Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Alana Sakit


__ADS_3


Sepanjang perjalanan pulang seperti biasa Alano senang bertanya mengenai hal-hal yang membuatnya penasaran. Tapi berbeda dengan Alana yang nampak diam saja seperti tidak bersemangat.


Abel bertanya beberapa kali namun Alana hanya bilang lemas saja, jadi Abel pikir kalau memang anaknya kelelahan karena perjalanan yang cukup panjang.


Namun tiba-tiba napas Alana mulai tidak teratur. "Ma-ma Ana engga bisa napas."


"Kenapa sayang?" Tanya Abel panik.


Melihat Alana yang semakin kesulitan bernapas, Gala menghentikan mobilnya dan Abella langsung turun untuk melihat keadaan Alana. Alano yang melihat itu jadi panik dsn menangis, mungkin karena ikatan anak kembar juga kali ya.


"Mamaaa," lirik Alana yang berusaha mengontrol napasnya.


"Mass Alana kenapa? Masss ayok ke rumah sakit!!" Abel sangat panik. Gala mencoba menenangkan Alano sebentar dan Abella menggendong Alana untuk berada di dekapannya.


Tak berpikir panjang, Gala kembali masuk ke mobil dan menancap gas. Gala melajukan mobilnya di atas rata-rata.


"Mama Ana kenapa? Mamaa bantuin Anaaaa huaaaa," rengek Alano.


"Alan, Alan diem dulu ya sayang. Kita mau ke rumah sakit, kalau Alan nangis nanti semakin lama kita sampainya," ucap Galaxy memberi pengertian, karena memang melihat istrinya yang panik dan menangis.


Untungnya Alano bisa diajak bekerja sama, dia paham kalau Ibunya sedang panik, apalagi melihat Alana yang semakin sesak. Abel menciumi Alana. "Sayang tahan ya, Ana coba atur napasnya yang baik, Nak. Ayokk kaya Mama gini."


Abel memperagakan cara pengaturan napas, Alana mengikutinya. Tapi Alana juga malah panik melihat Ibunya menangis. "Mama jangan nangisss," ucap Alana dengan napasnya yang tersenggal-senggal.


Abel dengan cepat menyeka air matanya. "Mama engga, Nangiss. Ana yang nangis, Ana ikutin kaya Mama. Ana kuat, kan? Harus kuat kan anak Mama. Massss— Cepetttt!!!"

__ADS_1


Gala terus melajukan mobilnya sampai akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Petugas UGD dengan sigap membawa brankar dan membawa Alana ke ruang tindakan. Alana menangis ketika harus berpisah dengan Ibunya, tapi Abel tidak diizinkan masuk. Gala yang menyusul Abella besama Alano di belakang langsung memeluk Abella.


"Mass Alana, Mass aku takut Alana kenapa-kenapaa. Aku takut rumah sakit," ucap Abel disela isakannya.


"Kamu tenang, Alana pasti baik-baik aja. Dokter pasti menanganinya dengan tepat. Tenang dulu, kalau kamunya resah gini Alana juga jadi merasakan. Mass juga panik, tapi kita tunggu hasil dari dokter ya."


"Masss tapi Alana masih kecil, aku gak mau dia kesakitan kaya gituu. Maass aku harus gimana?" Abel semakin menangis, bagaimana tidak? Ini pertama kalinya Alana seperti itu. Tentulah dia overthinking.


Alano yang melihat Ibunya menangis mengikuti sang Ayah memeluk Abella meskipun hanya kakinya saja. "Mama jangan nangis, Alan jadi sediihh huaaa."


Abel mendengar itu tersadar kalau ada Alano yang juga masih kecil untuk memahami ini semua. Abel menggendong Alano dan duduk di kursi tunggu. Perlahan dia menyeka air matanya. "Alan jangan nangis, maafin Mama sayang. Mama panik, Mama gak nangis lagi kok."


Abel menyeka air matanya lalu mendekap Alano dengan erat. Tubuhnya gemetar, Abel selalu takut dengan rumah sakit sejak dulu dan sekarang Alana harus masuk ke rumah sakit. Perasaannya bercampur aduk, apalagi membayangkan tindakan apa yang dokter berikan pada Alana yang masih kecil seperti itu. Alana pasti kesakitan di sana, Abel merasa gagal menjaga anaknya kalau seperti ini.


Setengah jam berlalu, seorang dokter keluar dari ruang tindakan. Abel sedikit kaget, tapi yang terpenting sekarang adalah Alana.


