Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Sebuah Dendam


__ADS_3


Seorang wanita turun dari mobilnya, dia kembali setelah satu tahun ini menghindari kota ini. Tiba-tiba seorang pria muncul dari belakang, menatap gadis yang masih terdiam di tempatnya. Tujuan dia kembali adalah menuntaskan apa yang sudah dia rencanakan, balas dendam, sakit hati, obsesi. Semuanya seolah bersatu padu dalam dirinya.


"Kenapa?"


"Gue udah bantu pelarian lo kemarin, sekarang waktunya kita jalanin rencana buat tuntasin balas dendam sama cewek gak tau diri itu."


"Jela Jela, kita baru sampai. Chill, jangan terburu-buru. Sebuah rencana besar harus dipikirkan dengan matang. Kita tunggu waktu yang tepat buat lakuin semuanya."


"Yon! Gue gak bisa nunggu, gue gak suka. Pokoknya cari waktu yang tepat, jangan sampai juga penyamaran lo terbongkar! Karena lo masih berstatus buronan!" Peringat Jela.


"Iya."


"Tapi inget, jangan lo lukain Gala. Gue cuma mau kasih peringatan dan pelajaran buat cewek gak tau diri itu biar dia tinggalin Gala. Mau lo apain gue gak peduli. Yang penting Gala jadi milik gue."


Dion terkekeh. " Lo masih terobsesi sama Gala? Bahkan kalau Abel tinggalin dia lo dapet bekasan. Apasih istimewanya Gala? Padahal gue mau habisin keduanya."


"Staph it! Gue udah bantuin lo selama ini, kalau lo lukain Gala gue gak akan pernah bantuin lo lagi!"


"Gak janji, urusan gue juga sama Gala dan bukan sama cewek itu doang," ucap Dion.


"Gak peduli, sedikit aja lo lukain dia gue laporin ke polisi kalau sekarang lo ada di Indonesia, di sini!" Ancam Jela.


Dion Abiseka, satu tahun lalu berhasil melarikan diri dari kota ini berkat bantuan sepupunya. Dendam masa lalu yang mengharuskannya ke pusat rehabilitasi, menimbulkan kebencian tersendiri pada Abella yang berusaha dia lecehkan sewaktu SMP. Dion mengalami penyiksaan oleh beberapa oknum dan menjadikannya hidup bagai di penjara dan pertemuan terakhirnya dengan Abell membuatnya menjadi buronan. Dia harus membalaskan dendamnya dan juga Jela. Kali ini akan dia pastikan kalau semua rencananya berjalan dengan lancar.


Sementara Jela dia menyimpan kebencian karena kalah karena Abel. Setelah malam itu orang tuanya mengasingkan dirinya ke London. Bisnis ayahnya terancam bangkrut karena rugi miliyaran rupiah. Jela tidak akan melupakan hari itu.


Seorang wanita keluar dari rumahnya, melihat putrinya yang kini sudah pulang. Wanita itu memeluk dan menciumi putrinya. Dia sudah lama dipisahkan dengan putrinya karena hukuman dari suaminya. Kini dia senang karena putrinya sudah kembali. "Jela, sayang. Mom rindu sekali sama kamu."


Jela membalas pelukan ibunya. "Mom, i miss you too so much. Jangan biarin papa terbangin aku ke London lagi. Aku mau di sini aja."


Sena - ibunya mengangguk. "Iya sayang, makanya setelah ini kamu jangan bertindak gegabah lagi ya. Berubah ya, Nak? Agar Mom juga selalu bisa bela kamu."

__ADS_1


Jela mengangguk paham. Dia memang tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Tapi memberi pelajaran kecil tidak akan berakibat fatal kan? Apalagi dia hanya ingin bermain-main. Dia pastikan semuanya akan berjalan lancar tanpa berimbas lagi padanya.


Setelah perbincangan itu mereka semua masuk ke rumah, untuk sementara Dion akan tinggal di sini dulu jika memungkinkan nanti Jela akan membantu membelikan apartemen untuk Dion.


.


.


.


Usia kehamilan Abella kini sudah menginjak 4 bulan. Hari-harinya kini tidak terlalu kesepian saat Gala kerja. Dia rutin mengajak bayi di dalam kandungannya berbicara. Seperti sekarang, dia sedang duduk di sofa yang menghadap ke jendela besar, menikmati butiran hujan yang jatuh sembari berceloteh dengan anaknya.


Abel mengelus-elus perutnya yang kini sudah terlihat membesar. "Sayang hari ini hujan, kamu tau hujan? Hujan itu air yang turun dari langit. Kayanya kamu bisa liat dari surga sana ya? Mama suka banget liat hujan, karena hujan mengajarkan kita untuk selalu kuat. Dia rela jatuh berkali-kali ke bumi tanpa pernah membenci langit, dia kan selalu kembali ke sana."


"Kalau kamu udah lahir, kamu harus jadi orang yang seperti itu ya, Sayang. Harus jadi orang baik, gak boleh nakal. Harus kaya gini aja anteng kaya di perut mama." Abel tersenyum.


