Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Menjadi Yang Paling Mengerti


__ADS_3


Acara pernikahan Raka dan Juga Anna berjalan lancar, setelah memberikan hadiah dan ucapan lagi, Abel dan Gala memilih pulang. Mereka memberikan tiket honeymoon untuk keduanya, ya menurut mereka itu hadiah terbaik untuk Raka dan Anna yang memang tidak berencana honeymoon karena masalah pekerjaan.


"Bagus banget ya, Mas acaranya," ucap Abel dengan raut wajah kesenangan.


"Iya bagus, kamu suka?" Tanya Gala.


Abel mengangguk, tentu. Dulu dia punya pernikahan impiannya sendiri. Tapi bisa direalisasikan, ya seperti yang kita tahu kalau Gala dan Abel menikah atas dasar perjodohan. Acaranya memang tidak sederhana juga, tapi ya adalah sisi di mana Abel menyukai pernikahan yang memang ramai dengan semestinya.


"Kita belum pernah resepsi, kamu mau?" Tanya Gala lagi.


"Emang boleh ya?" Tanya Abel berbalik.


"Boleh, apalagi ada anak-anak kita sekarang. Jadi mereka bisa hadir di pernikahan Mama Papanya." Memang apa yang tidak bisa Gala lakukan? Kalau Abel mau ya tentu dia bisa melaksanakannya Minggu ini juga.


"Tapi kayanya nanti aja deh, Mas. Ya emang mau sih, tapi rasa-rasanya aku lebih mau mencukupi Alano sama Alana."


"Mereka gak akan kekurangan apapun, Sayang."


"Iya tau, cuma ya sayang aja. Aku malah mikir bakalan adain resepsi kalau mereka umur 4 atau 5 tahun, mereka udah bisa jalan, banyak bicara, nanti jadi flower girl sama flower boynya buat iringin mama papanya, lucu gak sih, Mas?" Ucap Abel.


"Lucu, jadi maunya kaya gitu?"


Abel mengangguk. "Biar mereka juga paham dan mengerti. Ikut ngerasain kebahagiaan kita juga. Kalau sekarang mereka belum ngerti apa itu pesta, perayaan."


"Yaudah kalau kamu maunya kaya gitu, nanti kalau mau bilang aja sama Mas. Pasti Mas penuhi maunya kamu." Gala tersenyum lalu mengusap puncak kepala Abella.


Dia bangga sih dengan Abella. Bisa dibilang dia Ibu Muda, masih belajar mengurus anak. Tapi Abel malah sudah menguasai kalau urusan mengurus anak, belum lagi pemikiran bijak dalam setiap keputusan.


"Tadi bicara apa aja sama Elzard?" Tanya Gala tiba-tiba.


"Pembicaraan basic aja sih, Mas. Tanya kabar, rutinitas, bicara soal Alana dan Alano, kuliahnya dia, gitu aja," jawab Abel tanpa menutupi apapun. Ya memang hanya itu saja yang mereka bicarakan.


"Tapi dia natap kamu kaya kagum gitu," ucap Gala yang fokus menyetir.


Abel terkekeh. "Ya kagum karena aku udah bisa ngurus anak kali, Mas. Memang apalagi?"

__ADS_1


"Kagum karena kamu cantik?"


"Kalau dia kagum karena aku cantik, artinya dia kagum sama kamu. Karena dibalik istri yang cantik pasti suaminya suport apapun yang dia butuhkan, baik kebutuhan fisik, batin, ekonomi."


Gala mengulum senyumnya, ya siapa yang tidak salting dipuji seperti itu oleh istrinya sendiri. Sementara Abella yang menatap Gala kini terkekeh karena melihat Gala menahan senyumannya. "Kita temenan doang kok, Mas. Dia bilang anak kita cantik dan ganteng kaya papanya. Kamu cemburu ya? Maaf kalau bikin kamu cemburu."


"Sedikit. Tapi kamu manis banget, Mas mana bisa ngambek jadinya," ucap Gala.


"Alana tadi juga aneh liat El, mungkin dia mikir. Ini siapa yang bicara sama mama gue, kok bukan papanya?" Kata Abel sembari terkekeh.


"Bukan, Alana pasti mikir gini. Cih, gantengan bapak gue!" Ucap Gala percaya diri.


Mereka tertawa, memang aneh membicarakan hal-hal seperti ini. Tapi ya hiburan juga tersendiri untuk orang tua muda seperti mereka berdua yang rawan sekali stress karena baru belajar menjadi orang tua.


Perjalanan memang cukup panjang, karena tempatnya cukup jauh. Belum lagi macet, rasanya juga tidak ada lagi yang bisa mereka bicarakan. Apalagi Alano dan Alana sudah tertidur dengan sendirinya.


