Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Menantu Idaman


__ADS_3


Abel menuruni tangga dan menuju dapur, terlihat mama mertuanya sedang terheran-heran dengan apa yang Abel beli. Dia kira menantunya itu belanja kebutuhan pribadinya, ternyata keperluan seisi rumah ini. Padahal dirinya saja tidak memikirkan hal itu.


"Eh mama. Kenapa, Ma? Ada yang kurang ya?" Tanya Abel seraya menghampiri ibu mertuanya itu.


"Untuk apa kamu beli semua ini, Sayang?" Tanya Dara yang keheranan dengan kelakuan menantunya itu.


Abel tersenyum dan perlahan mengeluarkan belanjaan satu persatu. "Kan mama bilang belum cari pembantu lagi, nah mulai sekarang gak usah, Ma. Biar Abel yang lakuin pekerjaan rumah."


Dara menghentikan pekerjaan Abel lalu menggenggam kedua tangan menantunya itu dengan lembut.


"Eh gak boleh gitu, kamu itu menantu keluarga ini. Mama menikahkan kamu dengan Gala untuk dijaga dan dirawat dengan baik, bukan menjadi pembantu rumah ini," ucap Dara lembut.


"Ma, bukan pembantu. Tapi itu memang udah kewajiban Abel sebagai istrinya Gala. Membantu mama walaupun cuma sekedar lakuin pekerjaan rumah itu harus bisa. Lagian bunda di rumah selalu bilang, kalau kita udah menikah harus bisa segala hal, jadi Abel harus lakuin itu dengan baik."


"Tapi, Sayang-"


"Ma, anggap aja selain Mama dan Papa Ghani memberi tanggung jawab sama Gala, Mama dan papa juga memberi tanggung jawab untuk Abel belajar mengurus rumah tangganya," ucap Abel sambil tersenyum dan berusaha meyakinkan Ibu mertuanya itu.


"Yasudah, tapi kalau nanti kamu butuh pembantu untuk membantu pekerjaan rumah bilang sama Gala aja ya, pasti Gala akan kabulkan," kata Dara seraya mengelus rambut Abel.


"Iya, Ma. Yaudah mama istirahat aja ya, Abel mau rapihin dulu belanjaannya sekalian coba masak buat makan malam," ucap Abel.


"Loh kamu bisa masak juga?" Tanya Dara yang tambah terkejut karena menantunya ini ternyata serba bisa.


"Bisa, Ma sedikit. Gak jago kaya bunda sih. Tapi bisa dimakan kok," jawab Abel terkekeh.


"Memang bundamu itu pintar mendidik anak ya. Tapi jangan lupa hati-hati, mama takut kamu kena luka bakar," peringat Dara.


"Iya, Ma aman." Abel pun mengacungkan jempolnya.


"Mama keluar dulu ya, hari ini mama ada arisan sampai malam. Tapi pulang ke rumah pasti mama langsung cicipi masakannya. "


"Iya siap, Ma. Hati-hati dijalan," ucap Abel sambil menyalami ibu mertuanya.


"Iya, Sayang. Gala, awas kamu jagain istrinya ya!" Peringat Dara yang melihat Gala turun dari tangga.


"Iya," jawab Gala singkat.


"Mama berangkat dulu, assalamualaikum," ucap Dara seraya bergegas pergi ke luar rumah.


"Waalaikumsalam," ucap keduanya.

__ADS_1


Di rumah ini sepertinya hanya tinggal mereka berdua. Kakak-kakaknya Gala entah sedang keluar atau sudah pulang dan papanya Gala yang juga entah kemana. Daripada sibuk memikirkannya Abel kembali melakukan aktivitasnya mengeluarkan isi belanjaannya.


Gala memindahkan pekerjaannya ke meja makan. Bukan apa-apa, tapi dia tidak yakin gadis itu dapat mengerjakan pekerjaan rumah seperti apa yang dia ucapkan pada mamanya. Pencitraan menurut Gala.


Abel yang merasa diawasi memilih bodo amat. Dia sibuk menata kulkas dua pintu yang megah itu. Menata kulkas adalah kegiatan yang dia sukai di rumah, karena melihat isi kulkas yang penuh membuatnya merasa bahagia.


"Lo butuh pembantu?" Tanya Gala sambil fokus pada pekerjaannya.


Tidak ada jawaban dari Abel, dia malas untuk merespon Gala. Bahkan dia masih kesal dengan sikap Gala di kamar tadi.


"Lo butuh pembantu?" Kini sedikit menaikan nada bicaranya agar terdengar oleh Abel.


Abel menghentikan aktivitasnya sejenak dan menatap ke arah Gala. "Lo ngomong sama gue?"


"Sama tembok!" Ketus Gala.


"Oh yaudah lanjutin lah, dikirain ngomong sama gue," ucapnya tanpa mempedulikan Gala lagi.


Gala mengusap wajahnya kasar, mengapa dia harus terjebak bersama gadis yang selalu membuatnya kesal?


Satu jam berlalu, Abel kini telah selesai dengan masakannya. Ayam kecap andalannya dan juga tumis sayuran. Setelah itu Abel menutup wajannya agar nanti malam bisa dihangatkan. Gala sedikit tergiur dengan aroma masakan Abel, namun dia terlalu gengsi jika harus terburu-buru makan. Jadi dia harus menunggunya sampai makan malam.


Dilihatnya Gala yang masih sibuk berkutat dengan pekerjaannya, tanpa mempedulikannya Abel bergegas ke atas untuk menata kamarnya dan Galaxy.


