
Beberapa hari di rawat hari ini Alana sudah boleh pulang, tapi sebelum pulang dia masih harus melewati pemeriksaan dan memastikan kalau Alana memang sudah boleh pulang.
"Selamat pagi anak cantik," ucap Elzard saat memasuki ruangan Alana.
"Selamat pagi Om Dokter! Om Dokter katana Ana sekarang boleh pulang, kan?" Tanya Alana antusias.
"Yah Om Dokter masih kangen sama Alana, boleh dipinjem beberapa hari lagi gak?" Tanya Elzard seraya memasang mengambil stetoskop dari saku jasnya.
"Tapi Ana mau pulang Om, Ana engga mau di sini. Ana mau main sama Alan di rumah aja. Ana engga nakal, engga lari-larian lagi Ana janji, Om Dokter," ucap Alana.
Abella dan Gala terkekeh mendengar perkataan putrinya. Memang kemari Elzard sempat memberikan beberapa pantangan dan Nasehat pada Alana. Tidak menyangka kalau Alana menuruti ucapan Om dokternya agar bisa pulang.
"Bener nih? Gak percaya Om Dokter." Elzard mulai memasang stetoskop dan mengecek kondisi tubuh Alana.
"Bener Om! Ana gak bohong, kata Mama nanti kalau Ana bohong hidungna kaya Pinokio."
"Buka dulu mulutnya biar Om Dokter periksa, kalau bagus dan Alana makannya banyak baru Om dokter bolehin pulang," balas Elzard.
Alana menurut, dia membuka mulutnya dan Elzard kembali memeriksanya. "Pinter, yaudah kalau gitu Alana sudah boleh pulang hari ini. Tapi jangan lari-larian, jangan banyak makan eskrim, mandinya juga gak boleh lama-lama, janji?"
"Pinky promise, Om Dokter." Alana mengacungkan jari kelingkingnya pada Elzard dan Elzard pun menautkan jarinya.
Setelah selesai memeriksa Alana Elzard keluar dari ruangan itu bersama Gala. Ya mungkin untuk sekedar minum kopi bersama pagi ini sepertinya tidak masalah. Walaupun mereka tidak dekat tapi entah kenapa Gala ingin saja.
"Makasih udah memberikan perawatan terbaik buat Alana," ucap Galaxy.
Sebenarnya dia gengsi memang, tapi atas hal-hal baik yang Elzard lakukan tentu dia harus mengapresiasi itu pada Elzard. Apalagi dia dokter baru tapi ya tanggap sekali menurut Galaxy.
"Udah tugas gue, Gal. Gak perlu berterima kasih," jawab Elzard santai.
__ADS_1
"Maaf pertemuan terakhir kita kayanya kurang baik, gue terlalu posesif kalau soal Abel," ucap Gala jujur.
Elzard terkekeh, dia tau sih kalau pada saat itu Gala cemburu padanya. Meskipun biasa saja tapi tetap terlihat. "Gue kalau jadi lo juga pasti akan jaga Abel sebaik mungkin. Gue paham kok."
Gala mengangguk-nganggukkan kepalanya, bingung juga harus merespon apa. Dia jarang bicara, dia hanya melakukan itu pada orang-orang terdekatnya. Jadi canggung lah rasanya.
"Sejujurnya gue masih suka sama Abella kalau lo mau tau. Tapi gue gak berniat merebut dia dari lo. Gue tau kebahagiaan dia ada di lo. Belum tentu gue bisa kasih itu ke dia."
"Sesuka itu lo?" Tanya Gala tak percaya.
Elzard mengangguk. "Gue ngejar dia dari pertama masuk sekolah dan dia emang gak bisa nerima gue. Tapi gue gak akan memaksa. Apalagi lo tiba-tiba jadi suaminya. Gue saat itu udah mundur."
"Keren, kalau gue jadi lo gak akan bisa kaya gitu. Gue akan perjuangin cinta gue."
"Lo mau gue perjuangin Abella? Kalau lampu hijau siap," ucap Elzard, tentu dengan nada bercanda.
"Jangan sampe lo dokter yang jadi pasien di sini, gue gak akan bertanggung jawab soal itu."
.
.
.
