
Hari ini adalah hari kedua di mana Abel dan Galaxy pergi ke sekolah bersama. Jika keputusan Galaxy sudah mutlak, maka tidak ada yang bisa menentangnya. Abel harus membiasakan diri dengan omongan banyak orang, rasanya dia ingin menenggelamkan diri saja. Dari sekian banyaknya wanita, kenapa harus dia yang menjadi jodoh Galaxy?
Seperti saat ini, tiba-tiba saja Gala, Degan dan Raka bergabung di di meja Abel, Nara, Anna dan Dinda. Tentu banyak pasang mata yang menatap ke arah sana.
Gala itu bucin banget kayanya sama Abel.
Mereka udah pacaran emangnya?
Gue baru tau loh kalau Gala bucin manis banget.
Lo tau gak tadi aja mereka gandengan sepanjang koridor.
Gue makin suka sama Gala.
Abel kalau diliat-liat lebih cantik dari Jela.
Dan masih banyak omongan lainnya. Abel sesekali mengurut keningnya karena pusing menghadapi sikap Gala yang membuatnya jadi bahan omongan satu sekolah.
"Bel boleh gak jodohin sama Anna?" Tanya Degas di depan Anna.
"Tanya anaknya, jangan nanya gue," jawab Abel asal.
"Ogah." Satu kata dari Anna. Singkat, padat, ngena.
"Wah gila ditolak depan muka, agak sadis. Padahal kita gak kalah ganteng dari Gala," ucap Raka.
"Ya adalah lah kadar ganteng kalian 0.1% nya dari Gala," celetuk Nara.
"Eh, Gal. Emang lo sama Abel udah jadian ya?" Tanya Anna.
"Belum tapi kalau dia mau jadian sekarang gue ikutin," jawabnya santai.
Anna cukup kaget mendengar penuturan Gala. Pria itu nampak tidak suka basa-basi, dingin, cuek, bedanya sekarang lebih jinak karena pawangnya adalah teman mereka.
Sementara Dinda akan memilih diam saja, dia tidak mau terlibat dengan prahara rumah tangga ini. Karena tentunya hanya Dinda lah yang tau hubungan pasti antara mereka berdua.
"Jangan ngada-ngada, gue gak jadi pacar lo aja udah pusing apalagi kalau jadi pacar. Bisa stress karena jadi bahan gunjingan orang-orang," sanggah Abel.
"Gapapa, yang terpenting pas sama gue lo gak stress. Ketawa bahagia malah kaya tadi mal-".
"Hah, tadi malem kalian ngapain? Gak aneh-aneh kan?" Tanya Nara yang mendapat tatapan tajam dari Abel. Memang tidak bisakah mereka mengecilkan volumenya?
__ADS_1
"Makan gultik sama sate," singkatnya.
"Eh ini lo bener serius sama Abel? Gue gak mau ya lo sampe mainin Abel apalagi perlakuin dia sama kaya mantan-mantan lo," ucap Nara.
"Emang gue ada tampang brengsek?"
"Engga brengsek sih tapi lo selalu cuekin cewek-cewek lo, dari mantan lo yang pertama, si kakak kelas itu, terus siapa lagi gue lupa," kata mendikte.
"Kalau sama Abel si Gala yang dicuekin, iya gak? Hahahahaha," celetuk Raka.
Gala menjentikkan jarinya, memang benar. Dalam hubungan mereka Gala lah yang lebih banyak bicara di bandingkan Abel. Hubungan yang baru pertama kali Gala jalani dan ternyata lebih menyenangkan.
Di satu sisi Jela dan teman-temannya menatap tak suka pada meja Abel dan kawan-kawannya. Jela merasa iri dengan perlakuan Gala pada Abel. Tentu sangat berbanding terbalik dengan perlakuan padanya. Jela baru kali ini melihat Gala sehangat itu, yang dia rasakan bahkan Gala sedingin itu.
.
.
.
Abel keluar dari kamar mandi, tadi dia meminta Gala untuk menunggunya di koridor. Namun saat ingin baru saja dia keluar tiba-tiba ....
Plakk ....
Satu tamparan berhasil mengenai pipi Abel. Abel mengelus pipinya yang terapa panas, tapi itu bukan apa-apa dibandingkan dengan luka lebam yang sering dia dapat saat berlatih taekwondo. Di tatapnya orang yang tiba-tiba saja datang menamparnya. Sungguh ini tidak bisa diterima.
"Lo yang gak punya sopan santun jadi orang ketiga di hubungan orang lain. Kita gak pernah punya masalah ya, tapi gue gedek banget liat kelakuan murahan lo itu!" Bentak Jela.
"Mending lo jauh-jauh deh dari Gala. Jela itu lebih dekat sama keluarga Gala dan sewaktu-waktu lo bisa berurusan sama mereka," ucap Karin sinis.
