Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Rasa Bersalah


__ADS_3


Abel dan Gala sama-sama memilih diam. Mereka sama-sama merasa bersalah sebenarnya. Abel merasa bersalah karena telah menuduh lalu memarahi Gala tanpa bertanya dan Gala menyesal karena tadi membanting pintu, mungkin kalau dia menjadi Abel juga akan marah saat melihat suaminya sedang bersama wanita lain di mall, bahkan sempat berbohong.


Namun Gala dan Abel sama-sama dikuasai ego sekarang, jadi mereka memilih diam. Sebenarnya Abel ingin menemui Gala, tapi dia tau kalau Gala sedang marah harus dibiarkan terlebih dahulu. Dia juga bingung harus masuk ke kamar atau tidak, pintunya masih tertutup. Itu pertanda Gala masih belum reda amarahnya.


Sebenarnya mungkin kalau Abel masuk ya tidak apa-apa, tapi dia merasa sangat canggung dan tidak tau harus memulai dari mana untuk berbicara dengan Gala. Karena dia menangis sejak tadi siang, Abel pun malah ketiduran di sofa.


Gala menatap layar laptopnya, dia memang sengaja mengalihkan pikirannya sejenak dengan pekerjaan. Karena sudah bisa dipastikan kalau bicara dengan Abel sekarang dia masiha ada perasaan kesal, itu hanya akan memperburuk keadaan.


Sudah hampir tengah malam, begitulah Galaxy. Manusia si lupa dunia kalau sudah mengerjakan sesuatu, dia melirik ke samping namun Abel tidak ada di sana, dia pikir karena dia fokus jadi tidak menyadari kehadiran istrinya.


Dengan menurunkan sedikit ego Gala keluar dari kamarnya dengan beralasan mengambil segelas air, namun yang dia dapati adalah Abel yang sudah tertidur di sofa. Gala menghela napasnya, gadis itu terlalu gengsi minta maaf atau bagaimana?


Gala menghampiri Abel di sofa lalu menatapnya sesaat, dia memang marah tapi bukan berarti dia akan membiarkan istrinya tidur di luar seperti ini. Akhirnya dia menyelipkan tangan diantara bahu dan juga lutut Abel, setelah itu dia menggendongnya masuk ke kamar.


Untuk sesaat Gala membaringkan Abel di kasur sembari menatap matanya yang terlihat sembab. Dia menghela napasnya. "Jadi kamu nangis seharian?"


Itu yang tidak Gala sukai, Abel selalu memendamnya sendiri. Padahal kalau tadi dia blak-blakan saat ditelfon pun Gala tidak masalah. Dia bukan hanya kesal dimarahi saat pulang kerja, tapi kalau begini sama saja Abella meragukan perasaannya.


Setelah puas memandangi wajah Abel Gala ikut berbaring di kasur. Pelan-pelan dia mengambil guling untuk Abel peluk, rasanya dia saat ini masih ingin berdiam diri. Bukan harus sang istri saja yang ingin dibujuk, tapi dia juga. Ya setidaknya biarkan Abel saja yang memulai percakapan mereka nanti.


Gala tidur terlentang dengan tangan di dadanya, matanya juga sudah mengantuk dan terpejam untuk tertidur pulas meskipun tidak memeluk istrinya.


Keesokan harinya alarm berbunyi, membuat gadis bernama Abella itu mengerjapkan matanya berkali-kali. Hal yang pertama kali dia lihat adalah wajah suaminya yang sedang tertidur lelap. Jadi semalam Gala memindahkannya? Bahkan saat marah saja Gala peduli padanya, dia menjadi merasa bersalah.


Abel menatap guling yang ada di pelukannya, kenapa begitu sakit didiamkan oleh Gala seperti ini? Padahal Gala masih tertidur, tapi mengetahui Gala tidak mau memeluknya membuat Abel sedikit tercekat.


"Lo yang salah, Bel," gumamnya dalam hati.

__ADS_1


Akhirnya dia memilih bangun dan melakukan aktivitas paginya, dia belakangan ini harus membiasakan diri lagi karena mereka sudah tidak memakai assisten rumah tangga. Setelah selesai mandi dan berdandan dia menuju dapur untuk menyiapkan sarapan, tentunya dia telah menyiapkan setelan kerja lengkap dengan dasi dan sepatunya di kamar karena Gala hanya akan bangun saat mendengar alarm yang dia nyalakan.


Satu jam berlalu, Abel sudah siap dengan pekerjaannya dan tidak lama dari itu Gala keluar dari kamarnya dan duduk di meja makan. Anehnya Gala tidak memakai setelan kerjanya, apa dia mengambil libur hari ini.


Tanpa suara Abel menata makanan di piring Gala, mereka memang saling diam tapi bukan berarti melupakan kewajibannya sebagai seorang istri. Gala juga sepertinya tidak ada niat untuk membuka suara, jadilah sarapan pagi ini hanya di sambut dengan keheningan.


