Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Terima kasih, Bunda!


__ADS_3


Abel dan Gala benar-benar melakukan program kehamilan yang telah mereka bicarakan. Selain melakukan hubungan lebih sering di masa subur. Mereka juga melakukan hal-hal yang lainnya.


Seperti mengatur pola makan dan juga menjadi sering berolahraga. Katanya itu dapat membuat kondisi keduanya baik dan lebih cepat mempunyai anak.


Seperti sekarang, setelah melakukan yoga kini Abel memakan berbagai sayuran agar berat badannya terkontrol. Sebenarnya Gala marah, karena menurutnya dia tidak perlu menurunkan berat badannya. Dia lebih suka melihat Abella lebih berisi. Tapi dia tetap melakukan diet dengan alasan ingin cepat hamil. Memang keras kepala.


Abel mondar-mandir sambil membaca buku panduan program kehamilan. Dia pernah mendapati seseorang yang baru satu bulan menikah tapi sudah dikaruniai anak. Tapi kenapa dia belum terlihat tanda-tanda kehamilan juga?


"Apa ada step yang kelewat ya?"


Dia menggeleng, dia tidak bisa begini. Dia overthinking kalau terjadi masalah pada dirinya. Tapi dia dan Gala kemarin melakukan pengecekan tapi semuanya baik-baik saja. Bahkan dokter bilang kalau mereka sangat subur.


Abel merebahkan dirinya di sofa. Kenapa dia menjadi gundah begini rasanya? Kenapa seperti dikejar target padahal tidak. Atau dia merasa karena ada kewajiban untuk membahagiakan orang sekitar?


Nia Ibunya menghampiri Abel yang kini terlihat nampak stress. Iya sejak tadi pagi Nia memang sengaja berkunjung ke rumah putrinya karena merasa khawatir.


"Kamu kenapa, Sayang?" Nia duduk di samping putrinya sembari menaruh jamu di meja.


"Bund ... "


"Kenapa aku belum hamil juga ya? Padahal udah ikutin saran program kehamilan dengan baik," keluh Abel pada sang Bunda.


"Sabar, kan semuanya butuh proses. Yang terpenting kamu ikutin saran dokter dan ikutin programnya dengan baik. Bunda tanya, kenapa tiba-tiba sebulanan ini kamu pingin cepet punya anak?" Tanya Nia, padahal dia tau kalau mungkin anaknya masih belum siap.

__ADS_1


Abel menyandarkan kepalanya pada sofa. "Lebih ke gak mau buat Gala kecewa sih, Bund. Aku tau walaupun dia gak pernah bilang tapi dia pingin punya anak."


"Seharusnya kamu gak merasa terbebani kalau kaya gitu."


"Gak ngerasa terbebani, cuma ngerasa punya tanggung jawab aja buat memenuhi keinginan orang-orang. Termasuk bunda, kan?"


Nia terdiam, memang benar apa yang dikatakan putrinya. Tapi jika sudah seperti ini dia malah jadi merasa bersalah. Sudah kehilangan anak, sekarang dituntut juga oleh sekitar pasti Abel merasa stress.


"Iya tapi gak harus buru-buru juga kok. Kenapa belum ada tanda-tanda kehamilan. Bisa aja kamu stress, itu gak baik buat program kehamilan. Coba kamu lebih rileks, jangan banyak yang dipikirin. Yang ada malah sia-sia," nasehat Nia dengan bijak.


"Stress juga ngaruh ya, Bund? Gak tau semenjak kehilangan Azriel aku lebih sering overthingking. Lebih sensitif juga walau gak separah sebelumnya," keluh Abella.


"Itu wajar, makanya Bunda bilang sekarang. Lakuin dengan nyaman dan jangan terlalu banyak berpikir. Kalau udah saatnya kamu pasti hamil lagi." Nia dengan perhatian mengelus lengan anaknya sambil tersenyum.


Sejujurnya kata-kata seperti itulah yang Abel butuhkan sekarang. Dia memang selaku bisa menyembunyikan apapun dari orag sekitarnya, tapi tidak dengan Ibunya.


"Yaudah ini minum dulu jamunya, Bunda bikinin khusus buat kamu. Ini juga bisa untuk penyubur kandungan agar kamu cepat hamil." Nia mengulurkan gelas itu pada Abella.


Abel sedikit bergidik ngeri, dia paling tidak bisa meminum ramuan tradisional itu. Menurutnya sangat aneh dan benar-benar pahit. "Tapi pahit, Bund. Aku gak suka."


