
Jam menunjukkan pukul 7 pagi. Baik Gala maupun Abel keduanya memang sudah terbiasa akan tidur lebih lama jika di hari libur. Gala mengeratkan pelukannya pada Abel, sepertinya dia tidak akan memerlukan guling lagi mulai sekarang. Rasanya jauh lebih nyaman, sampai-sampai keduanya malah semakin terlelap.
Beberapa menit kemudian ponsel Gala berbunyi. Gala meraba setiap sisi kasurnya untuk mencari benda pipih itu. dengan keadaan setengah sadar dia mengangkat panggilan itu.
"Apa, ganggu!" ketus pria itu dengan suara khas bangun tidur.
"..."
"Hmm."
"..."
"Bacot!" Gala mematikan panggilan itu dan kembali memeluk Abel yang sepertinya tidak terusik sedikit pun. Matanya kembali terpejam karena memang masih ngantuk.
Cukup lama mereka seperti itu, tiba-tiba seseorang membuka pintu dengan bar-bar.
"GAL BA-"
"WOIII GALA LO BERBUAT MESUMM!! Teriak Degas, sementara Raka terdiam karena kaget melihat Gala sedang memeluk seorang wanita di kamarnya.
Abel dan Gala sontak terbangun karena kaget. Ah sial, Gala lupa kalau sekarang dia mempunyai istri, kenapa dia tadi mengiyakan Degas dan Raka agar langsung masuk ke kamarnya?
"Loh, A-Abel? Gue gak nyangka loh." Raka berusaha mencerna apa yang dia lihat sekarang. Dia tidak menyangka kalau Abel wanita seperti itu.
Abel mengerjapkan mata dan menghela napasnya, cobaan apa lagi yang harus dia hadapi pagi-pagi begini? "Urus temen lo deh ya."
Abel turun dari kasur, mengambil facial wash dan handuk kecil miliknya lalu masuk ke kamar mandi. Padahal hari ini dia berniat akan tidur sampai siang.
"Lo harus jelasin sih," kata Degas sembari menggelengkan kepalanya tak percaya.
Gala turun dari kasurnya dan mendorong teman-temannya untuk keluar. Setelah itu dia mencuci mukanya di kamar mandi bawah sembari merutuki kebodohannya hari ini. Lagi pula kenapa mereka harus menelepon saat dia masih setengah sadar?
Di sisi lain Abel memikirkan kejadian semalam dan juga pagi ini. Keadaan seolah mendukung untuk dia menerima pernikahan ini. Sebentar lagi teman-temannya Gala akan tau tentang ini, tentu dia tidak bisa mengelak.
"Masalah apa lagi ini, tau ah gue pasrah aja," ucap Abel yang tidak tau harus bagaimana lagi. Mau tidak mau dia juga harus turun untuk menjelaskan semua ini.
Abel keluar kamar dan menuruni anak tangga. Dilihatnya Gala bersama teman-temannya masih saling berdiam diri di ruang keluarga. Namun matanya tertuju pada seseorang yang lain.
"Dinda?" Gumamnya pelan.
Abel sesaat memejamkan matanya, masalah teman-temannya Gala belum selesai, malah ditambah Dinda. Dia lupa kalau Raka dan Dinda sepupu, tapi kenapa ke rumah Gala? Kini malah Abel yang ketar ketir.
__ADS_1
"Abel? Sumpah gue gak nyangka," ucap Dinda saat melihat Abel turun dari tangga.
Abel sekali lagi hanya menghela napasnya dan duduk di sebelah Gala tanpa bicara apa-apa. Mereka berdua rasanya seperti diintrogasi.
"Jujur, kalian lakuin hubungan gelap ini udah sejak kapan?" Tanya Degas serius.
"Hubungan gelap apa maksud lo?" Tanya Gala yang kaget dengan pertanyaan Degas.
"Ya partner ranjang kan hubungan gelap?" Lanjut Degas polos.
Abel dan Gala menghela napasnya kasar. Bisa-bisanya pemikiran mereka sudah sejauh itu. Tapi tidak salah juga, siapa yang tidak kaget melihat temannya sedang meniduri wanita di satu ranjang yang sama?
"Gue sama Abel udah nikah, kita dijodohin. Partner ranjang yang sah!" Tegas Gala.
"Bel?" Tanya Dinda memastikan kepada Abel.
"Iya gue sama dia dijodohin, kita nikah liburan semester kemarin," jelas Abel.
"Kok bisa? Ini bukan akal-akalan kalian aja kan biar gak digerebek?" Tanya Raka yang masih tidak percaya dengan penuturan mereka.
Gala menunjuk photo pernikahannya dengan Abel yang terpampang jelas di samping kanan ruangan ini dan seketika mereka mempercayai semua yang Gala dan Abel katakan.
"Parah sih lo gak ngundang kita, kita sahabat bro," ucap Degas kecewa.
"Yaiya sih bener, tapi gapapa gue seneng akhirnya temen gue suka sama cewek," kata Raka.
"Hah?" Tanya Abel tak mengerti.
