
Abel dan kedua anaknya memasuki hotel. Alano dan Alana senang bisa ke sini lagi. Karena menurut mereka ini tempat yang bagus. Terakhir mereka ke sini waktu acara ulang tahun mereka yang ketiga tahun.
Alano dan Alana mengitari tempat ini, sementara Abel yang sudah berusaha mati-matian menahan air matanya kini runtuh juga, setetes air mata jatuh di pipinya. Bahkan dia sampai lupa kalau ada anak-anaknya di sini.
Alano dan Alana yang melihat Abel menangis langsung naik ke kasur dan menghapus air mata Ibunya dengan telapak tangan.
"Mama kok nangis?" Tanya Alana.
"Mama sedih ya papa susah temuin kitana?" Tanya Alano.
Abel mengangguk dan memeluk kedua anaknya. "Hmm, sedih tapi kita harus tetep sembunyi yaa."
"Mama jangan nangis, nanti Ana sedih liat mama nangis. Nanti papa temuin kita soalna papa pinter main kucing-kucingan." Alana tersenyum lalu mencium pipi Abella dengan lembut.
Abel mengangguk, dia tidak tau kalau Alano dan Alana tidak ada. Mereka adalah sumber kekuatan Abella dalam kondisi apapun. Abel menyeka air matanya dan menatap mereka berdua.
"Mama gapapa kok, Sayang. Alan sama Ana lapar?" Tanya Abel.
Mereka berdua mengangguk. "Yaudah kalau gitu mama mandi dulu, setelah itu kita ke bawah cari makan. Deal?"
"Deal!!"
"Yaudah kalau gitu Mama mandi dulu, kalian tunggu di sini. Jangan kemana-mana oke?"
Setelah memastikan tidak ada pintu yang terbuka, Abel bisa tenang mandi. Karena ya Abel membawa mereka cukup jauh meskipun di dalam kota yang sama. Tapi perjalanan ke sini ya bisa mencapai 3 jam lamanya. Jadi dia berkeringat dan tidak enak jika tidak membersihkan badannya terlebih dahulu.
Di sisi lain Raka dan Degas berusaha membuat kesadaran Gala kembali. Memang susah karena pria itu mabuk berat tapi bagaimana pun caranya mereka harus membuat Gala sadar karena mereka tau Abel tidak kembali ke rumahnya.
Degas tadi sempat mengikuti mobil Abella tapi dia terlalu pintar mengakali jadi Degas kehilangan jejak. Bingung sebenarnya jika berada di tengah-tengah Abella dan Galaxy seperti ini. Mereka berdua terkadang sangat bertolak belakang hingga bisa menimbulkan pertengkarannya besar.
Kalau kata mereka sih begini : Memang jarang bertengkar, tapi sekalinya bertengkar ya langsung bertengkar hebat.
Kurang lebih 3 jam mereka menyadarkan Gala, pria itu kini merutuki dirinya sendiri karena telah membentak Abella tadi. Dia sadar, tapi dia malah semakin kacau dan membuatnya kehilangan kesadaran.
__ADS_1
"Abel mana?" Tanya Gala sembari meringis karena kepalanya yang terasa pusing.
"Balik lah, lo bentak dia men!" Jawab Degas yang kini menghela napasnya.
Gala mendengar itu langsung menyambar kunci mobilnya, namun Raka menahannya. "Cari tau dulu keberadaan dia, dia gak balik ke rumah."
Gala membulatkan matanya. "Maksudnya?"
"Gue ikutin dia tadi, arahnya bukan ke rumah lo, mertua lo atau ke rumah emak lo. Dia pergi ke arah Selatan dan gue kehilangan jejak Abel."
""F*ck! gue bodoh banget!"
"Emang, baru sadar lo?" Kesal Raka.
"Lo selalu bilang kalau kenapa-kenapa komunikasi, tapi lo sendiri kalau apa-apa diem, kacau sendirian, kaget lah dia liat lo berantakan gini. Lo harusnya pikirin juga perasaan dia, Gal. Bukan sekali dua kali begini sama dia," timpal Degas.
Gala tidak menyangkal, mereka benar. Seharusnya dia bicarakan semua masalahnya pada Abel, bukan menyelesaikannya dengan cara begini. Niatnya ingin menjadi gentleman dengan menyelesaikan masalah sendiri, tapi jatuhnya dia pecundang karena melukai perasaan istrinya.
Gala mencoba menghubungi ponsel Abel, namun dimatikan. Kalau begini juga akan sulit dilacak keberadaannya. "Argghhtt gue harus cari dia ke mana?"
