Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Romantisme Di Kota Yogyakarta


__ADS_3


📍 Kota Yogyakarta


Abella dan Galaxy sampai di Yogyakarta pada sore hari. Mereka memang mengambil keberangkatan siang. Jadi mereka langsung check in di sebuah hotel. Kali ini mereka tidak hanya berdua. Tapi mengajak keluarga Atmaja dan Keluarga Alaric juga.


Gala memang mempunyai beberapa rencana untuk menghabiskan waktu berdua dengan Abella dan kedua orang tua mereka juga paham kalau mereka berdua seperti orang tua muda yang kurang piknik. Anggap saja memberikan hadiah bulan madu yang kedua kalinya.


Bahkan Alano dan Alana dibuat lupa pada kedua orang tuanya, tidurnya pun diambil alih oleh kedua orang tua mereka. Seperti saat ini, mereka sedang berduaan dan saling bergandeng tangan menikmati jalanan di Malioboro.


"Mas kita kaya pacaran lagi, aneh rasanya kalau gak bawa Alano sama Alana," ucap Abella sembari mengadakan wajahnya pada Galaxy yang memang lebih tinggi darinya.


"Mereka aman kok, Sayang sama Oma Opanya. Gak perlu khawatir. Mereka juga gak rewel, biarin kaya gini dulu aja. Mas emang mau berduaan aja sama kamu," kata Galaxy yang kini malah merangkul pinggangnya.


Ya memang benar, terakhir jalan-jalan berdua seperti ini rasanya waktu mereka pergi bulan madu. Karena setelahnya mereka sibuk dengan kehamilan Abella dan lebih suka di rumah saja. Paling ke Mall untuk menjernihkan pikiran.


Abell dan Gala mampir di sebuah angkringan yang cukup nyaman tempatnya. Jadi mereka memutuskan untuk makan di sana. Abel memang tidak aneh sih kalau Gala mau diajak makan di pinggir jalan seperti ini. Karena sejak awal pernikahan, mereka juga sering makan di pinggir jalan seperti ini.


Tak lama pesanan mereka datang. Menu sederhana memang, hanya nasi kucing dengan sate-satean ditambah dengan kopi jos yang menjadi ciri khas kota Jogja. Tapi jangan salah, bagi Abel dan Galaxy meskipun begini sangat romantis dan mereka sangat menikmati.


"Mas, nanti Alano sama Alana harus kita ajak makan kaya gini juga. Biar mereka taunya gak cuma pasta sama eskrim aja," ucap Abel terkekeh.


"Pasti, Mas akan kasih tau berbagai sudut dunia dan sekitarnya. Biar mereka bisa mengeksplor juga nantinya dan yang terpenting Mas mau mereka bisa menjadi anak yang menghargai orang lain. Gak membedakan status sosial, makanan, cara berpakaian dan lingkungannya. Mas mau mereka tumbuh jadi anak yang bijak."


"Pasti, mereka pasti kaya gitu. Soalnya Papanya kamu, si cowok jutek yang gak pernah aku sangka sukanya makan gultik di perempatan."


"Mamanya juga loh."


Gala tertawa, jangankan Abell. Dia saja kaget sebenarnya kalau Abel bisa dia ajak makan di perempatan. Secara dia cucu dari pemilik BMC Group, kalau dilihat dari statusnya pasti orang menebak Abella adalah penghuni Mall, alias gila shopping.


Banyak dari beberapa orang yang datang di sana memperhatikan mereka, mereka sudah seperti seorang selebgram yang kedatangannya seperti keanehan. Apalagi Gala yang memakai setelan casual dan Abel yang memakai dress berwarna sage, membuat mereka terlihat seperti pasangan serasi dan modis.


Mereka berusaha bersikap biasa saja, meskipun sedikit merasa risih tapi kan semua orang berhak melakukan apapun yang mereka mau. Jadi mereka tetap enjoy kok menikmati makan malam mereka.

__ADS_1


Selesai makan, mereka tidak sampai di sana. Mereka menjelajahi berbagai tukang yang berjualan di pinggir jalan, seperti halnya remaja pada umumnya Abel dan Galaxy masih suka melakukan hal-hal seperti ini apalagi diberi kebebasan tanpa anak.


Gala sedikit terkekeh saat melihat Abella yang belepotan karena memakan corn dog yang ada di tangannya. Dengan lembut Gala mengelap sudut bibir Abella dengan ibu jarinya. "Kamu ini istri aku atau anak aku sih, Yang? Masih belepotan makannya."


Abel memajukan bibirnya. "Istri kamu, tapi aku bisa jadi apapun kok."


"Kalau sekarang lagi mode apa?" Tanya Galaxy sembari merapikan helaian rambut Abella yang tertiup angin.


"Mode pacar, soalnya gak ada anak-anak. Terus kita jalan kaya gini kaya anak remaja tau, Mas. Aku jadi ngerasa baru lulus sekolah. Padahal di rumah anak udah 2, 3 deh sama azriel," kata Abel yang kini malah tertawa.


Lucu saja, dia masih merasa muda tapi ekspetasi membawanya jatuh karena pada kenyataannya dia sekarang Ibu beranak tiga. Gala terkekeh, kalau dipikir ya benar juga. "Kita nikahnya kecepetan, tapi kalau gak cepet Mas gak yakin nikahnya sama kamu."


"Kenapa?" Tanya Abel.


"Kamu inget gak? Mas baru sadar kita satu sekolah itu setelah kita menikah. Artinya kamu gak tersentuh dan gak terjangkau sama pandangan Mas."


"Kalau jodoh, why not?"


