
Gala sudah memastikan kalau Abel sampai di rumah orang tuanya dengan baik, mungkin untuk sekarang dia tidak bisa menemui Abel dulu, gadis itu pasti butuh waktu dan Gala paham akan itu.
Yang terpenting perasaannya sudah lega karena mengantar Abella sampai dia selamat. Setelah itu dia memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya juga. Dia butuh sekali pencerahan sepertinya.
Di satu sisi, Abel yang sampai di rumah orang tuanya langsung memeluk sang Bunda. Di saat seperti ini dia benar-benar membutuhkan Bundanya. Dia tidak bisa diam-diam saja memendam ini sendirian.
Nia yang memang sudah berkomunikasi dengan Gala melakukan tugasnya, menemani sang putri berkeluh kesah sampai perasaannya benar-benar lega. Ini yang Nia takutkan, sejak awal dia sudah memperingati soal ini. Tapi orang tua Areyna benar-benar datang kepada Nia meminta pertolongan, dia juga seorang Ibu. Pasti dia akan melakukan hal yang sama, apalagi mereka bercerita kalau Areyna tidak mau meminum obat-obatannya lagi dan menyakiti dirinya sendiri.
Dia dilema, melihat putrinya seperti ini tentu dia tidak tega. Dia paham betul bagaimana putrinya, Abel yang tidak pernah serapuh ini. Perutnya sampai keram dan sekarang Nia membantu Abel mengompres perutnya dengan air hangat.
"Tenangin diri kamu dulu, Bunda paham. Bunda gak akan bilang apa-apa dulu, karena kalau kita lagi kalut semua nasehat itu gak akan bisa dicerna dengan baik. Kamu berhak marah, marah lah. Tapi jangan sampai kamu stress berlebih, kasian anaknya, Sayang."
"Tapi Gala lebih milih perempuan itu, Bund. Kenapa harus Gala yang dia minta, dia gak mikirin aku apa. Aku hamil besar kaya gini gimana kalau tiba-tiba aku melahirkan dan Gala lagi nemenin dia?"
"Iya-iya Bunda paham. Nanti Bunda bicarakan dengan Mama Dara soal ini ya. Terkadang ada beberapa hal yang gak bisa kita mengerti sayang di dunia ini, tergantung dari cara pandang kamu. Tergantung kamu lihat dari sudut mananya juga."
"Kalau aku lihat dari sudut pandang aku sama anak-anak aku salah ya, Bund?" Tanya Abel.
Nia tersenyum lalu menghapus air mata putrinya dengan perhatian. "Engga, Sayang. Kamu juga terluka, Bunda tau itu. Tapi untuk sekarang redam ego itu penting. Bukan untuk Gala, bukan untuk Bunda juga. Untuk anak kalian."
Abel mengangguk paham. "Tapi aku boleh di sini dulu kan, Bund? Aku gak bisa pulang dulu, aku gak bisa liat Gala dulu, aku udah pasti marah besar."
"Boleh, Sayang. Yaudah sekarang Bunda antar kamu ke kamar ya, kamu bawa tidur aja. Kalau diambil pusing nanti malah kenapa-kenapa," ucap Nia.
Abel menurut, benar apa yang Bundanya katakan. Dia perlu istirahat sekarang, dia tidak boleh stress. Anak-anaknya pasti butuh Ibunya yang kuat. Dia mau menjadi Ibu yang kuat untuk mereka.
__ADS_1
.
.
.
"Udah Mama bilang, kamu udahin ini semua Galaxy! Mama gak mau ya kalau Abel sampai stress dan kehilangan anaknya, Mama harus ke sana sekarang. Mama gak bisa tenang mikirinnya," ucap Dara sembari mengambil tasnya.
"Maa, jangan dulu. Kasih Abel waktu, Gala salah dan biarin dia nenangin dirinya dulu sama bunda," pinta Galaxy.
"Gal, Abel beberapa minggu lagi melahirkan, kamu ini gimana sih?! Kamu harus temenin dia dan masalah kalian juga tentu harus cepat selesai!" Peringat Dara.
"Gala pasti akan selesaikan tapi ga bisa sekarang, biarin Abel tenang dulu. Gala udah memastikan dia aman sampai di sana tadi," kata Gala lagi.
"Lalu sekarang bagaimana rencana kamu, Gal?" Tanya Ghani.
"Ini masalah serius, biar papa bantu soal itu," ucap Ghani.
