
Ayok say goodbye dulu sama Gala dan Abel remaja! Ini bab terakhir mereka.
Happy reading~
Gala dan Abel sampai di sekolah, sepertinya tidak ada alasan lagi untuk mereka sembunyi-sembunyi atau merahasiakan hubungan mereka. Dengan saling menggenggam dan tersenyum satu sama lain, membuat mereka nampak lebih romantis dari biasanya, bahkan mereka tidak perlu menyembunyikan cincin pernikahan lagi.
"Gal, kenapa kita diliatin sih? Kesel banget jadi bahan tontonan," ucap Abel setengah berbisik.
"Kamu jangan fokus sama orang-orang, mereka itu seneng karena pernikahan kita, seneng karena liatin kamu cantik dan seneng karena kita serasi sebagai suatu pasangan," ucap Gala sembari mengelus punggung tangan Abel dengan lembut.
"Gak semua orang berpikiran kaya gitu tau," balas Abel.
"Apapun itu kamu gak perlu mempedulikan orang lain, Baby. Kamu menjalani hubungan sama aku, hidup kamu juga gak diurusin sama orang, aku yang urus. Udah, mulai sekarang belajar bodo amat, oke?" Gala melirik istrinya dengan senyum.
Abel pun membalas senyuman Gala dan mengangguk. "Yaudah iya Gala."
Gala pun mengantarkan Abel sampai masuk ke dalam kelasnya, memastikan kalau istrinya duduk dengan aman tanpa diganggu oleh siapapun.
Banyak pasang mata yang melihat mereka kagum, namun seperti yang Gala ucapkan kalau mereka harus bodo amat yang terpenting masih dalam batas wajar.
Gala mengulurkan tangannya pada Abel. "Salam dulu."
Abel menatap Gala keheranan dan menepuk tangan Gala. "Gal, gak mau." Bukannya apa-apa, tidak biasanya Gala meminta Abel menyalaminya.
"Ck istri durhaka." Gala mengambil tangan Abel dan menyalamkannya sendiri. "Gak boleh gitu."
Dinda menatap keduanya. "Mon maaf bapak dan ibu Alaric, kenapa saya jadi nyamuk ya?"
Abel terkekeh dan menatap Dinda. "Apasih, Din? Gak ada nyamuk-nyamukan, lo temen gue."
"Makanya cari suami, biar gak jadi nyamuk," balas Gala.
"Woiii berat ya mainannya suami-suami, iya deh ya beda level emang beda. Ampun suhu," ucap Dinda sembari menyatukan kedua tangannya pada Gala.
Gala terkekeh, membuat semua orang bergidik ngeri. Tidak biasanya Gala begitu. "Iya deh, titip istri gue. Jangan biarin digoda orang."
"Siap boss, dah mending lo ke kelas dah. Pengap gue liat lo," kata Dinda mengusir.
Gala tersenyum ke arah Abel dan mengusap rambutnya. "Belajar yang rajin. Semangat."
__ADS_1
Abel mengangguk dan mengacungkan jempolnya. Setelah itu Gala keluar dari kelasnya. Saat Gala sudah tidak ada, satu kelas berkumpul di meja Abel dan Dinda.
"Waduhh ada apa ini?!" Tanya Dinda.
Bel seriusan lo istrinya Gala?
Kenapa lo gak pernah bilang kalau kalian udah nikah?
Wah parah kita gak di undang, gimana ceritain nikahnya gimana?
Kalian awalnya dijodohin, kan? Sekarang kalian gimana?
Abel, ayok jawab. Abel kita kepo.
"Iya gue istrinya Gala, kita nikah karena dijodohin liburan semester kemarin. Gak bilang karena kita masih sekolah, gak undang karena gak mungkin, gak gimana-gimana ya gue sama Gala sekarang udah," jelas Abel pasrah.
"Pantesan aja mendadak Gala jadi menyadari keberadaan IPA 1 yang kelasnya mojok banget, orang istrinya di sini," celetuk Nara.
"Dia aja baru tau gue setelah 1.5 tahun gue sekolah," jawab Abel sambil terkekeh.
"Ehh gila, serius lo?" Tanya Anna.
"Serius, dia aja kaget liat gue pake seragam SMA Gold Garuda. Tapi yaudah, udah ya jangan tanya gue lagi, gue udah jawab," ucap Abel.
Mereka pun membubarkan diri dari bangku Abel dan Dinda. Dinda jadi merasa Abel lebih humble dari sebelumnya, ya baguslah sekiranya dia tidak menutup diri pada orang-orang.
Seharian Gala dan Abel menghabiskan waktu bersama di sekolah. Dari pergi, istirahat sampai pulang sekolah. Seperti sekarang mereka sedang berjalan berduaan di lorong sekolah.
"Jela pindah sekolah," ucap Gala.