"Lo gak tau ya desas desus kalau Gala homo? Dia sama Jela aja gak ada perasaan, dingin cuy," terang Dinda.
Abel sontak melirik ke arah Gala. Jangan bilang Gala menikahinya karena menutupi sexualitasnya di depan keluarga? Abel sedikit bergidik ngeri mendengarnya.
"Apa? Gak lah, gue masih normal," sanggah Gala saat ditatap seperti itu oleh Abel.
"Gapapa gue bakalan tutup mulut," ucap Abel sambil menyeletingkan mulutnya rapat dengan tangannya.
Gala memijat keningnya, merasa pusing dengan pembahasan berat pagi-pagi begini. Seharusnya hari ini bisa dia nikmati dengan indah, malah menjadi rumit seperti ini.
"Pantes aja panas pas kita godain Abel, kita godain bini orang di depan suaminya," ceplos Raka.
"Musnah sudah dapetin hati Abel," ucap Degas pasrah.
Gala langsung memeluk pinggang Abel dan membuat Abel dekat padanya. "Istri gue." Gala menegaskan kepada teman-temannya kalau sekarang Abel miliknya dan mereka tidak boleh menggoda Abel lagi.
__ADS_1
Abel yang diperlakukan seperti itu kaget, ada apa dengan Gala hari ini? Terlihat sangat posesif, dia seperti anak kecil yang tidak ingin mainannya dibagi.
"Apasih, Gal. Udah ah gue mau masak, laper. Urus temen-temen lo jangan sampe ember." Abel melepaskan pelukan Gala perlahan dan beranjak dari sofa menuju dapur.
Dinda yang masih penasaran langsung berlari mengikuti Abel. Abel mengambil beberapa bahan makanan untuk dia masak pagi ini. Dia akan membuat sarapan simpel penyelamat sejuta umat saja. Nasi goreng!
Dinda memperhatikan Abel yang sedang memotong-motong sayuran. Dia masih tidak menyangka kalau temannya ini sudah menikah, padahal Abel selalu bilang dia tidak tertarik memiliki pasangan.
"Kok lo bisa sih nikah sama Gala, Bel?" Tanya Dinda.
Sebenarnya Abel tidak terbiasa menceritakan hal-hal privasi kepada orang lain, tapi berhubung Dinda sudah ada di sini dan mengetahui semuanya, dia harus menjelaskannya agar Dinda tidak salah paham.
"Kita di jodohin dari kecil sama kakek. Mau gak mau ya dijalani, walaupun gue gak minat," jawabnya.
"Tapi lo bisa nolak kan, Bel? Bukannya apa-apa, meskipun lo gak pernah cerita apapun sama gue, tapi gue paham apa yang buat lo nyaman dan engga," ucap Dinda.
"Gue udah nolak, Din. Tapi gak bisa, yaudah kita sampe di sini," ucapnya pasrah sambil memblender bumbu-bumbu yang akan dia tumis.
"Sumpah sih kalau gue jadi lo bakalan tertekan banget, yang sabar ya, Bel. Semoga lo bisa jalani pernikahan ini dengan baik deh," ucap Dinda memberikan semangat pada temannya itu.
"Din, jangan bilang soal ini sama orang lain ya?" Pinta Abel pada Dinda.
Dinda mengangguk. "Tentu." Mereka pun berpelukan, meskipun Abel selalu tidak ingin mempunyai hubungan lebih dari sekedar teman, tapi Dinda menganggapnya sebagai sahabat, tentu dia akan menjaga rahasia ini kalau Abel yang meminta.
Gala dan teman-temannya berpindah ke meja makan, mereka juga lapar karena belum sarapan, sudah menjadi kebiasaan jika ke rumah Gala mereka akan minta makan di sana.
Degas dan Raka menatap Abel yang sedang memasak di temani oleh Dinda yang tidak melakukan apa-apa. Mereka bergumam kagum tapi mereka sadar kalau Abel sekarang sudah milik sahabatnya.
"Beruntung banget lo, Gal. Bisa dapetin Abel yang cantik, liatin dia waktu tidur, liat muka bangun paginya, liat dia masak, dimasakin, udah gua bilang dia mandiri," ucap Degas.
"Mata lo jaga," peringat Gala.
"Posesif bener, dikit doang, Gal. Mau gua sama Degas pandangin sampe bolor juga nikahnya sama lo," balas Raka.
"Jadi pas lo tanyain soal Abel di kantin itu karena lo dijodohin sama dia dan lo baru tau kalian satu sekolah?" Tanya Degas.
Gala mengangguk. "Anehnya dia muncul ke permukaan setelah kita nikah."
"Untung dia mau, Gal. Kalau gue sih gak mau sama orang yang sibuk sama dunianya sendiri," cibir Raka.
"Maulah gue ganteng."
Degas dan Raka hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya itu. Meskipun begitu mereka senang karena Gala sedikit ada perubahan bisa mencintai orang lain. Terbukti bagaimana dia posesif terhadap Abel walaupun dia tidak menceritakan perasaannya pada mereka.
__ADS_1