Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Berantakan


__ADS_3


Setelah kematian Jonh, Gala mulai menjalani aktivitasnya seperti biasa. Tapi menurut Abel Gala berbeda, tak seperti biasanya. Dia selalu bersikap seolah baik-baik saja tapi terkadang lebih suka menyibukkan diri sendiri.


Seperti malam ini, biasanya dia akan ke kamar anak-anak untuk memberikan kecupan sebelum tidur pada mereka. Tapi sekarang dia tidak melakukannya. Akhirnya Abel yang harus memberi banyak pengertian kepada anak-anaknya kalau sang ayah sedang sibuk.


Itu cukup membuat Abel kepikiran sih, ya mau bagaimana pun dia seorang istri, secara tidak langsung batinnya sudah terkoneksi pada suaminya. Karena tak melihat Gala di kamar, Abel meyakini kalau Gala ada di ruang kerjanya.


Dengan inisiatif dia membuatkan kopi agar pikiran suaminya juga bisa rileks dan mengerjakan pekerjaannya agar tidak mengantuk. Perlahan dia memasuki ruangan itu dan mendapati Gala yang sedang fokus menatap layar laptopnya.


"Istirahat dulu, akhir-akhir ini kamu terlalu sibuk." Abel menaruh secangkir kopi di samping Galaxy.


Pria itu tersenyum dan sekilas mengusap lengan Abella. Ini aneh menurut Abel, karena biasanya sesibuk apapun Gala pasti akan menyempatkan diri untuk bicara padanya. Jadilah Abel duduk di hadapannya sebagai bentuk protes karena suaminya terlalu sibuk.


"Anak-anak udah tidur?" Tanya Galaxy.


"Udah, sampai kapan kamu mau menyibukkan diri kaya gini?" Tanya Abel to the point.


"Bukan menyibukkan diri tapi memang benar sibuk." Gala menyesap kopinya tanpa berpaling sedikit pun dari layar.


"Aku kenal kamu, Mas. Sesibuk apapun kamu gak akan pernah lupa buat ke kamar anak-anak. Kamu selalu usahakan apapun untuk mereka."


"Berarti sekarang memang sangat sibuk. Mas akan ke sana setelah selesai pekerjaan. Kamu marah?" Tanya Galaxy. Kini dia menepikan pekerjaannya dan menatap Abella yang wajahnya sudah ditekuk.


"Aku ada proyek besar dan besok harus presentasi, kalau aku gagal kesempatan ini bisa hilang. Apa kamu gak bisa paham soal itu?" Tanya Galaxy lagi.


"Kamu bohong sama aku, kamu bohongin perasaan kamu sendiri. Kamu denial sama apa yang kamu rasain, lebih buruk lagi kamu anggap aku seolah gak pernah tau siapa kamu dan aku benci kamu yang kaya gitu!"


Abel berbalik dan keluar dari ruangan Galaxy, sudah tidak akan benar jika pembicaraan ini diteruskan. Abel takut jika dia akan lebih meledak dan tidak bisa mengontrol emosinya, apalagi sampai membuat anak-anaknya terbangun.


Gala menghela napas, mungkin di sini memang Abel yang terlalu peka. Tapi rasanya dia memang sulit mengatur emosinya akhir-akhir ini. Gala tidak berbohong mengenai project besar itu, tapi kalau soal menyibukkan diri memang benar.


Semenjak Jonh tidak ada, rasanya semua begitu berat. Tidak ada hal yang bisa dibagi, karena meskipun dia dan ayahnya sudah kembali dekat sejak beberapa tahun lalu, tetap saja dia tidak bisa berbagi banyak hal. Apalagi banyak deadline dan beberapa pekerjaannya yang kacau, membuat Gala benar-benar stress sebenarnya, tapi tidak bisa mengatakannya pada Abel.


Gala memilih untuk melanjutkan pekerjaannya. Hingga sekarang sudah tepat tengah malam. Dia menepati janjinya untuk ke kamar anak-anaknya. Ada sedikit rasa bersalah karena akhir-akhir ini jarang mengajak mereka bermain. Setelah itu dia kembali ke kamar dan mendapati Abel yang sudah tertidur.

__ADS_1


Meskipun sedang tertidur tapi Gala merasakan raut wajah Abel sedih. Pasti ini karena ulahnya, perasaannya semakin tidak karuan dan merasa semakin bersalah.


"Maafin, Mas ya. " Gala mencium kening istrinya dengan lembut. Setelah itu dia berbaring dan membawa Abel dalam dekapannya. Semoga besok dia bisa menuntaskan semua dan mempunyai lebih banyak waktu dengan Abel dan anak-anak mereka.


.


.


.


Tadi pagi Abel mencoba biasa saja di depan anak-anaknya, memang dia agak sedikit kesal tapi tidak enak juga kalau keliatan tidak akur di depan anak mereka. Begitu juga dengan siang ini.


