
Selesai mandi, seperti biasa Abel melakukan skincare rutinnya. Setelah beres, dia pun menghampiri Gala yang sedang sibuk membaca surat cinta miliknya sambil tertawa.
"Picisan," ucap Gala sembari melempar surat yang baru dia baca ke tong sampah, setelah itu dia kembali mengambil surat dari tumpukan itu.
"Basi." Gala meremas surat itu dan memasukannya ke tong sampah dan mengambil lagi yang lainnya.
"Terlalu bertele-tele," ucap Gala dan melakukan itu berulang-ulang.
"Kenapa dibacain sih? Udah dibilang gak penting," cibir Abel.
"Mau tau aja secret admirer nya istri gue keren atau engga. Ternyata biasa aja. Lebih keren gue yang langsung ijab qabul di depan orang tuanya," pujinya pada diri sendiri.
"Keren itu lo datengin bokap gue, izin yang bener buat nikahin anaknya, terus baru ijab. Bukan karena dijodohin yang awalnya lo tolak mentah-mentah," balas Abel.
"Lo yang nolak, gue engga. Sekiranya gue udah lantang ucapin ijab satu tarikan napas dibandingkan ngirim surat-surat kaya gini, gak gentle." Gala membuang sisa surat yang masih tertumpuk rapi ke tong sampah.
"Udah tau gak gentle tapi masih lo baca, percaya diri tapi masih mau liat surat yang bahkan gak pernah gue bacain, itu artinya lo minder," ceplos Abel.
"Beda, Bel. Gue cuma mau membandingkan dan membuktikan ke lo kalau gue lebih gentle," sanggahnya.
"Terus kalau dibuktiin ke gue, sekarang gue harus gimana?" Tanya Abel simpel.
"Harus jaga jarak apalagi sama si Ketua OSIS. Atau gue aja yang jadi Ketua OSIS biar semakin keren di mata lo? Gak jadi, lo lebih bangga punya gue karena Ketua Yayasan," ucapnya bangga.
"Cape emang ngomong sama lo, terserah aja," balas Abel sembari membaca buku yang dipegangnya.
Tiba-tiba Gala menaruh kepalanya di pangkuan Abel, memeluk perut istrinya itu sembari menciuminya. Entah mulai terbiasa atau dia sedang malas berdebat dengan Gala, akhirnya dia membiarkan Gala.
"Bel," panggil Gala.
"Apa?" Tanya Abel yang masih fokus dengan novelnya.
"Manggil aja," jawab Gala sambil menatap ke arah Abel.
Tidak ada balasan dari Abel, karena menurutnya tidak ada yang perlu dibalas dari ucapan Gala.
"Bel," panggilnya lagi.
__ADS_1
"Apa Galaxy?" Abel yang kesal kini menatap ke bawah, menatap Galaxy.
"Jalan-jalan, mau gak? Pingin makan sate, sama gultik. Yuk?" Tanya Gala menatap sang istri.
Abel berpikir sejenak, dia sebenarnya malas keluar, tapi karena Gala bilang mereka akan makan gultik dan sate dia langsung mengiyakan.
"Ayok," jawabnya.
Gala tersenyum tanpa perlu berganti pakaian lagi dia langsung mengambil jaket dan kunci motornya. Berbeda dengan Abel yang harus mengganti pakaiannya terlebih dahulu, tidak mungkin dia memakai baju tidur.
Setelah selesai, Gala menggenggam tangan Abel dan keluar dari rumah mereka. Jalan-jalan malam begini rasanya seperti pacaran saja, bahkan Gala dan Abel sepertinya baru merasakan. Gala dengan mantan-mantannya lebih sering menghabiskan waktu di Mall. Berbeda dengan Abel yang tidak masalah jika di bawa makan ke pinggir jalan.
"Lo gak takut ada orang yang liat kalau kita jalan?" Tanya Abel.
"Gak, ngapain takut? Orang gue bawa istri sendiri bukan anak perawan," ucapnya santai.
"Gila, gue juga masih anak perawan!" Kesal Abel seraya memukul lengan Gala.
"Oh iya, kita belum ngapa-ngapain. Yuk ngapa-ngapain, Bel biar gak takut kemana-mana dengan status yang sah," kata Gala asal.
"Gak jadi pergi nih," ancam Abel yang mulai cemberut.
Gala tersenyum lalu mengelus pipi istrinya itu penuh perhatian. "Bercanda, ayok naik."
.
.
.
Di sinilah mereka berada, makan di pinggir jalan sembari menghirup udara segar malam hari. Rasanya jauh lebih enak dibandingkan makan di resto atau cafe yang begitu-begitu saja.