"Ohh, aku gak tau harus bereaksi apa. Aku gak benci dia, karena aku tau dia sayang sama kamu, Gal. Cuma dia terobsesi gitu dan nyakitin orang sekitar," balas Abel.
"Sebenernya gak perlu berkomentar juga gak apa-apa, aku kasih tau kamu biar ngerasa aman aja karena gak akan ada yang gangguin kamu," kata Gala.
"Ada."
"Siapa yang gangguin?"
"Kamu, kemana-mana kamu selalu ikut aku. Bucin," cibir Abel.
"Salah sendiri cantik banget, bikin orang takut kehilangan aja," jawab Gala sekenanya.
__ADS_1
"Padahal yang lebih banyak fansnya itu kamu, tapi kamu yang takut kehilangan aku sampai sebegitunya. Cowok aneh," ucap Abel.
"Oh jadi kamu gak takut kehilangan aku?" Tanya Gala sembari mendekatkan wajahnya pada Abel.
"Engga, kamu nikahnya sama aku juga. Mau deket sama siapapun juga tetep aku istrinya. Lagi pula mau aku cantik atau engga ketemunya kamu lagi kamu lagi. Gak bisa sama siapa-siapa juga karena cincin ini. Gak mungkin juga aku bangun yang aku liat pertama kali Raka atau Degas." Lagi-lagi jawaban realistis yang Abel lontarkan.
"Kamu istri siapa sih, Bel? Gemes banget." Gala memeluk leher Abel dengan erat, sampai gadis itu meronta.
"Istrinya Jaehyun," jawab Abel.
"Jaehyun gak akan tau kamu hidup, udah kamu sama aku aja yang siap bucinin kamu 24/7 di mana pun dan kapanpun. Bucinin sampe gumoh," kata Gala terkekeh.
"Serem banget suamiku," gumam Abel.
"Apa, Bel? Barusan manggil apa?" Tanya Gala memastikan.
"Gak mau ah, gak ada pengulangan. Lagian itu telinga isinya apaan, gak cukup sekali denger," tolak Abel sembari menggelengkan kepalanya.
"Bukan gak denger, tapi mau denger lagi. Cepet bilang," Gala menghadapkan Abel padanya.
"Suamiku," ucap Abel lembut.
Gala mengulum senyumnya, mendadak dia salting tapi tetap harus jaga imagenya sebagai suami. "Iya istriku."
Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan terkekeh, rasanya candaan seperti ini semakin sering mereka lontarkan sekarang. Bagi Abel, Gala berhasil membuat beberapa kepercayaan yang Abel yakini runtuh. Perlahan dia mulai terbuka dengan Gala, terbuka pada lingkungan sekitarnya. Gala juga berhasil membuat pandangannya pada suatu hubungan berubah.
"Makasih ya, Gal. Kamu datang ke kehidupan aku dan bawa aku dari kegelapan," ucap Abel tiba-tiba.
"Kegelapan?"
"Aku selalu menempatkan diri aku di sudut paling gelap, di mana gak ada seseorang pun yang bisa menyentuhnya sampai ke dasar. Bahkan ketika mereka menawarkan lampu pun aku gak pernah mau. Sampai akhirnya ada kamu yang memaksa untuk selalu di samping aku dengan pencahayaan yang kamu bawa dan akhirnya dengan perlahan ajak aku ke dunia kamu yang sedikit lebih terang." Abel menjeda ucapannya.
"Aku gak tau kamu anggap ini bohong atau engga. Tapi ketika kamu memaksa, perlahan-lahan aku mulai terbiasa. Aku, Abella. Yang sebelumnya hanya sendirian dalam sebuah sekoci di tengah lautan, mendadak punya kamu yang masuk ke dalamnya. Mengajarkan aku bagaimana rasanya hidup sama-sama sampai waktu kamu pergi dan terluka kemarin aku sadar, ternyata aku selama ini hidup dalam kesendirian dan kesepian tanpa aku sadari. Ya, ternyata aku memang butuh seseorang." Abel menghela napasnya.
"Gal, cringe banget gak sih aku bilang kaya gini? Tapi aku cuma mau ungkapin itu. Untuk tawaran kamu waktu itu, aku mau. Aku mau jalanin pernikahan ini sama kamu, walaupun aku udah pernah jawab. Tapi kemarin rasanya aku penuh sama keraguan."
"Bel ..." Gala baru pertama kali mendengar Abel berbicara panjang lebar seperti itu. Dia senang, senang karena Abel bisa lebih membawanya masuk ke dalam kehidupan Abel yang sebelumnya sulit untuk dijangkau.
"Gala, i lo-"
Gala mengecup bibir Abel dengan lembut, setelah itu dia menatap gadis itu sambil tersenyum. Aku aja yang bilang duluan. "I love you, Abella."
__ADS_1
Abel tersenyum dan mengusap pipi Gala dengan lembut. "I love you too, Galaxy."