Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Kenapa Tidak Cemburu?


__ADS_3


Jihan masih menatap adiknya yang kini fokus pada ponsel, tidak ada percakapan karena sejak tadi mereka asik bicara sampai kehabisan topik.


"Lo ngapain kirim ini di gc keluarga?" Tanya Gala dingin.


"Mama mau tau perkembangan kalian, mereka baru bisa berangkat siang ini karena gak ada tiket. Nyampe juga paling besok. Mama itu berharapnya kalian udah deket, karena khawatir kalian berantem di rumah," jelas Jihan.


"Udah deket, gak perlu lapor-lapor gini." Gala paling tidak suka jika dia digoda seperti itu.


"Jadi kalian udah deket? Roman-romannya bisa kali ya gue punya ponakan gemes dari kalian, biar Cia ada temennya," ucap Jihan asal.


"Jangan nanya, tau-tau ada aja nanti 11 anak," jawab Gala santai.


Abel membulatkan matanya, 11 katanya? Enak saja, 1 anak saja Abel sudah stress memikirkannya apalagi 11? Memang Gala kalau bicara suka asal, kalau tidak ada kakak iparnya, sudah habis kena omel dia oleh Abel.


"Iya kan, Bel?" Tanya Gala sembari menatap Abel.


"Jangan ngaco, sekolah dulu!" Jawab Abel sembari menahan kesal.


"Lo harus tau, yang galak di rumah itu bukan gue. Tapi Abel." Gala mengadu pada kakaknya.


"Gimana gak galak kalau-"


Tiba-tiba seseorang masuk dengan tergesa dan langsung memeluk Gala tanpa melihat ada Jihan dan Abel di sana. "Gala, Sayang, kamu gak kenapa-kenapa, kan? Kenapa kamu bisa kaya gini?"


Abel menyerngitkan dahinya saat melihat Jela yang masuk tiba-tiba, sementara Jihan tampak syok dengan kata-kata yang keluar dari gadis itu. Pacar katanya?


"Eh ada kak Jihan, maaf kak aku gak liat. Aku keburu khawatir sama Gala saat tau Gala ada di sini," ucap Jela sambil bersalaman dan cepika-cepiki pada Jihan.


"Kamu?"


"Iya, Jela. Pacarnya Gala, maaf aku baru bisa kesini," kata Jela sopan.


"Mantan," ucap Gala.

__ADS_1


"Kamu gak boleh gitu, aku tau kamu masih marah tapi jangan kaya gitu."Jela menggenggam tangan Gala sembari melirik sinis kepada Abel yang ada di sana.


Abel sih biasa saja, lagi pula dia tidak pernah takut pada Jela. Jihan langsung menarik tangan Abel ke sofa. Dia nampak kesal melihat gadis asing yang bersikap begitu, sangat tidak sopan. Abel menurut saja dan membiarkan Jela duduk di kursi yang tadi dia tempati.


Jela nampak heran melihat kedekatan Jihan dan juga Abel. Apa mereka sudah sedekat itu? Pikirnya, tapi dia tidak peduli. Yang terpenting dia bisa melihat Gala sekarang.


"Kurang ajar ya si Gala, tenang nanti kakak kasih pelajaran," ucap Jihan berbisik.


Abel tersenyum dan malah menenangkan kakak iparnya itu. "Gapapa kak, gak usah. Lagian Gala gak nanggepin."


"Tetep aja kesel gitu loh bawaannya," kesal Jihan.


Abel hanya terkekeh saja melihatnya, lebih baik dia mengemil saja daripada melihat Jela dan Galaxy. Gala melihat ke arah Abel yang nampak cuek dan tidak ada respon apapun, malah dia sedang asik memakan chiki sambil menonton drama korea bersama kakaknya.


"Kamu makan ini ya, aku sengaja beliin buat kamu biar cepet sehat. Ayok bukan mulutnya," pinta Jela sebari mendekatkan buat anggur ke bibir Gala.


Gala hanya mendengus kesal melihat tingkah Jela. Gadis itu begitu berisik, meskipun dia sudah diusir beberapa kali tetap saja dia tidak ingin beranjak dari sana. Dia tidak butuh Jela, dia hanya ingin Abel.


"Bel, suapin. Mau itu," pinta Gala saat Abel akan menyuapkan dimsum ke mulutnya.


Abel mengangkat bahunya, yasudah lagi pula bukan dia yang mau. Tapi Gala sendiri yang memintanya. Abel kembali bersantai menikmati camilannya dan sesekali bercengkrama dengan Jihan.


"Siapa sih big mousenya, kesel dari kemarin nebak gak ada yang bener," celoteh Jihan.


