
Ghazam dan Gala sedang bermain di ruang keluarga. Sementara Abel dan Ibunya sedang berada di kamar. Nia tersenyum melihat keadaan kamar anaknya rapi dan bersih, itu tandanya Abel mengerjakannya dengan baik dan tidak bikin malu orang tuanya. Terutama dia merasa bangga karena berhasil mendidik putrinya.
Abel hanya duduk di tepi ranjang sembari mengeluarkan buku pelajaran untuk dia kerjakan malam ini. Nia menatap putrinya, sepertinya Abel tidak banyak bicara hari ini, terlihat lebih kalem daripada saat dia belum menikah dan tinggal di rumah mereka.
Sebenarnya dia dan Gala sudah berbicara dan mengetahui permasalahan di antara mereka. Bukan masalah, lebih ke progress hubungan mereka. Jadi dia memutuskan untuk bicara dengan putrinya juga.
Nia tersenyum dan duduk di samping putrinya itu seraya menggenggam tangan putrinya lembut. "Sayang, boleh Bunda tanya sesuatu sama kamu?"
Abel mengangguk dan tersenyum. "Tentu boleh, Bund. Tanya aja, kalau Abel bisa jawab pasti bakalan dijawab."
Nia menarik napasnya, memikirkan kata-kata yang tepat untuk bicara pada Abel. Meskipun sudah sedikit dewasa tapi pertanyaan ini pasti sensitif.
"Kamu sudah mencintai Gala atau belum?" Tanya Nia sembari menatap mata putrinya, agar dia bisa tau apa yang dirasakan anaknya sekarang.
Abel tidak menjawab, dia tidak bisa berbohong kepada Ibunya soal ini dan tidak mungkin juga kalau dia menjawab belum ada kepikiran untuk jatuh cinta pada Galaxy.
"Sayang, Gala sudah mau mencoba dan dia bilang sudah mulai mencintai kamu. Apa kamu gak mau mencoba juga untuk menghargai usaha Gala?"
"Bund, itu gak mudah. Aku yang gak biasa deket sama cowok bahkan kepikiran buat deket aja gak ada, mendadak menikah dan harus belajar mencintai dia. Gak bisa, Bund aku gak siap," lirih Abel.
"Bunda tau gak mudah, apa yang terjadi sama kamu pun Bunda paham. Kita itu gak bisa nunggu sampai siap, semuanya perlu dicoba. Pelan-pelan, lama-lama mulai terbiasa dan kata siap atau tidak itu gak akan ada karena kita udah melewati tahap itu."
"Pelan-pelan dicoba ya, Nak. Bunda ingin kamu juga merasa bahagia menjalaninya. Demi kebaikan kamu sendiri, bukan untuk Bunda," nasehat Nia pada anaknya.
"Abel gak bisa janji, Bundaa."
Nia mengeratkan genggamannya pada putrinya. "Iya, tapi dicoba ya?"
__ADS_1
Abel memikirkan kata-kata ibunya, kenapa seolah dia dipaksa tapi tidak dipaksa juga. Dia tidak bisa menolak, akhirnya dia mengangguk pasrah. Apa mungkin takdir Abel memang harus bersama Galaxy?
"Kamu udah begituan sama Gala?" Tanya Nia tiba-tiba.
Abel merasa awkward, dia tidak biasa membahas hal seperti itu, apalagi yang menanyakannya adalah ibunya sendiri.
"Apasih, Bund. Kok nanyanya kaya gitu?" Jawab Abel selembut mungkin, padahal dia kurang nyaman dengan pembahasan seperti ini.
"Ehh harus dong, karena ini kewajiban seorang istri juga. Kalau gak dilakukan bisa dosa," ucap Nia pada putrinya.
Abel menghela napasnya, jika sudah berbicara soal hak dan kewajiban Abel sama sekali tidak bisa membantah atau mengelak. "Engga, Bun belum. Kita masih SMA juga, kan gak harus sekarang?"
"Mau kalian masih SMA atau engga, kalian sudah cukup umur dan sudah mukhrim." Nia mencoba menjelaskan pada putrinya. Bukan ingin mencampuri privasi mereka berdua, tapi pemahaman seperti ini memang perlu diberikan.
"Iya, Bund aku paham. Lagian yaudah kaya gini dulu aja, toh Gala juga gak pernah minta begituan, jadi aku gak dosa," ucapnya santai.
"Iya gak minta tapi semua orang juga punya nafsu, begitu juga dengan kamu dan Gala. Meskipun kamu belum paham, Bunda cuma mau bilang. Kalau suatu saat suami kamu ingin atau memang mau, kamu tidak boleh menolaknya ya. Ingat, itu kewajiban seorang istri untuk melayani suaminya, bunda juga sudah membahas ini dengan Gala jadi kamu harus memahami juga apa yang bunda bicarakan," peringat Nia.