Tiba-tiba dia merasakan sebuah pergerakan dari perutnya. Abel semakin tersenyum lebar, apakah ini respon dari anaknya di dalam sana. "Oh kamu dengerin mama ya, pinternya anak mama. Iyaa, harus nurut kaya gitu yaa. Mau cium rasanya, tapi mama gak bisa cium kamu, Sayang. Nanti aja ya, biar papa yang cium."


Hujan mulai berhenti dan sebuah suara terdengar dari pintu. Abel berdiri dan melihat siapa yang datang. Matanya menyipit saat melihat Gala datang dan beberapa tukang yang masuk membawa barang.


Gala mengarahkan tukang untuk ke ruangan seberang kamar mereka. Itu ruangan tepat, kalau di atas Abel akan kesulitan nantinya.


Gala menghampiri Abel lalu memeluknya, perlahan dia menciumi puncak kepala istrinya. "Sengaja, aku nyuruh tukang buat cat kamar Baby Jiel. Biar di pasang wallpaper juga."


Abel menghela napasnya, memang ada-ada saja kelakuan Galaxy. "Tapi kan babynya masih kecil, masih ada waktu nanti. Padahal bisa dilakuin di hari weekend."


"Gak bisa sayang, tadi aku liat kamar bayi bagus di Instagram dan bayi kita harus punya juga. Biar seneng dia," ucap Gala polos.


Abel hanya pasrah saja. Mencoba mewajari karena ini anak pertama mereka. Meskipun menurutnya terlalu berlebihan karena usia kandungannya masih menginjak 4 bulan. "Yaudah atur aja gimana maunya kamu."


Gala tersenyum lalu mengajak Abel duduk di sofa. Perlahan dia mengusap-usap perut Abel yang kini sudah lumayan besar. "Sayang kamu ngidam dong, kok belum pernah ngidam? Aku juga mau kaya orang-orang yang ikutin kemauan istrinya kalau ngidam."


"Aku gak mau apa-apa, Gala. Emang mau apa?" Tanya Abel tak mengerti.

__ADS_1


"Ya apa gitu? Eskrim di Amerika, bakso di Jakarta atau mau liatin aku naik ke menara Eiffel juga aku ikutin. Ayok ngidam," pinta Gala.


"Loh harusnya kamu seneng kalau aku gak banyak mau, kenapa malah mau aku ngidam aneh-aneh kaya gitu coba?" Abel tertawa mendengar permintaan Gala.


"Karena aneh, kamu kalau mau apa-apa jangan ditahan. Masa gak ngidam, asisten aku istrinya ngidam setiap hari. Itu baru 2 bulan hamilnya," kata Gala.


"Itu bukan ngidam, emang mau aja dan aji mumpung. Masa ngidamnya setiap hari. Bayi itu gak banyak mau, apalagi baby Jiel baik. Iya kan, Baby?" Abel tersenyum, sedetik kemudian dia kembali merasakan gerakan pada perutnya seolah bayinya menberi respon lagi.


Abel memegang tangan Gala dan menarunya di tempat yang tadi dia rasakan. "Kamu rasain deh, dia gerak."


Gala mengubah posisinya menjadi berlutut di hadapan Abel. "Mana?"


"Ihh tadi dia gerak gitu loh, udah dua kali. Kalau aku ngomong tuh dia respon kayanya," kata Abel.


Gala meciumi perut Abel. "Kamu malu-malu ya sama papa? Yaudah gapapa, tapi harus inget kata papa. Jangan bikin mama sakit ya, Baby? Harus jadi anak baik, kalau kamu mau apa-apa bilang aja sama mama. Nanti biar papa beliin."


Gala merasakan sedikit gerakan pada perut Abel, namun memang tidak keras, cukup lama dia bergerak tiba-tiba seperti ada sebuah tendagan kecil di sana. Gala kaget sekaligus senang.


"Sayang, dia nendang gitu. Hahahaha gemes, dia dengerin kata-kata papanya atau mau ngajak main?" Kata Abel. Tapi dia sedikit mual sih saat mendapat tendangan kecil dari sang bayi, namun tidak parah.


"Bentar aku masih kaget, nendangnya di perut kenanya di perasaan. Aku seneng banget, Sayang," ucap Gala.


"Udah aku bilang kalau anak kita itu penurut, dia udah bisa respon mama papanya," kata Abel lembut.


"Pasti dia cowok, dia nendang karena mau ajak papanya main bola," tebak Gala.


"Gak mau, Gal. Aku maunya anak cewek, biar aku bisa dandanin. Baju anak cewek tuh lucu-lucu, kaya Kanya sama Cia," ucap Abel menggeleng.


"Cowok dulu, Sayang. Anak kedua baru cewek, biar bisa jagain adiknya nanti. Biar bisa main tembak-tembakan sama aku, terus rebutan mamanya," kata Gala.


"Cewek aja, Gal."


"Cowok, Bel."

__ADS_1


"Ck, cewek!" Abel bersikeras.


Dan ya, siang itu mereka habiskan dengan perdebatan gender anak mereka.


__ADS_2