapa," jawab Abel sedikit terkekeh.


"Lo diapain sama si Gala?" Tanya Dinda penasaran.


"Diapain gimana?" Tanya Abel kaget. Apa jangan-jangan Dinda melihat mereka tadi saat di ruangan Gala? Oh no, jangan sampai. Abel pasti akan malu sekali.


Dinda memperhatikan Abel. Bibirnya merah, namun warna bibirnya tidak seperti brand yang sering Abel pakai, nampak natural. Matanya menyelidik ke leher jenjang Abel. Dinda mengerti.


"Lo kenapa?" Tanya Abel sedikit ragu. Aduh mati saja kalau Dinda benar-benar memergoki mereka.


"Lo kalau mau gituan di rumah aja kenapa, Bel," bisik Dinda menggoda gadis itu.


"Hahh??! Lo kok tau?" Tanya Abel kaget.


"Bibir lo itu kaya udah dicium gajah, leher lo merah. Bisa-bisanya lo. Bebas ya udah nikah mah," ucap Dinda setengah berbisik.


"Loh keliatan?" Tanya Abel sembari mengusap lehernya.


"Keliatan, merah kaya dicium nyamuk. Bedanya ini nyamuk besar," ledek Dinda.


Abel memejamkan matanya. Kenapa Galaxy membuatnya malu seperti ini sih? Abel mengambil liptint, tissue dan juga plaster dari dalam tasnya.


"Tempelin, Din. Tolong," pinta Abel sembari mengulurkan plaster pada Dinda.


Dinda tidak kuat menahan tawanya, setelah itu dia membantu Abel. Kasian juga jika yang lain melihat, tentunya akan berbeda pandangan dengan Dinda.

__ADS_1


Abel mengelap bibirnya dan menggunakan liptint. Dia menatap ke arah kaca, sepertinya jauh lebih baik. "Thanks ya, Din."


"Iyaa you're welcome," jawab Dinda sambil tersenyum.


__ADS_2