Abel dan kedua anaknya bereksperimen di dapur membuat cupcake. Karena merasa bagus, Alano dan Alana ingin memberikannya pada Ayahnya. Abel sudah bilang kalau Galaxy sedang sibuk tapi kalau sudah kekeh ya mana bisa ditolak kemauan anaknya.


Dan di sinilah mereka sekarang, di kantor besar milik Galaxy. Namun saat sampai di sana Raka dan Degas seolah menahan Abella agar tidak menemui Galaxy.


"Kenapa sih?" Tanya Abel tak mengerti.


"Gini, Bel. Emmmm menurut gu- saya, jangan temuin Galaxy dulu. Dia butuh waktu sendiri," ucap Raka.


Abel melirik anak-anaknya, tidak mungkin dia bertengkar dengan Raka di hadapan mereka. Degas yang mengerti langsung saja mengajak Alano dan Alana menjauh dari Abel dan Raka.


"Lo nutupin perselingkuhan dia apa gimana? Butuh sendiri apa sih? Gue istrinya!" Kesal Abel.


"Iya gue tau lo istrinya tapi ini lain, Bel," ucap Raka meminta pengertian.


"Ya apa jelasin?!"


"Lebih baik Galaxy yang jelasin, gue gak punya hak," jawab Raka pasrah.


"Yaudah biarin gue bicara sama dia!" Abel tidak peduli akan semarah apa Galaxy padanya. Keadaan Galaxy sekarang ya Abel perlu tau kalau memang dia sedang tidak baik-baik saja.


Kakinya melambat saat melihat ruangan Galaxy yang berantakan, ditambah dengan minuman beralkohol di meja Galaxy membuat Abel menjadi tidak karuan. "Apa-apaan ini, Mas?"


Gala yang duduk di sofa kini menatap Abel. "Aku mohon jangan bicara sekarang."

__ADS_1


"Kenapa jangan, kamu ini kenapa loh kaya gini?! Sejak kapan minum minuman kaya gitu?" Abel merasa sesak melihatnya ditambah emosinya yang kini meledak-ledak.


Raka menahan napasnya, roman-romannya akan terjadi keributan besar. Tapi demi apapun Raka sudah berusaha sebaik mungkin untuk mencegah kejadian ini.


"Aku pusing tolong jangan bikin tambah pusing, Bel!" Kini suara Gala meninggi, membuat Abel tidak percaya kalau yang di hadapannya ini adalah suaminya.


Saat Gala berusaha meminum alkohol itu lagi, Abel menarik paksa botolnya dan membantingkannya ke sembarang arah. "Jangan diminum lagi! Aku berhak tau, Mas kamu kenapa?!"


Gala yang memang dikuasai emosi menjadi tidak terkendali apalagi dia memang di bawah pengaruh alkohol. Dia melempar apapun yang bisa dia jangkau, untung saja Raka menutup pintu ruangan ini.


"MAS!"


"AKU MAU SENDIRI, BEL! JANGAN GANGGU AKU!" Gala menatap tajam ke arah Abella yang kini matanya sudah berkaca-kaca, selama pernikahan mereka baru kali ini Gala bersikap kasar padanya.


Tangannya mengepal kuat, tidak tau apa lagi yang harus dia katakan. Dengan sisa keberanian yang ada dia keluar dari ruangan Galaxy sembari menahan tangisnya. Tidak lupa juga dia membawa Alano dan Alana untuk ikut bersamanya.


Dadanya sesak sekali, mengingat kembali apa yang Galaxy lakukan beberapa menit yang lalu. Alano dan Alana juga sepertinya merasakan kalau Ibunya sedang tidak baik-baik saja.


Abel memasang pengaman pada Alano dan Alana. Mereka terus memperhatikan Abel yang matanya sudah berkaca-kaca dan hidungnya memerah karena menahan tangis.


"Mama kenapa?" Tanya Alano.


"Mama gapapa, Sayang. Kita pulang ya." Abel berusaha memberikan senyum terbaiknya walaupun sebenarnya sulit untuk dilakukan.


"Mama kenapa engga jadi ketemu papana?" Tanya Alana.


"Ah- A itu sayang Papanya lagi gak ada di kantor. Terus kita disuruh liburan, Alan sama Ana mau ikut mama liburan?" Tanya Abel.


"Yayy liburan!! Maauuu!!" Jawab mereka antusias.


Abel mengusap puncak kepala anaknya dengan lembut. "Yaudah tapi jangan bilang papa ya, kita soalnya mau main kucing-kucingan biar papa gak tau."


Dengan polosnya Alano dan Alana mengangguk. Mereka senang diajak liburan apalagi sembari bermain kucing-kucingan. Pasti itu akan seru, tanpa mereka tau kalau mereka sedang dijauhkan oleh Abella dari ayahnya.


Setelah selesai bicara, Abel pun masuk ke mobil, terlihat Raka dan Degas menyusulnya, namun Abel tinggalkan begitu saja. Dia tidak peduli apapun, kalau Galaxy perlu waktu dia juga perlu waktu untuk mencerna ini semua.

__ADS_1


__ADS_2