Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Pertengkaran Hebat Sepanjang Pernikahan


__ADS_3


Tiga bulan berlalu begitu cepat, dia sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Dari mulai mental ataupun fisik semuanya perlahan pulih total. Hari ini dia memutuskan untuk check up ke dokter kandungan. Takut-takut masih ada infeksi di dalam dan Abel tidak mengetahuinya.


Setelah menjalani pemeriksaan dengan dokter Rinka kini Abel duduk sambil menunggu hasil. Dokter Rinka tersenyum ke arah pasiennya. Menurut Abel dia sangat cantik dan juga ramah.


"Bagaimana hasilnya, Dok?" Tanya Abel.


"Baik, untuk hasil pemeriksaannya sudah bagus. Sudah tidak terjadi pendarahan lagi dan sudah menjalani 3 siklus menstruasi dengan normal. Tidak ditemukan infeksi pada kandungan. Apa setelah keguguran Ibu dan Suami sudah pernah melakukan hubungan suami istri kembali?" Tanya Dokter Rinka.


"Belum, Dok." Sebenarnya dokter pernah menjelaskan kalau mereka bisa melakukannya lagi ketika 2 Minggu setelah mengalami keguguran. Tapi Gala tidak mau ambil resiko dan ingin Abel sembuh dulu. Karena saat itu Abel juga masih sering merasakan keram pada perutnya dan pendarahan kecil.


"Ah baik kalau begitu. Mungkin sedikit edukasi saja, jika Ibu dan suami sudah bisa melakukan program hamil lagi. Kehilangan anak mungkin hal yang tidak mudah, tapi Ibu Abella masih muda dan masih punya peluang besar untuk hamil lagi," jelas dokter Rinka.


"Apa wanita yang pernah keguguran punya peluang besar untuk keguguran lagi, Dok?" Tanya Abel.


"Sebenarnya untuk wanita yang pernah mengalami keguguran, mungkin ada peluang sekitar 20% untuk mengalami hal yang sama. Namun Ibu Abella tidak perlu takut, karena masih bisa diusahakan dengan mengatur suplemen, imunisasi Ibu hamil, pola makan seimbang. Jadi peluang untuk tidak terjadinya pun tinggi," jawab dokter Rinka.


Beberapa menit pun berlalu. Kini Abel terdiam di mobil sambil mengatur napasnya. Meskipun dokter mengatakan peluang kembali keguguran hanya 20% tetap saja dia takut. Dia takut untuk mengandung lagi.


Dia menggelengkan kepalanya, dia tidak boleh stress. Bukankah dia adalah orang yang selalu bisa menghadapi apapun? Daripada terus berkutat dengan pikirannya, Abel memutuskan untuk pergi ke salon dan merawat dirinya. Sepertinya dia memerlukan relaksasi sekarang.


Abel membawa mobilnya membelah jalanan kota, dia sekarang sedang menuju mall terdekat dan mengunjungi salon langganannya. Saat di perjalanan dia sempat menghubungi Gala tapi sepertinya dia sedang sibuk, jadi dia hanya meminta izin saja kalau hari ini dia akan ke salon setelah selesai kontrol.


Sesampainya di mall di langsung menuju ke lantai 3, matanya menari kesana-kesini, apalagi yang disukai wanita kalau bukan berjalan-jalan sambil cuci matanya. Seulas senyuman terukir di sana, namun tiba-tiba matanya tertuju pada dua orang yang berada cukup jauh di depannya.


"Gala? Dia sama .... "


Abel menghela napas, dengan memberanikan diri dia mengikuti kedua orang itu. Untuk apa Gala dan Meta berjalan di mall berdua? Kalau di kantor mungkin Abel bisa paham tapi di mall? Dengan beberapa barang belanjaan yang Gala pegang apa mungkin ada meeting di luar?


Terlihat Gala dan Meta memasuki salah satu toko tas branded. Sambil memilih-milih Meta sesekali bertanya pendapat Gala dan respond Gala yang sesekali tersenyum. Abel menghela napasnya, menahan-nahan perasaan yang ingin dia keluarkan saat ini juga.

__ADS_1


Memang katanya seseorang apalagi wanita selalu mencari penyakit. Setelah Gala dan Meta keluar dari toko, Abel tetap mengikuti mereka dengan berhati-hati. Kali ini mereka berada di salah satu toko berlian. Mereka memilah dan memilih beberapa cincin.


Abel tidak bisa melihat ini, dia berpikir akan langsung menemui mereka, namun saat kakinya terangkat dia mengurungkannya. Tangannya mengepal dengan kuat. "Gak boleh nangis!"


Abel mengeluarkan ponselnya dan setelah itu dia kembali menghubungi Gala sambil memperhatikan mereka dari jauh. Beberapa menit menunggu akhirnya Gala mengangkat panggilan dari istrinya.


"Ada apa, Sayang? Udah kontrolnya?" Tanyanya dari seberang sana.


"Udah, aku udah pulang juga."


"Dokter Rinka bilang apa?" Tanya Gala lagi.