Gala mengangguk dan menghela napasnya. Dia mana bisa jauh dari Abel. Perasaannya tidak karuan sekarang. Dara yang memahami putranya kini mengelus punggung sang anak dengan lembut.
"Ini yang Mama selalu khawatirkan, Gal. Mama tau kamu sangat menyayangi Abel. Kalau begini kamu juga yang tersiksa. Mama bangga kamu sekarang lebih peduli dengan sekitar, tapi gak semua hal bisa kita sanggupi."
"Kamu punya tanggung jawab sekarang dan itu lebih penting dari apapun. Areyna itu memiliki kedua orang tuanya, selama dia belum menikah itu masih menjadi tanggung jawab kedua orang tuanya. Perbaiki segera ya?" Dara memeluk putranya dengan lembut, berusaha memberikan ketenangan agar dia lebih bisa mencerna ucapannya. Bagaimana pun Dara Ibunya, dia yang harus lebih memahami putranya.
Setelah selesai bicara, Gala tidak pulang ke rumah. Dia merebahkan dirinya di kasur, tidak lupa juga mengirim beberapa pesan pada Abel agar dia tidak lupa meminum susu dan vitaminnya.
Baru berpisah beberapa jam saja sudah membuat Gala rindu. Dia tidak bisa jauh begini, apalagi dalam keadaan tidak baik, dia tidak akan bisa tenang. Meskipun dia sudah mendapat kabar dari Ibu mertuanya kalau Abel baik-baik saja tapi ya tetap saja.
__ADS_1
Malam-malam begini biasanya mereka bercerita banyak hal. Berceloteh bersama anak kembar mereka yang masih di dalam perut. Membuatkan susu dan vitamin. Gala tersiksa karena sekarang tidak ada di sana.
Di sisi lain Abel yang baru terbangun dari tidurnya melihat ke arah ponselnya dan melihat ada notifikasi pesan dari Gala. Pria itu mengirimkannya banyak pesan. Abel menghela napasnya saat melihat isi pesan itu.
Hubby 💌 : Sayang
Hubby 💌 : Mas kangen
Hubby 💌 : Tapi Mas paham kamu butuh tenang
Hubby 💌 : Bilangin sama baby mbar jangan nakal ya kalau papanya gak ada
Hubby 💌 : Harus jagain mamanya, jangan dibikin nangis kaya apa yang papanya lakuin
Hubby 💌 : Jangan lupa minum susu sama vitaminnya, Sayang
Hubby 💌 : I love you
Abel memilih untuk membaca pesannya tanpa membalas, air matanya kembali turun saat melihat isi pesan yang Gala kirimkan. Sebenarnya dia tidak ingin marah seperti ini. Tapi Galaxy melukainya cukup dalam kali ini.
Andai saja Gala memberitahunya lebih awal, dia tidak akan se kecewa ini. Kalau dia tau dari mulut Galaxy sendiri dia akan mencoba mencari sudut pandang terbaik yang bisa dia pahami, mungkin juga memberi solusi. Tapi Gala tidak melakukannya. Dia memikirkan kondisi dirinya tanpa bertanya dulu.
Tidak ada yang bisa diajak bicara lagi sekarang selain kedua anaknya. Mereka pasti di dalam sana bertanya-tanya apa yang terjadi di luar sini. Abel pun mengelus perutnya dengan lembut.
"Sayang-sayang mama lapar ya? Maafin mama ya, maafin kau harus punya mama kaya mama gini. Mama masih belajar untuk menjadi orang tua dan mama tau kalau sekarang mama sedang egois. Mama juga masih cengeng dan belum bia sedewasa itu untuk menghadapi papa kalian."
"Tapi mama perlu waktu, Sayang. Mama gak bisa ketemu papa kalian dulu, bukan berarti papa gak sayang kalian juga karena gak ada di sini. Papa sayang kok sama kalian, tadi papa bilang kalau kalian jangan lupa minum susu sama vitamin. Ayok kita turun ke bawah, nemuin Opa sama Oma juga."
__ADS_1
Abel menyeka air matanya lalu mengusap kembali perutnya sendiri. Sebentar lagi bayi dalam kandungannya akan lahir ke dunia, dia tidak tau Gala bisa menemaninya atau tidak. Mungkin bisa tapi belum tentu dia mau. Dia hanya berharap akan menemukan jalan terbaik untuk masalah ini.