Setelah masuk kamar Abel menyalakan AC ruangan itu, tubuhnya berkeringat dan terasa panas karena belum mandi. Tapi sepertinya dia harus menunda dulu untuk mandi karena dilihatnya kamar ini masih berantakan. Dia lupa membereskan tempat tidur karena tadi terburu-buru.


Tapi meski begitu dia tetap membereskannya. Dari mulai merapikan tempat tidur, membereskan isi lemari dan menata baju-bajunya juga di sana. Setelah itu dia menyapu dan mengepel isi ruangan itu. Untung saja banyak barang elektronik di sini yang mempermudahkannya menyapu dan mengepel ruangan.


Terakhir tadi dia membeli meja lipat dinding untuk tempatnya belajar, dia tentu juga harus belajar dan tidak mau sampai berebut meja dengan Gala, lengkap dengan kursi dan rak dinding minimalis agar lebih praktis. Abel menata buku-bukunya di sana, lalu menyimpan laptop berlogo apel di atas meja sebagai pemanis.


Hampir 2 jam Abel membersihkan kamar itu akhirnya dia bisa tersenyum bangga. Ruangan ini sudah terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya. Ditambah meja belajarnya yang dia letakan di bagian yang sebelumnya kosong melompong. aa


Waktunya Abel mandi dan membersihkan tubuhnya. Dia sudah terlalu gerah karena keringat.


.


.


.


Setelah selesai mandi Abel melakukan skincare rutinnya. Tidak lupa memakai parfum dan mencepol rambutnya asal. Dia terheran-heran kenapa Gala bisa fokus sampai lupa waktu. Tidak heran kalau Gala tidak mengenali orang sekitarnya.


Meskipun marah tapi Abel harus tetap menyajikan makan malam. Sebenarnya dia sangat malas, tapi lagi-lagi sikapnya yang penurut pada bundanya tidak bisa diabaikan.

__ADS_1


Abel turun dan melihat Gala masih fokus memeriksa berkas-berkas di tangannya. Dia jengah melihat rutinitas pria itu, sangat membosankan. Abel mengambil segelas air dari dapur dan menaruhnya di samping laptop Gala.


"Lo kalau ngelakuin sesuatu bisa lebih rapi gak?" Tanya Abel yang melihat banyak kertas berserakan di atas meja.


"Gak, kenapa?" Tanya Gala balik.


"Mengganggu." Tanpa persetujuan Gala Abel menumpuk semua kertas yang berserakan di atas meja dan merapikannya.


Setelah itu Abel masuk ke dapur dan menghangatkan beberapa makanan. Setelah selesai dia menyajikannya di piring saji. Abel membawanya ke meja makan dan menata nasi serta lauk pauknya. Namun Gala sepertinya masih belum berniat untuk makan.


Abel duduk berseberangan dengan Gala, dia sedikit ragu mengambil makanan. Dia pernah dengar kalau suami belum makan maka seorang istri harus menunggunya makan dulu baru makan. Entah mitos atau fakta.


"Kalau nunggu Gala yang ada gue mati kelaparan. Lagian bunda gak pernah bilang soal larangan itu," batin Abel.


Abel mengambil nasi dan menaruh sepotong ayam beserta sayuran ke piringnya namun saat dia hendak akan menyuapkan makanannya ....


"Anggap aja mama sama papa kasih aku tanggung jawab buat mengurus rumah tangga," ucap gala datar dan tetap fokus pada layar.


Abel menatap pria itu tajam. "Ngeledek?"


"Bingung aja sih, liat suaminya belum makan malah makan duluan."


"Terus gue harus nunggu lo yang lagi fokus ngerjain pekerjaan gitu? Mati kelaparan yang ada," kesal Abel.


"Mengurus rumah tangganya," kata Gala mempertegas. Jujur saja perutnya sudah sangat lapar dan minta diisi oleh makanan. Tapi sekali lagi, dia gengsi.


"Errrght, harus gue ambilin?" Tanya Abel yang semakin kesal melihat sikap manusia yang ada di hadapannya ini.


"Pekerjaan gue banyak, tangan gue cuma dua, gue gak bisa berbagi tangan untuk menyendok makanan."


"Ya terus lo maunya gimana Tuan Galaxy Putra Alaric?!" Abel mengehela napasnya kasar, lama-lama dia bisa terkena hipertensi menghadapi Gala.


Gala membuka mulutnya. "Aaa."


Abel mengepalkan tangannya kuat seraya tersenyum lebar, amat lebar. Pria yang ada dihadapinya ini jauh lebih sulit dari menghadapi Ghazam yang tidak mau makan.


"Jangan ngada-ngada. Apa susahnya lo tinggal singkirin dulu pekerjaan lo sebentar terus lo makan."


"Susah," singkatnya.


Lagi-lagi Abel menghela napasnya kasar. Sambil mengatur emosinya dia pindah duduk di samping Gala. Mau tidak mau dia harus mengikuti keinginan pria itu. Kalau Gala sakit tentunya Abel juga yang harus turun tangan.


Abel menyendokkan makanan dan mengarahkan suapan pada mulut Gala. "Buka mulut lo." Dan Gala pun menerima suapan dari Abel.

__ADS_1


Sesekali Gala melirik Abel yang fokus pada piringnya. Sangat terlihat jelas kalau gadis itu sedang kesal. Namun Gala tidak peduli dan melanjutkan pekerjaannya. Satu yang harus Gala akui adalah : Masakan Abel enak.


"Ada enaknya juga punya istri," gumam Gala dalam hatinya.


__ADS_2