
Bel rumah berbunyi, sudah pasti itu anak-anak mereka. Gala yang memang habis mandi langsung membukakan pintu sambil menggosok handuk pada rambutnya. Ya tentu juga karena Abella sedang mandi, jadi tugasnya yang membuka pintu.
"PAPAAA!!" Alano dan Alana langsung memeluk Gala, Gala tersenyum dan berjongkok sembari menciumi kedua anaknya yang menggemaskan itu.
Namun matanya tertuju pada Elzard yang kini ikut bersama Dinda dan juga Degas. Tatapannya beralih pada Degas dia hanya bisa menyengir kuda karena tidak tau harus menjelaskan apa pada Galaxy. Horor sih, apalagi Degas tau soal kemarahan Gala karena Elzard mengajak Abella makan siang kemarin.
Sebagai orang yang pernah menyukai Abella juga Degas cukup ngeri. Untung saja mereka berteman dekat dan lebih lagi Degas tau diri, berbeda dengan Elzard. Jadi Gala tidak pernah marah atau membatasinya datang ke rumah.
"Gimana seru mainnya?" Tanya Galaxy sembari mengusap puncak kepala kedua anaknya.
"Seru Papaaa!! Ante Dinda, Om Jomblo sama Om dokter baik!" Ucap mereka antusias. Iya mereka baik, saking baiknya mereka sampai kewalahan.
Gala melirik kepada wajah Dinda dan Degas, sepertinya mereka nampak tertekan. Ya dia langsung saja mempersilahkan mereka masuk, akan lebih jelas dan enak kalau mereka mengobrol.
Saat mereka memasuki ruang tengah, Abel keluar dari kamar dan sudah selesai mandi. Abel sangat cantik sih menggunakan dress berwana pink pastel itu apalagi dengan rambutnya yang diurai. "El?"
Elzard terkekeh saat melihat Abella yang nampak kaget karena kehadirannya. "Tadi gak sengaja ketemu."
Abel heran, maksudnya ya bertemu bisa saja tapi kenapa harus ke rumah? Baru saja Gala selesai dengan kecemburuan, eh sekarang mereka bertemu langsung. Terlihat jelas sih Gala yang mendadak terlihat dingin. Membuat jantung Abella berdebar kencang karena overthinking.
"Oh gitu." Abel terkekeh dan langsung mengampiri kedua anaknya.
"Happy?"
"I'm soo happy, Mama!" Jawab keduanya antusias.
"Yaudah karena udah malem, jadi kita bersih-bersih. Setelah itu makan malam dan minum susu, oke?"
"Oke Mama!"
Abel tersenyum, setelah itu dia berpamitan untuk membersihkan Alano dan Alana. Dinda juga memilih ikut dengan Abell daripada di tengah-tengah para lelaki ini. Jadi di sana tersisa Gala, Degas dan Juga Elzard. Meskipun penuh kecanggungan ya mereka mengobrol saja karena memang Abella mengajak mereka makan malam bersama.
Di sisi lain setelah membersihkan anak-anaknya, kini Abel memakaikan baju tidur mereka dengan rapi. Mereka sudah harum dan wangi, jadi Abell menyuruh mereka untuk ke bawah duluan.
Abel menatap Dinda. "Kenapa Elzard bisa ikut?"
"Anak lo gak bisa diem mon maap, tadi kita lagi main mereka ke food court sendiri cari makanan. Gue sama Degas sampai mau ke informasi karena mereka hilang. Terus ketemu Elzard, gue kira mereka morotin Om-Om taunya itu Elzard."
Abella melongo, kedua anaknya membuat masalah teryata hari ini, tidak habis pikir. "Ya terus kenapa di bawa ke sini? Gue baru baikan sama Gala gara-gara masalah Elzard," ucap Abel jujur.
"Anak lo tuh yang mau dianterin Om Dokternya," jawab Dinda.
Abel menghela napasnya, memang ada saja kelakuan Alano dan Alana. Tanpa mereka sadari kalau Om Dokternya mereka ini menjadi penyebab papanya menjadi serigala. "Haduh, pasrah deh gue kalau Gala sampe marah lagi."
__ADS_1
Dinda mengusap punggung Abella dengan lembut. "Sabar, hidup memang banyak cobaan kalau sedikit namanya cobain."
.
.
.
Mereka sedang makan malam, Abel dan Galaxy memang mengajak mereka makan malam bersama. Ya karena tanggung juga, meskipun Gala tidak nyaman dengan Elzard yang sesekali mencuri pandang ke arah istrinya.
Seperti biasa Abel akan mengalasi untuk anak dan suaminya dulu, setelah itu mengupas buah, baru dia mengambil untuk dirinya sendiri. Gala melirik ke arah Abella yang sedang mengupas buah dan menyendokkan makanan ke arahnya. "Makan."
Abel menatap ke arah Galaxy, maksudnya ya kenapa harus di suapi, dia akan makan sendiri nanti. Namun melihat tatapan Gala dia paham kenapa Gala melakukan ini. Jadi Abell menerima suapan dari Gala.
"Kamu belum makan dari tadi, nanti sakit," peringat Galaxy.
"Iya Mama harus mam nanti Mama sakit, nanti engga ada yang masak nugget enak buat Ana," ucap Alana.
"Benar, soalna nugget mama paling enak satu dunia!" Timpal Alan.
Abel terkekeh, memang paling bisa anak dan suaminya memujinya seperti ini. Dia kan jadi malu sendiri. "Iya-iya Mama makan, Sayang."