"Jangan jadi cewek murahan, gatel, pelakor yang suka gangguin cowok orang. Rendah banget ternyata cewek yang punya julukan expensive di sekolah kita ini, eww," sambung Della.
Entah kenapa mereka terlihat lucu di mata Abel. Tentu orang tua, kakak, bahkan kakeknya Gala sekalipun jelas akan membelanya. Mereka tidak tau saja.
"Gue, gak takut. Terserah, urusan lo sama Gala bukan sama gue. Kalau ada keluhan ke dia aja!" Abel yang kesal memilih untuk meninggalkan mereka, namun tangganya dicengkram oleh Abel.
"Lo itu gak tau diri ya! Lo itu-"
Dalam sekejap Abel menarik tangannya Jela dan menguncinya ke belakang punggung Jela. Salah jika Jela berlaku kasar padanya, dia yang akan kalah.
"A-AWW SAKIT, LEPASIN!" Teriak Jela.
"Udah gue bilang, yang sopan!"
__ADS_1
Tiba-tiba Gala datang karena mendengar keributan dari sana dan melihat Abel yang termakan emosi sedang membelit tangan Jela.
"Abel! Lepasin dia!"
"Gak!" Ucapnya tegas tapi santai.
"Lepasin dia, Bel. Gue tau lo jago Bella diri, tapi bukan buat nyakitin sesama cewek," peringat Gala.
Abel menatap tak suka pada Gala, lagi-lagi pria ini men-judge apa yang dia lakukan tanpa tau kebenarannya. Abel sangat tidak suka dengan sikap Gala yang seperti itu.
"Lepasin, Abella!" Tegas Gala yang merasa tidak mendapatkan respon dari gadis itu.
Dengan sekejap Abel mendorong Jela ke pelukan Gala. Dia tidak peduli akan semarah apa Gala padanya, yang jelas dia tidak akan bisa menerima kalau dirinya direndahkan orang lain dan dia tidak merasa salah.
"Urus cewek lo, kasih tau soal tata krama sama orang!"
Abel yang kesal tidak peduli lagi dia akan pulang naik apa, yang jelas dia sangat kesal dengan Gala yang lebih membela Jela daripada dirinya. Jelas-jelas Jela yang memulai pertengkaran mereka. Gala menjauhkan tubuhnya dari Jela yang tersenyum penuh kemenangan.
"Makasih ya kamu udah belain aku," ucap Jela lembut.
Tidak ada waktu untuk membalas Jela. Abel sekarang marah padanya, itu lebih penting. Gala pun berlari mengejar Abel dan tidak mempedulikan Jela yang kini kesal karena dia tinggalkan.
"Abel, maksud gue gak gitu," ucap Gala saat tepat di belakang Abel.
Abel diam, dia akan diam seribu bahasa jika dia sedang marah. Bukan merasa ingin dibela, tapi Abel merasa kalau Gala menilainya dan itu sangat tidak dia sukai.
Gala dengan lembut menarik tangan Abel dan kini memegang kedua bahu gadis itu sambil menatap ke arahnya. "Jangan marah. Kita pulang, kita selesain di rumah."
Tidak ada jawaban dari Abel, dia tidak ingin bicara padanya. Sebuah motor tiba-tiba muncul dari belakang. Abel melepaskan tangan Gala. Ternyata itu adalah Elzard. Tanpa berpikir panjang, Abel memanggilnya. Tidak ada cara lain untuk menghindari Galaxy.
"Elzard," panggil Abel yang sontak membuat Elzard dan Gala mengalihkan pandangan satu sama lain.
Elzard pun menghampiri mereka. "Kenapa, Bel?"
"Gue boleh bareng lo?" Tanya Abel.
"Abella," panggil Gala tegas.
"Boleh gak? Kalau gak boleh juga gapapa," ucap Abel tanpa menghiraukan Gala.
Bukannya apa-apa, Elzard ini tau kalau sekarang Abel dan Gala dekat. Dia tidak mau sampai berurusan dengan Gala kalau dia langsung mengiyakan.
"Boleh," ucap Elzard.
__ADS_1
Tanpa basa-basi Abel menaiki motor milik Elzard. Dia benar-benar tidak peduli Gala akan semarah apa. Yang jelas dia juga marah saat ini. El melajukan motornya, setelah tersenyum ke arah Gala yang menatapnya dingin.
"Arght!" Gala menendang sebuat pot bunga yang ada di sana. Dia sangat menyesali kebodohannya tadi karena memarahi Abel di depan mantannya sendiri, tentu gadis itu akan marah. Namun, kini yang membuatnya marah karena Abel bersama Elzard. Dia sangat tidak suka.