
Gala berlari memasuki area rumah sakit, dia juga langsung menuju ruang bersalin saat Ibunya bilang kalau mereka ada di sana. Dengan napas yang terengah-engah akhirnya dia sampai di sana.
"Ma, Abel mana?" Tanya Gala cepat.
"Dia udah di dalam sayang, kayanya udah melahirkan," jawab Dara sembari mengelusi punggung putranya.
Gala menghela napasnya kasar, seharunya dia yang ada di dalam sana. Dia khawatir Abel merasa sedih karena tidak ada kehadirannya. Tapi dia benar-benar tidak bisa masuk.
Tangannya berkeringat dingin, pikirannya juga sudah kemana-mana. Gala juga tidak henti-hentinya mondar-mandir, dia yang tidak melahirkan saja sudah takut begini, apalagi Abel di dalam sana. Dia membayangkan Abel sedang kesakitan berjuang demi melahirkan anak kembar mereka.
Di dalam sana, Abel sedang berjuang mempertaruhkan nyawanya. Nia dengan setia menemani putrinya yang kini sedang mengejan untuk melahirkan anaknya. Kalau bisa Nia gantikan mungkin sudah Nia lakukan. Dia tidak tega melihat anaknya kesakitan.
"Eenghhh huhhhh huhhh."
"Iya bagus, tarik napas lagi, Bu. 1 ... 2 ... 3."
Abel kembali mengejan, namun sang anak belum mau keluar. Abel tidak kuat menahan mulas dan sakit secara bersamaan seperti ini. Tenaganya sudah habis karena cape. Wajahnya sudah pucat.
"Dok kenapa anaknya belum keluar juga, Dok?" Tanya Nia panik.
"Saya tidak tau, Bu. Padahal pembukaannya sudah lengkap. Kalau begini caranya harus sesar. Karena takut anaknya kenapa-kenapa, tapi di coba ya sekali lagi," ucap dokter.
Abel kembali berusaha, tapi semakin dia coba malah semakin sakit. Tapi seketika dia teringat Gala. Ucapan Gala yang tiba-tiba terlintas di kepalanya.
"Bund ... Galaa aku butuh Gala," ucap Abel dengan napasnya yang terengah-engah.
"Gala belum datang, Sayang."
"Bund Gala udah bilang sama babynya mereka jangan dulu keluar sebelum Gala pulang, Bund- akhhh Bunda hubungin Gala yaa aku gak kuattt," Ucap Abel terbata.
Nia terdiam. Memang benar kata orang zaman dahulu, kalau jangan sekata-kata dalam mengucapkan sesuatu. Apalagi bayi dalam kandungan memang sensitif.Melihat Abel yang sudah sangat lemas, dia berlari ke luar ruangan dan meminta Dara menghubungi Galaxy.
__ADS_1
Namun saat dia sampai di luar ternyata Gala sudah ada di sana. "Gall, cepet masukk!"
"Abel kenapa, Bund? Dia baik-baik aja?"
"Masuk sekarang, ada ucapan apa kamu sama anak sampai mereka tidak mau keluar? Cepet Abel udah lemas sekali, Gal," ucap Nia panik.
Gala panik, langsung saja dia masuk ke dalam. Tidak peduli dia memakai baju ruangan atau tidak, dia langsung masuk untuk menemani Abel.
"Sayang." Gala menggenggam tangan Abel lalu mengusap pipinya. Wajah Abel sekarang sudah sangat pucat, Gala takut kalau Abel sampai kenapa-kenapa.
"Pak, kita coba sekali lagi ya. Kalau memang tidak bisa kita langsung ke ruang operasi. Dekk ayokk keluar dek, papanya udah dateng tuh," ucap sang dokter.
Dengan lembut Gala mencium perut Abella dan mengusapnya. "Baby, papa udah ada di sini. Ayok keluar, kasian mamanya. Sekarang kalian bisa ketemu papa, Sayang."
Mendengar itu Abel menangis, tidak tau rasanya seperti terharu tapi sedih juga. Gala kembali menggenggam tangan Abella dan mencium kening istrinya. "Ayok, Sayang. Bismillah."
"Tarik napas, Bu. Hitungan ketiga coba mengejan lagi ya 1 ... 2 ... 3."
"Eeenghhh huhh enghhh." Abel mengenggam tangan Gala dengan erat.
"Ayok, Sayang kamu kuat. Kamu pasti bisa, kamu Ibu yang kuat." Gala terus memberikan afirmasi positif pada istrinya.
"Enghhhh ... Sakit Mass!! Aku gak kuat," ucap Abel disela isakannya.
