Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Bertemu Dengan Areyna


__ADS_3


Tiga hari berlalu, Abel sudah mulai tenang dan tidak terlalu sedih seperti sebelum-sebelumnya, walaupun dia masih belum mau pulang. Gala beberapa kali menemuinya, tapi Abel juga tidak ingin bertemu Gala.


Sebenarnya kasihan juga, tapi dia belum mendengar kalau Gala telah menuntaskan semuanya. Ketika Gala sudah bilang barulah Abel akan mencoba memaafkannya.


Kehamilannya semakin besar, tapi masih ada perasaan yang harus dia tuntaskan. Jadi hari ini dia meminta tolong pada Degas untuk menjemputnya dan mengantarkan Abel ke sesuatu tempat. Pastinya tidak memberitahu Gala.


Dia bisa saja sendirian, tapi dia tidak ingin beresiko besar. Dia butuh perlindungan juga, lagi pula Degas sahabat Gala. Dia tidak bersama laki-laki lain.


Saat memasuki mobil, Degas langsung menatap Abel. Dia juga tidak tau Abel akan memintanya mengantar kemana. "Mau kemana? Jangan aneh-aneh, ini juga gue bohong sama Gala kalau ada urusan."


"Lo juga bohong sama gue soal Gala, jadi impas," jawab Abel ketus.


"Gue membantu kalian doang, gue yang jadi banyak dosa," protes Degas.


"Anter gue ke rumah sakit di mana Areyna dirawat," ucap Abel.


"Jangan aneh-aneh, Bel. Mau ngapain lo ke sana? Jangan bilang lo mau labrak Areyna." Degas kaget sih dengan permintaan Abel. Karena sudah pasti tidak beres, nanti dia juga yang terkena amukan Gala.


"Pinter, tanpa gue jelasin lo udah tau. Cepet atau gue naik taxi dan ujungnya lo kena marah Gala?" Ancam Abel santai.


Serba salah juga jadi Degas, dia maju kena mau mundur pun kena. Jadi dia mengiyakan permintaan Abela. Semoga saja Abel tidak berlebihan di sana. Degas akan memastikan tidak akan terjadi keributan di sana. Apalagi yang namanya Ibu hamil sudah pasti galak.


Di sepanjang perjalanan Abel tidak bicara. Namun tiba-tiba ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. "Areyna mantan Gala darimana?"


Degas melirik ke arah Abel, dia menghela napasnya. Tidak apa-apa kali ya jika dia memberi informasi soal ini? "Gala sama Areyna ketemu di balapan motor. Areyna jatuh cinta sama Gala dan nembak dia di sirkuit. Jadi Gala terima, lo tau sendiri Gala gimana."


"Kenapa putus?" Tanya Abel lagi.


"Alasannya karena Gala gak bisa cinta sama dia, karena udah mencoba tetep gak bisa," jawab Degas lagi.


"Bel kalau soal perasaan jangan raguin Gala, dia tulus banget sama lo. Gue udah ingetin dia dari awal. Asal lo tau kalau gue pernah suka sama lo, jadi kalau Gala nyakitin lo tentu gue gak akan biarin itu."

__ADS_1


"Tau," ucap Abel santai.


Tidak tau saja kalau Degas kaget sekarang. Bagaimana Abel bisa mengetahui perasaannya? Apa dia terlalu kelihatan ya selama ini?


"T-tau darimana?" Tanya Degas ragu.


"Gala dulu pernah bacain surat-surat yang ada di loker gue. Beberapanya lo yang kirim, kan? Dia ngenalin tulisan lo."


"Udah lama dong?"


"Iya, tapi Gala gak akan ganggu gugat. Begitu juga dengan gue. Perasaan lo kan lo juga yang lebih berhak."


Degas terdiam, dia mencerna semua keadaan ini. Bukan karena kaget juga, jadi berarti selama ini Gala mengetahui Degas menyukai istrinya? Konyol.


.


.


.


Abel menatap gadis yang terbaring lemah di ranjangnya itu, sebenarnya kasihan juga. Tapi berbagi ayah dari anak-anaknya? Jangan harap Abel bisa melakukannya.


"K-kamu siapa?" Tanya Areyna saat melihat Abel yang memasuki ruangannya.


Baru begitu saja Degas sudah ketar-ketir, apalagi Abel kini menghampiri Areyna. Apakah dia akan menjambak wanita yang terbaring lemah seperti itu? Tapi kalau dia di posisi Abel juga akan melakukannya sih.