Namun memang tidak ada yang tidak mungkin kalau wanitanya adalah Abella. Dia kalau sudah berani ya sisi mandirinya bangkit. Pasti dia akan berusaha melakukan apapun untuk tetap bertahan.
Sebuah ide muncul di kepala Raka. "Smart watchnya Alano!"
Gala berpikir sejenak, Raka benar-benar pintar kali ini. Jam itu memang sengaja dia berikan pada Alano untuk bermain perang-perangan sebenarnya. Tapi ini berguna untuk sekarang.
Gala mencoba menghubungi Alano, memang akan lama karena Alano kadang berpikir terlebih dahulu dan benar saja diangkat!
"1 ... 2 ... 3 tes tes," ucap Alano dari sana.
"Terkoneksi komandan, sekarang posisi di mana komandan Alan?" Tanya Gala yang seolah memang sedang mengajak anaknya bermain.
Tidak ada jawaban, apa Abel mematikannya? Gawat kalau memang iya sudah pasti tidak ada kesempatan lagi untuk menghubungi Alano lewat jamnya. "Alan?"
"Papa kita engga main perang-perangan kata Mama, kita main kucing-kucingan. Papa harus cari Alan sama Ana sama Mama!" Kata Alano tegas.
__ADS_1
Gala menghela napasnya, begitu pun juga dengan Degas dan Raka. Bisa-bisanya Abel mengatakan kalau mereka bermain kucing-kucingan, akan susah jika sudah seperti ini. Mereka pasti juga tidak akan memberitahukan tempat persembunyian mereka.
"Aduh Papa nyerah, Sayang. Papa gak bisa temuin, ayok kasih clue, biar Papa cari kalian terus kalian menang," ucap Gala.
"Papa nyerah?" Tanya Alana sembari terkekeh karena mendengar ayahnya kewalahan mencari mereka.
"Iya Papa nyerah, kalah ajalah demi Alan sama Ana. Tapi jangan bilang ke mama, biar kita kalahin mama terus gelitikin ya? Sekarang di mana sayang?" Tanya Galaxy yang masih berusaha keras mengorek informasi dari anak-anaknya.
"Di hotel!!" Teriak mereka, yang memang tidak terdengar karena Abel sedang mandi. Jadi ada keuntungannya juga untuk Galaxy.
"Di hotel apa? Alan sama Ana tau gak hotelnya namanya apa? Atau cari barang dari hotel terus baca," perintah Galaxy.
"Alan sama Ana engga bisa baca papa," jawab Alana polos.
Gala menepuk jidatnya, kalau begini bagaimana cara mengetahui keberadaan mereka. Raka dan Degas juga jadi ikut bingung karena ya anak sekecil itu kalau dimintai keterangan ya terbatas. Ada-ada saja Galaxy meminta mereka membaca.
"Hotelnya kaya gimana?" Tanya Galaxy.
"Yang banyak robotna waktu tiup lilin!!" Jawab Alano antusias.
"Yang ada patung buaya berantem?" Tanya Galaxy yang sepertinya tau keberadaan mereka.
"Benar Papa!"
"Oke meluncur, jangan kasih tau Mama. Kita kagetin oke? Papa nanti sampai ke sana!"
Galaxy senang, dia sekarang tau harus menyusul mereka ke mana. Setelah mematikan sambungan tidak sia-sia memang memiliki anak yang pintar seperti Alano dan Alana. Sekarang dia bisa menemui Abel untuk meminta maaf dan membawa mereka pulang.
"Inget, jangan emosi lagi lo," peringat Raka.
"Iya, thanks yo."
Tanpa pikir panjang lagi Gala keluar dari ruangannya, kalau begini ya sudah menjadi tugas Raka dan Degas bertanggung jawab dengan ruangan Gala yang berantakan. Untung saja sahabat, kalau bukan sudah mereka maki-maki. Tapi lebih tepatnya mereka masih sayang pekerjaan karena bosnya adalah Galaxy.
Saat sampai di mobil, Gala berpikir sejenak. Jauh sekali Abel membawa anak-anaknya. Apa dia akan marah saat Galaxy menemuinya sekarang? Biasanya Abel perlu waktu, tapi menurut Gala ini harus diselesaikan hari ini juga. Dia tidak mau masalah ini berlarut-larut. Dia tidak mau jauh dari Abella dan anak-anak lebih tepatnya. Oleh karena itu tanpa peduli berapapun jaraknya Gala tetap pergi menyusul mereka.
__ADS_1