"Alana harus dirawat beberapa hari untuk melakukan observasi lebih lanjut, keadaannya baik-baik saja sekarang. Dugaan sementara untuk sekarang adalah asma, tapi untuk lebih detailnya kita harus melakukan rontgen dan tes darah. Karena dari situ kita bisa tau apa penyakit Alana."


"Parah kah?" Tanya Abel.


"Untuk sekarang belum separah itu, Alana sudah baik-baik saja. Tapi memang perlu dirawat beberapa hari untuk mengetahui hasil observasi juga. Sudah bisa dikunjungi oleh Ibunya sekaligus menemaninya untuk mengambil sampel darah, setelah itu bisa dipindahkan ke ruanh rawat inap."


"Lakukan apapun, nanti saya urus semua administrasinya," ucap Gala.


Elzard mengangguk-nganggukan kepalanya. Saat Alana masuk ke dalam Elzard cukup kaget juga sebenarnya. Kebetulan dia dokter baru yang bertugas di UGD jadi Elzard yang menangani Alana.


Gala kaget sebenarnya melihat Elzard yang keluar dari ruangan. Tapi sekarang yang terpenting adalah Alana ditangani, jadi Gala tidak ada masalah dengan itu.

__ADS_1


Alana kini sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Gala sedari tadi tidak melepaskan Alano dari gendongannya. Sementara Abel sekarang menemani Alana yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan infus dan juga selang oksigen.


Sedih rasanya melihat Alana yang biasanya ceria dan bisa ke sana kemari sekarang hanya bisa terbaring lemah di rumah sakit. Apalagi Abel melihat sendiri kalau tadi Alana harus diambil sampel darahnya dan juga disuntikkan beberapa obat di tangannya. Rasanya pasti sakit sekali, bahkan Alana sampai menangis.


"Mama, tangan Ana sakit," adu Alana sembari menunjukkan tangannya yang diinfus dan beberapa suntikan bekas ambil darah dan obat suntik lainnya.


"Sakit ya? Jangan banyak gerak, Sayang. Sini mama cup-cup." Abel menciumi tangan Alana dengan lembut.


"Mama, Ana mau pulang engga mau di sini nanti Ana disuntik lagi, Ana takut," ucap Alana lagi.


"Ana gak boleh takut, kan Ana pemberani kan? Mana ada anak Mama penakut. Kan jarumnya kecil, tangan Ana lebih besar," ucap Abel.


"Tapi sakit, Mama. Ana engga suka disuntik, tadi Ana gak bisa napas. Ana nakal ya Mama jadina di bawa ke dokter? Ana engga mam es lagi deh Mama tapi Ana mau pulang. Boleh ya Mama?" Tanya Alana dengan wajah dengan wajah memelas.


"Engga, Sayang. Alana gak nakal kok. Cuma memang kadang Allah kasih sakit ke kita biar kita menjadi lebih kuat. Berarti Allah sayang sama Alana. Karena dengan sakit kita jadi banyak berdoa. Alana harus banyak berdoa ya biar cepet sembuh."


Abel memeluk Alana dengan lembut. Dia semakin tidak tega melihatnya, apalagi Alana sampai memelas begitu. Ada perasaan terluka saat melihat tatapan matanya. Gala memahami apa yang Abella rasakan, Alana jatuh saja dia panik apalagi sakit seperti ini. Tidak bisa dibayangkan bagaimana perasaannya sekarang ini. Belum lagi mereka baru selesai berbaikan.


"Sayang harus di sini dulu kata dokter beberapa hari kan biar sembuh, katanya mau jalan-jalan sama Papa sama Mama sama Kakak Alan?" Ucap Gala memberikan pengertian dan mendudukkan Alano di tepi ranjang Alana.


"Heem, iya papa. Tapi jangan lama-lama ya Papa. Ana engga suka di sini Papa," kata Alana.


Gala menganggukkan kepalanya seraya mencium kening anaknya itu dengan lembut. Memang dia juga tidak mau Alana berlama-lama di sini. Dia pasti akan melakukan apapun dan mencari perawatan terbaik agar Alana cepat sembuh.


"Alan ini sakit," kata Alana yang kembali menunjukkan tangannya yang diinfus pada Alano.


Alano mengusap puncak kepala adiknya dengan lembut dan meniup-niup tangan Alana. "Ana jangan nakal dulu ya, Alan udah tiup-tiup biar sakitna hilang."

__ADS_1


Abel tersenyum melihat tingkah mereka berdua, perasaannya sedikit menghangat kalau melihat sibling goals antara Alano dan Alana. Bahkan Alano tidak rewel saat Mamanya sibuk dengan Alana, dia malah justru bersikap dewasa dengan anteng di gendongan sang papa. Abel sangat beryukur dengan itu.


__ADS_2