Abel perlahan menarik kursi dan duduk di samping Areyna. Belum menjawab apapun, dia masih menelisik wanita yang berada di hadapannya ini. "Abella, istrinya Galaxy."


Areyna terkejut, dia tau sih Gala mempunyai istri. Tapi dia tidak pernah mau tau soal Abel. Karena menurutnya akan membuat dia sakit sendiri.


"A-ada apa kamu ke sini?" Tanya Areyna dengan suara paraunya.


Abella menghela napasnya dan sesekali mengelus perutnya. Sepertinya anaknya ini ingin menendang orang yang membuat mama papanya bertengkar. Iya, Abel merasakan ada sebuah tendangan di dalam sana. Jadi Abel mengelus perutnya seolah mengatakan kalau anaknya tidak boleh emosi.

__ADS_1


"Sabar sayang, kalau dia macem-macem, pelakor ini mama tendang. Mamamu ini jago taekwondo," gumamnya dalam hati.


"To the point, aku harap kamu gak minta Gala nemenin kamu di sini. aku dan anak-anaknya gak suka."


"Dia milik kamu, Bel. Aku hanya meminta waktunya sebentar, apa itu salah?" Tanya Areyna terbata.


"Salah, karena gak ada seorang istri pun yang rela liat suaminya berbagi perhatian dengan wanita lain yang bukan siapa-siapa." Abel masih berusaha melembutkan suaranya. Meskipun dia emosi, kenapa dia bertanya hal yang jelas-jelas jawabannya dia tau sendiri.


Areyna menggenggam tangan Abella. "Kalau begitu izinkan Gala menikahiku, Abella. Umurku sudah tidak lama lagi, setelah aku meninggal kamu bisa memiliki Gala kembali seutuhnya."


Abel tidak habis pikir, apa yang ada di dalam pikiran gadis ini. Namun merasakan tangan Areyna yang kurus kering, entah kenapa Abel merasa Iba.


"Aku butuh dia, Bel. Biarkan aku bahagia sebelum aku benar-benar pergi dari dunia ini. Aku tidak akan menuntut apa-apa selain Gala yang menemaniku setiap paginya," pinta Areyna. Kini dia menangis meminta belas kasih Abel.


Abel yang ditatap seperti itu bagaimana bisa dia tidak menangis. "Anak-anakku juga butuh papanya. Kamu pernah mikirin perasaan aku gak? Gimana rasanya kalau suami kamu sendiri nemenin orang lain dan berbagi perhatiannya?"


"Aku mohon, jangan suami aku," lanjut Abella.


"Kalau kamu gak izinin Gala ke sini, aku gak akan pernah minum obat. Aku gak akan pernah mengikuti perkataan siapapun selain Gala. Aku mohon Abella, beri aku kesempatan untuk menikah dengan orang yang aku cintai, aku mohon."


Kali ini Areyna menahan tangan Abella yang tadinya sudah beranjak dari kursi. Dia menciumi tangan Abella dan memohon. Abella menghela napasnya, dia tidak bisa lemah begini. Dia tidak akan pernah bisa. "Maaf, tapi aku gak bisa Areyna."


Abel melepaskan tangannya dari Areyna. Membiarkan gadis itu menangis sejadi-jadinya di sana. Dia tidak peduli juga, bagaimana ada perempuan yang setega itu meminta seorang suami menikahinya kepada istrinya sendiri.


Saat sampai di mobil Abel menangis sejadi-jadinya. Dia pikir bicara dengan Areyna akan membuatnya paham dan tidak meminta Gala menemaninya lagi. Tapi dia malah meminta ayah dari anak-anaknya.


"Kenapa dia tega ya sama gue, Gas? Gue aja gak tega liat dia kaya gitu, apa dia gak mikirin dan liat posisi gue sebagai istri ya?"


"Kenapa dia gak perbanyak istighfar aja, kalau gitu dia dosa loh. Tuh kan gue mikirin dia sampai ke alam kubur, takut dia berdosa. Tapi dia malah gitu."


Degas tidak tega juga melihat Abel yang menangis sampai sebegitunya, tapi sedikit ingin tertawa juga mendengar ucapan Abel. Dia mengulurkan air mineral namun Abel menolaknya. Degas juga tidak habis pikir dengan kelakuan Areyna. Kalau begini jatuhnya dia terobsesi pada Gala.


Apa Degas harus membicarakan ini pada Gala?

__ADS_1


__ADS_2