Gala menyuapkan makanan lagi pada Abella. Sementara yang lainnya tertegun melihat keluarga harmonis ini. "Oh begini ya rasanya liat keuwuaan dalam keadaan jomblo."
Degas terkekeh. "Lo baru liat sekarang, gue udah sering.".
"Ante gak boleh elo elo kata Mama gak baik!" Peringat Alano.
"Oh iya, Sayang. Maaf ya tante lupa," ucap Dinda.
Abel hanya terkekeh mendengar itu dan kembali mengupas buah. Sementara Elzard membatin sendiri. Bukan Degas yang kena mental, tapi sepertinya dirinya. Tapi dia hanya mengikuti alur saja di sini, hanya sesekali terkekeh dan kalau ditanya ya menjawab.
"Udah lama jadi dokter, El?" Tanya Dinda.
"Belum jadi dokter, masih intership. Beberapa bulan lagi baru bisa jadi dokter," jawab Elzard.
"Oh gitu ya, keren juga jadi dokter. Dikirain bakalan jadi ketua DPR karena dulu Ketua OSIS," kata Degas asal.
"Engga, emang saya lebih minat ke kedokteran. Biar bisa menyelamatkan orang banyak," ucap El.
Abel terhenyuk mendengarkan pernyataan Elzard. Kalimat yang pernah dia ucapkan waktu dulu saat di perpustakaan. Dulu Abel memang bercita-cita menjadi seorang dokter. Tapi ya karena menikah dia harus menunda dan akhirnya dia mengambil kuliah management kemarin. Itu ya agar mudah saja sembari menjaga Alano dan Alana.
Elzard dan Abel saling menatap, namun dengan cepat Abel memutuskannya. Elzard tau kalau Abel terkoneksi dengan perkataannya. Karena sejujurnya memang Elzard berpikiran menjadi seorang dokter karena Abella. Gala melirik ke arah Abella, ada sesuatu yang nampaknya mengganggu pikirannya, mungkin akan tanyakan saat nanti mereka sudah pulang.
Beberapa jam berlalu, setelah selesai makan malam mereka langsung pamit pulang dan Abella juga langsung membuatkan susu untuk kedua anak kembarnya dan menidurkan mereka.
__ADS_1
Abella turun dari lantai dua dan menuju ke kamarnya da Galaxy. Terlihat Galaxy sedang fokus dengan iPadnya mengecek beberapa pekerjaan dan grafik keuntungan perusahaan. Abel tersenyum lalu naik ke atas kasur dan menyender di lengan Galaxy.
"Mas, udah kerjanya." Abel menutup layar iPad Galaxy dan menatapnya manja.
Gala tersenyum dan mengangguk. Setelah itu dia menutup iPad miliknya dan menaruhnya di nakas. "Udah, Sayang."
Gala membawa Abel dalam dekapannya dan menciumi bibirnya dengan lembut. "Mau manjaan ya?"
Abel mengangguk. "Kamu gak marah lagi, kan?"
"Engga, Sayang. Lagian anak kita buat masalah ternyata hari ini," kata Gala.
"Aku juga pusing mereka aktif banget, tapi tadi aku udah bilangin buat gak kaya gitu lagi," ucap Abell.
"Gak dimarahin kan anaknya, Baby?"
"Engga, aku cuma bilangin aja. Gak marah-marah, Sayang." Abel mengusap lengan suaminya lembut, ya memang perlu sih membicarakan hal-hal seperti ini. Agar mereka juga searah dalam mendidik anak-anak mereka.
"Tadi kenapa Elzard liatin kamu kaya gitu?" Tanya Gala.
"Ya gak tau lah, Mas. Kan dia yang liatin aku?"
"Tapi kamu juga jadi aneh."
"Yang mana?"
"Waktu bahas dia kenapa pingin jadi dokter."
"Mau aku jujur?"
Gala mengangguk dan menatap Abella. "Kenapa hm?"
"Alasan Elzard itu, kata-kata yang pernah aku ucapin ke dia waktu dulu. Karena aku dulu pingin jadi dokter, dia dulu gak kepikiran jadi dokter sebenernya. Gatau kenapa sekarang jadi dokter."
"Tapi kamu jangan marah, itu aku bilangnya waktu masih sekolah."
Gala mengeratkan pelukannya dan menciumi puncak kepala Abella dengan lembut. "Gak marah, ya bagus artinya kamu memotivasi seseorang. Tapi kamu nyesel gak menikah sama Mas dan harus relain cita-cita kamu?"
Abel menggeleng. "Kenapa harus nyesel? Menikah sama kamu emang pilihan orang tua sama kakek aku. Tapi menjalani pernikahan sama kamu sampai sejauh ini kan keputusan aku. Buat apa aku nyesel?"
"Tapi kamu pernah bilang cita-cita kamu itu prinsip kamu."
"Prinsip itu bisa berubah dan kalau jadi lebih baik itu gapapa, Mas. Aku menjalani ini sama kamu dan aku bahagia. Aku, gak akan pernah menyesali hal-hal yang bikin aku bahagia. Aku gak menyesal relain cita-cita aku jadi dokter demi jadi Ibu dari anak-anak kita."
"Makasih ya, makasih karena udah berkorban banyak untuk keluarga kecil kita. Mas janji untuk terus bahagiain kamu sama anak-anak."
__ADS_1
"Iya, Mas sama-sama. Stay with me until game over."
Gala mengangguk dan mencium bibir Abella dengan lembut. Dia bahagia sekali memiliki istri yang pengertian seperti Abel. Dia bisa menjadi egois, tapi dia tida melakukannya dan Gala bangga pada istrinya.