"Kok sedih ya dicuekin," ucap Abel dalam benakknya. Namun dia tetap memakan makanannya agar Gala tidak semakin marah kalau dia tidak sarapan.


Mereka tetap bertahan seperti itu sampai siang hari, Abel berkali-kali mencoba bicara dengan Gala namun pria itu tetap merajuk dan sepertinya sangat marah. Hingga akhirnya kali ini Gala menghampiri Abel membawa paper bag besar yang kemari dia belikan untuk Abel. "Nanti malem ikut aku, pake itu."


Hanya satu kalimat yang terlontar dari Gala membuat Abel cukup gerah dan langsung memeluk suaminya itu dari belakang dengan erat. Tanpa bertanya apapun dia hanya terus memeluk Gala sampai perasaannya tenang. "Maafin aku, aku salah udah marah sama kamu, aku nyesel."


Gala masih terdiam, tidak berniat untuk bicara apa-apa. Jujur Abel tidak tau harus berbuat apa, selama pernikahan mereka dia tidak pernah membujuk Gala karena Gala tidak separah ini. "Gal, Sayang."


"Mass! Jangan diemin aku. Aku gak bisa didiemin kamu, aku gak bisa kalau tidur gak dipeluk kamu, aku tau aku salah, seharunya aku kemarin nanya dulu sama kamu bukan langsung marah. Aku tau aku udah ngelanggar komitmen kita buat selalu percaya, maafin aku karena udah raguin kamu. Aku kapok, gak lagi-lagi bentak kamu kaya semalem."


Sebenarnya Gala masih ingin mendiamkan istrinya, beginikah rasanya dibujuk? Pantas saja istrinya ini sering merajuk, ternyata menyenangkan. "Hmm."


Gala melepaskan tangan Abel dari perutnya dan kini membalikkan tubuhnya ke arah Abel meskipun masih dengan wajah datarnya. Abel menyeka air matanya, tidak mau terlihat menye juga di depan Gala walaupun dia sebenarnya benar ketar-ketir karena didiamkan oleh Gala.


"Jadi udah tau salahnya apa?" Tanya Gala.


Abel mengangguk. "Aku yang salah, tapi itu kan ... Engga, iya aku salah." Setelah itu Abel menunduk, dia benar-benar takut menatap Gala sekarang.


Gala mengangkat dagu istrinya agar menatap ke arahnya. "Liat aku, tatap mata aku sekarang."


Abel menurut sambil menghela napasnya, ah kalau begini dia malah semakin takut, padahal waktu awal menikah dia bisa menatap Gala dengan wajah songongnya, kenapa sekarang tidak bisa?


"Aku gak suka diraguin, kamu tau aku sayang banget sama kamu, kan?"

__ADS_1


"Iya maaf, jangan marah lagi," lirihnya.


Gala tersenyum lalu membawa Abel dalam pelukannya, mana bisa dia marah jika Abel sudah mengakui kesalahannya seperti itu. "Jangan raguin aku lagi, aku cuma sayang sama kamu. Mau gimana pun keadaan kamu aku cuma mau kamu."


Abel membalas pelukan Gala dan mengadahkan wajahnya ke arah Gala. "Tapi udah dimaafin kan?"


"Belum."


"Loh kenapaa?? Kan udah pelukan, berarti udah baikan?"


"Ada syaratnya."


"Apa syaratnya? Mau apa?"


"Panggil aku kaya tadi," jawab Gala sambil tersenyum ke arah Abel.


"Hah panggil gimana Gala?" Tanya Abel tak paham.


"Tadi waktu kamu bilang maaf kamu manggil apa? Aku mau dipanggil itu mulai sekarang," kata Gala mutlak.


"Mass?"


Gala mengangguk, membuat sang istri menyerngitkan dahinya. "Kenapa ihh, itu tadi buat bujuk kamu aja. Gak mau, enakan manggil kamu Galaxy."


"Yaudah batal maafin," ancam Gala.


"YAUDAH IYA MASS, ngacem ihh kesel," ucap Abel sambil memajukan bibirnya.


Gala terkekeh, dia suka panggilan barunya dari Abel. Ya seperti suami-suami pada umumnya, menurut dia itu terasa lebih romantis. "Itu kenapa bibirnya maju gitu? Minta dicium ya?"

__ADS_1


"Engga, Mas!" Elak Abel.


Gala gemas sendiri kalau begitu, akhirnya dia mendekatkan wajahnya pada Abel dan menautkan bibir mereka. Baru semalaman dia tidak memeluk Abel rasanya dia sudah sangat rindu, jadilah Abel harus menerima hukuman di siang hari begini. Meskipun tidak melakukan lebih karena Gala berpikir Abel masih belum pulih total.


__ADS_2