Tasya sangat suka makan makanan yang memiliki cita rasa manis, dia menuruni lidah ayahnya yang keturunan Jawa. Gala tersenyum melihat Abel yang sedang menikmati makanannya. Selera mereka cukup sama, jadi tidak susah untuk menyatukannya.
"Kayanya lo seneng banget setiap kita jalan-jalan," ucap Gala.
"Kayanya harus ajak lo jalan-jalan setiap hari biar terus senyum kaya gini buat gue," lanjutnya.
"Gak juga, sebenernya gue males jalan tadinya. Tapi karena lo bilang mau makan gultik sama sate jadi gue mau ikut," jawabnya.
__ADS_1
"Yaudah sekarang list aja apa yang lo suka, biar gue penuhin," ucap Gala sambil meminum segelas teh tawar yang disediakan di sana.
"Gue gak punya keinginan, Gala. Gue kalau melakukan sesuatu gak pernah di planning, tapi gue lakuin karena lagi pingin aja."
"Kenapa? Biasanya setiap cewek punya wish list gitu kan? Punya rencana di masa depannya mau kemana, mau ini dan itu."
"Gue punya rencana masa depan tentang cita-cita gue doang, tapi gue gak punya rencana mau kemana-mana, gimana dan mau apa. Udah gue bilang, kalau gue gak mau terluka oleh apapun, termasuk sama harapan yang gue buat sendiri. Kalau gak tercapai gue juga yang kecewa, pada akhirnya gue juga yang bertanggung jawab atas rasa kecewa gue. Jadi jalani aja yang ada sekarang."
"Termasuk menjalani pernikahan sama lo, jadi jangan tanya gue tentang masa depan yang belum pasti gue lakuin. Gue cuma mau jalanin ini semua dengan ngalir begitu aja," ungkap Abel.
"Oh ini permintaan ya? Oke, yang terpenting lo gak hanya diam di tempat," ucap Gala sambil mengusap puncak kepala Abel.
"Makasih ya, Gal. Lo gak pernah memaksa apapun ke gue, ya walaupun emang lo pemaksa dalam beberapa hal dan bikin gue kesel," ucap Abel tulus.
"Kenapa manis banget? Mau bikin gue semakin jatuh cinta ya?" Tanya Gala sembari menarik hidung Abel yang menurutnya mungil.
Abel mendengus, Gala memang semena-mena pada hidungnya. "Ihh, gue serius. Jarang banget gue serius, malah digodain."
"Gak digodain, kan gue bilang lo manis di saat lo bilang kaya gitu. Emang lo pikir cuma cewek aja yang bisa salting dikasih kata-kata manis terus dikasih senyum juga?"
"Tau ah, ada aja jawabannya."
"Hahaha, sama-sama. Gue gak akan memaksa lo soal perasaan. Karena di masa depan nanti yang bakalan lo cintai juga gue," ucapnya santai.
"Terus kalau gitu kenapa masih banding-bandingin sama orang yang kirim surat kalau lo juga tau, mau sebanyak apapun yang suka sama gue, tetep aja jadinya sama lo," cibir Abel.
"Itu beda lagi, kepuasan sendiri aja saat tau kalau lawan gak sebanding sama diri kita."
"Gala, yang namanya lawan itu pasti punya kekuatan, makanya disebut lawan. Kalau yang keliatannya gak se banding berarti gak bisa disebut lawan. Namanya aja gak se banding."
Entah Abel muji Gala yang unggul atau memang hanya kata-kata saja. Tapi Abel membuatnya merasa kalau tidak ada satupun yang bisa menandinginya untuk bersaing mendapatkan gadis itu. Ingin rasanya Gala mengarungi gadis itu dan bawa pulang sekarang.
"Bisa gak lo pulangnya sembunyi aja di baju gue?"
"Ngapain? Ngaco."
"Biar gak ada yang bisa liat kegemesan lo, nanti kalau gue kangen tinggal muncul aja terus gue cium, habis itu gue umpetin lagi di baju," ucapnya sambil terkekeh.
Abel hanya menggelengkan kepalanya, begini kah rasanya menjalin hubungan dengan anak bungsu? Kadang terlihat begitu dewasa dan kadang terlihat seperti anak kecil. Tidak habis pikir.
__ADS_1
Di satu sisi mereka tidak sadar jika sedang di pantau seseorang dari jauh sana. "Oh jadi ini cewek baru Galaxy Lazaruz?"
Setelah selesai memotret kegiatan mereka, dia pun melajukan motornya dengan kencang. Bosnya harus tau soal ini.