
"Besok kita ke Bogor, Kakek udah kangen banget," ucap Gala yang sontak membuat Abel melongo. Ya gimana bisa gituloh mendadak seperti ini.
"Kita belum siap-siap loh, Mas," balas Abel tak percaya.
"Yaudah kita siapin sekarang, Mas beli oleh-oleh dan kamu packing. Gimana?" Tanya Gala menawarkan kesepakatan.
Abel berpikir sejenak. "Boleh deh, yaudah gih sekarang mumpung anak-anak lagi tidur."
Gala mengangguk, dia mengambil kunci mobil lalu mencium bibir istrinya. "Ya udah, Mas sebentar doang." Setelah pamit Gala pun keluar dari kamar untuk tancap Gas.
Abel menghela napas, lalu mengambil dua koper. Dia memilah dan memilih baju Alano dan Alana terlebih dahulu, setelah itu melipatnya menjadi bagian-bagian kecil. Kalau dulu mereka bisa pergi dengan mudah, sekarang tidak bisa begitu. Apalagi perlengkapan Alano dan Alana bisa dibilang banyak.
Baju, pampers, botol susu, perlengkapan mandi dan masih banyak lagi. Satu jam Abel berkutat packing untuk kebutuhan Alano dan Alana. Kebutuhan mereka saja sudah satu koper belum lagi miliknya dan Gala. "Ya ampun, Nak. Udah kaya mau pindahan ini mama beresinnya."
Ini pertama kalinya mereka membawa Alano dan Alana bepergian jauh jadi wajar saja sedikit kewalahan saat packing seperti ini. Apalagi hari ini tepat Alano dan Alana menginjak 5 bulan.
Tiba-tiba Alano dan Alana menangis, dengan cepat Abel berlari ke kamar sebelah untuk melihat anak-anaknya. Mereka sudah bangun ternyata, kalau begini akan semakin susah untuk ditinggal packing.
Abel mulai memindahkan mereka satu persatu ke kamarnya, jujur saja Abel tidak berani menggendong keduanya secara bersamaan. Karena ya mereka cukup berat dan lagi Abel takut kalau sampai salah satunya terjatuh.
Abel kira mereka menangis karena ingin minum susu, tapi tidak sepertinya. Mereka sekarang nampak anteng karena menikmati kemampuan baru mereka yang bisa berguling lalu kembali ke tempat semula. Bahkan sekarang mereka berdua bisa menegakan kepala untuk melihat Ibunya saat mereka telungkup.
"Alan sama Ana anteng main ya? Jangan berantem oke? Mamanya mau packing dulu," ucap Abella yang dihadiahi ocehan keduanya.
Terkadang jika Gala sedang kerja, ocehan mereka yang belum fasih itu ya menjadi penghibur untuk Abella. Rumah ini menjadi lebih hidup. Abel juga sering mengajak keduanya bicara, jadi mereka cukup interaktif.
"Oh iya, besok papa ajak kita ke Bogor, Alan sama Ana seneng?" Tanya Abella sembari tersenyum ke arah kedua anaknya yang kini menatap ke arahnya. Lucu sih melihatnya, walaupun mereka ya belum mengerti apa arti berlibur.
Abel melipat bajunya dan Galaxy sembari duduk di tepi ranjang, sesekali dia tersenyum saat anaknya mengajak dia berbicara.
__ADS_1
Abwuhhh Abwuhhh awawwawaw
Abel menarik jari yang diemut oleh duanya lalu menatap mereka. "Kenapa, Sayang. Jangan diemut jarinya, kotor. Mau mimi susu?"
Namun nampaknya mereka memang tidak ingin minum susu, biasanya saat Abel bertanya mereka akan menggerak gerakan jarinya pertanda ingin minum susu. Kata dokter wajar jika mereka mulai memasukan jari kedalam mulut, karena itu adalah kesenangan baru untuk mereka juga.
"Ohhh jadiii kita ke Bogor itu mau ke rumah opa Besar, yang waktu itu gendong Alan sama Ana di rumah sakit, waktu masih kecil," ucap Abel.
Lagi-lagi Alano dan Alana mengoceh.
"Bukan, Sayang. Kalau opa Ghani sama opa Doni itu opa kecil. Ini papanya opa, jadi Alan sama Ana panggilnya opa besar, oke?" Abel mendekatkan wajahnya pada mereka yang seolah paham.
Kedua bayi itu tertawa, ah rasa-rasanya Abel senang sekali melihat anaknya semakin hari semakin pintar. "Pinter anak Mama."
Pintu terbuka, terlihat Gala yang tersenyum ke arah Mereka. "Oh di sini rupanya anak-anak Papa, sini peluk." Gala berjalan untuk menaiki kasur namun ditahan oleh Abel.
"Bersih-bersih dulu ih, Mas! Nanti kalau ada virus gimana?"
