Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Pengganggu


__ADS_3


Malam ini Abel duduk di ranjang Gala sembari menyuapinya buah mangga, pria itu sangat senang jika diperhatikan seperti ini. Ditambah Jihan sudah tidak ada jadi dia bisa berduaan saja dengan Abel.


"Kata dokter besok sore kayanya lo bisa pulang," ucap Abel sembari menyuapi Gala lagi.


"Baguslah, gak betah juga di sini. Kaya orang sakit aja," balas Gala santai.


"Emang sakit bodoh, heran. Makan susah, disuruh minum banyak air juga susah," kesal Abel.


"Gue itu cuma ditusuk, Bel. Bukan penyakit dalam yang makananya harus diatur." Gala mengambil piring dari tangan Abel menaruhnya di meja. Daripada buah, Gala lebih ingin memeluk Abel.


"Besok kakek gue juga kesini, bisa habis kalau liat gue luka kaya gini. Pasti nyangkanya gara-gara taekwondo," ucap Abel.


"Nanti gue jelasin. Lagian harusnya beliau seneng karena cucunya bisa bela diri. Keren, gue aja gak nyangka liat lo kemarin bisa lawan preman." Gala tersenyum lalu mengelus pipi istrinya itu dengan lembut.


"Ya tetep aja, Gala. Kakek gue gak akan pernah suka sama itu. Lo tau sendiri gue masih ikut taekwondo aja karena sembunyi-sembunyi, iya kan?"


"Gak akan apa-apa, kan sekarang lo istri gue dan sebagai suami gue izinin lo buat melakukan apa yang lo suka. Selagi gak membahayakan diri lo, gue bakalan dukung. Jangan khawatir," ucap Gala menenangkan.


Abel tersenyum, dia sangat beruntung karena bersama Gala yang mendukung segala keputusannya. Terutama untuk ini, Abel rasanya senang sekali. "Makasih ya lo mau ngertiin gue."


Gala tersenyum lalu menarik Abel dan menjatuhkannya tepat di dada bidangnya. Menatap Abel seperti ini adalah kesukaanya dan tentu Abel tidak boleh mengganggu itu.


"Gala ini rumah sakit, kalau suster tiba-tiba masuk gimana?" Tanya Abel yang berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan Gala.


"Ya gapapa, orang kita udah sah ini. Mau lakuin yang iya-iya juga boleh aja, gak ada yang larang," ucap Gala santai.


"Jangan ngaco, lepasin yaa?" Pinta Abel.


Tidak ada jawaban dari Gala dia malah menciumi Abel. Dari mulai kening, kedua pipinya, hidung manis itu dan terakhir dia mengecup bibir Abel. Ah sialnya Abel malah tidak bisa berkutik kalau seperti ini.


"Mau cium lama ya?" Pinta Gala.


"Gak boleh, gue gak mau nanti ada yang - hmmph."

__ADS_1


Gala membungkam bibir Abel dengan bibirnya, merasakan benda kenyal itu menempel untuk beberapa saat. Persekian detik berikutnya dia mulai menyesap bibir bawah Abel dan menikmati rasa manisnya.


"Assalamualai-kum." Raka dan Degas langsung melongo saat melihat apa yang ada di hadapannya.


Abel dan Gala terkejut, sungguh Abel malu sekarang. Apa yang akan mereka pikirkan tentangnya? Abel yang sadar diri pun langsung melepas pelukan Gala dan mengambil tissue untuk mengeringkan bibirnya. Dia lebih memilih untuk ke sofa dan fokus pada ponselnya.


Abel berusaha menetralkan debaran jantungnya. Lagian kenapa mereka harus datang tiba-tiba di saat seperti ini, mau ditaruh di mana mukanya sekarang?


"Sial ganggu aja," kesal Gala.


"Ya maaf, kita kan gak tau kalau lagi ehem eheman," kata Degas.


"Lagian lo gituan gak tau tempat, sabar masih di rumah sakit," balas Raka.


"Mau di mana pun udah sah," tegas Gala.


"Iya deh yang udah sah. Gimana keadaan lu sekarang? Udah mendingan?" Tanya Raka yang kini beradu tos dengan Gala.


"Udah, besok sore udah boleh balik. Gue sama Abel kayanya harus izin beberapa hari, jadi belum bisa sekolah," ucap Gala.


"Udah gue urus sendiri, Gas. Lo lupa gue ketua yayasannya sekarang?"


