
Hari ini keluarga besar Abella dan Gala akan mengadakan syukuran 4 bulanan untuk kehamilan Abella. Acara di selenggarakan di kediaman keluarga Alaric. Acaranya cukup besar untuk ukuran pengajian. Ya tidak heran juga karena mereka menyambut cucu dari anak bungsu mereka.
Semuanya sudah sibuk sejak tadi pagi, beginilah Abel jika berada di rumah mertuanya. Sudah minum susu, makan, sekarang dia diberi lagi buah-buahan. Katanya agar lebih sehat. Dia juga tidak diperbolehkan untuk membantu apa-apa karena takut kelelahan.
Pokoknya dia benar-benar dijaga dan dimanjakan di sini. Padahal menurut Abel dia sehat-sehat saja. Dia tidak banyak keluhan juga, mungkin karena sudah pernah merasakannya dan sudah terbiasa jadi dia tidak terlalu banyak mengeluh.
"Makan sekali lagi aaaa," kata Gala sembari mengulurkan tusukan melon pada Abella.
"Mas aku kenyang banget, ini kata dokter Galen juga aku harus diet loh. Liat anaknya tambah besar, padahal baru 4 bulan."
"Loh bagus kalau anaknya berkembang, Sayang. Itu artinya dia sehat, daripada kaya kehamilan kemarin kamu susah makan sampai harus minum beberapa vitamin dan suplemen. Ayok makan lagi," kata Gala.
"Sekali lagi aja ya, aku mau dandan ini. Masa ke bawah nanti aku gak dandan." Abel menerima suapan Gala dan mutlak kalau itu adalah terakhir. Membuat Gala menghela napasnya, padahal menurut Gala istrinya baru makan sedikit.
"Yaudah, tapi nanti siang makannya lebih banyak."
Abel mengangguk saja, lebih baik dia iyakan aja dulu. Urusan nanti ya biar nanti saja. Karena pasti Gala akan marah jika dia tidak menurut. Setelah memakai gamis berwarna putih Abel memoles wajahnya dengan make up tipis, sementara Gala ke bawah sebentar untuk mengecek beberapa persiapan.
Abel senyum-senyum sendiri di depan kaca, melihat dirinya menggunakan hijab. Sepertinya dia cocok juga memakai hijab. Tapi memang selama ini dia memakainya ya hanya saat ada acara-acara seperti ini.
Dia memasak aksesoris simpel untuk mempercantik penampilannya. Dirasa telah rapi dia berbalik dan menyusul Gala keluar, namun sebelum dia membuka pintu, ternyata Gala lebih dulu yang membukanya.
Untuk beberapa saat Gala terpaku melihat Abella yang nampak cantik menggunakan hijab seperti itu. Membuat Abell sedikit merapikan penampilannya karena ditatap seperti itu oleh Galaxy. "Make up aku ketebelan? Atau gak rapi? Bentar aku-"
"Engga, Sayang. Kamu cantik banget, aku sampe pangling liatnya. Yaudah ke bawah yuk, acaranya udah mau dimulai," ucap Gala sembari mengulurkan tangannya pada Abella.
Abel pun tersenyum lalu menerima uluran tangan Galaxy dan mengikutinya keluar kamar. Tuh kan apa yang Abel bilang, baru saja dia jalan beberapa langkah menuruni tangga, Gala sudah menawarkan gendongan padanya. Membuat Abel menghela napas karena menurutnya berlebihan.
__ADS_1
Banyak orang yang datang ke sana sebagai tanda rasa syukur dan juga turut bahagia untuk kehamilan menantu keluarga Alaric. Abella nampak turun dari tangga dan ditemani oleh Galaxy. Kehamilannya sekarang nampak sehat, karena banyak makan dia merasa kalau bayinya tumbuh dengan baik di sana. Dokter juga bilang kalau memang beratnya ideal, namun harus tetap dipantau agar tidak berlebih.
Nia menatap anak dan juga menantunya, apalagi dia senang melihat Abella yang nampak cantik dengan hijab, aura ibu hamilnya terpancar. Dia merasa kalau cucunya pasti perempuan, karena katanya kalau seorang ibu mengandung anak perempuan pasti akan semakin cantik.
"Pelan-pelan jalannya, Sayang," peringat Gala dan membantu Abel untuk duduk.
Abel mengangguk pelan, dia merasa kalau untuk duduk saja sudah kesusahan sampai napasnya terengah. Sepertinya dia memang harus diet, perutnya juga mendadak terasa keram.
"Mass, perut aku keram," ucap Abel setengah berbisik.