"Nanti kita bicara di rumah. Kamu di mana sekarang, Sayang?" Tanya Abel yang sudah penasaran.


"Emmm aku di luar, lagi meeting sama client. Ini aku di toilet angkatnya karena gak enak, nanti kita bicara lagi ya, Cantik?"


"Hmm iya, good luck."


Abel mematikan sambungannya, bahkan Gala pun berbohong padanya. Entah sejak kapan air matanya turun, tapi dengan cepat Abel menyeka air matanya dan kali ini dia benar-benar berhenti mengikuti Gala dan Meta. Lututnya benar-benar lemas, hatinya bagai dihantam ribuan batu secara bersamaan. Kenapa Gala tega melakukan ini?


Abel duduk di tepi kasur dan menghadap ke arah jendela, sudah beberapa jam dia duduk termenung di situ. Dia menangis, lalu menguatkan dirinya sendiri, menangis lagi dan ya seperti itu yang dia lakukan berulang kali.


Dia berpikir, apa dia tidak cukup baik ya dalam merawat Gala? Atau Gala merasa kurang afeksi karena kondisi dia yang kemarin-kemarin sedang masa pemulihan? Tapi kenapa harus selingkuh, kenapa dia tidak meninggalkan Abel saja kalau begitu. Abel kembali menangis, dia benar-benar kalut sekarang.


Di sisi lain, karena merasa tidak mendapat sambutan dari luar Gala memasuki kamarnya dan Abel. Dia menaruh barangnya dan membuka jas lalu menghampiri Abel. "Hey kamu kenapa?" Tanya Gala sambil memegang bahu istrinya.


Abel menepis tangan Gala, dia tidak mau menjawab. Bahkan dia pulang seperti tidak ada rasa bersalah, apakah hubungan Gala dan Meta sudah berlangsung lama?


Gala kaget, dia malah panik kalau Abel seperti ini. Abel beranjak dari kasur namun Gala mengikuti Abel keluar kamar dan menahan lengannya. "Kamu kenapa?!" Tanpa sadar Gala meninggikan suaranya.


"Lepasin!! Jangan pegang aku!" Abel yang emosi kini membuka suara.

__ADS_1


"Ya kamu kenapa, Bel?! Aku baru pulang kamu marah kaya gitu, kalau marah itu bilang alasannya kenapa! Aku gak bisa tau apa yang bikin kamu marah kalau kamu cuma diem!"


Abel menatap mata Gala serius. "Kamu nanya aku kenapa? Harusnya kamu tau aku kenapa, bahkan aku yang harusnya nanya kamu kenapa?!"


"Kenapa apanya Abella!"


"Bahkan kamu aja gak sadar sama kesalahan kamu, kamu ngerasa kita baik-baik aja padahal kamu nutupin sesuatu dari aku. Kenapa kamu gak tinggalin aku aja, kenapa kamu jahat sama aku?!" Abel tidak bisa lagi menahan perasaannya, dia benar kacau sekarang.


"Kamu ngomong apa sih aku gak ngerti, Bel. Jelasin kamu kenapa, salah aku di mana? Apa yang kamu tau sampai kamu bilang aku nutupin sesuatu dari kamu."


Abel menghela napasnya tidak habis pikir dengan kelakuan suaminya, dia mengepalkan tangannya lalu memilih untuk meninggalkan Gala.


"Abella aku suami kamu!" Tegas Gala.


Abel yang mendengar itu langsung berbalik. "KALAU KAMU SUAMI AKU KENAPA KAMU JALAN SAMA PEREMPUAN LAIN?! KENAPA KAMU BOHONG SAMA AKU TADI!" Bentak Abel.


Gala menarik napasnya kasar dan mengusap wajahnya. Abel kembali mendekat. "Kenapa? Kenapa kamu gak bisa jawab pertanyaan aku?"


"Jadi kamu ada di mall tadi dan liat aku sama Meta?" Tanya Gala.


"Jadi bener kan? Yaudah aku gak butuh penjelasan apapun dari kamu!" Abel kembali membalikan tubuhnya namun Gala menahannya.


"Tunggu!"


"APASIH?!"


Gala berusaha sekali mengatur emosinya sekarang. "Aku cuma mau bilang, aku minta temenin Meta untuk kasih kejutan buat kamu. Jadi terserah kamu mau berpikir apa, yang terpenting aku udah jelasin."


Gala melepas tangan Abel dan meninggalkannya di sana. Pria itu memasuki kamar dengan sedikit membanting pintu karena kesal. Namun itu di luar kendalinya. Dia benar-benar butuh menyegarkan diri dulu sekarang.


Abel terdiam, cukup kaget juga karena bantingan pintu. Dia berpikir sejenak, kejutan katanya? Jadi dia salah paham? Abel berjalan ke meja makan, bukannya lega tapi tangisnya malah semakin menjadi. Dia merutuki kebodohannya, seharusnya dia bertanya dulu pada Gala, bukan memarahinya saat pulang kerja seperti tadi.

__ADS_1


__ADS_2