"Oiya juga, yaudah suka-suka lo ajalah, Gal." Degas tertawa sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ahh gue jadi mau punya istri juga, sakit gini dikasih ciuman ya cepet sembuhnya, apalagi kalau istrinya cantik," ucap Raka sembari menggoda Abel yang terlihat masih salah tingkah di sana.


"Jangan godain istri gue, kasian. Cuma gue yang boleh," balas Gala.


Abel memilih untuk mengabaikannya, dia sudah benar-benar malu karena kepergok sedang ciuman dengan Gala. Ya walaupun mereka adalah teman-teman Gala sendiri.


1 jam Berlalu mereka mengobrol panjang lebar. Sementara Abel sudah menguap, rasanya dia mengantuk sekali. Seharian menjaga Gala membuat badannya pegal-pegal. Perlahan dia membaringkan diri di sofa, niatnya ingin memejamkan mata sebentar, tapi dia sekarang malah ketiduran sembari memegang ponsel di tangannya.


"Dion kabur, jejaknya gak bisa ditemuin sama polisi," ucap Raka.


"Sial, dia pasti belum jauh. Kok bisa kehilangan jejak? Gue gak mau tau, kerahin semua anak Lazaruz juga buat cari Dion, kali ini gue gak akan lepasin dia," tegas Gala.

__ADS_1


"Pasti, lagian kenapa dia bisa ngusik lo? Awalnya gimana?" Tanya Degas.


"Gue gak tau, tiba-tiba dia nyuruh preman buat hadang gue sama Abel. Dari situ baru gue serang, gak jelas motifnya."


"Agak aneh menurut gua, karena kita gak ada nyenggol atau bersinggungan sama mereka. Atau emang mereka mau ngulah aja?" Ucap Raka menyelidik.


Gala memikirkan ini sejenak, apa mungkin ada hubungannya dengan Abel? Dia masih belum menanyakan perihal Dion pada Abel. Apa benar perkelahian kemarin tujuannya adalah mengincar Abel?


"Intinya kalau dapet habisin!" Ucap Gala.


Degas melirik ke arah Abel, dia sedikit tersenyum melihat Abel tertidur. Sepertinya dia kelelahan, beruntung sekali Gala bisa menatapnya ketika tertidur seperti ini. Cantiknya dua kali lipat dari biasanya. Namun dia tersadar, dia tidak boleh seperti ini dan perlahan harus melupakan perasaannya pada Abel.


.


.


.


Setelah Raka dan Degas pulang, Gala baru teringat dengan Abel. Rupanya gadis itu sudah terlelap, perlahan dia turun dari ranjang dan membawa selimutnya. Meskipun masih terasa sakit, dia tidak tega membiarkan Abel tidur kedinginan di sana.


Gala mengambil ponsel Abel dan menyelimuti Abel dengan selimutnya, berharap gadis itu bisa tidur nyenyak malam ini. Gala sedikit menunduk dan mencium kening istrinya. "Selamat tidur."


Setelah selesai melakukan tugasnya, Gala kembali ke ranjang dan melihat isi ponsel Abel. Kini dia sudah tau password-nya karena memaksa pada Abel dengan alasan harus terbuka sebagai suami istri. Abel saja heran, padahal dia tidak akan selingkuh. Membalas pesan saja rasanya malas.


Gala melihat galeri milik Abel, ternyata dia sangat cantik jika ber-selfie sepeti itu. Banyak juga foto-foto estetik yang menampilkan Abel di dalamnya.


"Gue kira cewek kaya Abel gak suka foto, ternyata kalau foto malah lebih cantik daripada cewek yang narsis tiap hari. Untung istri gue," gumamnya.


Gala pun mengirimkan beberapa foto kepada dirinya sendiri. Untuk apa? Untuk dia jadikan wallpaper tentunya, gadis itu lebih menarik ternyata dibandingkan wallpaper nya sekarang yang hanya hitam polos.


Baru kali ini Gala merasakan jatuh cinta, ternyata jauh lebih gila dari apa yang orang lain katakan. Bahkan sekarang rasanya Gala sudah tergila-gila dengan istrinya itu. Abel yang masih cuek saja bisa membuatnya seperti ini, apalagi kalau Abel melakukan hal yang sama seperti apa yang dia lakukan.


Senyumnya meluntur ketika dia melihat nomor tak dikenal mengirimkan pesan ancaman pada istrinya. Kenapa Abel tidak menceritakan ini padanya?


Dia memfoto pesan itu dengan ponselnya. Dia harus menyelidiki ini secepatnya.

__ADS_1


__ADS_2