
Hari ini kelas XI IPA 1 dan IX IPA 3 disatukan dalam jadwal olahraga. Karena jadwal pertama kelas Gala, XI IPA 3 kosong dan memilih untuk ditarik ke jam pertama agar menghemat waktu.
Abel dan Gala dipertemukan dalam satu lapangan, mereka saling menatap namun tidak saling sapa. Seperti biasa, di sekolah mereka bukanlah siapa-siapa.
Jadwal materi hari ini adalah basket, mereka dibagi dalam beberapa tim untuk bertanding. Banyak diantara mereka bersorak saat tim Gala yang beraksi di lapangan. Pria itu memang multitalent. Anak pemilik sekolah, ketua genk motor, cukup pintar, ketua tim basket, sudah mapan karena pekerjaannya, yang terakhir dia tampan. Tidak heran banyak kaum hawa yang tergila-gila dengan pria itu, apalagi sekarang Gala jomblo.
Mereka mengetahui itu karena beberapa minggu ini melihat Jela yang memohon-mohon untuk balikan namun Gala menolaknya. Seperti tidak ada rasa malu, Jela terus melakukannya setiap hari.
"Makin tebar pesona lah kalau disorakin gitu. Pantes aja dia besar kepala," gumam Abel dalam hatinya.
Pertandingan tim Gala pun berakhir, terlihat di sana Jela yang sengaja datang ke lapangan untuk mencari perhatian Gala.
"Kamu cape, kasian keringetan. Minum dulu." Jela mengelap keringat Gala seraya memberikan sebotol minuman pada Gala.
Abel menatap ke arah Gala dan Jela, dia mencibir dalam hati meskipun Gala tidak merespon Jela. Cemburu? Tidak, Abel hanya geli melihat tingkah mereka berdua. Gala melihat Abel yang menatap ke arahnya, sontak gadis itu memalingkan wajahnya. Gala berpikir, apa gadis itu cemburu?
Kini giliran tim Abel yang bertanding. Seperti biasa, jika wanita yang bertanding pasti banyak drama. Entah teriakan si paling takut bola, atau keluhan dari si paling takut sinar matahari. Membuat pertandingan itu semakin seru karena melihat adegan dramanya.
Tapi tidak dengan Abel. Dia bekerja sama dengan Dinda dan berhasil memasukan beberapa bola ke dalam ring. Senyum puas terpancar dari sudut bibirnya bersama Dinda karena mereka unggul.
Beberapa pasang mata menatap kagum ke arah Abel, meskipun tidak sebanyak pengagum Gala. Termasuk Elzard si Ketua OSIS yang satu kelas dengannya, meskipun Abel pernah menolaknya dia masih memiliki perasaan terhadap gadis itu.
"ABELL SEMANGAT!" Teriak Degas.
"Gila Abel keren banget, udah cantik pinter main basket," gumam Raka.
Gala menatap tajam ke arah kedua temannya. Bisa-bisanya mereka memuji Abel di depan suaminya sendiri. Ingin rasanya Gala memberitahu semua orang kalau Abel adalah miliknya.
"Jangan liatin cewek kaya gitu, gak sopan," peringat Gala.
"Lo tau gak, Gal? Liat cewek keringetan itu bikin darah berdesir," sahut Raka.
"Apalagi kalau cantik," timpal Degas.
Gala hanya berdecak, kenapa rasanya kesal saat ada yang memuji Abel di depan matanya sendiri? Apalagi mereka berdua adalah teman-temannya. Gala pun hanya bisa meremas botol mineralnya.
__ADS_1
Tiba-tiba tubuh Abel terpental karena ditabrak oleh salah satu tim lawan. Badannya yang cukup besar mampu membuat Abel yang kecil jatuh ke aspal. Sakit namun Abel tidak ingin terlihat lebay jadi dia menahannya.
Namun dia segera bangkit dan pertandingan pun selesai. Tentunya dimenangkan oleh Abel dan kawan-kawan. Gala sontak ingin membantu Abel, namun tiba-tiba Elzard datang menghampiri Abel yang duduk di pinggir lapangan dan membawa kotak obat dari ruang UKS.
"Sini gue obatin, sorry," ucap El sambil menekuk lengan kiri Abel dan mengusapkan kapas yang sudah diberikan alkohol agar tidak infeksi.
"Gak usah, gue sendiri aja." Tolak Abel seraya mencoba mengambil kapas dari tangan El, namun pergelangan tangan kanannya ternyata terkilir, membuat gadis itu meringis. Mau tidak mau dia tidak bisa menolak Elzard karena Dinda takut darah.
