Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Tumbuh Dengan Kebaikan


__ADS_3


4 Tahun kemudian.


"Alanoooo ... Alanaa," panggil Abella.


"Sayang, kalian di mana?" Panggil Abella lagi.


Abella terus melangkahkan kakinya menyusuri perumahan, tidak lupa juga mengecek ke satu persatu rumah tetangga. Siapa tau Alano dan Alana sedang main di sana.


Abella menghela napasnya, ini nih nakalnya Alano dan Alana. Jika melihat pintu terbuka mereka akan langsung main keluar. Memang Abella sih yang ceroboh karena sibuk mencuci pakaian.


Panasnya terik sekali, membuat Abel benar-benar kewalahan harus mencari mereka ke mana. "Al-"


"Ana jangan nangis, Ana hebat. Sini Alan tiup lukana, tapi Ana jangan nangis lagi ya? Kan udah Alan beliin es," Ucap Alano sambil menepuk-nepuk puncak kepala Alana dengan lembut.


Alana mengangguk pelan dan memajukan bibirnya. "Ini sakit, Alan," rengek Alana sembari menunjuk lututnya yang memerah.


Alano yang paham langsung memegang pinggirannya lalu meniup-niup luka Alana, setelah itu mengecupnya pelan. Tentu Abella yang mengajarkan, katanya jika terluka harus diberi kecupan agar lukanya cepat sembuh. "Udah, udah sembuh."


Abel tersenyum sih melihat siblings goals antara anak kembarnya ini. Mereka benar-benar peduli satu sama lain, Abel merasa mereka tumbuh dengan kebaikan yang selama ini Abel dan Gala ajarkan.


Perlahan Abella menghampiri mereka berdua. "Ana kenapa hm? Kenapa adiknya, Sayang?"


"Ana jatuh karena lari, Mama. Maafin Alan engga jaga Ana," ucap Alano lembut.


Alana yang merasa ditanya oleh sang Ibu ya malah semakin merengek dia. "Batuna nakal, Mama. Ana jadina jatuh."


Abel yang melihat itu langsung memeluk kedua anaknya. "Hey, Alan engga salah kan namanya juga kecelakaan. Makasih ya udah dijagain adeknya."


"Batunya gak salah, Sayang. Karena batunya ada di situ, itu artinya apa? Artinya Ana gak hati-hati jalannya, jadi lain kali harus hati-hati ya?" Abel menghapus air mata Alana, lalu tersenyum.


"Iya, Mama. Makasih Alan udah jagain Ana." Alana mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Alano, tentu Alano membalasnya dengan senang hati.


Pola asuh Abella ya begitu. Dia harus meluruskan apa-apa saja yang benar dan yang salah. Seperti masalah batu tadi, jika tidak diluruskan Abel tidak mau nantinya akan mencari kesalahan orang lain atas apa yang dia lakukan.


"Yaudah, sekarang kita pulang ya. Waktunya makan siang, setelah itu tidur, oke?"


"Oke, Mama," jawab keduanya menurut.


Abel tersenyum lalu menggandeng keduanya untuk pulang ke rumah. Abel tidak membatasi waktu bermain mereka, hanya saja dia membuat jadwal-jadwal agar anak-anaknya lebih tertatur. Agar mereka juga memahami, kapan waktunya bermain, makan, menonton, tidur. Pokoknya semua sudah dipertimbangkan sesuai kebutuhan mereka.


Sesampainya di rumah Alana menatap Alano yang seperti menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya. Ya sebenarnya juga percuma Abell tahu apa yang Alano sembunyikan.


"Alano, apa itu di belakang?" Tanya Abell.


Alano menunduk dan akhirnya memperlihatkan satu cup eskrim strawberry milik Alana yang memang tadi dia sembunyikan di saku celananya yang cukup besar.


Abel mengusap pipi Alano dengan lembut. "Ini punya siapa?"

__ADS_1


"Alan mau mam eskrim, Mama," ucap Alano berbohong karena sudah melihat Alana yang takut dimarahi oleh Ibunya.