Pulang dari rumah sakit, Alana memang aktif. Meskipun sudah diberitahu dia tetap tidak bisa diam. Apalagi jika Alano sudah mengajaknya main pesawat. Mereka akan berlarian ke sana ke sini dan membuat pusing kepala.
Padahal seharusnya Alana banyak istirahat, tapi mau bagaimana lagi. Dia memang anak yang tidak bisa diam dalam waktu yang cukup lama sejak kecil, jadi ya tidak bisa dilarang.
"Mass, anak kamu itu loh baru keluar rumah sakit udah lari-larian lagi, pusing akunya," keluh Abella.
Gala malah terkekeh dan membawa Abella dalam pelukannya. "Gapapa, Sayang. Rasanya aku lebih suka mereka main kejar-kejaran gini dari pada kaya kemarin. Dua duanya kaya anak ayam kena flue burung."
__ADS_1
Benar sih, Abel bahkan merasa khawatir kalau Alano dan Alama lebih banyak dia seperti kemarin. Tidak bersemangat dan membuat Abel juga putus asa membujuk mereka agar mau bicara atau makan.
"Kamu cape ya seminggu ini jaga Alana di rumah sakit? Mata kamu gak bisa bohong, keliatan banget capenya. Gak mau istirahat?" Tanya Gala seraya mengusap pipi Abella dengan lembut.
"Cape, tapi aku seneng karena Alana udah sembuh dan bisa pulang ke rumah. Itu kayanya udah jadi obat buat aku, Mas. Karena jujur kalau Alana sakit aku juga rasanya kaya sakit. Perasaan aku juga kaya gak lepas, gak enak hati."
"Keliatan emang capenya, setelah ini minum vitamin ya, Cantik. Mas gak mau nanti imun kamu turun, nanti malah gantian sama Alana. Kamu harus banyak minum juga biar gak dehidrasi. Pokoknya jaga kesehatan."
"Iya, Mass aku ngerti dan aku paham. Tanpa kamu ingatkan juga aku pasti ingat dan aku selalu ingat karena ada kamu juga yang harus aku urus. Nanti kalau diurusin sama orang lain gimana?" Kata Abel terkekeh.
"Gak ada yang lain, Sayang. Udah aku bilang kamu aja dan akan selalu kamu aja. Hmmm oke kalau gitu. Sebagai apresiasi karena udah jadi Mama siaga. Mas ada hadiah buat kamu," ucap Galaxy sok misterius.
"Apa hadiahnya?" Tanya Abel penasaran.
Gala mengeluarkan amplop dan memberikannya pada Abella. "Mas ini apa?"
"Buka aja."
Perlahan Abel membuka isi amplop itu, matanya berbinar saat melihat beberapa tiket pesawat untuk liburan ke Jogja. "Mass ini???"
"Mas udah janji juga sama Alana, kalau dia sembuh Mas akan ajak mereka jalan-jalan. Semuanya udah Mas urus dan kita akan pergi lusa."
Gala tersenyum, sengaja memang dia menyiapkan ini kemarin-kemarin. Sebagai Ibu Rumah tangga yang kurang piknik, memang seharusnya Gala lebih banyak berinisiatif untuk mengajak Abella jalan-jalan. Untungnya dia peka, entah bagaimana kalau suaminya bukan Gala, Abella bersyukur sekali meskipun terkadang Gala juga menyebalkan.
Abella memeluk Galaxy dengan erat, dia senang sekali Gala mengajaknya liburan seperti ini. Itu berarti mereka akan quality time bersama beberapa hari di kota itu. Kota di mana Abel selalu mendapatkan ketenangan saat mengunjunginya.
"Kenapa ke Jogja?" Tanya Abel keheranan, kenapa Gala seperti tau apa-apa saja yang Abel inginkan sekarang dan apa yang Abel butuhkan.
"Bunda pernah bilang, kalau kamu sedih kamu selalu minta izin buat pergi quality time sendiri ke Jogja. Mas rasa kali ini kamu gak bisa sendiri, karena kemana pun kamu. Mas harus ikut juga."
Abel mengangguk senang. Tentulah dia senang, memang selama ini kalau Abel ke sana selalu sendiri. Tapi sekarang tidak lagi. Karena dia akan membawa suami dan juga anak-anaknya. Mengistirahatkan dari hiruk pikuk perkotaan yang penuh polusi ke ke kota yang tenang.
__ADS_1