
Sudah 3 hari berlalu, Gala berjanji akan mengajak Abel ke makam anak mereka. Dan di sinilah mereka berada, di sebuah makam kecil yang terletak tidak jauh dari makam nenek Galaxy.
Setelah selesai berdoa Abel menaruh bunga di sana dan menyiramnya dengan air doa. Abel terus menciumi nisan anaknya yang ternyata sudah diberi nama. Azriel Putra Alaric.
"Gal."
"Kenapa hm?"
"Akhirnya aku bisa cium anak kita, walaupun cuma nisannya aja." Abel menghela napasnya.
"Dia udah bahagia di surga sana, Sayang. Dia pasti seneng dicium mamanya."
"Dia gak marah sama aku, kan?"
"Engga, Sayang. Dia gak marah sama kamu, dia malah mau kamu gak sedih lagi. Mau kamu bangkit dari keterpurukan kamu dan bisa menjalani kehidupan kamu dengan normal lagi."
"Tapi kenapa rasanya berat banget ya, Gal?" Tanya Abel.
Gala menggenggam tangan Abel dan mengusap punggung tangannya dengan lembut. "Berat karena kamu belum ikhlas, kamu harus belajar buat ikhlas dulu. Aku gak maksa kamu buat pulih dengan cepat, tapi aku minta kamu pelan-pelan belajar buat mengikhlaskan. Kehidupan kamu gak mungkin berhenti di sini, kan?"
Abel mengangguk, dia memang tidak boleh berhenti di sini. Dia harus melanjutkan hidupnya bersama Gala. "Bantu aku ya?"
"Iya, yaudah masih mau di sini atau kita pulang sekarang?" Tanya Gala.
"Sebenernya aku masih mau di sini, tapi kalau gak pulang aku bakalan semakin betah dan gak mau beranjak," ucap Abel.
"Jadi?"
Abel mengecup batu nisan anaknya sekali lagi. "Sayang, Mama sama Papa pulang dulu ya. Mama janji sama kamu kalau Mama akan sering-sering ke sini. Kamu jangan nakal di sana ya, inget Mama selalu bilang kalau kamu harus jadi anak yang baik di mana pun kamu berada." Abel menyeka air matanya, setelah bicara seperti itu dia langsung menyambut uluran tangan Gala dan melambaikan tangan kepada makan anaknya.
Berat memang, seseorang pernah bilang. Keranda yang paling berat itu adalah keranda yang paling kecil. Tapi Abel juga pernah mendengar kalau anak sekecil itu pasti akan masuk ke surga dan dirawat di sana. Jadi dia yakin kalau sekarang anaknya sudah bahagia di atas sana.
Abel dan Gala memasuki mobil, untuk sejenak Gala menatap istrinya yang masih terdiam. Memang akhir-akhir ini dia sedikit kesulitan berkomunikasi dengan Abel karena dia lebih banyak diam.
"Gimana caranya bikin kamu senyum lagi?" Tanya Gala tiba-tiba.
__ADS_1
Abel menatap sang suami, lalu tersenyum ke arahnya. Gala menggeleng dan mengelus pipi Abel dengan lembut. "Senyum beneran, Abella. Senyum cantik yang selalu kamu kasih ke aku karena memang suasana hati kamu yang bagus."
"Aku usahain ya?"
Gala mengangguk dan tersenyum, setelah itu dia melakukan mobilnya untuk kembali ke rumah. Beberapa menit berlalu, akhirnya mereka sudah sampai di rumah. Tapi aneh pintunya terbuka, memang sih mereka sudah memiliki asisten rumah tangga, tapi mereka jarang sekali mendapatkan tamu.
"Di rumah ada siapa?" Tanya Abel.
"Gak tau, kita liat aja." Gala menggenggam tangan Abel dan masuk ke rumah.
Abel menyergit saat melihat kedua orang tua Jela berada di rumahnya. Ada apa?
"Ada keperluan apa kalian datang kemari?" Tanya Gala.
Sena langsung menghampiri Abella, matanya menatap Abel dengan sendu seolah meminta pertolongan. Tapi Abel hanya diam saja, memang apa yang harus dia lakukan?
"Abella, saya mohon maafkan kelakuan putri saya Jela. Dia putri saya satu-satunya, saya tidak bisa jauh apalagi melihat putri saya mendekam di penjara," ucap Sena memohon.
"Saya tau putri saya bersalah, saya terima jika perusahaan suami saya hampir bangkrut. Tapi saya tidak bisa jauh dengan anak saya, saya hanya memiliki Jela dalam hidup saya. Tolong bebaskan Jela."
Abel menghela napasnya dan berusaha agar tidak menangis. Dia tidak mau terlihat lemah sekarang, bagaimanapun dia tetaplah Abella. "Apa janji yang kalian ajukan bisa mengembalikan anak saya?"