"Alano Abyaksa Alaric, Mama pernah bilang apa, jangan bohong," ucap Abel sedikit mempertegas. Bukan galak sih sebenarnya, tapi memang itu salah. Abel ya tidak boleh melakukan pembenaran.


Alana berdiri di belakang Alano sembari meremas ujung baju kakaknya, dengan takut-takut dia bicara pada Ibunya. "Itu punya Ana, Mama."


Abella menatap Alana, gemas sebenarnya jika Alana seperti itu. Abel sampai harus menahan tawanya karena memang harus bersikap tegas sekarang. "Alana kan kemarin giginya sakit, kenapa makan eskrim lagi. Kata Mama kan makannya 2 minggu sekali aja gak boleh sering-sering."


"Tapi Ana suka, Mama."


Alano yang merasa adiknya di marahi memeluk Alana dan mengusap-ngusap lengan adiknya itu dengan lembut. Ah tolong, Abel tidak kuat melihat ini semua. "Iya Mama tau Ana suka makan eskrim tapi kemarin kan udah makan eskrim, berarti sekarang gak boleh. Lagian ini uangnya darimana, Sayang?"


"Uangna ambil dari kotak dinona Alan," ucap Alano membela.


Abel menghela napas lalu mengusap puncak kepala Alano dengan lembut, ya bagaimana tidak. Itu adalah uang yang dia tabung, demi adiknya dia membuka tabungannya. Kan Abel terharu walaupun salah juga.


"Boleh, ya Mama mam eskrim?" Tanya Alana.


"Gak boleh, Sayang! Mama simpan dulu ya, gak ada eskrim-eskrim nanti-"


"Marah-marah terus Mamanya." Suara barithon itu membuat Alano dan Alana berhamburan dan memeluk Galaxy.


"PAPAAAAAA!"


"Ululu anak-anak Papa. Kenapa-kenapa? Kenapa Mamanya marah gitu hm?" Galaxy berjongkok lalu memeluk kedua anaknya sambil tersenyum.


"Makan eskrim, boleh dong. Kalau Alan mau apa?"


"Alan mau bantuin Ana, Papa," ucap Alano.


"Pinter, Boy. Good job!" Gala mengusap puncak kepala Alano dengan lembut sambil terkekeh.


"Ck, Mass. Alana udah makan eskrim kemarin. Nanti giginya sakit," protes Abel yang memang kesal jika Gala memanjakan anak-anaknya seperti itu.


Gala terkekeh, bukan anak-anaknya saja yang merajuk ternyata, tapi istrinya juga merajuk sekarang. Gala menggendong kedua anaknya dan mendudukkan mereka di meja makan, ya memang sudah waktunya makan siang.


"Gapapa, Sayang gak akan sakit. Cuma dua kali, besok-besok jangan lagi. Oke, Princess?" Tanya Gala pada Alana.


"Oke, Papaa! Terima kasih," ucap Alana sambil tertawa.


"Sama-sama, Sayang. Yaudah Alana sama Alano boleh makan eskrim tapi makan dulu ya," peringat Gala.


"Siap Papa!" Ucap mereka antusias.


Lagi-lagi Abel menghela napasnya, susah memang kalau begini caranya. Gala tidak akan pernah tega jika sudah melihat wajah memelas anaknya, sementara Abel ya memang harus tegas kalau memang sudah melebihi aturan.


Abella akhirnya menyiapkan makanan untuk mereka, makanan pun Abel membuatnya sendiri karena tidak ingin anak-anaknya makan sembarangan. Karena memang kesehatan itu nomor satu. Abel menyiapkan piring ketiganya, ya meskipun dia sedang marah pada Galaxy tapi tidak lucu juga jika marah di depan anak.


Tapi sebenarnya Gala paham kok, kalau Abel kesal. Tapi memang terkadang menurut Gala sebagai orang tua tidak boleh terlalu memaksa, jadi membiarkan mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, kalau nanti sakit itu resiko dan akan menjadi sebuah pembelajaran di masa depan.

__ADS_1


Abel menatap ke arah Alana yang sudah selesai makan langsung memakan eskrimnya. Anak kecil itu semangat sekali memang jika sudah berhadapan dengan eskrim. "Alana, jangan banyak-banyak!"