Gala melirik Abell yang wajahnya sudah berubah. Dia paham sih, dia kan Ibu menyusui, pasti sekarang asinya sudah menumpuk, rasanya juga pasti sakit dan tidak nyaman. Akhirnya Gala memutuskan berhenti di sebuah toserba besar.


"Kamu mau kemana, Mas?" Tanya Abella.


"Tunggu di sini."


Abel menatap ke arah Gala, sementara Gala kembali melajukan mobilnya.


"Aku tau asi kamu udah penuh, gak nyaman juga pasti. Jadi aku beli itu," ucap Gala.


"Makasih ya, Mas. Kamu emang paling peka soal apa-apa yang aku butuhin."


"Hmm, jangan makasih. Udah tugas Mas juga kan buat anak-anak Mas."


Abel terharu sebenarnya, belum tentu kan di luar sana orang mendapatkan suami seperti Gala yang memperhatikan hal-hal kecil seperti ini. Padahal Abel tidak bilang apapun, tapi Gala paham dengan sendirinya.


Apalagi memang sudah sakit sekali dadanya karena penuh. Perlahan dia membuka outer dan menurunkan seleting belakang gaunnya. Dia melirik ke arah Gala. "Jangan liat!"


Gala terkekeh. "Apa yang belum Mas liat dari kamu? Kenapa juga masih malu?"


"Ya malu aja, fokus nyetir aja!" Peringat Abell.

__ADS_1


"Yaudah iya-iya."


Jika sudah seperti itu Abel bisa dengan tenang melakukan pumping. Lega sih, karena memang asinya sangat subur jadi mudah sekali penuh. Baru sebentar saja sudah terisi 1 kantung.


"Asi aku kayanya banyak banget, padahal aku udah gak minum suplemen."


"Ya gapapa, Sayang. Bagus, jadi anak-anak kita terpenuhi. Di luar sana bahkan ada yang susah produksi asi."


"Yaiya sihh."


Gala tersenyum lalu kembali menyetir, sampai akhirnya mereka sudah sampai di rumah. Tepat sekali, mereka sampai Alano dan Alana juga terbangun. Pasti mereka sudah haus ingin minum susu. Langsung saja mereka membawa anak-anak mereka ke dalam.


Abel membaringkan tubuhnya, terlihat jelas memang kalau dia kelelahan.


"Biar mereka pake dot aja, aku panasin asinya dulu," ucap Gala.


Abel mengangguk, lagi dan lagi Gala yang paham dengan kondisinya. Jadi dia menurut saja, sembari menenangkan anak-anaknya. Tak lama dari itu Gala datang membawa susu, lebih beruntungnya lagi Alano dan Alana cepat melatih motoriknya sehingga mereka bisa memegang dotnya sendiri. Mempermudah sekali jika di saat seperti ini.


Gala mengambil tissue basah antiseptik lalu mengelap wajah dan juga tangan Alano dan Alana. Mereka dari luar, pasti banyak bakteri. Gala tidak mau Alano dan Alana jadi sakit kalau dia tidak sigap seperti ini.


"Kamu telaten banget, Mas ngurus mereka. Padahal harusnya aku yang lakuin," ucap Abella sembari menatap Gala.


"Kan ini anak kita, gak selalu harus kamu. Kita harus kerja sama dalam apapun. Lagian anak kita tadi diciumin banyak orang, Mas gak suka sebenarnya tapi ya mereka disayang semua orang."


"Hahaha, jangan dilarang, Mas. Anak kalau banyak dipantang nanti malah sering banyak sakitnya. Mereka sayang sama Alano dan Alana. Apalagi mereka gemesin."


"Iya, Sayang. Terlebih lagi Alana tadi udah digendong sama dicium Elzard," lanjut Gala.


"Papanya tetep kamu kok," goda Abel.


"Ana kalau dicium sama cowok harusnya pukul aja, Ana bolehnya dicium sama Papa. Papa cemburu!" Ucap Gala pada Alana.


Alana melepas dotnya lalu menimpali Gala seolah memberikan klarifikasi. "Ohh katanya papa jangan cemburu, Alana sayangnya sama papa."


"Harus, tandain temen Mama yang tadi. Kalau Ana dicium lagi pukul aja, jangan mau digendong ya?" Peringat Gala sembari membenarkan dot milik Alana.


"Kamu juga Alano, berlaku buat kamu!"

__ADS_1


Abel tersenyum saja, membiarkan Gala menjadi posesif pada kedua anaknya. Lucu dan memang senang saja melihatnya. Itu tandanya Gala menyayangi anak-anak mereka.


__ADS_2