"Sama, Kak. Tapi aku curiga sama asisten kepala sipirnya deh. Kalau misalnya dia bukan big mouse, bisa jadi kaki tangannya gak sih, Kak? Soalnya dia screen timenya banyak," balas Abel.


"Bener! Aku juga curiga sama dia, parah ini film," ucap Jihann sembari fokus pada iPad bersama Abel.


Gala menghela napasnya, kenapa dia malah terkacangi oleh kedua gadis itu dan terjebak bersama Jela? Dia harus memikirkan cara agar Jela pulang secepatnya dari sini. Dia ingin memeluk Abel rasanya sekarang juga.


"Ayok, makan. Biar kamu cepet sembuh, emang kamu mau lama-lama di sini? Sedikit aja ya, biar aku tenang kalau liat kamu udah makan. Makan ya?" Bujuk Jela.


Gala akhirnya dengan pasrah menerima suapan dari Jela. Dia ingin tau saja bagaimana respon istrinya saat melihat itu. Abel melihat sekilas, Gala nampak tersenyum dibayangi oleh ekspetasinya. Namun dia terjatuh dari udara saat melihat Abel yang kembali fokus pada iPad kakaknya.


Kenapa Abel begitu cuek saat suaminya sendiri didekati oleh wanita lain? Benar-benar gadis aneh, Gala menjadi kesal sendiri dibuatnya. "Mending lo pulang aja."

__ADS_1


"Apasih aku gak mau!" Tegas Jela.


"Pulang!" Tegas Gala, jujur saja jika sudah seperti itu nyalinya menciut. Dengan kesal dia pun menghentakkan kakinya dan keluar dari kamar inap Gala.


"Abella," panggil Gala.


Abel melirik ke arah Gala, dia melihat kejadian barusan tentunya. Tapi dia tidak ambil pusing, Abel pun menghampiri Gala dan menatapnya.


"Apa?" Tanya Abel lembut.


"Kok lo gak marah liat gue dideketin sama cewek?" Tanya Gala yang sangat jelas sekali terlihat kesal.


"Ya terus gue harus gimana? Harus jambak-jambakan sama Jela atau pelintir tangannya dia lagi? Lagian juga gue tau dia yang deketin lo, jadi kenapa gue harus marah? Buang-buang waktu aja." Ucapan logis dari seorang Abella.


"Abella Gracia Alaric!"


"Kenapa sih, Gal? Emang gue salah?"


Gala hanya diam, dia tidak ingin emosi pada Abel. Dia kira Abel akan posesif padanya seperti istri pada umumnya, namun apa yang dia dapati? Gadis tidak peka.


"Yaudah, lo mau apa manggil gue?" Tanya Abel.


Gala masih diam dan malah membuka ponselnya tanpa mempedulikan Abel. Jihan yang melihat itu sedikit tertawa geli. Ternyata benar kata Abel, kalau Gala memang sosok yang berbeda jika bersama istrinya.


"Kalau Gala marah biarin aja, nanti juga sembuh sendiri. Mending lanjut nonton aja daripada bujukin yang gak mau," ucap Jihan sembari menepuk sofa di sebelahnya.


Abel tersenyum dan mengangguk, namun Gala menahan lengan Abel. "Gak boleh, dia istri gue."


"Tadi cuekin istrinya, giliran gue pinjem malah ditahan. Heran, lo itu maunya apa loh, Dek?" Tanya Jihan tak mengerti.


"Brisik." Gala menuntun Abel agar duduk di ranjangnya, setelah itu dia menaruh tangan Abel di kepalanya agar dielus.


Abel menggelengkan kepala melihat tingkah Gala yang seperti ini. Memang pria ini susah ditebak apa maunya. Tidak hanya itu Gala kini menggenggam tangan Abel yang lainnya dan dia taruh di dadanya. Sesekali Gala menciumi tangan gadis itu. Dia tidak suka didiamkan oleh Abel, dia mau dimanja seperti ini.


Jihan menghela napasnya, memang sedikit aneh melihat sifat clingy Gala saat ini. Karena dia tau bagaimana Gala sudah dipaksa dewasa sejak dia masih kecil. Dia jadi merasa senang Gala menemukan Abel yang perhatian padanya. Meskipun Jihan juga tau tentang Abel, tapi dia yakin gadis itu bisa memenuhi apa yang tidak pernah Gala dapatkan selama ini. Semoga itu berlangsung lama sampai mereka menua nanti. Bahkan sepertinya Gala dan Abel jauh lebih menarik sekarang daripada drama koreanya.

__ADS_1


__ADS_2