"Jangan dirasain, minum sekali teguk. Bunda juga udah siapin gula jahenya biar gak terlaku pahit," ucap Nia memperlihatkan satu gelas lagi.


Bimbang, antara suka dan keinginan. Bukannya dia harus melakukan apapun agar semuanya berjalan sesuai keinginannya. Kali ini dia tidak boleh egois, dengan satu tegukan dia memberanikan diri menghabiskan jamu itu.


Ya sesuai ekspetasi, rasanya benar-benar pahit. Jadi langsung saja Abel meneguk gelas kedua. Nia terkekeh, meskipun anaknya sudah dewasa seperti ini tapi dia tetap sama. Seperti saat kecil yang selalu Nia paksa untuk minum jamu.

__ADS_1


"Gak enak, Bund."


"Namanya juga obat, kalau mau enak ya minumnya sirup. Bunda jadi dejavu, bedanya sekarang anak Bunda udah dewasa. Udah punya suami," kata Nia yang mendadak mellow.


"Aku jarang ke rumah ya, Bund?" Abel kini memeluk sang Ibu dengan manja. Sudah lama sekali tidak melakukan ini rasanya seperti kembali ke rumah. "Maaf ya aku jarang temuin Bunda. Aku juga maunya setiap hari ke rumah Bunda tapi gak bisa sering-sering juga izinnya ke Gala."


"Gapapa sayang, kan memang kodratnya begitu. Bunda juga wajar kangen sama anaknya karena dulu kan biasanya kemana-mana sama Bunda. Sekarang anaknya udah dimiliki sama lelaki bertanggung jawab dan baik. Jadinya juga anak Bunda harus menjadi istri yang baik dan mengutamakan suaminya."


"Karena pada dasarnya, seorang anak perempuan itu berbeda dengan anak laki-laki. Kalau anak laki-laki setelah menikah prioritasnya itu harus tetap Ibunya, kalau anak perempuan itu suaminya."


"Meskipun kadang Ayah dan Bunda sering sekali cemburu sama Galaxy ataupun mama Dara dan papa Ghani. Tapi ya harus menerimanya juga, karena anaknya sudah berumah tangga. Yang terpenting kamu jadi istri yang baik, masih ingat sama kami, itu udah cukup."


"Jadi sedih gini, udah pasti aku bakalan inget bunda sama ayah. Gak ada yang bisa gantiin itu tau meskipun Galaxy sekali pun. Karena kalian punya tempatnya tersendiri di hati aku, Bund. Seorang putri bakalan selalu jadiin orang tuanya tempat pulang ternyaman. Aku bakalan selalu butuh ayah sama bunda."


"Yang bikin aku kuat bertahan selama ini juga selain Galaxy kan ayah sama bunda. Jadi aku bisa melewatinya dengan baik," ucap Abel sambil tersenyum menatap Nia.


"Cepet banget anak Bunda dewasanya ya sekarang. Bunda jadi bangga, sekarang malah kamu yang lebih bijak dari Bunda.


"Itu juga karena ayah sama bunda. Aku belajar banyak dari kalian. Yang awalnya aku nolak mentah-mentah buat menikah sekarang aku tau tujuan kalian apa. Yang tadinya aku menutup diri, sekarang aku lebih bisa berekspresi sama lebih terbuka, yang awalnya sering banget keras kepala sekarang mulai dikurangi."


"Makasih ya, Bund. Kalau Bunda gak buat keputusan malam itu buat nikahin aku sama Gala, mungkin aku bakalan selamanya terjebak sama masa lalu yang kelam itu."


Nia terhenyuk, begitu juga dengan Abel. Dia baru sadar kalau selama ini dia belum berterima kasih soal keputusan orang tuanya waktu itu. Dan sekarang dia diberi kesempatan untuk mengutarakannya.


Ada rasa haru yang dirasakan oleh Nia. Dulu dia sering sekali merasa bersalah karena membuat putrinya menikah muda, tapi kini anaknya berterima kasih atas keputusannya. Seolah membuat beban yang memang ada itu terangkat seketika.

__ADS_1


"Sama-sama, Sayang. Bunda mau nangis dengernya. Terima kasih kembali, Anak Bunda." Nia mengeratkan pelukan pada putrinya.


Hari ini menjadi hari yang penuh haru bagi keduanya, tentunya membuat ikatan Ibu dan anak itu semakin dekat. Semakin memiliki rasa satu sama lain untuk saling menopang. Memang kasih Ibu itu sepanjang masa. Abel benar-benar merasakannya.


__ADS_2