Tak selang beberapa lama, Gala selesai. Langsung saja dia ke kasur memeluk kedua anak kembarnya. "Papa kangen." Gala menciumi mereka bergantian.
"Oh sama Mamanya gak kangen?" Tanya Abel yang masih fokus pada pekerjaannya.
"Liat sayang, Mamanya cemburu. Padahal tiap malam papa kelonin," ledek Gala.
"Kebalik!"
Gala terkekeh mendengar ucapan Abella, rasanya Gala memiliki 3 bayi sekarang. Alano, Alana dan Abella. Lucu sekali mereka bertiga. "Alan sama Ana seneng kita mau jalan-jalan besok?" Tanya Gala.
"Ga." Sebuah suara keluar dari bibir Alano. Abel dan Gala melongo sih. Karena penasaran Abel menyudahi packing dan ikut tidur berempat di kasur.
"Engga seneng katanya, Pa," ucap Abell kesenangan.
__ADS_1
"Tunggu aku masih gak percaya, Sayang. Ini bayi kita bisa bicara?"
"Coba sayang bilang, Mama," ucap Abel pada kedua anaknya.
Mereka hanya mengucapkan huruf vokalnya saja. Abel mencoba mengulangi dan ... "Pa-pa," ucap Alano meskipun masih terbata.
"Sayang! Dia bisa panggil aku," kata Gala kesenangan.
"Aaaa pinter banget anak aku. Coba sayang, Mama," pinta Abel dengan senyum mengembang.
"Pa-pa-pa." Gala semakin senang mendengarnya lalu berpindah menjadi duduk di depan Alano.
"Pinter anak Papa!" Gala menggendong Alano lalu menciuminya, Abel juga ikut menciumi Alano. Gala terharu, ini pertama kalinya anak mereka bisa mengucapkan kata meskipun masih terbata. Apalagi kebahagiaan orang tua selain ini.
Namun tiba-tiba Alana menangis keras karena merasa diabaikan. Abell langsung menggendong Alana juga. "Oiyaaaaa maaf ya sayang, cup-cup anak Mama. Ana bisa gak kaya Kakak Alan? Coba, Mama."
Alana seperti mengikuti instruksinya namun lama kelamaan dia kesal sendiri karena belum bisa mengucapkannya. "Ululu, Sayang sayang. Jangan nangis putri kecil, gapapa kalau belum bisa gapapa Mama sama Papa gak marah. Yakan Pa?"
Gala menghapus air mata putrinya dengan tangan satunya, lalu dia mencium bibir Alana. "Iya, Sayang. Gapapa, nanti belajar ya? Jangan nangis, Ana juga pinter."
Alana memaju-majukan bibirnya lalu kembali menangis, Abel tersenyum lalu mendekapnya untuk menenangkan sang putri. Ternyata sudah mulai bisa cemburu juga anak mereka ini. Menambah pembelajaran baru juga untuk tidak memuji salah satunya ketika sedang bersama seperti ini.
Alano menatap adiknya yang menangis, mungkin dia merasakan apa yang dirasakan Alana jadi dia terdiam menatap adiknya menangis. Gala tersenyum lalu mencium pipinya. "Nanti kalau Alan udah besar, adiknya harus diajarin ya kalau gak bisa. Kalau nangis, hibur biar gak nangis. Harus saling jaga oke boy?!"
Abel tersenyum lalu mencium Alano sekilas, Alana masih rewel jadi harus dia ayun-ayun agar berhenti menangis. "Gapapa, Sayang. Kakak Alan udah bisa, nanti ajarin Ana juga biar bisa. Jangan nangis, harus dicoba kalau engga bisa, jangan mudah nyerah."
Abel menatap Alana yang kini menatapnya seolah mendengarkan meskipun masih tersengguk-sengguk. Abel tersenyum. "Iya gak boleh nangis duluan, jangan patah semangat. Walaupun Ana perempuan tapi Ana gak boleh cengeng ya? Kan anak Mama Abella. Jangan iri sama apa yang orang lain bisa, siapa tau Ana nanti lebih hebat. Iya kan?" Abella memberikan kata-kata positif, ya meskipun Alana belum mengerti tapi ini penting.
Katanya hal-hal positif akan tertanam sejak masih bayi. Jadi Abell berusaha menanamkan itu sejak dini. Agar mereka kelak tumbuh menjadi anak yang positif juga. Abel menghapus air mata Alana dan mencium pipinya dengan lembut. Dia akan menyayangi keduanya dengan porsi yang sama. Dia juga paham kalau tumbuh kembang anak berbeda, meskipun mereka kembar tapi pertumbuhannya belum tentu sama. Itulah peran Abella dan Gala sekarang.
Membantu tumbuh kembang mereka, memberikan apresiasi dan juga suport untuk kedua anaknya sejak dini. Agar ketika dewasa nanti Abel dan Gala terbiasa melakukannya.
__ADS_1