Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Pemakaman


__ADS_3


Pagi ini semua keluarga berkumpul di kediaman Alaric, banyak juga saudara jauh yang datang ke sini untuk mengantarkan Jonh ke peristirahatan terakhirnya. Hendra juga datang ke sana, sebagai sahabatnya dia sangat kehilangan. Menjadi renungan diri sendiri juga kalau kematian memang pasti akan datang kepada setiap umat manusia.


Karena merasa ditinggalkan oleh Ibunya semalam, Alano dan Alana sekarang tidak ingin jauh-jauh dari Abella. Mereka jadinya berempat di samping jenazah Jonh dan di seberangnya ada keluarga lainnya.


"Mama, Opa besar bobo ya?" Tanya Alana.


"Bukan, Sayang. Tapi Opa besar sudah meninggal, sudah diambil oleh Allah." Abel bukannya ingin membicarakan hal berat pada anaknya, tapi hal seperti ini memang harus diperkenalkan pada mereka sejak dini agar tidak salah paham.


"Meninggal itu apa, Mama?" Tanya Alano.


"Meninggal itu tidur selamanya, nanti sama Allah ditempatkan di surga. Tapi anak-anaknya kakek, cucunya kakek, sama cicitnya kaya Alano, Alana, Kakak Cia sama Kakak Anya harus berdoa banyak-banyak biar Kakeknya masuk surga."


"Surga itu apa, Mama?" Tanya Alana.


"Emm surga itu tempat yang paling bagus, di sana Kakek nanti dikasih kebahagiaan di sana. Jadi Alan sama Ana harus berdoa yang banyak ya?"


"Tapi Mama kalau tidur selamanya berarti Opa besar engga bisa main sama Ana lagi?" Tanya Alana sembari memajukan bibirnya.


"Iya gak bisa, Sayang. Kan Opa besarnya harus istirahat. Alana sedih?" Tanya Abella sembari mengelus pipi Alana dengan lembut.


"Ana sedih Mama karena engga bisa main lagi sama Opa besar," jawab Alana jujur.


"Gapapa kalau sedih itu wajar, Mama juga sedih. Tapi jangan berlarut-larut, nanti Opa besarnya gak bisa ke surga kasian. Jadi harus ikhlas, banyak berdoa aja kalau kangen sama Opa besar ya?"


Alano paham dengan keadaannya dan berpindah ke pangkuan Galaxy, sementara Alana memang hatinya lembut jadi dia menangis di pelukan Abella. Memang terlalu berat untuk anak sekecil Alana, dia menangis karena tidak bisa bermain dengan Opanya lagi.


"Tapina Ana boleh ikut engga Mama ke surga nanti Ana pulang lagi kalau udah main sama Opa besar," ucap Alana sembari menatap Abella dengan sendu, ah Abella jadi ikut sedih melihatnya.


"Gak boleh dong, Sayang. Semua manusia, orang-orang di sini. Termasuk Mama, Papa dan Ana ada gilirannya masing-masing. Jadi harus antri, nanti setelah waktunya baru boleh ke surga, ketemu sama Opa besar sama Kakak Azriel juga."


"Kapan Mama ketemu Opa sama Kakak Azrielna?"

__ADS_1


"Nanti, Sayang. Udah Ana jangan nangis, nanti Opa besarnya sedih kalau liat Ana nangis. Ana kan anak mama yang jagoan dan gak cengeng, kan? Nanti juga bisa main sama Opa besar yang di rumah Om Azzam. Oke?"


Alana mengangguk. Abel tersenyum dan menyeka air mata putrinya, setelah itu kembali mendekapnya. Syukurnya Alana tidak rewel, jadi hanya menangis sebentar. Galaxy yang melihat itu juga mengusap puncak rambut Alana.


Kalau Alano dan Alana sekecil itu sudah paham seharusnya Galaxy juga harus lebih paham, kan? Akan aneh jika dia terlihat menangis di depan anak-anaknya. Yang ada mereka juga jadi ikut menangis. Gala mengeratkan pelukannya pada Alano, dia jadi merasa bertambah pondasinya agar tidak rubuh karena memiliki Alano dan Alana dalam hidupnya.


Terlebih dia sudah menepati janjinya untuk memberikan kakeknya cicit yang menggemaskan seperti mereka. Gala sangat lega karena memenuhi itu semua sebelum Jonh meninggal.


.


.


.


Acara pemakaman selesai, semua orang sudah meninggalkan tempat itu terkecuali Galaxy, Abella dan kedua anaknya. Galaxy masih nampak betah memandangi nisan kakeknya.