Gala melirik ke arah istrinya itu, apa karena pernah mengalami keguguran ya jadi Abell sering sekali merasakan keram pada perutnya. Dia sedikit khawatir, dengan lembut dia mengusap perut Abella. "Sayang, jangan bandel ya. Kasian mamanya sakit tuh, oke?!"
Setelah itu Gala mengecup perut Abella dengan lembut dan ya itu seperti obat mujarab bagi Abell karena sakitnya menjadi berkurang. Dia juga harus bisa mengikuti acara ini sampai selesai.
Katanya ketika janin berusia 4 bulan, dalam agama islam sudah ditiupkan ruh kedalamnya. Jadi selama pengajian dia terus mengelusi perutnya agar semua doa yang datang bisa teraminkan.
"Mas kayanya anak kita nyaman denger yang ngaji, jadi anteng," ucap Abel tersenyum.
"Emang papanya manja." Abel ikut terkekeh lalu menatap Gala.
Tiba-tiba Cia datang menghampiri mereka berdua dan duduk di pangkuan Gala tanpa dosa. Abel hanya tertawa melihat kedekatan Gala dan keponakannya itu.
"Oom, itu di pelutna Ante ada bayina?" Tanya Cia pada Gala.
"Iya ada, nanti kalau adeknya lahir temenin ya sama Cia?" Tanya Gala.
"Boleh diajak main lali-lalian?" Tanya Cia lagi.
"Hah, lali-lalian apa?"
__ADS_1
Abel terkekeh mendengar percakapan mereka. "Lari-larian, Sayang."
"Oh lari-larian, boleh kalau adeknya udah bisa lari. Kalau baru lahir bolehnya disayang-sayang aja," jelas Gala.
"Bole dipegang nda kalau sekalang Oom?"
"Boleh dong, pegang lah. Elus-elusin perut tantenya, kasian lagi sakit. Adeknya main bola di dalam perut tante," ucap Gala.
Dengan gemas Cia berjongkok di depan Abel lalu mengelus-elus perutnya dengan pelan, sesekali dia terkekeh. Mungkin gemas karena ada seorang manusia kecil di dalam perut.
"Oom boleh nda adekna dipindahin ke perut Ibund Cia?" Tanya gadis kecil itu.
Gala dan Abel tertawa mendengar permintaan keponakannya itu. Cia memang sedang aktif-aktifnya dan banyak bertanya. Tentu rasa ingin tahunya juga besar. Jadi tidak heran dia meminta atau bertanya seperti itu.
"Gak bisa, Sayang. Bayinya gak mau jauh dari Ante. Maunya di sini aja, bayinya pemalu. Jadi gak bisa dipindahin," ucap Abel setengah berbisik.
"Cia sini deket ke Om," pinta Gala sembari mengulurkan tangannya pada Cia.
Cia dengan patuh mendekat pada Gala. Dengan gemas Galaxy memeluk Cia lalu membisikkan sesuatu di telinga anak kecil itu. Cukup lama, namun setelahnya mereka beradu tos dan Cia tiba-tiba berlari ke arah Ibunya dengan wajah ceria.
"Ibund, Ayah. Kata Oom gala bikinin Cia adek, Cia mau adekk. Ayokk Ibund bial kaya Ante Abel," teriak Cia sembari menarik-narik baju Ibu dan Ayahnya.
Abell melongo menahan tawanya. Sementara Jihan menatap adiknya itu dengan kesal, sungguh Galaxy yang sekarang menyebalkan sekali. Malu Jihan ditagih adik di depan banyak tamu. Bahkan Cia sampai merengek, al hasil harus digendong untuk ditenangkan karena ingin membuat adiknya sekarang.
Gala yang merasa ditatap seperti itu lalu bersembunyi di belakang Abel sambil tertawa. Tak habis pikir Abel pada suaminya. "Nakal ih kamu, Yang. Kasian kak Jihan mukanya merah gitu. Cia kiranya kaya bikin donat tuh makanya nangis."
"Gapapa, kasian Cia juga butuh adik. Masa kalah sama junior kaya kita. Kita udah mau punya anak kedua," kekeh Gala.
Abel tertawa dengan kelakuan Gala yang seperti anak kecil. Tapi dia senang sih, Galaxy lebih dekat sekarang dengan keluarganya. Bisa diajak bercanda juga. Itu tandanya dia sudah berubah dan sembuh dari luka masa lalunya.
__ADS_1
Dia berharap kedepannya akan seperti itu. Ini juga menambah pelajaran untuk Abel yang akan menjadi seorang Ibu. Agar kelak dia tidak melewatkan moment-moment emas anaknya dan harus selalu ada. Agar dia tumbuh menjadi anak yang hangat meskipun memiliki genetika ayahnya yang dingin dan cuek pada sekitar.