
Abel menyajikan makanan di meja, nasi goreng lengkap dengan sayuran dan juga udang goreng. Abel mengambil kursi di samping Gala dan Dinda mengambil kursi di samping Degas yang berseberangan dengan Abel dan Gala.
Abel mengalasi makanan ke piring Gala, sementara dia nanti saja ketika semuanya sudah mengambil. Itu salah satu tata krama yang diajarkan oleh orang tuanya dan melekat sampai saat ini.
"Kita gak dialasin juga nih, Bel?" Tanya Raka setengah bercanda.
Namun Gala segera menatap tajam ke arah Raka yang dihadiahi cengiran khasnya. "Ampunn boss ampun."
Mereka semua pun terkekeh melihat kelakuan Gala dan Raka, tidak terkecuali Abel yang memang selera humornya entah terlalu tinggi atau memang tidak pernah tertarik dengan obrolan apapun. Memang mereka pasangan yang serasi, sama-sama kulkas.
Setelah mereka mengalasi makanan milik mereka, Abel segera mengambil untuk dirinya sendiri. Namun Gala menahannya dan mengisyaratkan Abel untuk menyuapinya seperti biasa.
Abel mendengus kesal, kenapa dia tidak seperti kemarin saja yang memakan makanannya sendiri? Tapi Abel tidak bisa menolak perintah suaminya itu dan terpaksa menurutinya.
"Ini nasi goreng terenak sih yang pernah gue makan," puji Degas.
"Bener, lo pinter masak ya, Bel. Enak banget," ucap Dinda sembari menyuapkan nasi goreng miliknya.
"Makanya lo belajar, biar nyokap lo itu gak marah-marah terus liat anaknya laki banget," cibir Raka pada Dinda.
"Ya Abel bisa masak karena ada yang mau dimasakin, lah gue? Jadi santai aja," jawab Dinda.
Abel mengambil alih piring memegang sendok dan garpu nya. Setelah itu menyendokkan makanan lalu menyuapkannya pada Gala. Dia paham, mungkin Gala ingin menyembunyikan kebenaran dari teman-temannya kalau dia penyuka sesama jenis, jadi Abel tidak masalah. Dia akan membantunya kali ini.
Gala tersenyum menerima suapan dari Abel. Dia juga mengambil sendok lalu menyuapkan sesendok nasi goreng pada Abel. "Makan juga, nanti sakit." Abel juga menerima suapan dari Gala tanpa protes karena dia juga lapar.
Degas, Raka dan Dinda hanya melongo melihat kedua sejoli itu. Apa mereka tidak memiliki empati pada ketiga jomblo ini yang harus menyaksikan kemesraan mereka.
"Ini apa gak ada AC? Gerah banget," tanya Degas sembari mengipas ngipas wajahnya dengan baju.
__ADS_1
"Iya anjritt panas rumah gede tapi panas bener," sahut Raka.
"Gue boleh pamit undur diri aja gak? Mau suapin monyet di rumah kasian kelaparan," sahut Dinda.
Abel dengan polosnya malah menyalakan AC sementara Gala hanya tersenyum puas karena hari ini bisa meng-hak milik Abel di depan teman-temannya. Sebentar lagi satu sekolah juga harus tau kalau Abel adalah milik Galaxy Putra Alaric.
Memang sangat kekanak-kanakan, tapi Gala tidak akan pernah suka jika sesuatu yang dia miliki, di bagi dengan orang lain. Dia akan berbagi apapun tapi tidak dengan Abel. Karena jujur semenjak Abel datang ke dalam kehidupannya, perasaan yang tidak pernah ada menjadi ada.
Sebagai anak bungsu, dia tidak pernah bisa mengekspresikan dirinya kepada orang-orang rumah, dia dipaksa dewasa sejak kecil dan bersama Abel dia ingin selalu bersikap menjadi anak kecil, namun bertindak sebagai suami yang akan selalu memberi perlindungan pada Abel ketika dia membutuhkannya.
Gala yang semula hanya bergonta ganti pacar karena dia tidak tega menolak mereka di depan umum, kini mendadak jatuh cinta pada seseorang yang dijodohkan dengannya. Abella Gracia Atmaja. Kini tinggal giliran Gala saja untuk membuat Abel jatuh cinta padanya.
.
.
.
Abel menatap Gala yang sedang belajar di mejanya dari ujung kasur, tidak menyangka kalau dia menikahi seorang biseksual. Pantas saja dia begitu dingin pada awalnya. Ternyata dia tidak menyukai wanita.