Ternyata seberapa kuatnya Galaxy ya dia tetap manusia. Dia benar-benar merasa kehilangan, apalagi tadi dia ikut turun langsung menguburkan jenazah Jonh. Ada perasaan sesak, haru dan bahagia karena bisa mengantarkan Jonh ke peristirahatan terakhirnya.


"Papa, Papa sedih ya?" Tanya Alano sembari memeluk Galaxy.


Galaxy tersenyum ke pada keduanya. Perlahan dia mengangguk membuat Alano dan Alana kini mengecupi pipinya.


"Mama cup-cup Papa juga nah biar Papa engga sedih," kata Alano.


Abel mengangguk dan mencium pipi Galaxy sesuai keinginan anak-anaknya. "Papa jangan sedih lama-lama ya, kan ada kita."


Gala terkekeh. "Makasih ya sayang-sayangnya Papa."


Setelah puas berdiam diri di sana. Mereka pun pulang, tidak ke rumah. Tapi ke rumah orang tua Galaxy karena memang semua masih berkumpul di sana. Mereka juga berencana akan menginap untuk beberapa hari sampai suasananya pulih.


Suasana makan siang kali ini nampak berbeda, semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Ya memang masih dalam suasana berduka, jadi Abel fokus untuk menyuapi kedua anaknya yang sedang manja ingin disuapi.


"Nanti setelah selesai makan siang, Alan sama Ana tidur siang ya? Kan cape kan seharian pergi?"

__ADS_1


"Bobona di mana, Mama? Kamar Alan ketinggalan di rumah sana," Abel sedikit terkekeh termasuk orang yang ada di sana.


"Oh tidurnya nanti sama Mama, sama Papa juga di kamarnya Papa. Mau?"


"Tapina kata Mama harus berani bobo sendiri," balas Alana.


"Iya itu harus, Sayang. Tapi kan di rumah Oma kamarnya harus dibagi-bagi. Jadinya Alan sama Ana tidurnya bareng Mama."


"Oke Mama!" Jawab Alano.


"Pinter cucu Oma, banyak ngomong," ucap Dara sambil terkekeh.


"Iya, Ma lagi seneng-senengnya ngomong. Banyak tanya juga, kadang pusing jawabnya," jawab Abel yang ikut terkekeh.


"Tapi pinter loh mereka umur segitu udah lancar bicaranya, gak cadel. Dulu Cia kayanya masih cadel," kata Jihan.


"Alhamdulillah, Kak. Pertumbuhannya pesat, jadi gak sulit."


Gala tersenyum. Tidak salah memang menamai Alano dan Alana. Hari ini suasana di rumah sedikit lebih baik karena tingkah mereka yang tidak bisa diam.


Setelah selesai makan siang, Abel menidurkan Alano dan Alana. Mereka kelelahan sepertinya karena kata Ibunya mereka menangis karena mencari Abella. Setelah itu Ibunya mengajak mereka ke rumah orang tua Galaxy dan lanjut ke pemakaman. Jadi ya mereka tertidur cepat dan pulas.


Gala menatap kedua anaknya. "Mereka cape kayanya."


"Hmm, makanya tidurnya pulas. Kamu gak istirahat, Mas? Kamu juga belum tidur dari semalam. Kamu juga kan yang urus ini itu, ke sana kemari. Jangan diforsir tenaganya, nanti kamu malah sakit pulang dari sini."


"Ngantuk, tapi gak bisa tidur," jawab Gala.


Abel tersenyum dan nepuk-nepuk pahanya, mengintruksikan agar Gala tidur di sana. Gala yang memang sedang butuh itu langsung menaruh kepalanya di paha Abella dan memeluk perut istrinya itu untuk sejenak mengistirahatkan pikirannya dari hal-hal berat.


Abel mengusap rambut Galaxy dengan lembut. "Kamu tidur, aku usapin sampai kamu tidur. Aku gak akan ke mana-mana. Bakalan temenin kamu terus sampai nanti kamu bangun lagi."


Gala menatap ke arah Abella. "Kamu juga belum tidur, Sayang. Mana bisa Mas tidur dan biarin kamu gak istirahat?"

__ADS_1


"Aku gampang, sekarang kamu dulu aja sama anak-anak. Udah jangan banyak bicara nanti mereka kebangun," peringat Abella sembari mengusap pipi Galaxy dengan lembut.


Gala mengangguk dan menenggelamkan wajahnya di perut Abella. Menghirup aroma tubuh istrinya membuat Gala rileks dan bisa memejamkan matanya. Melihat itu Abel sedikit tersenyum. Ya mungkin dengan tidur Gala akan sedikit teralihkan dari rasa kehilangannya, semoga. Dia hanya berusaha melakukan yang terbaik di saat-saat seperti ini untuk Galaxy. Ya walaupun dia juga mengantuk sebenarnya.


__ADS_2