Alana melirik ke arah Galaxy seolah minta pembelaan, Galaxy terkekeh. "Gapapa, Sayang. Makan lah, abisin."


Tuh kan berbeda lagi kan perintah dari Abel dan Galaxy, tentu Alana memilih perintah papanya. Abel pusing sejujurnya, terserah saja lah. Dia kini fokus pada Alano saja yang masih bisa diperingati. "Alano jangan makan eskrim ya, Alan mau susu? Susu aja ya, biar Mama buatin."


"Iya, Mama," kata Alano mengangguk.


Abel tersenyum dan ke dapur untuk mengambilkan susu, tak selang beberapa lama dia kembali pada Alano yang sudah menyelesaikan makannya. "Pinter, abisin susunya. Biar makin kaya jagoan."


"Oke, Mama!"


Abel mengusap puncak kepala Alano dengan perhatian. Kalau diperhatikan ya memang Alano dan Alana tidak identik, Alano persis sekali dengan Gala dan Alana mirip dengan dirinya. Lucu memang.


"Aduh, Papa gigi Ana sakit," keluh Alana pada Galaxy.


"Sakit? Mana yang sakit sayang?" Gala langsung menggendong Alana dan memeriksa giginya.


"Yang ini." Alana menunjuk gigi gerahamnya, tidak bolong memang tapi memang gigi Alana sensitif. Itu kenapa Abella melarangnya.


"Tuh kan, apa Mama bilang. Gak mau nurut, kan? Terus kalau udah sakit gitu gimana hm? Ana juga yang sakit, kan?"


Alana memaju-majukan bibirnya. "Maaf, Mama. Gigi Ana sakit."


Gala memeluk Alana dan menciumi pipi anaknya. "Sekarang tau kan kenapa Mama marah ke Ana? Itu artinya besok kalau gak dibolehin Mama jangan makan eskrim lagi. Sekarang ke kamar, gosok gigi setelah itu tidur siang sama Kakak Alano. Besok ke dokter gigi."


Alana menurut, begitu juga Alano. Mereka berdua kompak berjalan ke kamar mereka yang terletak di lantai dua. Abel hanya menghela napas saja. Karena ya sebagai Ibu juga dia khawatir kalau anaknya sudah sakit.


Gala melirik ke arah Abella yang sedang merapikan meja makan dengan wajah yang ditekuk. Perlahan dia memeluk Abella dari belakang. Membuat Abell berdecak kesal. "Diem, Mass. Aku gak mood!"


Namun Gala tidak mengindahkan kata-kata istrinya dan malah mempererat pelukannya. Abel menghela napas dan membalikan dirinya ke arah Galaxy.


"Kangen, Sayang."


"Tau ah aku marah sama kamu, udah aku bilang semuanya udah aku pikirkan, Mas. Aku gak larang anak-anak melakukan apa yang mereka suka tapi kalau soal kaya gini emang harus kita tegasin."


"Kamu malah manjain Alana, dia malah makin manja nantinya karena selalu mendapat pembelaan dari papanya. Bukan aku gak sayang, tapi kalau sakit kan aku gak bisa nanggungnya, dia juga yang merasakan."


"Justru karena dia yang rasain, Sayang. Dia mau, kamu udah larang kan. Ketika dia melanggar dan merasakan sendiri konsekuensinya dia akan tau kalau apa yang mamanya bilang itu benar."


"Tapi kan, Mas-"


"Dia nantinya akan paham dan kapok. Itu juga bikin Alana gak akan melanggar lagi karena udah tau rasanya. Besok tinggal bawa dia ke dokter gigi."


"Maksud aku itu-"


Gala mencium bibir Abella dengan lembut lalu tersenyum. "Udah jangan marah-marah. Nanti cepet tua. Mending kangen-kangenan."


Gala memeluk istrinya dengan erat dan kembali menciumi bibirnya. Tidak susah memang sekarang membuat Abel kembali tersenyum, buktinya sekarang dia luluh kembali setelah dicium.

__ADS_1


__ADS_2