Gala yang melihat itu rasanya ingin menggendong Abel dan mengobatinya sendiri, namun lagi-lagi dia tidak bisa. Akhirnya dia harus menahan kesal karena El yang membantu Abel.
Karena kesal Gala keluar dari lapangan dan memilih untuk langsung ke kelas, lagi pula kelas olahraga sudah selesai.
.
.
.
Pulang sekolah Gala meminta Abel agar menunggu di mobilnya. Karena tangannya terkilir, jadi dia tidak bisa menyetir dan meminta bantuan Gala.
Namun Gala begitu aneh, dari sekolah sampai di rumah dia mendiamkan Abel tanpa alasan yang jelas. Abel melirik Gala yang sedari tadi hanya diam dan tak ingin bicara padanya. "Lo kenapa sih, Gal?"
"Galaaa! Gue nanya loh?"
"Apa sih, Bell gue lagi ngerjain tugas," balas Gala.
"Ya lo gak jelas, diemin gue tanpa alasan. Kalau gue salah ya bilang, lo kesel karena gue minta nyupirin?" Abel yang kesal pun tidak dapat menahan emosinya.
Gala menghela napasnya lalu menghampiri Abel yang berada di kasur. Gala meraih tangan kanan Abel dan memijat pelan pergelangan tangannya.
"Lo tau gak rasanya kesal karena gak bisa bantuin lo tadi di lapangan dan akhirnya biarin orang lain yang nolong lo?"
"Gue ngerasa gak berguna cuma liatin lo tanpa berbuat apa-apa," lanjutnya.
"Gala gue gak kenapa-kenapa, lagian El cuma bantuin gue doang. Tadi gue juga nolak tapi tangan gue terkilir," jelas Abel.
"Gue tau, udah gue bilang gue cuma ngerasa gak berguna. Bukan cemburu," tegas Gala.
__ADS_1
"Gak ada yang ngira lo cemburu, gue cuma gak suka didiemin tanpa alasan yang jelas," kesal Abel.
"Kalau gue gitu ya udah diemin dulu, gue lagi ngontrol emosi biar gak marah atau bentak lo, Abella!" Gala memutar pergelangan tangan Abel ke kanan dan ke kiri, dengan satu hentakan dia menarik pergelangan tangan Abel hingga terdengar bunyi kriukk dari sana.
"AWWWW SAKIT GAL!" Teriak Abel yang kaget karena perlakuan Gala.
"Gerakin," perintah Gala.
Gadis itu hanya menurut, ternyata setelah itu rasa sakitnya berkurang. Sebagai ketua tim basket dia sudah terbiasa menangani masalah terkilir, itu kenapa sejak tadi dia gerah ingin melakukan itu agar Abel berhenti kesakitan
"Makasih," cicit Abel.
Gala mengangguk dan menatap gadis itu. "Bel pacaran yuk."
Sementara yang ditanya malah menyerngitkan dahinya tak mengerti. Pacaran bagaimana, mereka kan sudah menikah?
"Pacaran di sekolah biar gue gak ada pantangan apapun," ucap Gala memperjelas.
"Gak mau," tolak Abel.
"Kenapa gak mau?" Tanya Gala.
"Pertama gue gak suka jadi pusat perhatian, kedua lo juga baru putus dari Jela dan gue gak mau berurusan sama orang. Ketiga, lo aneh gak sih kalau orang yang tadinya aja gak saling kenal tiba-tiba pacaran, sadar aja lo 1 tahun lebih gak pernah liat gue di sekolah."
"Yaudah pdkt aja dulu ceritanya," ucap Gala yang merasa dirinya cerdas.
"Emang kenapa sih harus pacaran, Gal? Gue gak akan kenapa-kenapa. Luka dikit kaya gitu kan gak parah," balas Abel.
Memang benar tidak parah, namun yang dimaksud Gala bukan itu. Banyak alasan kenapa dia ingin mengklaim Abel adalah miliknya. Tapi dia gengsi untuk mengutarakannya pada gadis itu.
"Bel, bantah suami ada dosanya," peringat Gala.
"Ck, ya habis lo kenapa sih? Gue gak akan kenapa-kenapa gue janji terakhir kalinya bikin lo khawatir, gu-"
"Gue gak suka lo digodain sama temen-temen gue, puas?" Potong Gala cepat.
"Tanpa sadar lo itu jadi pusat perhatian cowok di sekolah. Lebih baik lo jadi pusat perhatian karena sama gue daripada kaya gitu."
__ADS_1
"Gala lo?"
"Gue udah suka sama lo, Abel."