"Jodoh itu tetap harus dicari, kalau kamu gak terjangkau sampai kapan pun ya gak akan bisa," ucap Galaxy.


"Nyesel gak jadinya sama Mas?" Tanya Gala.


Memang aneh, kalau biasanya cewek yang selalu bertanya mengenai perasaan ini malah Gala yang sering bertanya. Padahal dia tau sendiri kalau Abel sekarang mencintainya. Bahkan sangat mencintainya, membuat Abel malas menjawab dan malah melengos pergi.


Galaxy berdecak, bisa-bisanya Abella meninggalkannya. Seperti itu. "Abella!"


Abel membuah sampah yang ada di tangannya dan kembali berjalan, tidak mempedulikan Gala yang mengikutinya dan terus memanggil meminta jawaban.


"Abella Gracia!"


Lagi-lagi dia hanya diam sembari menikmati suasana malam di sekitar sini. Gala gemas sekali, kalau bukan di tempat umum sudah pasti dia menerkam Abella detik ini juga.


"Abella Gracia Alaric." Gala kali ini menarik tangan Abella dan membuat Abella berbalik menghadapnya.

__ADS_1


Tidak ada pembicaraan, Gala juga tidak lagi menanyakan soal hal itu. Kini yang ada mereka hanya saling menatap memandangi wajah satu sama lain.


Gala melepaskan jaket dan memakaikannya ke bahu Abella. "Pake jaket, nanti kamu masuk angin."


Pemandangan yang sangat romantis memang jika ada yang melihat, tapi di depan tugu ini hanya ada mereka sekarang dan kendaraan yang berlalu lalang.


Perlahan Gala menggenggam kedua tangan Abella dengan lembut dan menatapnya penuh cinta. "Kamu tau, dulu aku gak pernah menyatakan perasaan aku sama siapapun, Bel."


"Aku pacaran karena mereka yang menyatakan duluan, aku gak pernah punya rasa ketertarikan lebih sama wanita dan anggap memacari mereka cuma sebatas kemanusiaan."


"Tapi malam ini, meskipun kamu udah sering denger dari bibir aku. Aku mau menyatakan sesuatu sama kamu." Gala menarik napasnya dalam dan menjeda ucapannya.


"Aku mencintai kamu, aku sangat mencintai kamu, Abella. Kamu adalah orang pertama yang bisa buat hati aku berdebar kencang, kamu adalah seseorang yang membuat aku paham apa artinya dicintai. Kamu adalah seorang yang selalu buat aku ingin melakukan banyak hal dan kamu adalah orang yang berhasil buat aku jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama hanya dengan melihat kamu setiap pagi di samping aku."


"Aku tau, pada awalnya aku cuma seorang pengecut. Seseorang yang hanya ingin terima jadi untuk kamu menjadi istri aku tanpa melakukan perjuangan apapun. Tapi sekarang aku mau bener-bener jadi sosok pria yang sempurna di mata kamu. Sosok pria yang memang dengan lantang mengajak kamu untuk menjalani hidup sampai rambut kita memutih."


Gala berlutut di hadapan Abella dan mengeluarkan sebuah kotak beludru berwana biru dari dalam sakunya dan setelah itu mengulurkannya di hadapan Abella. "So, will you marry me again, Abella?"


Abell menarik napasnya, dia masih berusaha mencerna semua ini. Seumur hidupnya, dia baru pertama kali diajak menikah seperti ini. Meskipun memang pernikahan mereka sudah lama, tapi rasanya memang sebahagia itu.


Air mata bahkan berhasil menembus pelupuk matanya, bukan karena sedih, melainkan dia bahagia karena malam ini Gala memintanya untuk menikah lagi. Sudah seperti film-film romantis yang sering dia tonton rasanya.


Abell mengangguk sembari menyeka air matanya. "I will, Galaxy."


Gala tersenyum mendengarnya, setelah itu dia memasangkan cincin yang sengaja dia buat khusus malam ini. Gala memeluk Abella dengan erat, hari ini perasaan yang sempat mengganjal rasanya tuntas. Hal yang memang seharusnya dia lakukan sejak lama tapi baru bisa terlaksana sekarang.


"Makasih, Mas," ucap Abella.


"Aku yang harusnya bilang terima kasih sama kamu. Terima kasih karena kamu datang di hidup aku." Gala melepaskan pelukannya perlahan dan menggenggam tangan Abella yang tadi dia pasangkan cincin. "Kamu tau kenapa cincin ini bentuknya mahkota dengan 8 berlian?"


Abel menggeleng, yang dia tau cincin ini bagus karena berbentuk mahkota. "Gak tau, emang ada artinya ya?"


"Ada, mahkota itu menandakan kalau kamu akan menjadi ratu di hati aku. Pemegang tahta tertinggi yang memang akan selalu aku Ratukan dan angka delapan itu gak ada ujungnya, Sayang. Angka delapan juga melambangkan infinity yang artinya tidak terbatas. Aku mau hubungan kita gak memiliki akhir, aku mau kita terus sama-sama dan perasaan aku ke kamu tak terbatas."

__ADS_1


Abel tersenyum. "Aku mau kok, aku mau jalanin semuanya sama kamu. Aku mau jadi Ratu di hati kamu dan kamu juga akan selalu jadi Raja satu-satunya di hati aku. Karena Ratu gak mungkin punya dua Raja."


Gala mengecup bibir Abel sekilas, untungnya tidak ada siapa-siapa selain mereka. Malam ini, tugu Jogja menjadi saksi kalau ada sepasang manusia yang saling berjanji untuk hidup bersama sampai nanti.


__ADS_2