"Kamu kuat, ayok berjuang sama-sama ya. Demi anak-anak kita, kamu harus kuat."
Abell kembali mengejan beberapa kali sampai akhirnya anak pertama mereka keluar. Suster memberikan bayi pertama berjenis kelamin laki-laki itu pada Gala sambil menunggu kontraksi untuk anak keduanya lahir.
Gala gemetar menggendong putranya yang baru melihat dunia, ada rasa bahagia karena ini pertama kalinya mereka skin to skin seperti ini. Anak yang selama ini dia ajak bicara setiap hari berada di dalam dekapannya. Sungguh rasanya luar biasa.
Abel yang sudah kesakitan seketika rasa sakitnya tidak terasa. Melihat skin to skin antara anaknya dengan Gala. Membuat hati kecil Abella terharu melihatnya. Gala menepati janjinya menjadi orang pertama yang melakukan skin to skin dengan anak mereka.
Suara tangis menggema di seluruh ruangan. Membuat Gala juga menitikan air matanya lalu mengecup bibir Abella lembut dan menaruh sang anak dalam pelukan Ibunya. "Kamu hebat, Sayang. Makasih karena kamu udah melahirkan anak aku, makasih karena kamu udah jadi Ibu yang kuat, walaupun makasih aja gak cukup buat membayar rasa sakit kamu sekarang." Ahh Galaxy memang tidak tau, kalau dia begini ya Abel malah semakin menangis karena haru.
__ADS_1
Sampai akhirnya Abella berhasil melahirkan anak kedua mereka. Kedua anaknya sedang di bersihkan dan Abel juga sedang di urusi karena pendarahan hebat. Tapi entah kenapa semuanya tidak terasa apalagi melihat Galaxy yang ingin membersihkan anaknya sendiri dengan dibantu oleh suster.
Dia kesal pada Galaxy, tapi perasaannya menghangat ketika melihat itu semua. Sesekali dia menyeka air matanya melihat raut wajah bahagia yang Galaxy pancarkan Abel merasa kalau dia berhasil membuat Gala bahagia.
Setelah semuanya selesai, kini hanya ada mereka berdua di ruangan bersalin sambil menunggu Abel untuk dipindahkan ke ruang rawat inap. Dia menatap Galaxy yang kini sedang mengadzankan kedua anaknya secara bergantian. Membuat Abel tersenyum melihat itu.
Setelah dia kesakitan, kini semuanya dibayar tuntas dengan Galaxy yang ada bersamanya. Meskipun dia tidak membuka suaranya sejak tadi karena masalah mereka kan memang belum tuntas.
"Liat, Sayang anak kita tampan dan cantik," ucap Gala sembari mengelus kedua pipi anaknya.
Abel tersenyum lalu mengangguk pelan.
"Kamu udah ada nama yang pingin dikasih ke anak kita?" Tanya Gala.
"Kamu yang lebih berhak, kamu papanya," ucap Abel.
"Aku punya."
"Hm?"
"Alano Abyaksa Alaric, Alana Anindhita Alaric. Alano dan Alana itu artinya kedamaian, Abyaksa itu pintar, Anindhita itu cantik. Aku mau mereka menjadi anak yang membawa kedamaian dengan berbudi pekerti luhur, cantik dan juga tampan."
Abel tersenyum mendengarnya, "Aku suka, Mas."
Arti nama yang Gala berikan juga baik, jadi apa yang perlu Abel tolak? Katanya nama adalah pengharapan dan doa khusus dari orang tuanya agar kelak anaknya bisa menjadi seperti yang mereka doakan. Jadi Abel menyukai nama pemberian Galaxy.
"Mereka akan tumbuh jadi anak yang baik, karena Ibunya kamu. Mereka juga akan jadi anak penurut, buktinya mereka beneran nungguin papanya pulang."
"Maaf ya karena aku kamu jadi kesakitan, aku gak bermaksud bikin kamu sakit, Sayang," lanjut Gala sembari mengecup kening istrinya.
"Kamu bahagia?"
"Jauh lebih dari kata bahagia. Kamu selamat, anak-anak kita juga lahir dengan selamat dan sehat. Rasanya gak sia-sia aku lari-lari di bandara tengah malam. Semuanya terbayar tuntas saat liat kalian baik-baik aja. Apalagi liat kamu senyum lagi."
__ADS_1
Abel tersenyum simpul dan mengangguk pelan, tidak ada energi juga untuk mempertahankan egonya, meskipun sekarang dia bertanya-tanya juga. Apakah Gala sudah menyelesaikan masalahnya dengan Areyna? Mungkin itu nanti akan dia tanyakan setelah waktunya memang tepat.