Pertanyaan yang membuat Sena dan Anton saling menatap. Mereka tentu tidak mempunyai jawaban soal itu. Sena menangis, dia benar-benar tidak tau harus berbuat apa untuk menyelamatkan putrinya.
"Kami tau kalau kami tidak bisa mengembalikan anak kalian, kami tau kesalahan putri kami sangat fatal. Tapi saya mohon tolong maafkan putri kami, dia masih muda dan mempunyai cita-cita yang harus dia gapai," kini Anton yang memohon pada Abel.
"Abella, kamu seorang Ibu kan? Kamu tau bagaimana rasanya kehilangan seorang anak, tolong posisikan kamu sebagai saya. Saya tidak bisa kehilangan anak saya, saya mohon."
"Kenapa harus saya yang memposisikan diri menjadi anda? Kenapa bukan anda yang memposisikan diri jadi saya? Anda masih bisa melihat Jela yang masih hidup meskipun dibatasi, tapi saya tidak bisa melihat anak saya. Bahkan saya belum sempat menggendong dan menciuminya. Apa saya masih harus memposisikan diri menjadi anda?"
Gala geram melihat itu semua. "Tolong jangan coba mengintimidasi istri saya dan keluar dari sini."
"Galaxy tolong-"
"KELUAR!" Bentak Gala.
Anton dan Sena pasrah, mereka sepertinya tidak bisa membujuk Gala dan Abel. Dengan lemas mereka pun keluar dari rumah itu.
__ADS_1
Gala memeluk Abel dengan erat, dia tau kalau sekarang istrinya sedang sedih meskipun tidak menangis. Padahal baru saja dia meyakinkan Abel untuk melanjutkan hidupnya, tapi orang tua Jela sudah kembali menekannya. Gala berharap itu tidak berpengaruh apa-apa untuk kesehatan mental Abel.
Abel bukan tidak bisa memahami kondisi orang tua Jela. Dia seorang Ibu, dia tau bagaimana rasanya jauh dari anak bahkan dia sudah merasakan ditinggalkan oleh anaknya. Tapi apakah di saat seperti ini harus dia yang mengalah pada keadaan? Apakah harus dia juga yang memahami kondisi seseorang? Dia bukan seorang malaikat yang bisa menerima kejahatan orang lain lalu memaafkan. Rasanya sangat sulit.
Gala mengajak Abel masuk ke kamar, setelah itu dia ke dapur untuk menyiapkan obat dan suplemen yang harus Abel minum.
"Bi ... " Panggil Gala pada asisten rumah tangganya.
Ida datang menghampiri Gala. "Iya, Pak ada yang bisa saya bantu?"
"Besok saya sudah mulai ke kantor, kalau ada kedua orang tadi ke rumah jangan dibiarkan masuk dan bertemu istri saya," ucap Gala.
"Baik, Pak. Maaf saya tidak tau kalau kedua orang tadi tidak boleh bertemu Ibu," katanya menyesal.
"Tidak apa-apa, sudah itu saja. Kamu bisa melanjutkan pekerjaan kamu."
"Baik, Pak. " Ida kembali ke belakang untuk mencuci pakaian. Sementara Gala mengambil air dan membawanya ke kamar.
Gala melihat Abel yang masih melamun di atas kasur, perlahan dia duduk di tepi kasur dan tersenyum ke arah Abel. "Minum obat dulu, jangan pikirin kejadian barusan."
"Tapi apa aku salah ya kalau gak bisa maafin Jela?"
"Engga, kamu gak salah. Mereka mau menyudutkan kamu aja biar kamu bebasin anak mereka. Jangan dipikirin." Gala mengeluarkan obat dari tempatnya dan memberikan pada Abel.
Abel pun menerimanya dan langsung meminum obat beserta air yang Gala berikan. "Makasih yaa."
Gala tersenyum dan mengusap rambut Abel dengan lembut. "Besok aku udah kembali ke kantor, kamu gapapa kalau aku tinggal?"
"Heem, kamu juga udah beberapa hari gak masuk. Kasian juga kakak, aku gapapa kok," ucap Abel.
"Yaudah, tapi kamu hati-hati di rumah. Kalau ada apa-apa hubungi aku aja. Jangan kemana-mana sendiri," peringat Gala.
"Iyaa, Galaxy."
Gala tersenyum dan mengecup bibir Abel lembut, setelah itu dia memeluk Abel untuk memberinya ketenangan. "Cepet sembuh ya, aku gak suka liat kamu sedih terus."
Abel menatap ke arah Gala, kemudian dia mencoba tersenyum. Dia beruntung sekali memiliki Gala yang tidak meninggalkannya di saat seperti ini. Dia berjanji akan berusaha pulih untuk Gala.
__ADS_1