
Abel mengepalkan tangannya dengan kuat, peran batin yang dia rasakan mengacaukan pikirannya. Antara trauma dan keberaniannya kini terasa diuji, mana yang lebih kuat.
Dion memegang bahu Abel, itu membuatnya semakin ciut. Tapi dengan spontan Abel langsung melawan. Dia memelintir tangan Dion dan langsung menendangnya tepat di dada.
Kini keberaniannya bangkit. Memang benar, dia harus menuntaskan dendamnya pada Dion. "Apa?! Kaget? Gue bukan Abel yang sama, Yon. Gue Abella yang lo kenal gak akan mudah lo kalahkan!"
Dion geram, ternyata gadis kecilnya sudah berani sekarang. Pria itu bangkit, lalu menyerang Abel dengan pukulannya. Abel tidak tinggal diam, dia memukul, meninju, bahkan tak segan menendang pria itu.
Bugh ...
Satu tendangan berhasil mengenai pipi Dion. Dion kaget, ternyata gadis itu tidak bisa diremehkan sekarang. Dion berusaha membalas perlakuan Abel dan kini dia juga berhasil melukai sudut bibir Abel.
"GAL, ABEL," teriak Degas.
Gala melirik Abel yang kini telah bergelut dengan Dion. Amarahnya melonjak. Dengan kuat dia memukul lawan-lawannya hingga terkapar, dia harus segera menolong Abel.
Dion mengeluarkan pisaunya, Abel sedikit was-was. Pasalnya dia benar-benar hanya menggunakan tangan kosong. Abel mencoba melumpuhkan senjata namun tidak berhasil, dia cukup kewalahan juga menghadapi Dion.
"Lo nyerah aja, Bel. Tenaga lo gak lebih kuat daripada gue," ucapnya meremehkan.
"Jangan banyak omong!" Abel kembali melayangkan pukulan pada Dion.
Sudah cukup, ini tidak bisa ditunda lagi. Dia mengeratkan pisaunya dan menusukkannya sekali hentak, lalu mencabutnya. Namun, sasarannya salah. Ternyata Gala yang dia tusuk.
"GAL!" Abel panik saat benda tajam itu menusuk perut Gala. Namun Gala malah mendorongnya pelan untuk menjauh.
Gala menendang dada Dion sampai terbentur tanah. Meskipun sakit dia tidak peduli dengan keadaannya, Dion harus dia habisi sekarang juga.
Bugh ... Bugh ... Bugh
Gala menghajarnya dengan brutal, dia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Abel apalagi menyentuhnya. Gala tersenyum miring saat korbannya tidak bisa berkutik lagi. "Itu buat lo yang udah berani nyentuh Abel sampai bikin dia luka!"
__ADS_1
Gala mengangkat dan mengepalkan tangannya kembali, namun Abel mencegahnya. "Stopp!! Lo luka! Lebih baik obatin luka lo dulu, gue gak peduli sama dia."
Gala melihat Abel yang kini sudah menangis sembari menutup luka pada perutnya dengan jaket. Raka menginstruksikan anak-anak Lazaruz untuk bubar. Sementara Degas membantu Abel mengendarai mobil.
"Awwwwhhh, sakit Bel. Gue harus habisin dia," ucap Gala sembari menahan tangan Abel.
"Gakk, lo masuk ke mobil!" Abel memaksa Gala untuk meninggalkan tempat itu dan memasuki mobil.
Abel khawatir dan membaringkan tubuh Gala lalu menaruh kepalanya di pangkuan. "Lo tahan ya, kita ke rumah sakit."
Degas yang mengerti pun melajukan mobil dan langsung bergegas ke rumah sakit. Sesekali dia melihat ke arah spion, dia tidak tega melihat Abel menangis begitu.
"Lo kenapa sih nolongin gue kaya tadi hah? Sekarang lo jadi kaya gini. Harusnya lo gak kaya gitu," omel Abel di sela isakannya.
Gala terkekeh dan menyeka air mata yang turun dari pipi istrinya. "Luka kecil, kenapa lo nangis hey? Jangan nangis."
"Gimana gue gak nangis kalau liat lo kaya gini?" Abel tidak peduli apa tanggapan Gala. Yang jelas dia hanya ingin menangis sekarang. Tidak peduli juga dengan tangan dan bajunya yang terkena bercak darah dari luka Gala.
"Jangan mikirin gue, lo itu yang parah! Lo kena pisau, itu jauh lebih penting. Lo gak boleh banyak ngomong dulu, gue gapapa," jawab Abel.
"Shhhhh, gue juga gapapa. Masih aja galak istri gue. Gue cuma sakit sedikit. Bel, lo cinta ya sama gue?" Tanya Gala sedikit menggoda istrinya.