Kenapa Ibunya tiba-tiba harus membicarakan hal ini? Gala menyentuhnya saja rasanya dia penuh ketakutan apalagi harus bercinta dengannya? Abel tidak pernah mengerti dan paham. Bahkan dia tidak pernah mau memahami hal seperti itu. Traumanya membuat dia menjadi tidak ingin mengetahui lebih dalam untuk hal itu.
Setelah Nia berpamitan pulang pada anak dan menantunya, kini mereka berdua sedang terdiam di kamar. Abel mengerjakan tugasnya di kasur, begitu juga dengan Gala.
"Lo kenapa sih tadi kaya gitu? Pencitraan banget," keluh Abel.
"Gitu gimana? Wajar dong suami istri terlihat kaya gitu di depan orang tuanya," balas Gala yang masih terfokus pada layar laptopnya.
"Ya sewajarnya aja, pada kenyataannya aja kita gak pernah kaya gitu, kan? Itu berlebihan namanya," kesal Abel.
"Oh jadi mau kaya gitu setiap hari? Oke siap," jawabnya simpel.
__ADS_1
"Gak lucu!" Tegas Abel.
"Ada keliatan gue lagi ngelucu?" Tanya Gala melirik ke arah Abel.
Abel hanya terdiam, memang tidak melucu tapi ucapan asalnya itu yang benar saja. Mereka kembali terdiam mengerjakan tugas masing-masing.
"Gala ingat, Bunda bukan ingin mencampuri privasi kalian. Tapi Bunda paham apa yang terjadi di hubungan kalian. Kalau sewaktu-waktu kamu ingin meminta hak pada Abel lakukan saja. Agar dia juga tidak berdosa karena membuat suaminya menahan haknya," ucap Nia.
"Iya, Bund pasti. Sekarang Gala hanya ingin membuat Abel dan Gala terbiasa dengan hubungan ini, perlahan-lahan aja ya, Bund," balas Gala.
Nia tersenyum, beruntung Gala mempunyai pemikiran yang cukup dewasa dan tidak banyak menuntut. Semoga saja apa yang dibicarakan Gala memang bisa membuat Abel perlahan-lahan luluh, namun tentu Nia pun harus membantu dalam prosesnya. Dia juga akan berbicara pada putrinya.
Sebenarnya mereka memikirkan perkataan Bundanya. Tadi Gala juga berbicara 4 mata dengan mertuanya itu mengenai malam pertama mereka. Realistis saja, tidak ada pria yang tahan satu kamar dengan wanita jika tidak melakukan apa-apa. Hanya saja Gala selalu berhasil mengalahkan nafsunya, karena dia tau kalau kesiapan Abel lebih utama.
Yang paling penting adalah, mereka harus melakukannya karena mau sama mau agar saling menguntungkan. Jadi Gala memilih untuk membuat Abel terbiasa dulu saja dengan pernikahan mereka.
Setelah selesai merapikan pekerjaan, mereka berdua pun membaringkan tubuh di kasur. Entahlah mereka merasa awkward satu sama lain setelah membicarakan hal itu dengan Nia. Meskipun mereka tidak saling mendengar apa yang dibicarakan Nia pada satu sama lainnya.
Saat Abel memejamkan matanya, tiba-tiba sebuah tangan melingkar pada pinggangnya, membawa Abel mendekat dan terbenam di dadanya. Satu tangannya dijadikan bantalan untuk Abel agar dia merasa nyaman.
"Gala lepasin," pinta Abel seraya berusaha melepaskan diri dari Gala.
Namun Gala menahannya, satu tangan mengelus rambut gadis itu dan yang lainnya mengelus punggung milik Abel dengan lembut. "Biarin kaya gini dulu, merem. Gue bakalan jagain lo tidur."
"Gue bisa tidur dengan sendiri-"
"Ssttt, jangan ngajak debat. Diem aja." Gala mengeratkan pelukannya sembari mencium puncak kepala Abel. Perlahan dia memejamkan matanya tanpa mengehentikan aktifitasnya mengeloni Abel hingga tertidur.
Jantungnya berdetak dengan kuat, tapi tidak seperti biasanya dia tidak mengeluarkan keringat dingin, mual atau sakit perut. Apa karena dia pikir kalau Gala adalah orang yang aman?
__ADS_1
Semakin Gala mengeratkan pelukannya membuat Abel semakin tidak berkutik dan mencoba membiasakan diri dengan hal itu. Apa mulai sekarang dia harus terbiasa dengan hal seperti ini?
Terlalu pusing dengan pikirannya dan Gala juga masih belum melepaskannya, membuat Abel lelah lalu akhirnya ikut tertidur dalam pelukan Gala.