"Ohh jadi selama ini lo itu penyuka sesama jenis ya?" Tanya Abel mengungkit permasalahan tadi siang.
Gala berdecak, kenapa Abel begitu mudah termakan omongan orang lain. "Bel, gue normal."
"Bohong, gue gak akan bilang mama sama papa kok janji. Gue cuma pingin tau aja bener atau engga. Kan jadi gue bisa bantu lo mendapatkan keinginan sekaligus menutupi rahasia lo," ucap Abel santai.
Gala menutup bukunya dan duduk di tepi kasur, di depan Abel. "Bener atau engga gimana?"
Abel menatap Gala sambil terkekeh. Nampaknya Gala malu-malu untuk mengakuinya. "Ya bener atau engga kalau lo homo."
"Gue, normal!" Tegas Gala.
__ADS_1
"Yaudah deh terserah lo, tapi kalau nanti lo mau ngaku ting-"
Gala menarik kedua kaki Abel hingga berbaring sempurna, perlahan dia mengukung tubuh gadis itu dan mengunci pergerakan tangan kirinya yang berontak. Dengan lembut Gala menautkan bibirnya ke bibir gadis itu, menempelkannya cukup lama dan kemudian meyesap bibir ranum milik Abel.
Tangan kanannya mencoba mendorong tubuh Gala namun tenaga pria itu lebih kuat darinya. Ciuman itu terus berlangsung sampai rasanya pasokan oksigen Abel mulai menipis. Gala melepaskan tautan itu sebentar, membiarkan gadisnya mengambil napas dan setelah itu kembali menikmati bibir manis milik Abel.
Merasa tidak ada perlawanan dari gadis itu Gala mulai bermain menyusuri paha Abel yang mulus, lalu tangannya naik menelusup masuk ke dalam baju tidur Abel dan menjamah perut ratanya dengan lembut.
Entah kenapa Abel malah menikmati sentuhan-sentuhan yang diberikan Gala. Sentuhan yang lambat laun menjalar semakin dalam dan kini berhasil membuka kaitan bra miliknya.
Sadar ini semakin jauh, Abel mencoba melepaskan pagutannya dengan Gala. Dia nampak tidak bisa bicara apa-apa karena masih kaget dengan perbuatan Gala.
"Galaa," satu kata yang berhasil lolos dari bibirnya sekarang.
"Lo butuh bukti kan kalau gue normal? Yaudah gue buktiin kalau gue normal," ucapnya.
"Tapi kan-"
"Gue normal, jangan nantangin gue lagi kalau lo mau aman," ucap Gala yang langsung keluar dari kamarnya.
Dia tidak mau dikuasai nafsunya yang kini memuncak, bisa-bisa dia akan memaksa Abel untuk melakukan hal yang lebih jauh dari ini, meskipun itu sudah haknya tapi Gala tidak mau dan akan menunggu Abel sampai siap.
Dia tidak boleh dekat dengan Abel saat ini, dia memutuskan untuk tidur di sofa. Bagaimana pun dia pria normal yang bisa saja sewaktu waktu lepas kendali. Dia tidak ingin itu terjadi.
Abel masih terdiam dengan kejadian beberapa menit lalu. Memang salahnya yang terus bertanya seperti itu pada Gala. Tapi Gala telah mengambil first Kiss nya. Entah apa yang dia rasakan, ada perasaan aneh yang kini dia rasakan tapi entah perasaan apa.
Sepertinya dia tidak boleh bermain-main dengan Gala, salah-salah dia malah tidak berkutik seperti tadi. Dia selalu tidak bisa melakukan apa pun saat Gala menyentuhnya. Padahal jika dia mau, dia bisa membanting Gala dengan ilmu taekwondonya.
"Abel, lo udah gila!" Rutuk Abel sambil membenamkan wajahnya ke bantal dan berusaha untuk tidur.
Beberapa jam berlalu, Gala tidak bisa tidur. Rasanya dia panas dingin, ingin rasanya dia ke kamar dan masuk ke dalam selimutnya, tapi dia tidak akan melakukannya.
__ADS_1
Abel pun masih terbangun, dia ingin melihat Gala di bawah tapi dia juga takut. Bahkan kejadian tadi masih terbayang-bayang diingatannya. Baru pertama kali dia merasakan itu dan seketika kepalanya merasa kotor karena terus memikirkannya. Apakah orang menikah melakukan itu?