"Galaaa lo apa-apaan sih malah nanya kaya gitu? Lo jangan banyak bicara, jangan banyak gerak, harus kuat. Kita bicarain nanti aja, bukan waktu yang tepat buat bahas itu, Galaxy," ucap Abel yang nampak semakin deras air matanya.
Perlahan Gala memejamkan matanya, Abel kaget melihat itu. "GALAAA, BANGUN! IYAA, IYA GUE CINTA SAMA LO. LO JANGAN TINGGALIN GUE DULU. KATANYA GAMAU BUAT GUE JADI JANDA MUDA." Abel berusaha menepuk-nepuk pipi Gala namun pria itu tidak bangun juga.
"DEGAS CEPETT GALA GAK SADAR."
Degas ikut panik dan dia pun menambah kecepatannya. "Tenang, Bell bentar lagi kita sampai."
"Galaa bangunn!! Gall. Gue bakalan ngerasa bersalah banget kalau lo kenapa-kenapa. Bangunnnn!!!" Abel menundukkan kepalanya, dia benar-benar tidak bisa menahan tangisnya.
Gala mengulum tawanya, Abel begitu panik padahal dia hanya memejamkan matanya sejenak untuk meredakan sakit pada lukanya. "Iya gue tau lo cinta sama gue."
__ADS_1
Abel terdiam dan menghapus air matanya. Perlahan dia menatap tajam ke arah Gala yang kini terkekeh dan menatapnya. "Bodo amat! Lo kenapa sih masih bercanda aja saat kaya gini? Gue khawatir sama lo, malah dibercandain."
"Hahaha maaf yaa, jangan nangis makanya."
Abel tidak menjawab, dia hanya terus menggenggam tangan Gala dengan erat. Baru kali ini dia merasakan cemas yang begitu dalam. Tapi pria ini malah terlihat biasa-biasa saja.
Degas menghentikan mobilnya di depan UGD. Perawat sudah menyambut mereka dengan brankar dan segera membawa Gala masuk ke ruang UGD. Abel tetap setia menggenggam tangan Gala tanpa mau melepasnya. Dia mau terus di samping Gala sampai pria itu kembali pulih.
"Lo gak boleh kenapa-kenapa ya?" Ucap Abel.
Gala mengangguk dan tersenyum tipis, meskipun wajahnya sudah pucat Gala tidak mau membuat Abel semakin khawatir. Sampai akhirnya mereka harus berpisah karena Abel di larang masuk.
Abel berusaha menghubungi keluarganya dan keluarga Gala. Bagaimana pun mereka harus tau kondisi Gala. Abel juga harus meminta bantuan agar Dion segera dilaporkan pada polisi. Dia tidak akan membiarkan dia bebas begitu saja setelah apa yang dia perbuat padanya dan juga Gala.
Abel berjongkok sembari membenamkan wajahnya, dia takut. Jauh lebih takut daripada menghadapi Dion tadi. Dia menyesal, seharusnya tadi dia menurut agar tidak ikut. Mungkin kalau dia tidak ikut Gala akan baik-baik saja sekarang.
Degas menghampiri Abel yang sedang menangis di depan UGD. Tubuhnya bergetar, dia tau kalau Abel menangis sekarang. Baru kali ini dia melihat Abel menangis, bahkan dia pernah mendengar kalau Abel sulit menangis. Degas ikut berjongkok di hadapan Abel, memandangi gadis yang masih belum sadar akan kehadirannya.
"Lo sayang banget sama Gala ya, Bel?" Batin Degas.
"Jangan nangis, Gala bakalan baik-baik aja. Dia gak selemah itu kok," ucap Degas.
Abel mengadahkan kepalanya dan menatap Degas yang kini ada di depannya. "Gue takut dia kenapa-kenapa," ucap Abel dengan suara parau nya.
"Dia gak akan kenapa-kenapa, luka kaya gitu gak akan bikin dia mati. Gala itu udah sering berantem, dia gak akan nyerah sama keadaan. Yang penting lo optimis jangan malah overthink."
Abel terdiam, tapi entah kenapa dia sangat susah untuk berhenti menangis. Dia benci sekali ketika harus menjadi orang yang sensitif seperti ini.
Degas mengulurkan air mineral pada Abel. "Minum dulu, tenangin diri lo. Gala gak akan suka liat lo nangis begitu, kekuatannya dia itu lo. Jadi lo harus kuat juga."
Abel menyeka air matanya, berusaha mengatur napas dan berhenti menangis. Perlahan dia mengambil botol mineral dari tangan Degas dan meminumnya. "Makasih yaa, Gas."
Degas mengangguk lalu tersenyum. Bohong kalau sekarang dia tidak terluka melihat Abel menangis. Meskipun dia sudah meikhlaskan Abel dengan Gala, tidak ada yang pernah tau kalau Degas mencintai Abel hingga detik ini.
__ADS_1